Catatan Bunda Iin

  • Sosial Politik /
    14 Feb 2017

    Kualitas Debat Menentukan Kualitas Pembicara

    Dulu, saya sering heran ketika ada yang berkata, “ah, debatnya kayak ibu-ibu, jelas kita kalah. Udah gak usah diperpanjang.” Itu sebelum saya kuliah lagi.  Di kelas-kelas kuliah, saya mulai memahami arti kagum, terpana, terkejut bahkan dipaksa maklum melihat cara teman-teman saat memaparkan pendapat dan opini mereka. Ada yang berputar-putar, ada yang rajin sekali memberi contoh, tapi ada yang cukup singkat namun sarat pengetahuan. Tapi banyak juga opini yang terkesan tidak nyambung bahkan terlalu jauh dengan konteks, bahkan penuh gejolak emosi yang tak lagi netral. Selama proses itu, pengawasan senior dan dosen yang terbiasa untuk mengatur diskusi menjadi sangat dibutuhkan. Mereka akan memberi warning apabila ada batasan etika sosial yang dilanggar oleh mahasis
  • Sosial Politik /
    30 Nov 2016

    Meredam Arus Negatif dengan Revisi UU ITE

    Dulu, di media massa seperti koran, kita menggunakan karikatur sebagai sebuah bentuk pengungkapan lain dari bahasa. Dengan karikatur, kita bisa mengungkapkan sebuah ironi dalam masyarakat yang menyangkut masalah sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain menjadi sindiran halus. Karikatur menjadi booming karena ungkapan yang sederhana justru sangat telak mencerminkan kondisi kepemimpinan yang memerintah saat itu. Bahkan karena karikatur, banyak juga para pengungkapnya yang berakhir di penjara. Kini, seiring perubahan dari koran menjadi media online, maka perubahan terjadi pula dalam cara pengungkapannya. Dari karikatur yang dulu ditulis dan dilukis dengan tangan, sekarang muncullah meme. Gambar dari hasil editing satu atau beberapa foto asli yang diberi tulisan atau ungkapan sindiran.
  • Sosial Politik /
    15 Aug 2016

    Momen Tujuhbelasan

    Dulu… tujuhbelasan hanyalah sebuah peringatan hari nasional yang biasa saja. Lomba memang ada tapi tak semeriah sekarang. Tidak bervariasi dan sekreatif seperti sekarang. Lombanya standar saja, paling-paling lomba lari, makan kerupuk, bawa kelereng dengan sendok, memasukkan pensil/pena dalam botol dan termewah biasanya lomba panjat pinang. Hadiahnya juga sederhana, satu dua pensil atau sebuah buku sudah cukup memberi rasa bangga. Tapi dulu, anak-anak dan orangtua selalu memberi semangat luar biasa pada para ‘pahlawan’ bangsa yang baru. Mereka yang berjuang di kejuaraan Asia sampai dunia seperti olimpiade selalu didukung dengan luar biasa, walaupun hanya satu-dua medali yang dibawa pulang. Dengan setia, televisi ditongkrongi, dipelototin hingga diteriaki saat kemenanga
  • Sosial Politik /
    8 Apr 2016

    Bayangan Di Balik Nama Besar

    Miris rasanya melihat zaman di mana banyak anak, anggota keluarga bahkan sanak dan kerabat jauh menggunakan nama pejabat tertentu. Padahal ketemu langsung pun mungkin baru sekian tahun sekali, atau bahkan hanya tahu dari namanya saja. Tak sekedar ikut bernaung di bawah nama besar itu, terkadang mereka ikut menikmati fasilitas yang seharusnya digunakan pejabat itu untuk kepentingan melayani masyarakat. Permintaan dengan alasan keluarga si A, teman si B atau saudara si C sudah bukan pelayanan yang aneh di negeri ini. Dari zaman Indonesia baru merdeka, sampai sekarang. Sangat wajar sekali ketika kita membanggakan menjadi keluarga dari seseorang yang ternyata seorang petinggi negeri. Bayangan kemudahan, fasilitas yang menyertai dan kepopuleran langsung muncul bersamaan dengan hal itu. Sesuatu
  • Sosial Politik /
    31 Mar 2015

    Sikap Asal-asalan

    Pagi ini saat sedang mengupas atau nge-peel off wortel dan kentang untuk sup, saya terpikir sesuatu. Andaikan saya memakai pisau, pasti tidak akan semudah itu mengupas kulit wortel atau kentang. Pasti akan banyak ‘isi’ wortel atau kentang yang ikut terpotong bersama kulitnya. Untung saya pakai alat peel off yang membuat pekerjaan lebih cepat, tepat sasaran dan tidak sia-sia. Nah, inilah yang bisa diserupakan dengan cara Pemerintah yang memberangus berbagai situs-situs muslim. Alat yang mereka gunakan seperti pisau yang tak hanya mengupas kulit wortel, tapi juga membuang isi yang bermanfaat. Seharusnya memakai alat yang lebih tepat, cara yang lebih baik agar yang musnah memang benar-benar sesuatu yang tak bermanfaat dan mengganggu stabilitas umum, bukannya mengha
  • Sosial Politik /
    26 Jan 2014

    Menjadi Manusia Pilihan (Di Balik Musibah)

    Membahas banjir dan bencana yang berkali-kali menyinggahi Indonesia akhir-akhir ini takkan ada habisnya. Sinabung yang sudah berbulan-bulan muntah-muntah, memaksa banyak orang mengungsi entah sampai kapan. Kampung-kampung yang masih tergenang air, pedesaan dan sawah-sawah yang tenggelam, semuanya tak ada yang bisa menjawab kapan akan berakhir. Cuaca hari ini cerah, tapi besok siapa yang tahu. Bahkan ribuan garam yang ditaburkan pun tak bisa menghentikan kuasa Allah SWT. Buat sebagian orang, seperti saya yang terbebas dari terjangan banjir, yang tak merasakan kepulan debu menyesakkan atau tinggal berhimpit-himpitan di tenda yang dingin dan lembab, semua bencana itu tidaklah berarti apa-apa. Bahkan yang membuat saya menjadi sedikit miris. Semakin banyak orang yang justru senang melihat be
  • Sosial Politik /
    16 May 2013

    Politik

      Untuk beberapa lama saya hanya bisa terdiam mendengarkan kata-kata seseorang tentang politik. Sebagai seorang perempuan, dan seorang ibu, saya merasa sangat jauh dari dunia yang disebut politik itu. Meski orang-orang di sekitar saya, termasuk suami, sangat senang untuk membicarakan semua hal berbau politik, tapi saya selalu menghindari hal itu. Pertama, mungkin karena trauma. Semua wanita yang saya kenal dekat yang memilih berkecimpung di dunia politik selalu mengalami kegagalan dalam keluarga. Entah perceraian dengan suami, entah itu hubungan yang jauh dengan putra-putri mereka, entah itu akhirnya berakhir dengan fitnah yang hampir sepanjang sisa hidup mereka terus menerus mendera. Tak usah jauh-jauh, lihat saja di televisi, berapa banyak perceraian perempuan yang terjun di dunia
  • Sosial Politik /
    21 Jan 2013

    Ketika Banjir Itu Singgah

    Musim di Jakarta bukan lagi sekedar musim hujan. Tapi di Jakarta sudah berubah menjadi musim banjir. Semua orang sekarang memiliki satu perhatian yang sama, kekuatiran yang sama dan kewaspadaan yang sama. Seperti penduduk Jakarta lainnya, saya juga melupakan hal-hal lain dulu untuk sementara. Semua perhatian tercurah sepenuhnya untuk waspada menghadapi banjir yang mungkin datang. Meski tak pernah kebanjiran, tapi keselamatan keluarga yang sepanjang hari lebih banyak di luar rumah seperti ke tempat kerja dan ke sekolah, mau tak mau memaksa saya mengikuti semua informasi terbaru tentang banjir di televisi. Paling tidak, saya bisa mencegah suami pergi kerja daripada harus kerja tapi malah tak bisa pulang karena terkepung banjir. Saat begini bukan uang yang diutamakan tapi keselamatan. Tapi m
  • Sosial Politik /
    18 Jan 2013

    Kode Etik Jurnalistik, Pelindung dan Pembatas Kebebasan Pers

    google Setiap orang memiliki kebebasan untuk berekspresi dan berpendapat, yang telah dilindungi dalam berbagai undang-undang baik di Indonesia maupun dunia. Dengan kemudahan dan banyaknya media yang digunakan, setiap orang pun bisa dengan mudah mengekpresikan apapun yang ia mau dalam berbagai bentuk. Dalam hal ini pers menjadi media informasi dan komunikasi yang paling umum. Untuk menjaga agar semua informasi yang diterbitkan atau disebarkan kepada masyarakat umum itu tetap sesuai dengan kaidah moral dan etika profesi maka dibuatlah peraturan untuk menjadi landasan atau pedoman seseorang dalam menjalankan kemerdekaan pers-nya namun tetap bisa menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme yang disebut dengan Kode Etik Jurnalistik. Kode Etik Jurnalistik bia
  • Sosial Politik /
    22 Jun 2012

    Catatan Di Tengah Macetnya Jakarta

    Saya tahu hari ini Ulang Tahun Jakarta yang ke-485. Walaupun tak terlalu feel excited, saya hanya bisa berharap dan berdoa semoga dengan bertambahnya usia, Jakarta bisa berubah menjadi lebih baik. Sayang saya lupa, kalau daerah tempat tinggal saya adalah daerah di mana pusat perayaan ulang tahun Jakarta yaitu Ancol dengan konser musiknya sedang menawarkan free ticket masuk, Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair dan seabrek penjual kerak telor dadakan yang berbaris manis di kedua sisi jalan eks Bandara Kemayoran. Dan, sayangnya…. hari ini bertepatan dengan hari kencan saya dengan dua anak termuda. Anak-anak yang kini tertidur pulas di sisi saya, kelelahan setelah menghabiskan setengah hari ini di sebuah pusat perbelanjaan. Jaraknya sebenarnya tak terlalu jauh, paling hanya setengah j

KONTAK

BUNDA IIN AJID

Blogger, Istri Aa Ajid, Emak si Trio - Kakak (15), Abang (12) & Adek (8). 

Mau baca tulisan yang lain? Cek blog lainnya: Iinajid.comDiarybundaiin dan Ruang Cerita

Tulisan Terbaru

Komentar

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia