Catatan Bunda Iin

  • Cerpen Anak /
    1 Nov 2016

    Baju Baru Untuk Dea

    Ketika kami masuk ke lorong panas, hawa panas dan sumpek langsung menyambut. Bau tak enak juga tercium oleh hidungku saat berjalan melaluinya. Tapi sepertinya Dea tak merasakan hal itu. Wajahnya masih berseri-seri seperti tadi, saat kami baru keluar dari mobil yang berhawa sejuk. Mataku beredar mencari pakaian yang kucari. Aku harus membeli baju koko untuk Doni dan celana training untuk Dona, kakak-kakak Dea. Mereka sudah bertambah besar, sehingga baju dan celananya tak muat lagi. Untungnya, tadi saat menjemput Dea, aku lewat pasar ini. Pasar yang cukup lengkap. Aku menemukan toko yang menjual semua yang kuperlukan. Tak hanya itu, ada beberapa busana muslimah untuk anak-anak seusia Dea. Ah, sekalian saja ia kubelikan satu. Jadi tak ada yang akan iri saat kami tiba di rumah nanti. Adil, se
  • Pendidikan / Parenting / Cerpen Remaja / Cerpen Keluarga / Cerpen Anak /
    28 Aug 2016

    I Am Her Everything

    Lembaran kertas terakhir keluar dari mesin cetak. Aku memeriksanya sebentar sebelum menghembuskan napas lega. Akhirnya selesai sudah tugasku. Setelah merapikannya, aku hanya tinggal menyerahkan pada Pak Darma dan voila… tinggal menunggu hasil kerjaku ditransfer akhir bulan ini. Senang rasanya membayangkan wajah putriku nanti saat menerima tablet baru yang kubelikan nanti. Dia takkan kesulitan lagi memandangi layar ponselnya yang kecil mungil hanya untuk mencari informasi atau belajar secara online. Anakku memang tak pernah mengeluh, tapi melihat ia menunduk dan mendekatkan matanya sampai hampir menempel, aku tak tega. Cring Cring Cring Suara bbm masuk mengalihkan fokusku. Aku meraih ponsel dan mengeceknya. Mah, Lgi dmn? Ah dari putriku. Bahasa planet begitu pasti dari dia. Aku meng
  • Serial : I Wanna Be Emak / Parenting / Cerpen Remaja / Cerpen Anak /
    30 Jan 2016

    I Wanna Be Emak : Walau Hanya Hobi

    Jemari Emak sibuk menggambar garis-garis simetris membentuk gambar infografis yang ia mau. Walaupun tampak jelek, Emak tak peduli. Ia hanya ingin memberi gambaran kepada Ningsih dan Fadil, dua karyawan baru di bagian creative yang sedang di-trainingnya. “Nanti kamu kasih shadingnya di sini, di sini dan di sini,” kata Emak sambil terus menggambar. “Terus gimana caranya saya buat kotak ini supaya ngelipat gitu, Bun?” tanya Fadil. Kali ini Ningsih yang menjawab, “ya tinggal diwarp aja kan, Bun?” Emak hanya mengangguk kecil. Lalu setelah selesai, Fadil mengambil alih tempat duduknya dan Emak berdiri di belakang. Sesekali ia memberi instruksi dengan menunjuk layar berukuran 14 inch itu. Sesekali Ningsih dan Fadil bertanya, terkadang Emak yang menjawab,
  • Cerita Pendek / Cerpen Anak / Cerpen Keluarga /
    13 Sep 2014

    Papamu Untukku Saja

    Arisa terlonjak saat suara pintu dibanting keras. Dadanya berdegup kencang. Kakinya yang tadi asyik mengetuk lantai mengikuti irama musik pop Korea yang disetel Cinta langsung terdiam kaku. Ini bukan hal baru baginya mendengar bantingan pintu seperti itu. Tapi tiap kali Cinta melakukannya, ia tetap saja selalu terkejut. Dari kursi yang ia duduki, Arisa menatap Cinta yang masuk ke dalam kamarnya dengan bersungut-sungut. “Gak boleh, Ris! Papa bilang sudah kesorean. Entar kita kemalaman di jalan,” ujar Cinta dengan bibir melengkung. “Ya sudah, gak papa kok Cin. Besok saja. Kan masih sempat. Waktunya masih lama.” “Iih, tapi aku gak yakin deh. Kemarin aja kata Desi, stok tas MCM tinggal beberapa biji doang. Kalau hari ini gak beli entar kehabisan. Aaah, Papa…
  • Cerpen Anak /
    4 Sep 2012

    Anakku Tidak Bodoh, Hanya Unik

    google “Assalamu’alaikum!” Aku menoleh ke pintu, Putriku berdiri di depan pintu, sedang membuka sepatu. “Waalaikum salam,” jawabku sambil melirik ke arah jam dinding. “Kenapa sudah pulang, Mbak? Gurunya rapat?” tanyaku heran. Bibir Nora mengerucut dan menggeleng. “Enggak, Ma. Nora disuruh pulang. Nganterin ini.” Sebuah surat dikeluarkan Nora dari dalam tasnya dan memberikannya padaku. Walaupun belum membuka surat itu, Aku sudah tahu, Nora pasti berbuat sesuatu yang kurang berkenan lagi di sekolah. Tapi gadisku yang sudah duduk di kelas 3 SMU itu cuek saja. Setelah memberikan surat, ia langsung ngeloyor masuk kamar. Tak lama berselang, suara musik berdentam-dentam terdengar membahana dari kamar Nora. “Mbak Noraaaa, suaranya d
  • Tulisan Terakhir / Cerpen Anak /
    30 Aug 2012

    Berbagi Ala Nina

    google Tangan Nina sibuk merobek-robek buku. Buku itu adalah salah satu dari semua buku bekas Nina di kelas sebelumnya. Setiap tahun, meski banyak lembaran tersisa aku mengganti semua buku putriku itu. Sedangkan buku yang telah tidak terpakai itu boleh digunakan Nina atau adik-adiknya bermain. Biasanya Nina atau adik-adiknya menggunakan kertas-kertas itu untuk bermain guru-guruan, atau menggambar dan membuat aneka bentuk kertas yang dipelajarinya dariku. Memang kelihatannya agak boros, tapi anak-anakku tergolong anak-anak yang suka sekali dengan menulis, menggambar dan kalau bermain selalu seperti sungguhan. Daripada mengorbankan buku tulis atau buku gambar baru, lebih baik mereka menggunakan buku-buku bekas itu saja. Aku juga sering ikut-ikutan menggunakan sisa buku bekas i
  • Cerpen Anak /
    21 Mar 2012

    Kukembalikan Anakmu, Nyonya.

    Semuanya baik-baik saja tadi pagi, kemarin dan kemarinnya lagi. Sudah berulang kali kucoba mengulangi apa saja yang telah kulakukan beberapa hari terakhir ini, bahkan minggu-minggu terakhir ini. Tapi tetap saja aku tak menemukan sesuatu yang salah yang telah kulakukan. Walaupun tak percaya, aku harus menerima keputusan Nyonya, majikan perempuanku. Aku ingin sekali, ingin sekali tahu alasan Nyonya mengambil keputusan itu. Namun, Nyonya hanya diam tak bergeming. Hanya satu kalimat yang keluar dari bibirnya. “Maaf mbak, tapi kami sudah tak membutuhkan tenaga pengasuh lagi di rumah ini.” Dan aku terpaksa menerimanya. Meskipun airmataku mengalir tanpa kusadari, menyadari bahwa kehilangan pekerjaan ini tak sekedar membalik panci makan keluargaku tapi juga membuatku takkan punya kese
  • Cerpen Anak /
    7 Mar 2012

    PR untuk Papa

    Aku tengah bekerja menyelesaikan pekerjaanku ketika ujung bajuku terasa ditarik-tarik. Meski merasa terganggu, tapi tetap saja aku menoleh melihat ke sudut meja. Edo, putra sulungku sedang menatap dengan harap. “Kenapa Do? Papa lagi kerja nih!” ujarku tanpa menyembunyikan kelelahan. “Bantuin Edo ngerjain pr dong, pa!” pinta Edo. Secara otomatis aku melirik istriku yang sedang memangku putri kami. Seakan mengerti maksudku, istriku bangkit dan mendekati Edo. “Biar Mama saja yang bantu ya, Do,” kata istriku membujuk. Edo menggeleng. Dan kembali menatapku. “Kata Bu Guru, hanya Papa yang bisa bantuin Edo.” “Oh ya? Memang PR apa? Sudah bawa sini, biar Papa lihat,” kataku mengalah. Putraku itu langsung berlari masuk dan segera kemb
  • Cerpen Anak / Cerpen Keluarga /
    7 Feb 2012

    Bolu Coklat & Pernikahan

    “Liiin! Bantu Mama yok!” teriak Mama memanggil gadis kecilnya yang sedang berada di dalam kamar. Iih Mama, orang lagi asyik main games pakai acara dipanggil segala. Tapi tetap saja Lintang, gadis kecil berumur 12 tahun itu keluar dari kamarnya meninggalkan laptop. “Ada apa sih Ma?” tanya Lintang ingin tahu. Mama tersenyum. “Bantuin Mama bikin kue yuk. Hari ini kan ulang tahun pernikahan Mama dan Papa,” Di tangan Mama tampak sebungkus tepung terigu dan sekaleng mentega, sementara di meja sudah penuh dengan berbagai bahan lain serta alat-alat masak. Lintang langsung mengangguk. Tanpa banyak bicara, Lintang meraih ikat rambut, mencuci tangan dan memakai celemek. “Oke Ma, sudah siap!” Mama mulai memberi instruksi. Ia meminta Lintang mengay
  • Cerpen Anak /
    28 Nov 2011

    Mengenal Arti Kejujuran

    google Suara istriku Dina memarahi Aji, anak kami yang baru berumur tujuh tahun terdengar hingga ke kamar. Entah apalagi masalahnya sampai Dina harus memarahi Aji seperti itu. Kalau tidak kulerai, bisa-bisa Dina tambah marah. Akupun bangkit dari kursiku, keluar untuk melihat apa yang terjadi. “Ada apa sih, Ma?” tanyaku. Dina dan Aji yang sedang berdiri berhadap-hadapan sama-sama menoleh padaku. “Ini loh, Pa. Si Aji ngambil uang mama gak ngomong dulu.” adu Dina dengan nada tinggi. “Engga, Pa. Aji tadi cuma lupa. Mama nih langsung main marah aja.” Ganti putraku yang membela diri. Dina masih ingin membuka mulut, tapi ketika melihat tanganku teracung ia lantas terdiam. “Sudah, sudah. Biar nanti Papa yang kasih tahu. Aji sini ikut Papa yok!R

KONTAK

BUNDA IIN AJID

Blogger, Istri Aa Ajid, Emak si Trio - Kakak (15), Abang (12) & Adek (8). 

Mau baca tulisan yang lain? Cek blog lainnya: Iinajid.comDiarybundaiin dan Ruang Cerita

Tulisan Terbaru

Komentar

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia