Catatan Bunda Iin

Permainan Yang Mematikan

10 Mar 2017 - 23:15 WIB

Belakangan ponsel saya dibanjiri video anak-anak yang sedang bermain Skip Challenge. Banyak orangtua bertanya cara mencegah anak-anak mereka bermain permainan berbahaya itu. Padahal saya sendiri sudah tahu soal permainan sejak bulan Oktober 2016, ketika dilakukan oleh teman dari salah satu anak saya.

Saat itu, beberapa orangtua sampai harus datang ke sekolah dan hampir semuanya meminta agar pihak sekolah mengawasi anak-anak dengan lebih tegas. Untungnya pihak sekolah memang sangat tegas, bahkan sampai menerapkan aturan baru yang sebenarnya menambah tugas para guru di sekolah tapi mengurangi kekuatiran orangtua.

Saya tak menyangka kalau permainan ini ternyata telah menyebar, hingga dibuat video viral. Video itu sebenarnya bagai dua mata pisau, yang satu karena bisa membuat mata para guru dan orangtua yang tidak tahu akan segera melek melihat kejadian tersebut, tapi di sisi lain justru menimbulkan keingintahuan lebih besar buat anak-anak lain yang tidak tahu dan akhirnya ingin mencoba.

Anak-anak, apalagi remaja, itu penuh dengan rasa ingin tahu yang kadang-kadang berbahaya. Mereka tak takut mencoba hal-hal ekstrim karena mengira itu bagian dari kehidupan yang harus dipelajari.

Jenis permainan ini hanyalah satu dari sekian banyak permainan berbahaya yang dilakukan anak-anak di sekolah. Pernah tahu kalau ada permainan tumpuk menumpuk tubuh? Atau permainan menyusun kursi dan lalu anaknya naik ke atas, makin banyak kursinya, makin keren menurut mereka? Bahkan ada jenis permainan main cekik-cekikan yang sudah banyak memakan korban di luar negeri…

Saat mereka membahas tentang permainan itu, saya harus geleng-geleng kepala karena takjub mendengar alasannya, “Bun, itu kan olahraga. Melatih fisik biar tahan banting.”

Akhirnya, saya harus susah payah menjelaskan bahwa tubuh mereka sangat riskan dan rapuh. Tulang rusuk yang rentan patah, tulang leher yang dipenuhi syaraf-syaraf penting, bahaya aliran darah ke kepala yang terhenti, perut dan ulu hati yang sensitif dan lain-lain. Apalagi sudah bukan rahasia, setelah menginjak usia remaja, kebanyakan anak-anak memilih bermain gadget dibandingkan beraktifitas di luar rumah. Jelas kualitas kesehatan tubuh mereka berbeda dengan zaman anak-anak sepuluh tahun yang lalu.

Sebagian besar dari mereka mungkin lupa pelajaran Biologi, IPA atau Penjaskes yang menjelaskan anatomi tubuh, kesehatan dan bahaya kekerasan pada manusia karena tingkat kecerdasannya. Tapi yang lebih berperan dalam pikiran anak-anak seusia ini adalah emosi, jadi meski tahu bahayanya pun mereka tetap menganggap permainan seperti itu sebagai sesuatu yang menantang.

Kebiasaan memainkan sesuatu berbahaya ini sebenarnya dimulai oleh para orang dewasa juga. Coba… masih ingatkah sistem perploncoan yang sempat marak di setiap tahun ajaran? Adakah hukuman yang nyata diberikan pada pelaku-pelakunya saat dulu sistem itu berlaku luas? Jika ada yang tewas, barulah ribut-ribut dan pelakunya dihukum setelah semuanya sudah tak ada gunanya lagi.

Sejak anak-anak masuk sekolah, orangtua seharusnya mulai memberikan rambu-rambu keamanan bagi anak. Mulai dari siapa saja yang boleh menyentuh tubuh mereka, bagaimana sentuhan itu dilakukan dan apa yang harus dilakukan ketika ia merasa tidak nyaman dengan sentuhan.

Hal lainnya adalah memahami bentuk-bentuk kekerasan. Ingat satu hal, anak-anak itu seperti kertas kosong. Mereka tak tahu apa-apa. Karena itu penting sekali berkomunikasi dengan mereka tentang arti kekerasan. Seperti cerita saya di atas, banyak di antara mereka yang sulit membedakan antara olah tubuh dan kekerasan fisik.

Saya selalu menekankan pada anak-anak… tidak hanya anak saya, tapi semua yang pernah saya tangani, untuk belajar menyayangi tubuh mereka. Kalau mereka sulit membedakan mana kekerasan, mana permainan, saya minta mereka merasakannya. Jika permainan itu menyakitkan, atau akan membuat mereka sakit atau terasa tidak enak di salah satu bagian tubuh mereka, itu tergolong permainan berbahaya.

Permainan berbahaya bermacam-macam, termasuk olahraga beladiri. Tapi untuk memainkannya, harus ada pengawasan orang dewasa. Olahraga apapun, kalau dilakukan dengan sembarangan bisa berbahaya, karena itu peran orang dewasa sangat diperlukan. Walaupun belakangan sejak menangani secara serius, saya justru menemukan banyak guru dan Kepala Sekolah yang masih menganggap beberapa jenis kekerasan, bukan kekerasan. Bahkan saya menemukan fakta banyak orang dewasa yang juga melakukan permainan bodoh yang mematikan ini. Sungguh miris.

Karena itu penting bagi kita, baik orangtua untuk mengenal lebih dekat pada bentuk-bentuk kekerasan dan pencegahannya.

Kekerasan adalah sesuatu yang menyakiti dan menyebabkan penderitaan. Jadi intinya mereka yang merasa sakit, merasa menderita dan atau ditunjukkan oleh reaksi tubuh, sudah tergolong kekerasan. Reaksi tubuh ini antara lain rasa sakit, lebam atau penggumpalan darah di kulit, sampai pingsan atau kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia.

Jadi, jangan terpatok pada satu pendapat apabila menemukan seseorang yang membantah bentuk kekerasan. Jangan ragu mencari tahu ke pihak-pihak terkait seperti dokter atau tenaga medis profesional.

Maka, saran saya sebagai pencegahan.

Melarang tanpa menjelaskan itu percuma meski setiap hari mengatakannya. Lebih baik jelaskan dengan detil, kalau perlu beri penjelasan mengenai bahaya permainan itu.

Kalau orangtua sendiri tidak paham soal bahayanya, berusahalah mencari tahu dengan googling, membeli buku atau kalau perlu konsultasi dengan dokter.

Buatlah atau kreasikanlah permainan lain yang jauh lebih aman tapi cukup menantang.

Anda bisa mulai melakukan permainan itu bersama anak-anak. Tapi kalau tidak, banyak olahraga fisik yang jauh lebih aman, lebih berguna dan telah terbukti meningkatkan prestasi sekaligus kesehatan.

Selalu lakukan pengawasan terhadap anak.

Libatkan diri dengan guru-guru atau pihak sekolah, juga sesekali dekatkan diri pada teman-temannya.

Anda bisa meminta anak untuk mengundang teman-teman sesekali makan-makan di rumah, Anda tak perlu duduk bersama mereka, cukup dengarkan saja obrolan mereka. Sapa dan dekati teman-teman anak tanpa memperlihatkan keingintahuan Anda, setelah beberapa kali. Perlakukan saja mereka seperti seorang sahabat, tapi jangan terlalu dekat. Biasanya tak lama mereka akan sibuk mengumbar tingkah laku ‘negatif’ anak kita dan dianggap sebagai candaan. Santai saja, jangan langsung marah kalau tahu. Anggap itu peringatan awal dan lakukan langkah preventif yang persuasif.  

Langkah tegas untuk menghentikan kebiasaan

Inilah yang sering menjadi sumber malapetaka lain. Kalau sudah tahu anak kita ternyata bandel atau melakukan sesuatu yang mungkin membahayakan dirinya atau temannya, segera lakukan langkah tegas. Saya pribadi akan meminta bantuan pihak sekolah dulu, jika tidak berhenti, saya memilih untuk memindahkan sekolahnya. Pindah sekolah bukanlah hal yang mudah bagi seorang remaja, apalagi yang sudah terbiasa dengan lingkungan sekolahnya termasuk teman-temannya. Meski langkah pindah sekolah juga bisa menimbulkan masalah lain dalam pendidikannya, tapi itu jauh lebih baik daripada membahayakan nyawanya.

Oh ya, tambahan… anak-anak yang tidak atau jarang bermain (fisik) di rumah atau kurang aktif dalam kegiatan di luar sekolah secara fisik dan mental, memiliki kecenderungan lebih besar melakukan permainan berbahaya ini.

Semoga tak ada lagi permainan menantang yang membahayakan anak-anak di Indonesia.

 

*****


TAGS   Permainan / Skip Challenge / Cerita Anak SMA / anak remaja / Permainan fisik / Tantangan Remaja / Kenakalan / Kenakalan remaja / Tugas Guru / Sekolah dan Anak /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia