Catatan Bunda Iin

  • Cerita Pendek /
    13 Oct 2016

    The True Admirer

    Gadis itu berdiri di lantai tangga kedua, memandangi ponselnya lalu tertawa kecil. Jemarinya yang lentik menyapu layar ponsel dan lagi-lagi ia tertawa. Sesekali jemari yang sama menyibak anak rambut lurusnya yang hitam itu saat jatuh menutupi pandangannya. Ia tampak tak peduli dengan sekelilingnya dan terus menatap ponselnya seakan benda itulah satu-satunya benda yang memahaminya. Meski tampak seperti itu, sesekali ia mendongak dan menyapa mereka yang melewatinya untuk naik ke lantai tiga. “Mbok ya sapa sana, jangan hanya dipandangi dari jauh!” Aku menoleh cepat. Sosok gemuk dengan wajah bulat tersenyum padaku. Bu Indah. Kata-katanya membuatku tersipu malu. Ia juga ikut memandang gadis itu, tertawa kecil lalu kembali menatapku dengan senyuman lebar. “Oh, Bu. Selamat pa
  • Parenting / Cerita Pendek /
    29 Sep 2016

    Anak Terkaya

    “Ma, Ma… Ara iri deh sama teman-teman Ara,” ujar putri kecilku tiba-tiba ketika kami menuruni tangga dari ruang kelasnya. Langkahku terhenti sejenak, gadis kecil itu mendongak padaku dengan mata yang murung. Karena ada orang lain di belakang kami, aku kembali berjalan sambil menggandeng Ara di tangan kiri dan membawa tas sekolahnya yang berat di tangan kanan. Kata-kata Ara benar-benar mengangguku siang itu. Aku memang tak sempat mengobrol panjang lebar setelah mengantarnya pulang ke rumah. Walaupun selalu bisa menemaninya makan siang dan menjemputnya saat pulang sekolah, tapi seperti biasa aku langsung kembali ke kantor hingga sore hari.  Tak ada seorangpun ibu di dunia yang mau putra-putrinya mempunyai perasaan seburuk itu pada teman-temannya. Tidak juga aku. Sus
  • Cerita Pendek / Parenting /
    25 Sep 2016

    Biarkan Bebas!

    Tujuh belas tahun lalu… Dua gadis kecil berambut pirang itu berlarian di atas rumput mengejar kupu-kupu berwarna jingga hitam sambil tertawa-tawa. Di belakangnya, seorang perempuan lebih tua dariku, yang juga berambut pirang mengikuti mereka dengan langkah tenang. Saat ia menoleh, tatapan kami bertemu. Aku mengangguk padanya, melemparkan senyum. Ia juga membalas dengan anggukan dan senyuman. “Look it that, Mommy!!” pekik salah satu gadis berambut pirang itu seraya menunjuk-nunjuk ke tanaman bunga sepatu. Perempuan yang ia panggil ‘Mommy’ itu menoleh padanya. Ah, rupanya dia ibu mereka. Pantas saja, kedua putrinya memang sangat mirip dengannya. Aku tersenyum melihat mereka. Jarang banget ada bule bermain di sini. Aku memang sering Mr. Graeme bermain dengan pa
  • Cerita Pendek /
    5 Sep 2016

    For You, Love!

    Hari masih sangat pagi ketika aku berjalan menuju gedung itu dengan tubuh gemetar. Tiga lapis pakaian ditambah jaket panjang berwarna pink pastel yang kemarin dibelikan Nona Lee tetap tak cukup membuat tubuhku berhenti gemetar, terutama di bagian lutut. Sepagi ini memang belum banyak orang-orang yang datang ataupun berlalu lalang di jalanan kota yang beku. Musim dingin adalah musimnya orang malas kemana-mana, begitu kata temanku yang bekerja di kota ini hampir lima tahun. Aku menaikkan krah jaket menutupi leherku. Menyesal juga tadi tak kuterima saja syal pinjaman dari Heru. Aku kuatir tubuhku akan terlihat makin gemuk, dan menolak penghangat leher itu begitu saja. Sekarang akibatnya udara dingin itu menusuk-nusuk masuk melalui leherku. Begitu melihat pintu berputar tempatku bekerja, ak
  • Gaya Hidup / Cerita Pendek / Psikologi / Parenting /
    27 Jul 2016

    Apa itu Dijewer, Ma?

    “Ma, apa itu dijewer?” Aku termangu mendengar pertanyaan aneh itu keluar dari bibir polos gadis kecilku. Si tujuh tahun yang bercita-cita jadi artis itu. “Loh, emang Ara gak tahu apa itu dijewer?” tanya temanku yang juga sedang menjemput putrinya yang sekelas dengan Mutiara, putriku. Ara menggeleng. Entah apa aku harus merasa senang atau malah sedih. Seumur hidup Ara, aku tak pernah sekalipun menyentuh telinganya dengan kasar. Jangankan menjewer, mencubit atau memukulnya, membentaknya saja aku tak tega. Aku tak pernah mau menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkan putriku. Apalagi selama tujuh tahun mengasuh Ara, aku tak pernah kesulitan mencegah atau memintanya melakukan sesuatu. Tentu saja, seperti anak-anak lain, Ara juga sering membantah atau sesekali ngambek.
  • Cerita Pendek / Cerita Umum / Pernikahan /
    22 Jul 2016

    Airmata Yang Tak Menetes

    Sudah lama sejak ia datang tadi sore, duduk di ruang tamu sendirian setelah sholat magrib. Tak ada yang aneh. Seperti biasanya, ia duduk di situ sambil menunggu waktu Isya’ tiba. Hari ini juga sama. Aku membiarkannya, sama seperti biasa. Anak-anak mendekatinya, mengajaknya bicara dan melaporkan kegiatan mereka. Dan ia menyahutinya dengan sabar, sesekali mengangguk, mengiyakan lalu memberikan pujian.  Tapi… wajah itu berbeda. Aku tahu ada yang salah. Tapi aku juga tahu, kami telah sepakat dalam satu hal. Ada hal yang bisa dibicarakan bersama atau di depan anak-anak, ada yang tidak. Kali ini, pasti tidak karena berulang kali matanya bertemu dengan mataku, sesaat sebelum berpaling dan memasang senyum tipis. “Makan sekarang?” tanyaku. Ia mengangguk, dan balik
  • Cerita Pendek / Sinopsis Film /
    30 Mar 2016

    Descendants of The Sun: Kisah Cinta Diantara Patriotisme & Kemanusiaan

    Untuk pertama kalinya saya mengulas sebuah drama dari kejauhan ya. Bukan berarti saat bekerja seperti sekarang saya melupakan kegiatan favorit khas emak-emak. Hehe… malah asyik. Di sini saya menontonnya tepat di jam tayangnya. Animo masyarakat yang luar biasa membuat drama ini ternyata ditayangkan berkali-kali oleh KBS World di akhir pekan. Di Korea sendiri, koran dan media ramai membahasnya terutama membahas soal ratingnya yang luar biasa, sekitar 30% mengalahkan rating My Love from the Star. Dengar-dengar gosipnya sih beberapa media televisi luar negeri akan membeli hak tayangnya. Berdoalah semoga televisi Indonesia menjadi salah satunya. Meski Korea banget, tapi ini bagus untuk membangun semangat patriotisme dan jiwa penolong tanpa batasan ras. Waah… jadi penasaran kan? K
  • Cerita Pendek / Serial : I Wanna Be Emak / Cerpen Remaja / Cerpen Keluarga /
    26 Mar 2016

    Mendung Di Wajah Kakak

    Aku mengeluh dalam hati saat mobil berbelok dan terhenti. Macet. Cukup panjang pula. Aku menghela napas lagi, tidak tahu harus melakukan apa kalau sudah seperti ini. Tak mungkin berbelok atau memutar mengambil jalan lain. Jalan ini terlalu sempit dan dari arah berlawanan pun sama macetnya. Mau tak mau mobilku hanya bisa berjalan mengikuti antrian kemacetan itu. Suara teman-teman Kakak, panggilan sayang untuk putriku, yang sedang berbincang membuatku tersenyum. Mataku melirik mereka. Untunglah aku tak sendirian. Mendengarkan mereka berbincang, bercanda bahkan tertawa-tawa seperti itu membuatku ikut terhibur. Tapi mendadak Kakak terdiam sesaat setelah ia tergelak karena candaan temannya. Ia memandang keluar jendela mobil seperti orang kaget. Dengan perasaan tak enak aku kembali melihat ke b
  • Cerita Pendek / Pernikahan / Gaya Hidup /
    28 Dec 2015

    JANDA

    “Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu!” Tyas mengangkat wajahnya, menatap sahabatnya yang duduk di hadapannya. Gelas yang hampir sampai di mulut Tyas terhenti di udara, sebelum akhirnya ia letakkan kembali ke atas meja. Wajah Nola sudah berubah. Tak ada lagi senyum  apalagi tawa di sudut bibirnya yang biasa melengkung dengan cantik itu. Ia pasti marah. Tiap kali Tyas berkata ingin bercerai dengan suaminya, Nola selalu seperti itu. Ia akan mendengarkan semua keluhan Tyas tentang suaminya, ia juga akan tetap diam dan terus begitu sampai airmata Tyas akhirnya menetes. Saat itulah, Nola akan memeluk Tyas masih tanpa berkata apa-apa. Hanya saja, Nola akan berubah marah setiap kali Tyas mengucapkan keinginannya itu. “Jangan bercerai! Jangan pernah menjadi janda, Yas! J
  • Cerita Pendek /
    19 Nov 2015

    Finding My Soul

    Perempuan itu berlari ke sana ke mari, sebentar ia ke arah depan, sebentar ia berlari agak ke belakang. Sesekali ia menyelip di antara barisan berwarna merah putih dan merah hitam itu, menyodorkan air mineral, memberikan tisu bahkan mengusap keringat anak-anak berseragam marching band itu. Ia tetap tersenyum, tampak gembira dan menikmati perannya sebagai manajer lapangan. Tak ia pedulikan kulitnya yang dulu putih bersih sekarang menjadi coklat tua karena terpanggang matahari, tak ia pedulikan keringat yang juga membasahi tubuhnya sendiri dan ia bahkan tak peduli dengan berat tas punggung di belakangnya. Tubuhnya yang mungil namun sedikit gemuk itu nampak lincah bergerak-gerak. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam, sepertinya terlalu sibuk memperhatikan anak-anak dalam barisa

KONTAK

BUNDA IIN AJID

Blogger, Istri Aa Ajid, Emak si Trio - Kakak (15), Abang (12) & Adek (8). 

Mau baca tulisan yang lain? Cek blog lainnya: Iinajid.comDiarybundaiin dan Ruang Cerita

Tulisan Terbaru

Komentar

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia