Catatan Bunda Iin

  • Kenangan / Pernikahan / Cerita Pendek /
    27 Jun 2017

    Tiket Pesawat Terakhir

    “Sudah dipesan, Mas?” tanya Anisa tepat setelah ia melihat suaminya selesai makan. Reno melirik dan menggeleng tak peduli. “Kok belum? Nanti kehabisan. Harus dibooking dari sekarang,” dengan nada sabar, Anisa kembali mengingatkan. Tapi Reno tak bergeming. Terlihat jelas keengganan di matanya. “Mas gak mau pulang ya?” tebak Anisa lagi. “Hmm… Entahlah, aku malas menjawab pertanyaan-pertanyaan saudara-saudaraku, Neng.” Anita terdiam. Ia paham maksud suaminya. Bahkan kalau dipikir-pikir, dialah yang paling sedih tiap kali mendengar pertanyaan itu. Meski dilempar dengan candaan, pertanyaan itu justru semakin mengingatkan mereka pada sesuatu yang sampai sekarang belum didapatkan. “Aku udah bilang ke Ibu kalau kita belum tentu pulang t
  • Cerita Pendek /
    13 Jun 2017

    Al Qur'an yang Usang

    Panas menyengat tak diindahkan oleh Ummi Syifa. Ia terus berjalan dengan bergegas menaiki tangga demi tangga hingga ke lantai empat. Suasana sudah sepi, sepanjang lorong lantai empat sudah tak ada lagi murid-murid yang berkeliaran. Bel masuk sudah terdengar sejak sepuluh menit yang lalu dan Ummi Syifa terlambat karena tadi ia harus menemui Kepala Sekolah. Pikiran Ummi sedang bercabang. Kabar yang ia dengar sungguh mengejutkan. Tapi saat ini ia harus mengajar dan ia tak mungkin meninggalkan murid-muridnya begitu saja. Apapun yang terjadi, Ummi ingin tetap tenang. Ummi tiba di depan pintu kelas 7, satu helaan napas keras terdengar sebelum ia berdehem dan mengucap salam sembari membuka pintu, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” “Wa’alaikum salam wa
  • Kenangan / Cerpen Remaja / Cerita Pendek /
    23 May 2017

    Album Foto Kenangan Sahabatku

    Album Foto Kenangan Sahabatku Suara ponsel tiba-tiba terdengar nyaring memecah keheningan. Aku menatap putriku, dan ia dengan sigap mengambilkan ponsel yang sedang di-charge itu. Begitu ia menyerahkannya, aku langsung melirik nomor yang tertera. Tak ada nama atau foto yang muncul, hanya sederet nomor yang baru kulihat. Dengan penuh tanda tanya, kutatap lama layar monitor ponsel. “Kenapa Ma? Gak kenal?” tanya putriku. Aku mengangguk dan menyerahkan kembali ponsel itu padanya. Kali ini putriku tak menunggu, ia menggeser tombol hijau di layar untuk menerima. Lalu ia berjalan keluar, keluar dari ruang kerjaku sambil bicara. Aku tak lagi peduli, memilih untuk melanjutkan pekerjaan. Tak sampai lima menit, putriku kembali. Telepon telah ditutup. “Ma, itu tadi nama Ineke. Kata
  • Cerita Pendek /
    17 Mar 2017

    Ponsel Tua Yang Hilang

    “Sebentar, saya masukkan dulu nomornya? Berapa tadi, San?” tanya Pak Hendra, sambil menekan-nekan tombol ponsel. Aku mengulang sekali lagi sambil tertawa kecil. Kulirik ponsel kecil mungil berwarna putih kusam di tangannya. Heran sih, kenapa ponsel keluaran sepuluh tahun lalu itu masih dipakai seorang Direktur Marketing. Ponsel yang hanya bisa dipakai untuk menelepon, menerima telepon, dan sms saja. Padahal gara-gara ponsel kunonya aku sering kerepotan. Beberapa kali aku bilang pada Pak Hendra, untuk menggunakan ponsel pintar. Setidaknya dia tidak perlu repot mencatat informasi penting yang disampaikan klien via telepon, tinggal rekam dan masalah selesai. Ia bisa menerima telepon dalam keadaan apapun. Yang terjadi sebaliknya, saat menyetir dan tiba-tiba ada klien menelpon, P
  • Parenting / Cerita Pendek /
    8 Mar 2017

    Coretan Di Dinding

    Sepi sekali. Tak ada suara anak-anak. Biasanya mereka akan berteriak-teriak hingga seisi rumah seperti sedang konser. Ditambah mainan yang berantakan, maka benar-benar mirip seperti kapal pecah. Aku melangkah pelan ke ruang keluarga. Itu tempat terakhir aku melihat mereka. Tadi mereka sibuk menggambar di atas meja kecil masing-masing. Karena mereka anteng, makanya aku lari ke ruang kerja suamiku, meminjam laptopnya untuk berseluncur di dunia maya. Seperti biasa, kalau anak-anak sibuk, aku juga sibuk. Sekedar meng-update status, membalas komentar atau bahkan browsing berita-berita terbaru. Ada sih ponsel, tapi tak enak membaca di layar kecil itu. Lebih enak pakai laptop, besar dan jelas. Saat aku masuk, anak-anak sudah tak ada di depan meja mereka. Mataku justru melihat keduanya sedang b
  • Cerita Pendek /
    26 Dec 2016

    Ibuku Hanya Seorang Guru

    Lembaran kertas berukuran A4 di hadapanku sudah selesai kubaca. Sahabatku Dion tampak harap-harap cemas menunggu pendapatku. Kuangkat wajah dan mengangguk. “Sudah, sudah bagus. Bagus banget malah.” “Ah, syukurlah, Mi. Gue gak peduli menang atau engga, yang penting ga malu-maluin Enyak gue,” ujar Dion seraya mengambil lembaran itu dan memasukkannya dalam map. “Tulisan lo keren kok, Yon. Enyak lo pasti bangga anak badungnya bisa nulis sekeren itu,” godaku. Dion terkekeh-kekeh. “Lo juga suka gue kan? Badung tapi keren.” “Jijaaay!!!” Bola kertas yang tadi berada di atas mejaku melayang terbang menuju Dion. Sayang, orang yang kutuju itu sudah lari ke luar kelas. Hanya suara tawanya yang masih terdengar membahana di teras kelas. Menj
  • Cerita Pendek /
    19 Dec 2016

    Treasured Memories

      Duduk dalam diam seperti ini sering mengingatkanku padanya. Tak pernah sekalipun ia biarkan aku merenung sepi sendirian seperti ini, kalau ia melihatnya. Setiap kali aku duduk dalam diam, ia akan mendekatiku dan memelukku tiba-tiba sambil tertawa lebar. “Vitamin sepi,” katanya tiap kali melakukan itu padaku. Dia, memang seseorang yang tak pernah berhenti untuk membuatku tertawa. Memang, beberapa kali ia marah padaku. Tapi itu tak membuatnya berhenti membuatku tertawa. Tiap kali ia marah, ia akan langsung meluapkan dan aku hanya bisa diam. Karena ia tampak mengerikan seakan-akan seperti bom yang meledak. Hanya saja, itu semua akan berlalu dengan cepat. Begitu ia selesai menyemprotkan api kemarahan di dadanya, maka semuanya akan lenyap seketika dan sisi menyenangkannya a
  • Cerita Pendek /
    22 Nov 2016

    Aku Menunggumu, Ibu

    Dari atas lantai tiga, aku berdiri menatap ke bawah. Ada beberapa tenda putih berdiri di bawah sana, beberapa murid berdiri bergerombol di tenda-tenda itu. Yang lain duduk-duduk di selasar kelas-kelas yang berada di lantai dasar. Itu kelas-kelas para seniorku di kelas 12. Canda tawa terdengar di sana sini, di antara para murid yang duduk-duduk berkumpul itu. Ada yang berada di bawah pohon besar nan rindang, ada yang duduk di sebelah panggung dan yang lain sekedar berpapasan lalu mengobrol sejenak dengan teman-temannya. Suara dari pengeras suara terdengar lagi. Pengumuman lagi. Setelah itu, teman-teman di kelasku berlarian keluar. Tawa dan pekik riang mereka mengiringi kehebohannya saat menuruni tangga menuju lapangan tempat tenda-tenda itu berdiri. Namun, sepertiku, ada beberapa murid yan
  • Cerita Pendek /
    14 Nov 2016

    Kisah Raja, Sang Pahlawan Sejati

    Di negeri nan jauh, tersebutlah sebuah kerajaan yang memiliki keindahan alam luar biasa bernama Uthopia. Di negeri indah nan elok itu, hiduplah seorang raja. Raja itu memerintah rakyatnya dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya hidup tentram, sejahtera dan damai. Dibantu oleh para Menteri dan pembesar kerajaan, Raja membuat negeri indah itu tak hanya kaya akan hasil bumi dan wisata negerinya, tapi juga berhasil membuat setiap orang yang tinggal di negeri itu merasa bahagia. Sayangnya sudah lama sang Raja selalu merasa gundah. Meski ia memiliki Ratu yang cantik dan baik hati, tapi mereka tidak berputra. Sudah banyak dokter yang berusaha mengobati sang Ratu, namun Ratu tak kunjung hamil. Ratu yang juga sangat sedih pun sempat meminta Raja untuk mencari istri yang lain. Tapi Raja menolak. Raja
  • Cerita Pendek /
    31 Oct 2016

    Melepas Pahlawan Hatiku

    Perlahan mataku menelusuri satu persatu daftar dalam lembaran kertas yang mulai terlihat lusuh itu. Beberapa hari ini, aku sibuk melengkapi isi dalam daftar itu sembari menyelipkan kertas itu di dompet. Entah berapa kali sudah lembaran itu keluar masuk dompet sampai hari ini, ketika aku berhasil menandai seluruhnya. Tapi tetap saja ada kekuatiran muncul kalau aku membuat kesalahan. Barangkali ada yang tertinggal, barangkali ada yang terlupa. Hanya itu yang berulangkali kupikirkan. “Hati-hati loh Ma, nanti kalau kebanyakan jadinya malah over bagasi. Lagian itu Amerika Ma, gak boleh sembarangan bawa barang masuk,” tegur suamiku ketika melihatku sibuk memeriksa jejeran barang-barang di atas tempat tidur dan sebagian di lantai itu. “Iih, Ayah. Ini juga udah sesuai dengan req

KONTAK

BUNDA IIN AJID

Blogger, Istri Aa Ajid, Emak si Trio - Kakak (15), Abang (12) & Adek (8). 

Mau baca tulisan yang lain? Cek blog lainnya: Iinajid.comDiarybundaiin dan Ruang Cerita

Tulisan Terbaru

Komentar

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia