Catatan Bunda Iin

  • Cerita Bersambung /
    27 Aug 2015

    Bu Izinkan Saya Menikah! (2 Tamat)

    Cerita Sebelumnya “Bu! Ibu melamun!” pekikan dan tepukan Farah di pahanya membuat lamunan Lestari terpecah berkeping-keping. Ia tersenyum malu di bawah tatapan keempat anak-anaknya. Mereka tersenyum-senyum melihat Lestari. “Duh, kalian ini. Jadi lupa deh Ibu tadi mau nanya apa? Tadi sampai di mana obrolan kita, Rid?” tanya Lestari sembari memperbaiki letak duduknya agar lebih nyaman disandari Farah dan Farhan. Mata Farid bersinar. “Sampai Ibu bilang tidak mengerti.” Lestari mengangguk-angguk. “Ya, Ibu tidak mengerti. Kenapa alasanmu justru karena pernikahan bukan tentang kebahagiaan semata?” “Sebenarnya berpikir pun tidak untuk menikah secepat ini, Bu. Benar kata Ibu, saya masih punya banyak rencana untuk masa depan saya. Saya juga ing
  • Cerita Bersambung /
    27 Aug 2015

    Bu, Izinkan Saya Menikah! (1)

    Jemari Farid mengetuk meja berkali-kali, ketukan dengan nada yang sama juga terdengar dari bawah meja. Itu suara kakinya yang bergerak-gerak tak sadar. Wajahnya sedikit pucat, meski ada senyum tipis tersungging di bibirnya. Walaupun Farid berusaha menutupinya, Lestari tahu ada sesuatu yang membuat pemuda duapuluh lima tahun itu gelisah. Untuk menenangkan pemuda di depannya, Lestari tersenyum padanya. “Ada apa sih, Aa?” tanya Lestari tenang. Jari-jarinya tetap sibuk menekan keyboard. Ada dokumen yang harus ia selesaikan malam ini juga. Itu juga yang membuatnya tahu kalau Farid sedang ingin bicara padanya. Tiap kali ia bekerja, Farid tak pernah mau mengganggunya kecuali ia sedang benar-benar perlu. Wajah Farid jelas masih menyiratkan keraguan. Matanya bergerak-gerak gelisah. Lal
  • Cerita Bersambung /
    13 Jan 2015

    Pengabdian (2 - Tamat)

      Sebelumnya   “Bu, seandainya Malik mengundurkan diri dan Ibu gagal berangkat haji. Bagaimana?” tanyaku setengah berbisik. Kuatir membuat Ibu terkejut. Aku benar-benar tak tahan lagi menghadapi situasi di kantor. Sudah setengah tahun berlalu, dan hatiku semakin tidak tenang meskipun pundi-pundi tabungan bertambah. Tak tampak wajah terkejut atau panik di wajah Ibu, ia malah mengulas senyuman di wajahnya. “Memangnya kenapa, Lik? Tempat kerjamu tidak bagus? Atau ada masalah?” tanya Ibu pelan sambil melepaskan sulamannya. “Tempat kerja Malik bagus, Bu. Sangat bagus. Tapi, di sana susah kalau mau beribadah, Bu. Malik jarang bisa sholat tepat waktu dan kalaupun sholat seringkali dimasalahkan atasan Malik. Gak cuma itu, Bu. Banyak hal-hal yang menyulitk
  • Cerita Bersambung /
    13 Jan 2015

    Pengabdian (1)

    [/caption] Sapaan seorang satpam menyambutku saat motor yang kukendarai berbelok memasuki gerbang coklat besar itu. Aku menekan jempolku pada absen yang terletak di dekat si satpam. Dari balik helm, aku mengangguk dan langsung mengarahkan motorku menuju tempat parkir beratap merah marun. Sudah banyak motor yang terparkir rapi di situ, walaupun spot yang memang diperuntukkan untuk motorku masih kosong. Semua motor memang didaftarkan secara khusus dengan spot masing-masing. Tak sembarang orang bisa bekerja di tempat ini. Semuanya harus terdaftar dan memiliki izin termasuk kendaraan yang digunakan untuk bekerja. Siapa yang tak bangga bekerja di tempat ini? Begitu aku menyebut nama perusahaan ini, maka semua orang yang bertanya akan segera mengatakan betapa beruntungnya diriku. Gaji dalam hi
  • Cerita Bersambung / Cerpen Remaja /
    14 Feb 2012

    Ta'aruf (tamat)

    Cerita sebelumnya Ta’aruf 1 Seminggu setelah pertemuan di rumahku, Ramadhan mengundangku dan Ayah melalui sms. Tiga lembar tiket dikirimkannya melalui kurir karena Ramadhan sudah berada di kotanya sejak beberapa hari lalu. Sulit rasanya tak mengindahkan rasa rindu yang membuncah saat kami bertemu di kota kelahiran Ramadhan, ia datang menjemputku dan kedua orangtuaku di bandara Sepinggan. Penuh rasa hormat disalaminya Ayahku, dan mengangguk hormat pada Ibuku. Sekejap sorot pandang sayang dilemparkannya dalam tatapan, membuat hatiku terasa bagai melayang.Pertemuan itu ternyata tak seperti yang kubayangkan. Perumahan Pertamina tempat kakak Ramadhan tinggal bersama ibunya, telah ramai dikunjungi hampir seluruh keluarga besar Ramadhan. Satu persatu, Ramadhan memperkenalkan diriku beser
  • Cerita Bersambung / Cerpen Remaja /
    14 Feb 2012

    Ta'aruf

    google Dengan gelisah kutatap Ibu berkali-kali. Keinginan yang sedari tadi ingin kusampaikan mendadak menjadi beban yang ragu kulontarkan. Jemariku mulai melinting ujung kerudungku. Namun tetap saja tak mampu menghapus keraguan yang mendadak datang. “Fit, kamu kenapa toh nduk?” tanya Ibu heran, seraya mendekatiku yang berdiri di ambang pintu. Aku terhenyak. Tak menyangka Ibu akan bertanya padaku. “Ah oh… eh Fitri, anu bu, eh…” jawabku gugup. Ibu tertawa kecil. “Ada apa sih? Sampai segugup itu,” kata Ibu. Ditariknya tanganku dan kamipun duduk di meja makan. “Sekarang ceritakan apa yang mau kamu sampaikan?” tanya Ibu lembut. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Bahkan sebelum keinginan itu kusebutkan, rasa malu bertabur jengah
  • Cerita Bersambung /
    19 Dec 2011

    Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (4-Tamat)

    Cerita sebelumnya : Ajari Aku Cinta (3)   Kini aku menapaki hari yang lebih menyenangkan. Tiga keluarga baruku menghiasi hari-hariku tanpa Faizal. Setahun berlalu dengan cepat tanpa kusadari. Kesepian tak lagi kurasakan karena selalu ada yang mengisinya. Bunda dengan kebijakannya, Mama yang selalu menghujaniku dengan kasih sayang yang dulu tak pernah ia berikan, Ayah yang selalu melucu meski terkadang garing, kak Amira, Najwa, Restu dan Aisyah selalu membuatku semakin merasa berarti hari demi hari. Aku juga sering bertandang ke rumah Bunda kandungku, menjumpai sebagian saudaraku, menyempatkan diri mengenal beberapa keponakanku dan entah beberapa kali aku mengajak mereka bermain di mal ataupun taman bermain. Hidupku terasa lengkap setelah aku membuka hatiku pelan-pelan. Suatu hari, ke
  • Cerita Bersambung /
    19 Dec 2011

    Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (3)

    Cerita sebelumnya : Ajari Aku Cinta (2) Aku belajar dari Ayah Faizal kalau cinta adalah memaafkan. Dengan memaafkan, kita belajar mencintai jauh lebih baik. Maaf membuka hati lebih luas dan cinta akan datang dengan mudah. Dari kak Amira, kakak Faizal aku mempelajari ketulusan cinta. Cinta yang tulus yang kulihat saat ia mendidik putra-putranya. Pertama kali juga aku tahu kalau ketulusan bisa diperlihatkan melalui kemarahan. Sekali kulihat kak Amira marah pada putranya tapi bukan jenis kemarahan yang sama saat aku kecil dulu, kemarahan di mata kak Amira terkendali dan teramat singkat tapi efeknya jauh lebih dahsyat. Putranya meminta maaf dengan penyesalan sebelum akhirnya kak Amira memeluknya dengan hangat. Hatiku tersentuh melihat cara kak Amira itu. Najwa, si bungsu adik Faizalpun mengaj
  • Cerita Bersambung /
    19 Dec 2011

    Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (2)

    Cerita Sebelumnya : Ajari Aku Cinta (1) Sekali lagi Faizal selalu bisa memberiku semangat baru. Dengan humornya, ia menanggapi respon negatif tentang hasil kerjaku melalui pandangan positif. Tak ada yang tidak benar menurutnya, hanya terkadang perbedaan pandangan antara profesional dan awam sulit ditemukan. Hal yang paling penting bagiku, ia selalu bisa membuatku menghela nafas lega dan bersemangat menjalani pekerjaanku lagi. Faizal pernah memberiku kejutan. Kejutan yang tak dapat kuduga dan membuatku sulit bernafas. Aku kehilangan kata-kata. Ia membawaku ke sebuah rumah kecil, namun indah dan asri. Tanpa sempat bertanya, ia mengajakku masuk, menemui seorang ibu dengan penuh senyuman dan seorang ayah berwajah ramah yang mirip Faizal. Ia merangkulku dengan hangat dan berkata pada mereka,
  • Cerita Bersambung /
    19 Dec 2011

    Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (1)

    Buatku Faizal hanyalah sahabat, buatku dia hanyalah satu dari sekian banyak lelaki yang menawarkan berbagai keindahan tapi aku yakin suatu hari nanti dia akan kembali pada apa yang kusebut dengan sisi hewaninya. Cinta adalah sesuatu yang terlalu indah dan hanyalah khayalan dengan mata terbuka yang cengeng. Aku belajar bertahun-tahun tentang cinta dan belajar untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Satu cinta paling indah di dunia, kasih sayang hakiki dari janji surga pun tak dapat kuraih. Cinta Ibu yang begitu besar pada Ayah, membuatnya bahkan rela menjualku saat bayi pada orang lain. Papa angkatku ternyata lelaki paling ringan tangan yang kukenal. Ringan tangan karena gampang sekali melayangkan tinju dan menghajar siapapun. Aku, Mama angkatku bahkan adikku semua pernah merasakan bogem

KONTAK

BUNDA IIN AJID

Blogger, Istri Aa Ajid, Emak si Trio - Kakak (15), Abang (12) & Adek (8). 

Mau baca tulisan yang lain? Cek blog lainnya: Iinajid.comDiarybundaiin dan Ruang Cerita

Tulisan Terbaru

Komentar

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia