Catatan Bunda Iin

  • Cerita Pendek /
    5 Mar 2015

    Kemesraan Yang Tercabut

    “Bundaaaaa, lama amat sih sholatnya!!” Teriakan manja itu menyambutku saat baru keluar dari mushola. Aku hanya tersenyum, mengambil sepatu dan mulai duduk memasang kaus kaki. “Aku yang cuma nungguin aja capeknya minta ampun. Bunda maaah… habis kuliah masih sempat-sempatnya sholat. Bentar lagi, jam praktek mulai loh Bun. Cepetan!! Nih kalo kita gak lari, gak bakal keburu deh!” gerutu si manja Lestari itu lagi. Bibirnya melengkung bagai kurva itu terus berbicara tanpa henti. Aku mendongak. “Ya udah, kamu duluan aja. Biar saya nanti lari-lari dikit. Biar kurus.” “Aaah, Bunda gitu deh! Aku kan udah nungguin Bunda. Lagian gak enak ah kalau sendirian. Entar dikira apaan. Udah Bunda buruan deh pake sepatunya!” Dan tepat saat itu, aku selesai
  • Cerita Pendek /
    23 Jan 2015

    Anak Yang Bahagia

    Sebelum aku membuka pintu, aku sudah tahu pemandangan seperti apa yang akan kulihat di dalam kamar putriku. Pelan-pelan kubuka pintu berwarna krem itu. Ia di sana. Duduk di atas kursi berwarna hitam, menulis sesuatu di meja belajarnya. Tumpukan buku tersusun rapi di sisi kanannya. Sementara tiga buah buku terbuka lebar di sebelah kirinya. Seperti yang kuduga, putriku sedang belajar. Kamar Tiara selalu rapi. Tempat tidur tanpa kerutan sprai sama sekali, di atasnya berjajar rapi bantal dan guling ditambah boneka-boneka bantal yang berasal dari beberapa hadiah saat hari ulangtahunnya. Tiga buah rak buku setinggi tubuhku dipenuhi berbagai buku-buku yang tersusun sesuai dengan genrenya. Di dekat pintu, sebuah drum set berukuran besar terletak dalam posisi ditutupi sebuah kain berwarna hijau
  • Cerita Pendek /
    15 Dec 2014

    Boss Pelit

    Wajah Pak Rahmat tampak gelap, bibirnya terlipat dan matanya sendu. Bahunya merosot lemas dengan langkah kaki yang berat. Sudah bisa kuduga apa yang terjadi di dalam sana hanya dengan melihat keadaan Pak Rahmat itu.”Gak boleh ya, Pak?” tanyaku penasaran, walaupun hatiku sudah tahu jawabannya.Pak Rahmat mengangguk kecil. Ia menghela napas berat. “Padahal, saya lagi gak punya uang buat nyewa, Mbak. Duh, kenapa sih boss kita itu jadi pelit begitu? Dulu waktu masih jadi staf biasa, beliau kan baik sekali,” keluhnya.Aku terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Bukan hanya Pak Rahmat yang pernah mengalami penolakan itu. Meskipun aku lebih tahu, atasanku yang tadi menolak permintaan Pak Rahmat bukanlah orang yang pelit. Ia hanya terlalu taat pada peraturan perusahaan.”
  • Karya Fiksi / Cerita Pendek / Cerpen Keluarga /
    8 Dec 2014

    Rumah Tangga : Bodoh & Idiot

    Bingung seakan tak berujung saat mengaitkan dua alis mataku seakan-akan mereka bertemu kalau lagi berpikir keras seperti sekarang. Aku berharap kekuatan berpikirku akan bertambah dua kali lipat kalau melakukannya. Setidaknya aku bisa menemukan jawaban dari kebingungan yang berputar-putar memenuhi otak. “Tante bodoh, ” jawab Tante Dessy spontan. “Dan Om idiot, ” timpal Om Burhan menyusul istrinya. Sebelumnya keduanya tertawa bersamaan. Maksudnya apa? Padahal aku bertanya apa rahasia kemesraan mereka yang seperti tidak pernah luntur walaupun waktu berlalu lebih dari tiga puluh tahun itu. Tapi mereka justru menjawab dengan dua kalimat singkat yang membingungkan itu. Sampai pagi ini pun, aku masih belum bisa memahami makna di balik jawaban itu. “Pagi-pagi b
  • Cerita Pendek / Cerpen Anak / Cerpen Keluarga /
    13 Sep 2014

    Papamu Untukku Saja

    Arisa terlonjak saat suara pintu dibanting keras. Dadanya berdegup kencang. Kakinya yang tadi asyik mengetuk lantai mengikuti irama musik pop Korea yang disetel Cinta langsung terdiam kaku. Ini bukan hal baru baginya mendengar bantingan pintu seperti itu. Tapi tiap kali Cinta melakukannya, ia tetap saja selalu terkejut. Dari kursi yang ia duduki, Arisa menatap Cinta yang masuk ke dalam kamarnya dengan bersungut-sungut. “Gak boleh, Ris! Papa bilang sudah kesorean. Entar kita kemalaman di jalan,” ujar Cinta dengan bibir melengkung. “Ya sudah, gak papa kok Cin. Besok saja. Kan masih sempat. Waktunya masih lama.” “Iih, tapi aku gak yakin deh. Kemarin aja kata Desi, stok tas MCM tinggal beberapa biji doang. Kalau hari ini gak beli entar kehabisan. Aaah, Papa…
  • Cerita Pendek /
    17 Jul 2014

    Membeli Urap Yang Basi

    Aroma ikan gurame goreng bercampur dengan sambal terasi yang khas tercium di antero ruang makan. Ketika aku menambahkan semangkuk sayur asem di atas meja makan, seketika anak-anak berseru “Weleeeh, mantaaap nih!!” Aku tersenyum memandangi anak-anak yang sibuk menata meja makan sedemikian rupa agar nanti saat berbuka puasa, semuanya sudah siap untuk disantap. Sedotan pun sudah dimasukkan dalam gelas plastik jus jeruk yang tertutup. Sepertinya mereka benar-benar sudah tak sabaran ingin segera menyudahi lapar dan dahaga setelah berpuasa satu hari. Tiba-tiba telepon berdering, Kakak melompat meraih gagangnya dan langsung berseru. “Ayah!!” Seketika pula dua adiknya mendekatinya, mereka mulai ribut meminta tambahan snack untuk berbuka. Ade memesan bakwan jagung, sement
  • Cerita Pendek / Cerpen Remaja /
    24 Mar 2014

    Ingin Kuulang Waktu

    “Image courtesy of criminalatt / FreeDigitalPhotos.net”. Seandainya Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan, maka akan kuambil kesempatan itu untuk berhenti tepat ketika aku bertemu denganmu. Berhenti tepat saat itu. “Hai kamu!” teriakan itu menghentikan langkahku dan Yoga. Aku menoleh dan kamu menyongsongku dengan cepat. Entah apa yang kau lemparkan, karena saat itu hanya sekelebat bayangan jatuh di wajahku, menghantam tepat di dahiku yang langsung terasa berdenyut hebat. Sesaat aku terhuyung dan menyadari sebuah kaleng kosong kaulemparkan padaku. “Heh!!” teriakku marah, sambil memegangi dahiku yang sakit. “Apa? Sakit? Rasain!” Kamu terus dekati aku dan matamu besar sekali saat menatapku. Melotot sambil berkacak p
  • Cerita Pendek /
    7 Mar 2014

    Jari Yang Terluka

    Setengah jam lebih, kami berbicara sambil menghabiskan daging yang dimasak cukup matang dan disajikan bersama saus barbekyu dan kentang goreng. Untung ada teman makan siang, kalau tidak mungkin aku akan melewatkannya seperti biasa. Aku suka mengajak Lika makan bersama. Tiap kali melihatnya makan, aku jadi ingin makan juga. Dia menikmati makanannya seperti makan untuk yang terakhir kalinya. Pelan menikmati setiap suapan dengan baik. “Enak?” tanyaku penasaran, ketika ia mengunyah kentangnya pelan-pelan. Lika mengangguk. “Iya, makanlah. Steakmu udah dingin!” Aku menghembuskan nafas. Ah, meski tadi ingin sekali makan tapi ada sesuatu dalam hatiku yang sedang berkecamuk tak berhenti sejak kemarin dan inilah penyebab utama mengapa aku mengajak Lika. “Aku dapat
  • Cerita Pendek /
    18 Nov 2013

    Acha & Televisi

    “Sudah lama?” Wanita itu akhirnya sampai di dekatku. Aku mengangguk. “Sudah sejam! Tadi saya lupa bawa bekal Pia. Makanya cepat-cepat datang. Mau pulang udah malas. Sekalian mau lihat si Pia menari,” jawabku sambil menunjuk ke arah ruang ekskul untuk menari, tak jauh dari ruang tunggu para penjemput itu. Ruangan itu berbentuk aula, tanpa dinding dan cukup lapang. Bunda Acha tersenyum. Wanita cantik yang hampir memasuki usia tigapuluh tahun itu ikut melihat ke arah tatapanku. Ruang ekskul yang sedang kami perhatikan, terdengar gaduh oleh suara teriakan anak-anak yang berbicara ditingkahi oleh suara musik yang cukup kencang. Tapi, senyum riangku sedikit menghilang saat melirik Bunda Acha. Wajahnya justru terlihat murung melihat keramaian kecil di ruangan itu. Tatap
  • Cerita Pendek /
    16 Nov 2013

    Di Balik Pembalasan

    Gadis berambut merah kecoklatan itu duduk sambil menghadap ke arah dimana hingar bingar musik kafe berasal. Dua orang penyanyi muda sedang mendendangkan sebuah lagu tentang seseorang yang jatuh cinta. Musiknya bernada cepat dan gembira. Senyum menghiasi wajah sebagian penonton lainnya, ketika mendengar syair-syair lagu yang menceritakan kebodohan seseorang yang sedang jatuh cinta. Seringkali justru menjadi kekonyolan yang lucu untuk orang yang melihatnya. Tapi hal itu tak dirasakan gadis itu. Airmata mengalir pelan di kedua pipinya. Sesekali tangannya mengusap, sebelum ia menunduk menyembunyikan kemurungan yang tergambar jelas di wajah cantiknya. Seakan-akan ia tak berada di dalam atmosfir kegembiraan di antero cafe itu. Sarah berjalan mendekati meja di mana gadis itu sedang duduk. Karen

KONTAK

BUNDA IIN AJID

Blogger, Istri Aa Ajid, Emak si Trio - Kakak (15), Abang (12) & Adek (8). 

Mau baca tulisan yang lain? Cek blog lainnya: Iinajid.comDiarybundaiin dan Ruang Cerita

Tulisan Terbaru

Komentar

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia