Catatan Bunda Iin

  • Kenangan / Parenting / Cerpen Remaja /
    10 Aug 2017

    Tatapan Yang Merindukan

    Mal tak terlalu ramai hari Minggu itu. Mungkin karena kami datang saat masih pagi. Aku tak terlalu suka keramaian, jadi kupilih pagi hari setiap kali berkunjung ke Mal. Di pagi hari seperti ini, hanya ada para penjual di counter-counter yang sibuk menyiapkan dagangannya. Satu dua orang yang berlalu lalang, hanya sedikit yang benar-benar pengunjung. Sisanya adalah karyawan atau karyawati dari jajaran toko dan restoran yang memenuhi mal itu. “Ma, kita makan dulu atau langsung nonton?” tanya putriku. Telunjukku menunjuk ke atas, “Nonton aja dulu. Kan baru sarapan. Kita beli milkshake aja gimana?” Putriku mengangguk setuju. Seperti biasa, tangannya menyelip menggenggam tanganku. Di rumah, kami jarang melakukan seperti itu. Kebiasaan saja. Tadinya untuk keamanan dirin
  • Kenangan / Cerpen Remaja / Cerita Pendek /
    23 May 2017

    Album Foto Kenangan Sahabatku

    Album Foto Kenangan Sahabatku Suara ponsel tiba-tiba terdengar nyaring memecah keheningan. Aku menatap putriku, dan ia dengan sigap mengambilkan ponsel yang sedang di-charge itu. Begitu ia menyerahkannya, aku langsung melirik nomor yang tertera. Tak ada nama atau foto yang muncul, hanya sederet nomor yang baru kulihat. Dengan penuh tanda tanya, kutatap lama layar monitor ponsel. “Kenapa Ma? Gak kenal?” tanya putriku. Aku mengangguk dan menyerahkan kembali ponsel itu padanya. Kali ini putriku tak menunggu, ia menggeser tombol hijau di layar untuk menerima. Lalu ia berjalan keluar, keluar dari ruang kerjaku sambil bicara. Aku tak lagi peduli, memilih untuk melanjutkan pekerjaan. Tak sampai lima menit, putriku kembali. Telepon telah ditutup. “Ma, itu tadi nama Ineke. Kata
  • Pendidikan / Parenting / Cerpen Remaja / Cerpen Keluarga / Cerpen Anak /
    28 Aug 2016

    I Am Her Everything

    Lembaran kertas terakhir keluar dari mesin cetak. Aku memeriksanya sebentar sebelum menghembuskan napas lega. Akhirnya selesai sudah tugasku. Setelah merapikannya, aku hanya tinggal menyerahkan pada Pak Darma dan voila… tinggal menunggu hasil kerjaku ditransfer akhir bulan ini. Senang rasanya membayangkan wajah putriku nanti saat menerima tablet baru yang kubelikan nanti. Dia takkan kesulitan lagi memandangi layar ponselnya yang kecil mungil hanya untuk mencari informasi atau belajar secara online. Anakku memang tak pernah mengeluh, tapi melihat ia menunduk dan mendekatkan matanya sampai hampir menempel, aku tak tega. Cring Cring Cring Suara bbm masuk mengalihkan fokusku. Aku meraih ponsel dan mengeceknya. Mah, Lgi dmn? Ah dari putriku. Bahasa planet begitu pasti dari dia. Aku meng
  • Cerita Pendek / Serial : I Wanna Be Emak / Cerpen Remaja / Cerpen Keluarga /
    26 Mar 2016

    Mendung Di Wajah Kakak

    Aku mengeluh dalam hati saat mobil berbelok dan terhenti. Macet. Cukup panjang pula. Aku menghela napas lagi, tidak tahu harus melakukan apa kalau sudah seperti ini. Tak mungkin berbelok atau memutar mengambil jalan lain. Jalan ini terlalu sempit dan dari arah berlawanan pun sama macetnya. Mau tak mau mobilku hanya bisa berjalan mengikuti antrian kemacetan itu. Suara teman-teman Kakak, panggilan sayang untuk putriku, yang sedang berbincang membuatku tersenyum. Mataku melirik mereka. Untunglah aku tak sendirian. Mendengarkan mereka berbincang, bercanda bahkan tertawa-tawa seperti itu membuatku ikut terhibur. Tapi mendadak Kakak terdiam sesaat setelah ia tergelak karena candaan temannya. Ia memandang keluar jendela mobil seperti orang kaget. Dengan perasaan tak enak aku kembali melihat ke b
  • Cerpen Remaja /
    10 Mar 2016

    IBU PELIT

    Gadis remaja itu memandangi sepasang sepatu berpola merah tua dan krem melingkar. Sebuah tulisan terlihat di bagian samping. Nama merek sepatu itu. Gadis itu menghela napas tapi ia tetap memandanginya. Ia sudah berdiri hampir lima menit di depan etalase tempat sepatu itu terpajang, dan belum bergeming. Ibunya mendekat. Tapi si gadis remaja itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Melihat tingkah putrinya, ibu mendekatkan wajahnya. Lalu ikut memandang ke arah asal tatapan putrinya terfokus. Ia tersenyum saat menyadarinya. “Kamu mau sepatu itu ya, Neng?” bisiknya di telinga si remaja putri itu. Gadis itu terkejut sedikit, tapi ia hanya tertawa kecil. “Iiih, Ibu! Ngagetin aja!” “Ayo kita tanya harganya!” ajak Ibu sambil menggamit lengan putrinya. &ldq
  • Serial : I Wanna Be Emak / Parenting / Cerpen Remaja / Cerpen Anak /
    30 Jan 2016

    I Wanna Be Emak : Walau Hanya Hobi

    Jemari Emak sibuk menggambar garis-garis simetris membentuk gambar infografis yang ia mau. Walaupun tampak jelek, Emak tak peduli. Ia hanya ingin memberi gambaran kepada Ningsih dan Fadil, dua karyawan baru di bagian creative yang sedang di-trainingnya. “Nanti kamu kasih shadingnya di sini, di sini dan di sini,” kata Emak sambil terus menggambar. “Terus gimana caranya saya buat kotak ini supaya ngelipat gitu, Bun?” tanya Fadil. Kali ini Ningsih yang menjawab, “ya tinggal diwarp aja kan, Bun?” Emak hanya mengangguk kecil. Lalu setelah selesai, Fadil mengambil alih tempat duduknya dan Emak berdiri di belakang. Sesekali ia memberi instruksi dengan menunjuk layar berukuran 14 inch itu. Sesekali Ningsih dan Fadil bertanya, terkadang Emak yang menjawab,
  • Serial : I Wanna Be Emak / Cerpen Remaja /
    6 Mar 2015

    (I Wanna Be Emak) Sindiran Lima Ciri-Ciri

    Suatu hari, Emak dan Kakak mengobrol di balkon rumah… sambil jemuran pakaian. Emak melirik Kakak yang tiap beberapa menit mengambil hapenya, tersenyum dan lalu mengetik beberapa kata sebelum memasukkan lagi ke dalam kantung celana trainingnya. Emak pun mulai melancarkan taktik. “Kata temen Emak, lima ciri-ciri anak perempuan sedang dekat sama seseorang itu adalah…. Mendadak yang doyan makan 2-3 piring, sekarang jadi lebih sering bilang ‘kenyang Mak, tadi udah makan di sekolah’ Sering minta izin pulang telat, izin konsul ke tempat les dan izin main ke rumah teman. Izin sampai jam tiga sore, sampai di rumah jam lima sore Mendadak jadi wangi, rapi dan bahkan mencuci sepatu tanpa diomeli dulu Handphone adalah benda wajib yang dibawa kemana, dikunci dengan passwo
  • Cerita Pendek / Cerpen Remaja /
    24 Mar 2014

    Ingin Kuulang Waktu

    “Image courtesy of criminalatt / FreeDigitalPhotos.net”. Seandainya Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan, maka akan kuambil kesempatan itu untuk berhenti tepat ketika aku bertemu denganmu. Berhenti tepat saat itu. “Hai kamu!” teriakan itu menghentikan langkahku dan Yoga. Aku menoleh dan kamu menyongsongku dengan cepat. Entah apa yang kau lemparkan, karena saat itu hanya sekelebat bayangan jatuh di wajahku, menghantam tepat di dahiku yang langsung terasa berdenyut hebat. Sesaat aku terhuyung dan menyadari sebuah kaleng kosong kaulemparkan padaku. “Heh!!” teriakku marah, sambil memegangi dahiku yang sakit. “Apa? Sakit? Rasain!” Kamu terus dekati aku dan matamu besar sekali saat menatapku. Melotot sambil berkacak p
  • Karya Fiksi / Cerpen Remaja /
    18 Jan 2013

    Kerudung

    google Sejak berhijab beberapa tahun lalu, aku tergila-gila mengoleksi aneka jenis kerudung. Kulahap semua artikel mengenai kerudung mode terbaru. Sungguh kepuasan tersendiri ketika aku bisa tetap tampil modis dengan berbagai gaya hijab keren yang tak kalah dengan para selebriti. Apalagi pekerjaan yang kugeluti memaksaku untuk selalu tampil dengan gaya. Sebagai seorang Public Relation tempatku bekerja, aku sering bertemu banyak orang. Walaupun sempat diragukan oleh para rekan kerjaku, namun perlahan-lahan aku berhasil mengubah image mereka tentang hijab. Akhirnya banyak dari teman-temanku yang tertular dengan kebiasaanku berhijab karena ingin terlihat sepertiku, cantik dan anggun begitu kata mereka. Tapi Ummi-ku selalu complaint setiap kali aku membeli kerudung yang baru. Tangannya l
  • Spiritual / Cerpen Remaja / Cerita Pendek /
    7 Aug 2012

    Kisah Ramadhan - Hikmah Mengaji

    Kisah tentang makna di balik perintah mengaji “Jen, udah ngaji beluuum?”"Jangan lupa, selesai sholat ngaji dulu. Jen.”"Hapalanmu sudah sampai mana? Kok gak maju-maju sih?” Kata-kata itu menemaniku sejak kecil. Suara Ibu yang berkali-kali dan tak pernah lelah mengingatkan aku untuk rajin mengaji. Entah dari kapan aku mulai mengaji, aku bahkan sudah lupa. Rasanya kalau tak salah, aku belum sekolah TK ketika Ibu ‘menyeret’ ku ke Mesjid. Aku memang segan ikut belajar mengaji waktu itu. Masdar Ali, nama guru mengajiku terkenal galak luar biasa pada anak-anak yang suka bermain-main di depan halaman ketika shalat berjama’ah berlangsung. Meskipun tak pernah dimarahi, tetap saja suara seram Masdar membuatku takut padanya. Tapi ketakutan itu hanya sesaat,

KONTAK

BUNDA IIN AJID

Blogger, Istri Aa Ajid, Emak si Trio - Kakak (15), Abang (12) & Adek (8). 

Mau baca tulisan yang lain? Cek blog lainnya: Iinajid.comDiarybundaiin dan Ruang Cerita

Tulisan Terbaru

Komentar

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia