Catatan Bunda Iin

Food Delivery Ojek Online yang Telat

23 Jan 2017 - 16:04 WIB

Pernah mencoba food delivery yang sekarang marak ditawarkan oleh provider ojek online?

Hari itu, saya ingin mencobanya. Sekalian ingin memberi review non payment yang netral, maka saya pun mencoba dua provider ojek online selama dua minggu berturut-turut. Saya tidak bisa melakukan selama dua kali dalam seminggu karena ada aturan di rumah kami kalau hanya boleh makan dari luar seminggu sekali. Itupun hanya boleh dilakukan ketika saya benar-benar tidak sempat atau sedang punya kerjaan yang tak bisa ditinggalkan.

Minggu pertama, saya berniat memesan untuk makan malam saja. Hari itu, saya harus ke kantor menyetor pekerjaan bersama putri bungsu yang selalu ikut. Sementara anak-anak yang lain baru pulang menjelang sore karena kegiatan ekskul sekolahnya masing-masing bersama suami. Tiba di rumah, anak-anak memilih makanan ringan saja karena ayah sudah membawakan makan malam yang dibelinya dalam perjalanan pulang. Karenanya, jumlah pemesanan makanan secara online saya pun tak banyak. Hanya kue dan snack biasa.

Waktu saya memesan itu setelah sholat Magrib melalui ponsel putri pertama yang kebetulan masih memiliki saldo dana online yang cukup. Estimasi pengantaran lamanya sekitar 1 jam, tapi setengah jam lewat makanan sudah tiba. Ojeknya pun hanya menelpon 1x untuk memastikan alamat lengkap kami. Saya hanya memberi uang tips dan pengganti uang parkir saja, karena semua sudah dibayar secara online.

Provider ojek yang satu ini memang langganan keluarga kami, karena anak-anak remaja saya lebih sering menggunakannya saat pulang atau pergi ke tempat kegiatan mereka sehari-hari. Kadang-kadang mereka menggunakan jasa pengemudi yang sama, hingga alamat kami diingat baik. Bahkan ada yang sudah seperti supir sendiri saking seringnya. Menurut anak-anak, provider ojek yang ini jauh lebih mudah ditemukan saat mereka perlu di jam-jam sibuk (pulang sekolah). Itu saja. Kalau soal harga, relatiflah… anak-anak juga sering mendapat promo.

Minggu kedua, saya memilih memesan untuk makan siang sekaligus makan malam. Dengan dua remaja yang baru tumbuh, saya memesan jumlah makanan yang sedikit lebih. Apalagi hari itu akan ada dua tamu yang akan datang dan bermalam di rumah. Maka, pagi-pagi sekali, sebelum tamu-tamu saya tiba, saya melakukan pemesanan dengan menggunakan provider ojek kedua. Sekalian untuk review.

Saya harus menunggu sampai pukul 9 atau 10 untuk memesan karena restorannya baru buka sekitar jam itu. Saya melakukan pemesanan untuk dua restoran berbeda dengan dua pengemudi berbeda. Untuk pengemudi pertama, saya memesan makanan yang harganya lebih besar dan yang satunya kurang dari 30 ribu rupiah. Dua pemesanan ini saya lakukan dengan dua ponsel berbeda, jadi bisa dilakukan sekaligus.

Kalau provider yang ini cukup lama proses pesannya. Saya melihat nama pengemudi berganti beberapa kali sebelum akhirnya ada yang bersedia untuk pemesanan yang berjumlah besar. Sementara yang jumlah lebih kecil, hanya 1x sudah ada pengemudi yang menelpon memastikan alamat dan pemesanan.

Setelah melakukan pemesanan, saya kembali melanjutkan pekerjaan. Tak lama, telepon masuk lagi, pengemudi ke-2 ternyata sudah ada di depan pagar rumah, membawa makanan penutup yang saya pesan. Cepat sekali! Ternyata pengemudi itu bilang, kalau saat saya memesan tadi dia kebetulan sedang lewat jalan itu juga. Oooh… pantas.

Tapi pengemudi pertama yang saya pesan tidak menelepon atau membalas pesan alamat lengkap padanya. Saya lihat di layar, motornya juga bergerak sebentar lalu lama berdiam. Entah sedang apa. Lewat satu jam, saya mulai tak sabar. Estimasinya sekitar satu jam dan sampai kedua tamu saya tiba di rumah, makanan belum tiba. Saya menelepon, dan pengemudi meminta maaf. Ternyata ia baru mau ke restoran mengambil makanan. Aduh, saya sebenarnya sudah cukup kesal.

Waktu makan siang hampir tiba, dan kedua tamu saya sudah setengah jam duduk. Saya mulai menyerah. Ya sudahlah, kalau tak datang juga, saya akan memesan dari warung depan saja. Makanan seadanya dulu.

Tak lama telepon masuk, pengemudinya menunggu di depan minimarket yang kebetulan ada dekat rumah kami. Ia tak bisa mengantar sampai depan rumah karena ada mobil pengangkut sampah pasukan kuning. Saya pun mengalah saja. Pikiran saya saat itu, sudahlah, sudah bagus orang itu mengantar sesuai pesanan saya meski sangat terlambat. Hampir dua jam!

Ketika saya tiba, pengemudi itu langsung minta maaf, dan menjelaskannya kurang lebih seperti ini.

“Maaf ya, Bu. Tadi saya pulang dulu, minjem sama tetangga saya. Kalau pagi-pagi begini, setoran saya belum ada. Hape saya juga lowbat dan tidak ada pulsa. Saya juga baru mulai tadi waktu ibu mesen. Maaf ya, Bu,” ucapnya malu.

Saya terdiam mendengar kata-katanya. Mencoba tersenyum. Bukan karena marah, tapi tersentak mendengar alasannya.

Melihat saya tersenyum pahit, Bapak pengemudi itu buru-buru kembali berkata, “Sungguh, saya minta maaf ya Bu. Jalannya gak macet, tapi saya memang gak punya uang segitu. Uang segitu buat makan keluarga saya seminggu. Maaf ya, Bu.” Ia tampak gugup, mengira saya sedang marah.

Kali ini, saya tersenyum benar-benar sangat tulus dari hati. “Gak papa, Pak. Kan ini malah pas makan siang. Malah bagus, masih panas. Makasih banyak ya, Pak. Hanya lain kali Bapak telepon dulu kalau agak terlambat, untung tadi saya tidak cancel ordernya. Coba kalo yang lain, gimana?”

“Iya, Bu. Hape saya nih, Bu. Udah jadul,” jawabnya sambil tersenyum malu dan memperlihatkan ponsel yang kacanya sudah retak. Pengemudi itu pun pergi setelah saya memberikannya sedikit tips lebih. Biarlah… tak pantas ia mendapat amarah dari saya.

Siang itu setelah selesai menyajikan makanan lengkap dengan dessert-nya, saya duduk memandanginya. Hanya sesaat, sebelum berdiri dan mengajak dua tamu beserta putri bungsu saya duduk makan bersama.

Hari ini, Allah SWT sedang menyentil saya. Makanan kami sekeluarga yang habis hanya dalam sehari, ternyata sejumlah makanan orang lain selama seminggu. Sungguh, ini menyesakkan hati. Selama ini, seperti ibu rumah tangga lainnya, saya juga sering mengeluh karena harga belanjaan yang semakin lama semakin mencekik leher. Meski berusaha tak mengeluh pada suami, tapi entah berapa kali saya mengeluh dalam hati. Allah tentu mendengarnya dengan sangat jelas dan Ia mengingatkan dengan caraNya yang luar biasa.

Saya putuskan untuk tidak menuliskan nama-nama provider ojek yang saya gunakan. Saya memilih menulis berupa tips memesan agar kedua pihak sama-sama puas. Bukan alasan saya yang penting, tapi alasan si pengemudi itu telah membuka mata saya. Bagaimana seandainya saya berpikir pendek dan membatalkan pesanan itu begitu saja karena terlalu lama menunggu? Uang itu banyak bagi si pengemudi, dan kalau dibatalkan, bagaimana ia menggantinya? Karena itulah, saya memilih untuk melindungi hak kedua pihak. Jangan sampai si pengemudi justru mendapat buntung karena pembatalan pesanan, demikian pula si pemesan. Jangan sampai kepentingannya terganggu karena proses yang terlalu lama.

Ketika anak-anak pulang, saya ceritakan semuanya pada mereka. Mereka juga menambahkan dengan cerita mereka. Seringkali, uang jajan mereka tak cukup untuk membayar tapi saat mereka hendak mengambil tambahannya ke dalam rumah, pengemudi itu sudah pergi. Memang tak banyak kurangnya, hanya seribu dua ribu saja. Lalu, ketika mereka bertemu lagi, anak saya yang ingat langsung membayar kekurangannya itu dan si pengemudi hanya tertawa, padahal ia sudah lupa, katanya.

Kata putri saya, ada pengemudi yang bercerita kalau ia juga kasihan sama anak-anak sekolah seperti mereka. Pulangnya sore, wajahnya kuyu, jajannya mungkin tak cukup hingga memakai ongkos pulang. Ia ingat anak-anaknya di rumah. Jadi kalau ia mengantar anak-anak sekolah pulang, yah dianggap lagi mengantar anak-anak sendiri. Tak dibayar penuh pun tak apa, karena mungkin mereka benar-benar tak ada yang jemput dan kekurangan uang.

Malam itu, sekali lagi saya mengingatkan pada putra-putri tercinta, agar selalu membayar dengan biaya yang tertera dan jika tak ada kembalian, ikhlaskan saja. Mengajari mereka untuk menghubungi saya sebelum tiba kalau uangnya kurang agar saya atau ayahnya bisa menunggu di depan rumah. Kecuali mereka mengebut atau melakukan tindakan yang menakutkan, anak-anak harus memberi tanda bintang penuh. Hanya bintang untuk kita, tapi… mungkin sangat penting artinya bagi mereka.

Food Delivery bisa saja terlambat, tapi jangan sampai kita terlambat menyadari betapa banyak orang yang berada jauh dari kata cukup namun berusaha keras berjuang untuk hidup. Kita mungkin tak bisa membantu dengan uang, tapi pertolongan terbaik adalah menjadi orang-orang yang peduli pada mereka.


TAGS   Food Delivery / Ojek / Online / Kehidupan / Liburan / Ojek Online / Inspirasi / Pendidikan / Rumah / Makanan / Antar Makanan / Langganan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia