Catatan Bunda Iin

  • Pendidikan / Parenting / Cerpen Remaja / Cerpen Keluarga / Cerpen Anak /
    28 Aug 2016

    I Am Her Everything

    Lembaran kertas terakhir keluar dari mesin cetak. Aku memeriksanya sebentar sebelum menghembuskan napas lega. Akhirnya selesai sudah tugasku. Setelah merapikannya, aku hanya tinggal menyerahkan pada Pak Darma dan voila… tinggal menunggu hasil kerjaku ditransfer akhir bulan ini. Senang rasanya membayangkan wajah putriku nanti saat menerima tablet baru yang kubelikan nanti. Dia takkan kesulitan lagi memandangi layar ponselnya yang kecil mungil hanya untuk mencari informasi atau belajar secara online. Anakku memang tak pernah mengeluh, tapi melihat ia menunduk dan mendekatkan matanya sampai hampir menempel, aku tak tega. Cring Cring Cring Suara bbm masuk mengalihkan fokusku. Aku meraih ponsel dan mengeceknya. Mah, Lgi dmn? Ah dari putriku. Bahasa planet begitu pasti dari dia. Aku meng
  • Cerita Pendek / Serial : I Wanna Be Emak / Cerpen Remaja / Cerpen Keluarga /
    26 Mar 2016

    Mendung Di Wajah Kakak

    Aku mengeluh dalam hati saat mobil berbelok dan terhenti. Macet. Cukup panjang pula. Aku menghela napas lagi, tidak tahu harus melakukan apa kalau sudah seperti ini. Tak mungkin berbelok atau memutar mengambil jalan lain. Jalan ini terlalu sempit dan dari arah berlawanan pun sama macetnya. Mau tak mau mobilku hanya bisa berjalan mengikuti antrian kemacetan itu. Suara teman-teman Kakak, panggilan sayang untuk putriku, yang sedang berbincang membuatku tersenyum. Mataku melirik mereka. Untunglah aku tak sendirian. Mendengarkan mereka berbincang, bercanda bahkan tertawa-tawa seperti itu membuatku ikut terhibur. Tapi mendadak Kakak terdiam sesaat setelah ia tergelak karena candaan temannya. Ia memandang keluar jendela mobil seperti orang kaget. Dengan perasaan tak enak aku kembali melihat ke b
  • Cerpen Keluarga /
    3 Jul 2015

    Aroma Masakan, Aroma Kerinduan

    Suara takbir terus bergema di tengah kesunyian malam. Mesjid, musholla bahkan di keramaian anak-anak yang sedang berkumpul di depan rumah. Bunyi kaleng, galon air kosong bahkan beduk dadakan yang mereka buat dibunyikan serentak mengiringi takbir. Cahaya kelap-kelip kembang api juga menyinari kegelapan malam lebaran. Aroma masakan dari dapur tercium hingga ke kamar tidur. Aku tersenyum dalam hati. Tanpa melihatpun aku tahu wangi apa ini. Ini wangi opor ayam andalan ibu mertuaku. Sayup-sayup aku mendengar adik iparku bertanya sesuatu pada Ibu. Ibu menjawab dengan nada singkat, dan adik iparku itu pun tertawa kecil. Apapun yang mereka bicarakan aku tak bisa mendengar. Tapi aku tahu, mereka selalu bercanda. Ciri khas dalam keluarga suamiku, bekerja namun tidak melupakan humor sebagai pelepas
  • Karya Fiksi / Cerita Pendek / Cerpen Keluarga /
    8 Dec 2014

    Rumah Tangga : Bodoh & Idiot

    Bingung seakan tak berujung saat mengaitkan dua alis mataku seakan-akan mereka bertemu kalau lagi berpikir keras seperti sekarang. Aku berharap kekuatan berpikirku akan bertambah dua kali lipat kalau melakukannya. Setidaknya aku bisa menemukan jawaban dari kebingungan yang berputar-putar memenuhi otak. “Tante bodoh, ” jawab Tante Dessy spontan. “Dan Om idiot, ” timpal Om Burhan menyusul istrinya. Sebelumnya keduanya tertawa bersamaan. Maksudnya apa? Padahal aku bertanya apa rahasia kemesraan mereka yang seperti tidak pernah luntur walaupun waktu berlalu lebih dari tiga puluh tahun itu. Tapi mereka justru menjawab dengan dua kalimat singkat yang membingungkan itu. Sampai pagi ini pun, aku masih belum bisa memahami makna di balik jawaban itu. “Pagi-pagi b
  • Cerpen Keluarga /
    28 Oct 2014

    Mark Up Harga atau Dosa

    Ting! Suara pesan BBM masuk terdengar dari ponselku. Ponsel berbungkus casing warna merah hati itu pun kuambil dari dalam tas. Boss, Cek rekening ya! Gumawo!! Pesan itu sungguh aneh. Hah? Rekening? Mengapa aku harus mengecek rekeningku? Meski aku memutar kembali obrolan antara aku dan Wina, tak terpikir sedikitpun ada obrolan tentang uang atau rekening. Tanganku cepat-cepat mengetikkan pertanyaan dalam kepalaku ke keypad ponsel. Rekening? Untuk apa, Mba? Aku menunggu dengan bingung. Masih sibuk mengingat-ingat kejadian beberapa hari terakhir. Ting! BBM balasan masuk. Kubuka dengan tidak sabar. Aah, itu loh hasil penjualan baju kemarin. Kan harganya udah gw MU sesuai kesepakatan. Nah bagian lo udah gw transfer. Jangan lupa entar sore semua pengurus mo makan-makan. Lo hadir ya. Dadaku sera
  • Cerita Pendek / Cerpen Anak / Cerpen Keluarga /
    13 Sep 2014

    Papamu Untukku Saja

    Arisa terlonjak saat suara pintu dibanting keras. Dadanya berdegup kencang. Kakinya yang tadi asyik mengetuk lantai mengikuti irama musik pop Korea yang disetel Cinta langsung terdiam kaku. Ini bukan hal baru baginya mendengar bantingan pintu seperti itu. Tapi tiap kali Cinta melakukannya, ia tetap saja selalu terkejut. Dari kursi yang ia duduki, Arisa menatap Cinta yang masuk ke dalam kamarnya dengan bersungut-sungut. “Gak boleh, Ris! Papa bilang sudah kesorean. Entar kita kemalaman di jalan,” ujar Cinta dengan bibir melengkung. “Ya sudah, gak papa kok Cin. Besok saja. Kan masih sempat. Waktunya masih lama.” “Iih, tapi aku gak yakin deh. Kemarin aja kata Desi, stok tas MCM tinggal beberapa biji doang. Kalau hari ini gak beli entar kehabisan. Aaah, Papa…
  • Cerpen Keluarga /
    25 Jun 2013

    Cinta Untuk Cinta

    “Kamu tahu kenapa diberi nama Cinta, Cin?” Sepasang mata bening Cinta mendongak menatap Emak penuh tanya. Tapi yang ditatap justru sedang menatap ke arah ombak pantai yang bergulung-gulung di hadapan mereka dengan sorot menerawang. Lalu Emak menunduk, tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa, Nak?” Cinta menggeleng. “Karena cintalah yang membuatmu terlahir ke dunia ini, Anakku. Kupatrikan dalam namamu agar kau mengerti alasanmu terlahir ke dunia ini.” Kata-kata Emak begitu lirih, seakan ia sendiri tak yakin akan semua yang dikatakannya sendiri. “Tapi kenapa hanya Emak yang cinta padaku? Kenapa tidak Ayah, Mak?” cecar Cinta dengan mata yang masih bersisa airmata. Terbayang lagi peristiwa memilukan yang mereka baru saja berdua alami. Diusir dari ru
  • Cerpen Keluarga /
    18 Jun 2013

    Wakil Rakyat Atau...

    Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang. Dengan tergesa, aku mengeluarkan uang dari dompet dan menyodorkannya pada si penjual sayur yang sibuk memasukkan sayur-mayur yang telah kupilih. Saat hitungan si penjual sayur berhenti melewati angka lima puluh ribu lebih, aku ternganga. “Mahal banget sih, Bang! Baru kemarin saya beli gak segitu deh,” protesku. Si Abang tertawa miris. “Kan BBM udah mau naek, Bu!” “Yaah, kan naeknya masih belom tentu, kok ngefeknya langsung sih?” “Harga barang udeh naek sejak kenaikan BBM baru desas desus, Bu. Udeh, Ibu mau beli kagak sih?” Wajah si Abang kelihatan mulai tampak kesal. Aku menghela nafas dan kembali membuka dompetku, menambah jumlah uang sesuai dengan hitungan si Abang tadi. Setelah mengamb
  • Spiritual / Cerpen Keluarga / Cerita Pendek /
    23 Jul 2012

    Kisah Ramadhan - Mama dan Sepotong Roti

    ] Sepuluh tahun yang lalu, di awal Ramadhan. Ketika semua orang bersiap menyambut kedatangan bulan penuh berkah. Saya juga sedang bersiap menyambut kedatangan ‘berkah’ yang sudah lama dinanti-nantikan seluruh keluarga. Empat tahun telah berlalu sebelum berkah itu menghampiri kami. Bahkan jatuh bangun, mencoba segalanya hanya agar senyum ceria seorang anak bisa menghiasi rumah tangga kami yang sunyi. Dan saya masih ingat dengan jelas malam-malam yang terasa panjang setelah dokter mengumumkan jadwal operasi. Jadwal itu tepat dua hari sebelum Ramadhan tiba. Kami tak lagi bisa mundur karena kehamilan saya saat itu sudah lewat dua minggu dari tanggal kelahiran sseharusnya. Ramadhan itu, saya menjadi Ibu, namun baru memahami arti ketulusan itu bertahun-tahun kemudian. Ketulusan dar
  • Cerpen Keluarga /
    24 Mar 2012

    Memaafkan

    I Miss you, Daddy! Tulisan itu lagi yang tertulis di buku diari putriku. Ah, tak enak rasanya melihat kata-kata itu begitu sering muncul di diarinya belakangan ini. Dia memang tak tahu kalau aku sering memeriksa diarynya. Mencari tahu isi hatinya yang sering tersembunyi di balik kebisuan dan ketertutupan yang sama persis seperti si Papa. Apalagi sejak perceraian memisahkan aku dan Papanya, Kirana menjadi semakin introvert. Perceraian. Mungkin itulah kesalahan kami pada Kirana. Tak seharusnya kemarahan membuat kami mengorbankan putri kami satu-satunya. Kami menganggap Kirana tak cukup penting untuk ikut mengambil keputusan penuh emosional saat itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kami bercerai saat Kirana baru masuk SMP, setelah berbulan-bulan pisah rumah, bertengkar setiap kali bertem

KONTAK

BUNDA IIN AJID

Blogger, Istri Aa Ajid, Emak si Trio - Kakak (15), Abang (12) & Adek (8). 

Mau baca tulisan yang lain? Cek blog lainnya: Iinajid.comDiarybundaiin dan Ruang Cerita

Tulisan Terbaru

Komentar

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia