Catatan Bunda Iin

Virus Bahagia

28 Dec 2016 - 21:26 WIB

Suatu hari, internet di rumah tidak bisa digunakan seperti biasa. Padahal di saat yang sama saya sedang membutuhkannya untuk mengirim sebuah pekerjaan penting ke kantor. Tapi akibat internet yang tiba-tiba ngadat, akhirnya saya harus berjuang di tengah kemacetan mengantar dokumen penting yang sudah ditunggu.

Tentulah hal ini menyebabkan saya jadi kesal. Apalagi ditambah dengan respon customer service yang teramat lambat (menurut saya sih… ) maka jadilah saya marah-marah saat menghubungi Customer Service provider internet yang saya gunakan. Meski kemarahan itu masih dalam batas wajar, tapi tetap saja marah ya marah.

Di lain waktu, saya terpaksa menahan geram ketika saat berhenti di lampu merah tiba-tiba kaki yang sedang menjadi penyeimbang motor ditindih kaki orang lain yang ternyata… memakai sepatu hak tinggi super lancip. Huuuuh, saat itu langsung saja saya mengomeli wanita itu. Anehnya, bukannya minta maaf, perempuan itu malah balik memarahi saya. Katanya kaki saya yang terlalu lebar. Dengan amat sangat tenang, si perempuan itu malah melaju tanpa rasa bersalah, meninggalkan saya yang makin kesel dengan sejuta kata-kata tak menyenangkan dalam hati.

Semua itu tentu saja saya bagi ceritanya ke suami. Yang jawabannya singkat saja… “Mbok ya apa-apa itu jangan marah-marah dulu. Selesaikan dengan santai. Banyak hal yang bisa diselesaikan dengan cepat tanpa perlu emosi, Mak!”

Belajar dari pengalaman itu, saya mencoba menahan diri perlahan-lahan. Dimulai dengan melakukan segala hal di pagi hari dengan hati yang diusahakan setenang dan segembira mungkin. Pagi hari seorang ibu itu selalu dimulai dengan kerepotan, hari ini mungkin saja semua dilakukan dengan tenang, tapi besok pagi belum tentu. Caranya yah saya mengikuti cara Ayah. Saat suasana mulai terasa ‘panas’, Ayah mulai mengajak kami bercanda terutama anak-anak. Menggoda adik yang tak mau minum susu, bercanda dengan Abang dan Kakak saat mereka akan berangkat atau sengaja memasang mimik muka lucu di meja makan agar kami sekeluarga bisa tertawa. Virus bahagia yang disebarkan Ayah, mampu membuat saya dan anak-anak merasa gembira dan pergi ke tempat kerja atau ke sekolah dengan hati yang gembira.

Virus bahagia itu membuat saya juga belajar dengan tenang menghadapi masalah. Jalan raya di Jakarta memberlakukan hukum rimba, kalau tak sabar-sabar bisa jadi masalah besar. Tapi sejak berusaha keras untuk tidak emosi, semuanya alhamdulillah selalu lancar.

Sesekali ada pengendara motor yang entah sengaja menyenggol motor saat stop di lampu merah, saya hanya tersenyum dan mengangguk. Pikir saya, biarlah… mungkin dia tak sengaja. Kalaupun tergores, yah sudahlah… itu sudah nasib saya. Toh tak seberapa. Tapi setelah saya senyumin, malah si penyenggol yang membuka bagian wajah helmnya dan meminta maaf berkali-kali. Hati langsung berasa sejuk. Di zaman begini permintaan maaf itu seperti mutiara di tengah samudera luas.

Lalu, ketika kemarin air PDAM tak mengalir lancar, saya komplin dengan menebar pantun jenaka sambil tertawa. Customer Service-nya juga langsung tertawa mendengarnya dan berjanji akan memperbaiki segera masalah tersebut. Tak sampai sejam, air di rumah saya sudah mengalir dengan lancar lagi.

Begitupun ketika telpon kembali bermasalah, saya kembali menelpon Customer Service dengan santai. Tak ada tekanan, walaupun saat itu gara-gara telepon terputus tiba-tiba, saya sempat kebingungan mencari anak yang seharusnya sudah pulang ke sekolahnya. Anak saya pulang lebih dulu karena tak bisa menghubungi orang rumah, sementara saya berputar-putar mencarinya di sekolah. Tapi saya menahan diri dan menceritakan tentang kerusakan itu kepada CS dengan sedikit bercanda.

Menyelesaikan masalah dengan santai, tanpa emosi dan tanpa tekanan, membuat saya pun tak merasa tertekan atau merasa tak enak dengan mereka yang berurusan dengan saya. Kebiasaan menyebar virus bahagia itu membuat saya juga merasa lebih rileks menyelesaikan semua hal di sekeliling saya. Kata orang tua, kalau kita selalu bahagia maka kita akan selalu tampak muda. Keriput di wajah akan berkurang dan warna cerah akan keluar dengan alami. Waah… bonus yang amat bagus kan?

Ketika menghadapi masalah di kantor pun, saya memilih diam dulu. Walaupun sekesal apapun, saya berusaha tersenyum. Kalau tetap tak bisa, saya memilih untuk keluar dari kantor mencari angin yang bisa meniup jauh-jauh kemarahan saya. Kalau tetap sulit, saya akan bekerja di rumah untuk sementara waktu. Semua itu efektif menghilangkan tekanan yang saya dapatkan, dibandingkan memarahi rekan kerja atau menyindir mereka. Tentu saja, virus bahagia tidak boleh menghalangi keprofesionalan kita di kantor. Artinya walaupun tidak dimarahi, sesuatu yang salah harus tetap diperbaiki. Entah itu dengan nasihat atau peringatan tanpa emosi.

Orang Indonesia itu terkenal dengan keramahannya. Begitu kata mantan-mantan boss saya yang rata-rata expatriate. Dulu…. sekitar 5-6 tahun lalu. Tapi, sekarang dimana-mana yang terlihat malah tawuran atau kerusuhan di sana-sini. Bahkan perang dingin di media sosial, dunia maya yang tak terbatas luasnya. Sayang sekali…

Keramahan adalah sesuatu yang alami terbentuk ketika kita sudah tertular virus bahagia. Bukankah menyenangkan bisa menyelesaikan segala masalah dengan hati yang gembira? Maka itu, marilah menyebar virus bahagia.

Suatu hari nanti ketika ada yang salah dengan fasilitas tertentu di rumah, hubungi CS-nya dengan kata-kata yang baik dan sebarkanlah virus bahagia dengan kesantunan. CS yang mendapat telepon ber-virus bahagia juga pasti akan melayani dengan hati gembira, ia juga akan bahagia menjalani pekerjaannya yang pasti harus menghadapi ratusan atau ribuan komplin jika semua pelanggannya menebar virus bahagia. Saat nanti si CS berhubungan kerja dengan mereka yang di lapangan, ia juga pasti akan menyampaikannya dengan hati yang gembira. Begitu pula mereka yang di lapangan yang nantinya akan berhubungan dengan pelanggan itu sendiri.

Suatu ketika saat pekerjaan tak lagi menyenangkan, ada rekan kerja tak bisa diajak kerja sama atau bos yang tak pengertian, kalau kita bisa menghadapi dengan senyum dan kesabaran, mereka pun akan merasa tak enak sendiri. Mereka akan kehilangan senyum bahagia yang kita berikan setiap hari, senyum yang mungkin menulari mereka juga, senyum yang mungkin menjadi alasan mereka untuk tenang karena ada rekan kerja yang ramah dan siap bekerja sama, senyum yang membuat mereka sadar bahwa virus bahagia itu sangat penting untuk membuat semangat bekerja menjadi tinggi. Kalau senyum itu lenyap, mereka pasti bertanya-tanya dan ingin mengembalikannya di wajah kita. Biasanya nasihat atau permintaan yang disertai dengan senyum dan santun, akan melenyapkan semua kekesalan atau kemarahan.

Sekarang… saya sering diledek anak pertama saya. “Emak ye… lagi ngantri aja bisa kenal sama yang lagi ngantri depan belakang… jadi orang gampang banget nyapa orang sih, Mak. Gak malu nape?”

Hehe… menunggu itu membosankan, tapi kalau kita bisa beramah-tamah dengan mereka di sekitar kita maka menunggu pun bisa jadi menyenangkan. Kekakuan mencair, kemudahan pun makin mendekat. Virus bahagialah yang menjadi penyebabnya. Bahkan beberapa di antara mereka, jadi teman-teman saya.

Baru saja teman-teman kuliah berkumpul di rumah, saya menceritakan sesuatu yang dilakukan seseorang pada saya beberapa bulan yang lalu di salah satu kelas. Tujuan saya sebenarnya ingin berbagi cerita humor walaupun korbannya ya saya. Tapi teman-teman malah marah. Justru mereka bilang, kok bisa-bisanya saya sesabar itu dijadikan bahan tertawaan. Saya sendiri juga hanya tertawa kecil… dengan jawaban ringan. Biarlah, kan jadi menghibur orang banyak. Toh tak ada yang memukul saya secara fisik. Lagipula, begitulah karakter kebanyakan orang Indonesia, suka menyakiti meski hanya dengan kata-kata dan sayangnya… juga terbiasa disakiti dan menganggap kata-kata menyakitkan itu hal biasa. Dan saya memang orang Indonesia… sing penting happy!

Resolusi terbaik tahun 2017 adalah menebarkan virus bahagia. Mulailah dengan lingkungan di rumah lalu melebar ke lingkungan yang lebih luas. Mungkin terasa berat tapi jika terbiasa akan segera terasa ringan, malah jadi ingin selalu melakukannya.

Sudah menebar virus bahagia hari ini?


TAGS   Virus / Bahagia / Lifestyle / Emosi / Pengelolaan / Manajemen Akhlak / Anak / rumah tangga /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia