Catatan Bunda Iin

Saat Cinta Sejatiku Disakiti

15 Nov 2016 - 08:38 WIB

Selama bertahun-tahun, ada cinta yang tak pernah padam dalam hati saya. Ada cinta yang terus menerus tumbuh perlahan seiring waktu yang saya lewati dalam hidup ini. Cinta yang membuat saya tetap kuat berdiri menahan semua gempuran masalah, cinta yang membuat saya tangguh dan bertahan menghadapi semua ujian dan cinta yang membuat saya mampu berkarya menghasilkan tulisan-tulisan dalam blog ini.

Cinta itu terlahir saat saya belajar membaca Al Qur’an. Setiap hari hanya satu lembar Al Qur’an yang saya baca. Satu saja… tak banyak karena waktu saya tersita untuk kegiatan lain. Cinta yang saya tunjukkan pada Al Qur’an hanya seujung kuku, tapi tahukah apa yang diberikan Al Qur’an pada saya sebagai balasannya?

Dia tak pernah membohongi saya. Semua yang tertulis, adalah kenyataan yang terjalin dalam kata-kata nan indah namun berefek sangat kuat. Dia menemani saya, memberi saya kekuatan yang tak terlihat dan tak terbayang besarnya sepanjang dua puluh tahun terakhir.

Buat saya, ada kasih sayang Allah SWT yang sangat terasa ketika saya membaca Al Qur’an. Ada petunjuk yang diberikanNya melalui Al Qur’an saat saya dalam kebingungan dan ketidakpastian. Ada ketenangan dalam petunjuk itu karena saya tahu saya tak sendiri dan saya yakin itu adalah kebenaran.

Tahukah kalian? Ratusan tulisan yang saya rangkai, semua karena cinta yang ingin saya tunjukkan padaNya. Karena Al Qur’an, tak pernah ada ide yang habis dalam otak sekepal tangan ini. Hingga saya mampu menunjukkannya satu demi satu. Tulisan yang tak hanya untuk satu kaum, tapi semua orang. Dalam harmoni kebersamaan, meskipun kita berbeda. Saya selalu yakin, suara dari alat musik yang berbeda, bisa menghasilkan harmoni musik yang indah ketika dipimpin orang yang tepat dengan tujuan yang sama.

Saya selalu ingin menunjukkan, Islam itu sangat indah. Agama ini mempersatukan, bukan mencerai-beraikan. Al Qur’an itu penuh makna, namun indah. Kitab suci yang memberi petunjuk agar menjadi manusia yang lebih baik. Tapi karena tak banyak yang tahu, maka saya mengubahnya jadi begitu banyak tulisan. Dan kalian merasakannya, bukan?

Apakah saya pernah membedakan? Apakah saya pernah mengatakan keburukan agama lain? Apakah saya pernah bilang ada kebohongan dalam kitab-kitab suci lain?

Tidak, Al Qur’an-lah yang menjadi petunjuk saya. Yang menyebutkan banyak tentang keberagaman, yang menceritakan tentang perbedaan, yang memberikan banyak contoh di masa lalu tentang perbedaan itu. Jelas diajarkan di dalamnya, perbedaan adalah keindahan, tapi… harus punya aturan yang jelas dan dihormati semua umat agar kerukunan terjaga. Maka, batasan pun dibuat dengan sangat jelas, batasan yang melindungi tak hanya kaum muslim saja, tapi juga para non-muslim.

Al Qur’an takkan pernah bisa bicara untuk membujuk dan menenangkan hati yang gundah, tapi setiap kali membacanya, ada ketenangan yang hadir dalam hati ini. Ketika saya berpikir itulah cara saya mencintainya, sebenarnya itu cara Al Qur’an membalas cinta saya. Al Qur’an adalah keajaiban abadi dari Allah SWT untuk setiap umatNya. Karenanya, saat membaca lembar demi lembar, justru ketika masalah dan ujian sedang bergelayut di dada, saya merasa dekat denganNya. Allah ada bersama saya, karena Al Qur’an ada di tangan saya.

Jadi, jangan pernah menyakiti cinta saya. Saya tak peduli sebesar apa kekayaan negeri ini tercapai, saya juga tak peduli seberapa besar perubahan politik di negeri menuju ke arah (katanya) lebih baik, apalagi peduli pada kearoganan para pemimpin yang menganggap dirinya paling benar. Saya hanya tahu satu hal, bahkan perempuan terkaya, tercantik, terpintar dan terbaik di seluruh dunia, takkan merasa bahagia ketika cintanya disakiti.

Tadinya saya tak peduli pada politik dan persoalan siapa pemimpin negeri ini. Toh semua baik-baik saja, berjalan dengan lancar dan siapapun yang terpilih seharusnya didukung. Dan mungkin inilah yang terjadi pada sebagian besar rakyat Indonesia. Sampai kehidupan saya yang berbahagia dengan cinta yang terus saya pelihara tiap hari dengan tetap membacanya terusik oleh sebaris kalimat yang menurut pengucapnya bukanlah masalah. Itu masalah, sangat bermasalah. Karena cinta saya yang terdapat di dalam hati terdalam, tersakiti.

Saya, bagian dari kaum terlemah di dunia, kaum perempuan yang suaranya kadang dilupakan. Tapi kami punya cinta yang sangat kuat, cinta yang sanggup bertahan untuk membesarkan putra-putri kami, cinta yang sanggup mendorong para suami untuk bekerja keras dan berjuang. Cinta itu, di sini… di dada yang setiap hari disirami oleh kata-kata penuh makna dari Al Qur’an.

Cinta itulah, yang membuat kaum perempuan ini di negeri ini bertahan dalam gempuran ujian. Kami-lah yang mendapat efek terkuat saat ujian resesi ekonomi melanda negeri ini, kami juga yang harus berusaha diam menahan geram ketika para pemimpin justru hanya bisa bicara saat anak-anak kami menahan lapar dan merengek meminta susu. Kami juga yang harus menahan airmata ketika para suami berjuang mencari sesuap nasi tapi pulang dengan tangan hampa karena ketidakmampuan para pemimpin memperbaiki nasib kami.

Memilih pemimpin adalah hak setiap warga negara. Dasarnya bukan hanya buku-buku modern atau pemikiran-pemikiran manusia yang terkadang dilontarkan sebatas teori. Ketika mereka memilih tuntunan lain dalam keyakinannya, itu adalah hal yang sangat wajar. Namanya juga keyakinan, jadi semua pasti yakin bahwa itulah kebenaran sesungguhnya. Jadi, mengatakan bahwa sesuatu yang diyakini sebagai sebuah kebohongan, seperti menancapkan pisau tepat di dada seseorang.

Tak ada niat sedikitpun mengganti bentuk negara ini. Tak ada niat sedikitpun dalam benak kaum paling lemah ini meletakkan tanah air tercinta menjadi tempat yang panas bagi para kaum minoritas. Al Qur’an juga mengajarkan untuk menghormati umat lainnya, dan itulah yang telah kami lakukan selama ini. Bisakah kita menengok ke belakang, sudah berapa tahun negara ini berdiri tegak dengan keragaman agama dan sukunya?

Ketika kami berpegang isi Al Qur’an, itu lebih karena menginginkan pemimpin terbaik untuk negeri ini. Bukan karena takut masuk neraka, apalagi takut dianggap kafir. Kami ingin memiliki pemimpin yang mengarahkan kami pada kebaikan, bukan sekedar pencitraan. Kami ingin mempunyai pemimpin yang benar-benar memiliki aqidah dan akhlak seorang pemimpin, bukan sekedar kedok di balik manusia yang pengecut.

Jadi, kini tiap kali membaca lembaran Al Qur’an, saya hanya bisa menahan tangis. Ya Allah, begitu indah cinta yang Kau berikan padaku, dan sampai kapan lara ini terasa? Malam ini hanya doa yang kembali terpanjat… semoga Allah SWT memberikan hikmah terbaik untuk membuat orang-orang itu paham kebenaran dan cinta tersembunyi dalam Al Qur’an.


TAGS   Al Qur'an / Penistaan / Cinta / Islam /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia