Catatan Bunda Iin

Tips Mempertahankan Peran Orangtua

27 Jan 2017 - 22:17 WIB

Menjadi orangtua itu tak ada sekolahnya.

Itu pendapat hampir semua orang, juga saya. Secara alamiah, manusia mengalami proses menjadi orangtua. Suka atau tidak, mau atau tidak mau. Proses itu terjadi setelah manusia menjadi dewasa dan mengenal pasangan.

Tapi, menjadi orangtua tak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Ilmunya memang tak bisa diperoleh dalam satu bidang tertentu saja. Untuk menjadi orangtua yang baik, tak hanya harus memahami teori namun juga langsung praktek.

Ada fakta menarik dari orangtua zaman sekarang yang saya bandingkan dengan orangtua zaman dulu, sekaliber mertua yang anak termudanya sudah akhir 20an. Ada satu perbedaan besar, orangtua zaman dulu tidak bersaing peran dengan teknologi. Sementara orangtua zaman kini justru sebaliknya. Walaupun teknologi membantu mereka, tapi secara ironi teknologi pula yang bersaing dengan peran mereka.

Saya katakan demikian karena kini terjadi pergeseran peran. Kehadiran gadget sekarang bahkan menjadi daya tarik buat balita bahkan batita untuk duduk diam dan berhenti menangis. Apalagi yang remaja. Mereka akan berhenti menjadi manusia sosial secara nyata dan lebih suka menjadi manusia sosial dalam dunia maya, yang menghilangkan batas wilayah dan waktu bahkan menghapus budaya sedikit demi sedikit. Orangtua tak lagi dibutuhkan oleh anak, karena semua yang mereka perlukan hanyalah teknologi. Kehadiran orangtua tak lagi penting karena anak-anak merasa teknologi yang dibawa gadget lebih mengakomodir keinginan dan kebutuhan mereka.

Lalu, saat orangtua menyadari kalau peran mereka sudah tergantikan, semuanya sudah terlambat. Anak-anak terlanjur memilih dan mereka sudah sulit untuk diubah. Memang tidak mungkin, tapi inilah alasan begitu banyak kasus kenakalan remaja yang semakin beraneka ragam dan semakin sulit diatasi.

Beberapa kali, saya menemukan banyak teman-teman sesama ibu yang kelabakan mengatasi tingkah putra-putrinya. Ini tidak hanya dialami para ibu yang bekerja, tapi banyak juga yang ibu rumah tangga sepenuhnya. Menurut saya, penyebab kenakalan remaja bukanlah karena ibunya bekerja atau tidak. Banyak kok ibu yang bekerja tapi anaknya sukses secara akhlak dan akidah berkat perhatian dan kasih sayang yang benar.

Saya sebut benar, karena ada kasih sayang dan perhatian yang salah. Maksudnya memberi kebebasan, tapi malah kebablasan. Inginnya memberi ruang ekspresi yang pantas, tapi malah bertingkah tak pantas.

Semua orangtua, ayah dan ibu, sudah tahu bahwa kuncinya adalah komunikasi. Tapi seperti apa?

Ini seperti efek domino Ini yang terjadi kalau orangtua yang tadinya dibesarkan dengan cara tertentu, lalu menurunkan cara yang sama pada anaknya. Anak yang dibesarkan dengan ketidakmampuan berkomunikasi yang baik, akan menjadi orangtua dengan masalah yang sama. Bahkan yang paling mengkuatirkan, ketika komunikasi yang dipilih adalah cara yang salah seperti kekerasan secara verbal dan fisik.

Berikut beberapa saran saya…

Kenali anak terlebih dahulu. Jangan merasa kenal hanya karena setiap hari bersamanya. Anak-anak itu jauh lebih pandai menyimpan rahasia hati mereka. Tanyakan hal-hal sederhana seperti warna favorit, buku yang dia suka, mainan yang dia gemari, games yang ia mainkan, guru yang ia sukai, temannya dan artis favoritnya. Satu kesalahan yang sering dilakukan orangtua saat proses ini adalah mengkritik semua yang ia sukai secara langsung. Ini bisa membuat anak langsung ngadat dan berhenti bicara. Dengarkan dan ingat baik-baik. Suatu hari, semua hal-hal sederhana yang ditanyakan itu bisa berguna di masa mendatang.

Hilangkan kebiasaan menghina, mengkritik bahkan mengejek kelemahan anak. Salah satu alasan saya melarang program televisi Indonesia yang berbentuk sinetron atau reality show komedi bebas di rumah kami adalah ini. Dalam berbagai sitkom, dan reality show, budaya seperti ini dilakukan para entertainer tanpa ragu. Kebiasaan ini sudah mulai merambah pada kehidupan anak dan remaja di lingkungan sekolah, jadi jangan sampai masuk ke dalam rumah. Dengan membuat mereka terbiasa melihat kita menjaga perasaan mereka, maka itu pula yang akan dilakukan anak terhadap orang lain.

Peringatkan secara langsung dengan alasan, tegas tanpa emosi. Namanya juga keluarga. Pasti ada canda-canda yang terlontar tiap hari. Kadang-kadang ada candaan yang berlebihan, hingga melanggar aturan seperti hinaan dan kata-kata tak pantas. Segera hentikan anak-anak, katakan dengan tegas bahwa hal itu tidak baik dan tidak pantas dilakukan serta alasannya. Minta ia bayangkan kalau kata-kata itu ditujukan padanya.

Tanyakan perbuatan baik anak hari ini. Orangtua selalu rajin bertanya bagaimana hasil nilai-nilai pelajaran, tapi pernahkah bertanya perbuatan atau sikap baik apa yang hari ini mereka lakukan? Anak-anak sedang tumbuh dan mengalami proses belajar, termasuk belajar berbuat dan bersikap, entah itu baik atau buruk. Mereka harus tahu mana perbuatan yang baik dan buruk. Banyak loh anak-anak yang tak bisa membedakan baik dan buruk itu. Saya yang menerapkan hal ini pada anak-anak sendiri saja, masih sering menemukan bahwa anak salah mengartikan sebuah perbuatan. Cara ini efektif untuk mulai membangun logika anak sejak dini. Logika yang kelak digunakannya saat memasuki fase remaja, fase argumentasi.

Berikan ruang, tentukan batas, bukakan peluang, awasi jalan dan simpulkan bersama. Konsep ini terlihat sederhana, bukan? Tapi tidak sederhana menjalankannya. Tentu sebagai orangtua, kita harus menemukan bakat dan kemampuan anak untuk persiapan masa depan mereka. Begini saja. Jika anak suka menyanyi, teater, musik dan sebagainya, carikan media dan tempat yang tepat untuk hal itu. Untuk yang suka bermain games, dan kebanyakan dianggap sebagai salah satu ‘penyakit’ anak, tentukan batas yang jelas.

Setelah tahu yang mereka sukai, pancing anak-anak untuk mengetahui lebih dalam kegiatan yang ia sukai. Untuk si penyuka games, tanya apa mereka ingin belajar membuat games atau design graphis dan semua yang berhubungan dengan games. Untuk si penyuka musik, minta mereka membuat sendiri musik atau setidaknya me-mixing lagu. Selama proses pencarian ini, meski kita tak selalu hadir saat mereka latihan atau melakukan kegiatannya, tanyakan sejauh mana kemajuan mereka pada pelatih.

Pastikan minat mereka tak hanya sesaat dan berubah. Beberapa anak, memiliki kecenderungan bosan dalam sekejap. Itu artinya mereka belum benar-benar menemukan passion-nya. Jangan bosan mengulanginya karena itulah makna orangtua sesungguhnya.

Peran orangtua, bukan sekedar orangtua. Inilah yang tadi saya sebut telah diambilalih oleh teknologi. Saya sering tersenyum miris melihat banyak ibu atau ayah yang menganggap selain menjadi orangtua mereka adalah pengasuh, guru, supir, pembantu, tukang cuci, koki dan lain sebagainya. Tapi semua itu hanya titel yang berhubungan dengan satu jenis pekerjaan yang memang kewajiban mereka.

Mereka lupa mengaitkannya dengan posisi seperti menjadi teman main, sahabat baik, penghibur hati dan sodara pengganti di sisi anaknya. Karena terlalu peduli dengan peran yang mereka anggap lebih penting, orangtua lupa menempatkan dirinya pada posisi yang tak ternilai itu. Posisi yang kemudian seringkali digantikan oleh permainan dunia maya, teman-teman sekolahnya atau bahkan alat penghibur lain yang berujung perbuatan negatif.

Anak adalah manusia, bukan bahan praktek. Mungkin yang memberi nasehat banyak sekali. Tapi, pilihan itu tetap di tangan kita. Jangan menjadikan anak sebagai bahan teori dari pemikiran yang belum tentu sesuai dengan konsep keluarga. Sebelum menentukan tindakan, atau kebiasaan tertentu dalam keluarga. Belajar dari berbagai media, padankan konsep yang sesuai dan baru dipraktekkan. Sebaik apapun sebuah konsep membangun karakter anak, semua itu harus dilakukan secara konsisten.

Rileks, dan jadikan diri sebagai contoh. Merasa berat dengan semua saran itu? Itu juga yang dikeluhkan teman-teman saya setiap kali saya memberi saran yang sama. Santai saja, menjadi orangtua itu seharusnya dinikmati. Jadi agar tidak salah, terapkan saja aturan sederhana. Kita ini contoh langsung anak. Kalau kita ingin anak lebih banyak bicara pada kita, lakukan pada mereka. Kalau ingin mereka lebih terbuka, bersikaplah lebih terbuka dengan anak. Kalau kita tak suka dicandai kekurangan kita, maka jangan lakukan. Kalau tak suka ditanya-tanya seperti diinterogasi, ya jangan lakukan pada anak. Kalau tak suka makan makanan tertentu, ya jangan paksa anak melakukannya.

Menyelesaikan masalah anak dengan kepala dingin. Ini adalah bagian tersulit bagi orangtua. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan anak pada orangtua sejak kecil, akan menumbuhkan perasaan memiliki bagi setiap orangtua. Perasaan ini bisa berubah menjadi egoisme orangtua yang ingin mengatur hidup anaknya tanpa mempertimbangkan perasaan dan keinginan anak sendiri. Masalah anak terjadi tidak terlepas dari orangtua yang terkadang terlalu dominan dalam mengambil keputusan penting yang menentukan bagi anak. Karena itu, sekali lagi… kembali pada kunci utamanya yaitu komunikasi yang berkualitas. Namun, apapun yang terjadi, jangan pernah menganggap masalah anak dengan sepele. 

Itu beberapa hal yang saya share lebih dulu untuk memberi jawaban bagi beberapa teman yang putra-putrinya sudah memasuki periode remaja awal. Tapi, bukan berarti orangtua dengan anak yang masih tergolong balita tidak perlu. Malah lebih baik, semakin dini semakin baik menerapkan konsep yang jelas. Semoga berguna. 


TAGS   Masalah / parenting / Pengasuhan / Pendidikan / Orangtua / Liburan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia