Catatan Bunda Iin

The True Admirer

13 Oct 2016 - 11:17 WIB

Gadis itu berdiri di lantai tangga kedua, memandangi ponselnya lalu tertawa kecil. Jemarinya yang lentik menyapu layar ponsel dan lagi-lagi ia tertawa. Sesekali jemari yang sama menyibak anak rambut lurusnya yang hitam itu saat jatuh menutupi pandangannya. Ia tampak tak peduli dengan sekelilingnya dan terus menatap ponselnya seakan benda itulah satu-satunya benda yang memahaminya. Meski tampak seperti itu, sesekali ia mendongak dan menyapa mereka yang melewatinya untuk naik ke lantai tiga.

“Mbok ya sapa sana, jangan hanya dipandangi dari jauh!”

Aku menoleh cepat. Sosok gemuk dengan wajah bulat tersenyum padaku. Bu Indah. Kata-katanya membuatku tersipu malu. Ia juga ikut memandang gadis itu, tertawa kecil lalu kembali menatapku dengan senyuman lebar.

“Oh, Bu. Selamat pagi!” sapaku dengan hormat. Sebaik-baiknya perempuan ini padaku, dia tetaplah kepala unit yang berada jauh di atasku.

“Pagi, Mas Malik yang pemalu!” balasnya dengan tatapan jenaka sebelum melenggang menjauh, mendekati tangga tempat gadis itu berdiri. Seperti padaku, Bu Indah juga menyapanya. Hanya kali ini ia agak lama berbincang. Tampak serius dan aku mulai kuatir.

Ibu Indah itu seperti peramal. Begitu julukannya yang kudengar dari rekan-rekan kerjaku yang lain. Lulusan psikologi itu bisa memahami orang hanya dengan gerakan tubuh dan cara mereka melakukan sesuatu. Rahasia kecilku selama dua tahun lebih bertahan di ruang hatiku yang terdalam dengan mudahnya terbongkar di hadapan perempuan seusia kakakku itu.

Pekerjaan ini sudah kujalani sejak lulus sekolah menengah hingga berhasil wisuda tahun lalu. Seharusnya aku mencari pekerjaan lain yang jauh lebih baik setelah lulus dengan nilai terpuji. Hanya saja, pekerjaan itu pasti takkan bisa membuatku bertemu Tessa lagi. Tugasku hanya berdiri di depan pintu setiap hari, menyambut mereka yang akan masuk dan mengantar mereka yang akan pergi. Sesekali aku membantu bagian administrasi saat mereka sangat sibuk dan butuh bantuan. Tapi di lain hari aku harus berurusan dengan pihak kepolisian, menemani para karyawan yang bertugas di luar dan tak jarang harus lembur ketika karyawan lain lembur. Jadi ketika aku memandangi atau memperhatikan orang-orang yang ada di kantor, seharusnya bukan sesuatu yang aneh. Itu tugasku.

Tapi Bu Indah mungkin punya mata seribu yang bisa dengan baik melihat sampai ke dalam hatiku. Suatu hari, saat ia baru kembali dari sebuah rapat di luar kantor, ia lewat di depanku dan langsung berkata, “Jangan kebanyakan ngeliatin Mbak Tessa, Mas. Entar ketahuan loh, kalo situ suka sama dia.”

Aku termangu, namun hanya bisa diam karena wanita itu sudah melangkah naik ke lantai tiga.

Siapa yang takkan jatuh cinta pada gadis secantik itu? Sekretaris eksekutif perusahaan, cantik dan masih muda. Tapi yang membuatku benar-benar mengaguminya adalah kecerdasannya yang luar biasa. Ia mampu berbahasa Inggris dan Mandarin. Bahkan ketika ada proyek ke Korea, ia juga belajar bahasa Korea. Tak hanya itu, aku pernah melihatnya menjelaskan mengenai perusahaan pada klien dengan baik sekali. Gadis bernama Tessa itu punya banyak titel di belakang namanya karena ia mengambil beberapa pendidikan sekaligus. Tapi ia hanya menulis nama panjangnya di kartu nama.

Tessa itu teman Bu Indah saat kuliah. Bu Indah memang mengambil jurusan psikologi di usianya yang tak lagi muda. Mereka bertemu dan sama-sama tertarik kuliah karena ingin tahu saja. Tapi walaupun mereka pernah satu kampus, aku jarang melihat Bu Indah berlama-lama mengobrol dengan Tessa. Mereka selalu tampak profesional di kantor jadi mungkin hanya kebetulan saja mereka satu perusahaan.

“…Lik! Mas Malik!” Suara itu membuatku berhenti melamun. Bu Indah melambai dari tangga kedua, memanggilku. Tuh, kan! Jangan-jangan dia memberitahu Tessa soal itu.

Belum pernah rasanya langkahku seberat ini. Wajahku terasa panas dan jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Mungkin karena terlalu memalukan mengharap cinta seorang gadis sesempurna Tessa untuk penjaga pintu sepertiku. Karyawan level terendah di perusahaan ini. Aku sadar itu, dan aku tak ingin mengharap lebih. Apalagi aku sudah kenal Bu Indah, ia sangat suka menjodoh-jodohkan orang.

Bu Indah memandangku dengan serius. “Nanti kamu antarin Tessa ke Kelapa Gading ya! Dia harus meeting dengan klien penting.”

Oh, aku terdiam sejenak. Aneh. “Tapi, Bu. Biasanya Mbak Tessa kan bawa mobil sendiri.”

“Memangnya kenapa? Kamu ada tugas yang lain?”

“Bukan begitu, Bu. Tapi daripada saya ikut Mbak  Tessa, kan lebih baik saya bantu di sini. Hari ini Senin, pasti banyak tamu. Apalagi ada dua meeting hari ini.”

“Bukan karena kamu segan berduaan saja sama Tessa, kan? Sesuka apapun kita sama seseorang, kita harus tetap profesional, Mas.”

“Bu…” Astaga! Bu Indah mengatakan hal itu di depan orangnya! Aku melirik Tessa, tapi ia diam saja dan sibuk melihat ke arah lain. Mudah-mudahan ia tak mendengarnya. Daripada makin terbongkar, aku langsung mengangguk. Senyum Bu Indah langsung merekah.

“Ambil kuncinya di atas, Tessa kamu siap-siap sana. Pelajari dulu, jangan terlalu mikirin urusan pribadi. Boleh, tapi jangan berlebihan.” Bu Indah melirikku dengan ekor matanya seakan berkata kalau ia sedang mengatakan itu untukku. Aku hanya bisa mengurut dada saat keduanya pergi.

Dia pasti tidak dengar, dia pasti tidak dengar. Aku terus mengatakan hal itu dalam hati. Berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau tak ada yang akan berubah. Semua akan baik-baik saja. Tessa tidak tahu perasaanku, dan aku tetap bisa mengagumi bahkan mencintainya diam-diam saja. Aku si secret admirer.

Sepuluh menit kemudian, aku mulai menyetir mobil bergerak memasuki jalanan yang padat. Di bagian kursi penumpang belakang, Tessa sibuk membaca dokumennya. Ponselnya beberapa kali berbunyi, ada pesan masuk. Ia membacanya, tersenyum, membalas sebentar lalu kembali tenggelam dengan dokumennya. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.

“Halo! Iya! Udah, Bu! I tried but I don’t have any courage to say it!….mmm… Please, don’t push me… I will… I am going to.. yes yes!” lalu ia menutup telepon. Menghela napas panjang dan berujar, “kadang-kadang Bu Indah suka maksa, ya.”

Aku melirik sedikit melalui kaca dan mengangguk setuju tanpa berkata apa-apa. Telepon itu pasti dari Bu Indah, apapun itu, pasti Bu Indah menyuruhnya Tessa untuk melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Wajah Tessa berubah sedikit, seperti orang yang kuatir.

Mobil kami tiba di kantor tujuan. Tessa tampak sedikit kaget menyadari kami datang lebih cepat dari perkiraan semula. Tak seperti biasa, ia tampak kebingungan saat keluar. Dokumennya tertinggal, bersama tasnya. Ia kembali lagi untuk mengambil keduanya sambil memintaku menunggu di lobi.  Aku mengangguk dan berkata akan memarkirkan mobil dulu.

Seperti saat di jalanan, aku tak kesulitan mencari tempat parkir. Masih pagi, jadi masih banyak tempat lowong. Aku memilih tempat yang agak jauh dari lobi. Maksudnya? Tentu saja… saat nanti pulang, aku bisa punya lebih banyak waktu mengobrol sambil jalan dengan Tessa.

Ting Tong!

Suara ponsel terdengar ketika aku hendak menutup pintu mobil. Itu bukan ponselku, pikirku sambil meraba ponsel yang kuletakkan di ikat pinggang celanaku. Masih ada. Berarti ada ponsel lain. Aku membuka pintu dan sebuah ponsel tergeletak di lantai mobil bagian belakang. Casing-nya berwarna biru muda. Tadi pagi Tessa membawa ponsel itu. Itu miliknya.

Pasti terlempar keluar karena tadi Tessa mengambil tasnya dengan terburu-buru. Layarnya masih menyala. Ada pesan masuk. Dari Bu Indah…

Ibu Indah- Gimana? Sudah?

Waduh! Ini pasti soal meeting. Cepat-cepat aku mengambil ponsel itu. Tanpa sengaja jariku menyentuh layarnya dan ponsel pun aktif. Tidak dikunci. Sesaat aku memandangi layar yang menyala dan lalu redup lagi itu.

Lihat, tidak, lihat, tidak, lihat, tidak, lihat, tidak, lihat… aku tak tahu kalau ponsel seseorang bisa semenarik ini untuk dilihat. Aku tak pernah melakukannya, tidak pernah! Tapi ini… ini milik gadis yang kusukai selama dua tahun lebih, gadis yang membuatku tetap bertahan menjadi satpam, si penjaga pintu. Aku ingin tahu banyak hal tentangnya dan ponsel ini peluang untuk itu.

Perlahan aku menyentuh layarnya lagi. Menyala. Tak ada kunci, tak ada sandi apapun. Ada beberapa pesan yang masuk dan aku membuka ruang obrolan. Daftar nama berjejer dengan warna hijau dengan jumlah obrolan yang lumayan banyak. Aku membuka ruang obrolan teratas, antara Tessa dan… Bu Indah.

Ibu Indah- Harus kamu lakukan sekarang, Tes

Tessa- Aduh, Bu, ini aja aku gak berani ngeliat dia

Ibu Indah- Ini kesempatanmu, kontrak Malik akan selesai minggu depan. Saya dengar dari kakaknya, Malik ditawari kerja bagus.

Tessa- Iya Bu, tapi aku malu banget. Aku harus ngomong apa, Bu…

Ibu Indah- Kamu harus berani, Tess. Gak ada salah kamu duluan yang bilang

Tak ada jawaban, mungkin itulah mengapa Bu Indah menelpon Tessa. Setelah itu Bu Indah mengirim pesan yang tadi masuk. Aku men-scroll naik. Membaca obrolan sebelum itu.

Tessa- Bu, dia ngeliatin aku melulu nih. Jadi malu

Ibu Indah- Terus kalo diliatin, kamu mau berdiri di situ terus?

Tessa- Biarinlah, Bu. Kan masih pagi… ibu udah dimana?

Ibu Indah- Di depan pintu! Pantesan kamu betah yaaah! Nih Maliknya sampe gak ngelirik kesana kemari

Aku tersedak melihat fotoku yang diambil dari balik dinding kaca, aku sedang berdiri menatap lurus pada… Tessa. Waktunya menunjukkan saat aku berdiri melihatnya tadi pagi.

Tessa- Hahaha, makasih Bu makasih… jadi semangat lagi. Gantengnya ^_^

Ibu Indah- Jadi semangat lagi? Kamu kerja tuh buat apa sih?

Tessa- Buat ngeliat satpam tertampanku dong, Bu!

Ibu Indah- Udah ah, saya pegel nih nungguin di depan pintu.

Tessa- Ibuuu, jangan masuk dulu…

Pikiranku kembali pada Tessa yang berdiri di lantai tangga kedua. Ia tersenyum, tertawa dan tampak bahagia, itu karena ia sedang mengobrol dengan Bu Indah, tentang diriku.

Tanganku bergerak lagi, membaca obrolan-obrolan sebelumnya.

Tessa- Dia diem banget  sih Bu, aku gak berani juga. Takut ditolak

Tessa- Bu, Mas Malik kalo tugas jangan pas aku lagi diST ke luar dong.

Tessa- Bu, bisa gak nyuruh Mas Malik nemenin aku lembur malam ini. Biar akunya semangat gitu Bu… hehehehe…

Ibu Indah- Mau dianterin sekalian?Malik pasti bersedia banget nganterin kamu

Tessa- Haha, enggaklah Bu, kalo malem berduaan di mobil entar ada setannya.

Jari telunjukku menggeser layar makin ke atas.

Ibu Indah- Beneran kamu tolak tawaran itu, Tes?

Tessa- Iya Bu

Ibu Indah- Kenapa?

Tessa- Karena tak ada Mas Malik di sana, Bu.

Ibu Indah- Kamu tahu apa kata Malik waktu saya tanya kenapa dia gak nyari kerjaan lain dengan titel sarjananya itu?

Tessa- Apa? Apa? Apa, Bu?

Ibu Indah- Karena kamu bakal tidak ada di sana, Gadis bodoh!

Tessa- Hahaha, Ibu bisa aja… Emangnya Mas Malik mau sama saya apa? Gak mungkin, dia mah baik sama semua orang karena memang itu tugasnya Bu.

Entah aku harus bagaimana saat ini. Gadis itu… tampak selalu menunduk atau tersenyum sepintas tiap kali berpapasan denganku. Tak sedikitpun aku berpikir ia menyembunyikan sesuatu seperti ini.

Pikiranku sibuk mengingat-ingat kejadian belakangan ini. Waktu days off-ku yang berubah, seringnya Bu Indah menyuruhku mengantar berbagai macam hal pada Tessa dan bahkan sering mengajakku makan bersama mereka saat makan siang.

“Mas?”

Aku berbalik. Tessa berdiri di situ, tampak kuatir. Aku juga tak tahu harus berkata atau berbuat apa saat ini. Pikiranku kosong setelah mengingat kembali semuanya. Gadis ini telah membuatku terkejut. Aku tak bisa menandinginya dengan kebisuan dan kebodohanku selama ini.

“Itu… ponsel saya,” ujar Tessa pelan. Aku tak berkata apa-apa dan hanya menyodorkannya. Gadis itu mengambilnya, memeriksa sebentar dan ia mendongak lagi. Tatapan yang cukup membuatku merasa bersalah.

“Maaf,” bisikku pelan. Tessa tak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan melangkah pergi.

Kuputuskan menunggu Tessa di dalam mobil saja. Aku perlu berpikir dan semua ini mengejutkan.

Tiba-tiba, ponselku bergetar

Tessa- Mas, kembali saja ke kantor duluan. Saya pulang naik taksi

Dia mungkin marah, atau merasa malu. Entahlah, tapi aku tak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan. Aku mencintainya, sejak dua tahun lalu. Dan aku ingin tahu, sudah berapa lama ia mencintaiku? Aku yang bukan siapa-siapa, aku yang hanya karyawan rendahan.

Saya tunggu, saya ingin menunjukkan sesuatu padamu

Aku tak mau memanggilnya Mbak lagi…

Tessa- Apa itu? Info sekarang aja. Saya sudah dalam taksi.

Malik- Foto-fotomu… foto-fotomu yang saya ambil diam-diam.

Tak ada jawaban lagi, aku menghela napas. Aku sudah tak peduli. Aku harus mengatakannya sekarang. Besok aku akan membuat surat pengunduran diri. Aku akan berhenti demi Tessa. Aku harus melakukannya agar Tessa tahu, aku akan berusaha sekeras apapun untuk membuatnya pantas di sisiku. Tapi hari ini, ia harus tahu segalanya.

Sebuah taksi berhenti di depan mobilku, seorang perempuan keluar. Tessa! Tatapan kami bertemu, dan ia tersenyum sangat manis padaku. Kami akan bicara, tentang banyak hal dan itu semua tentang kami. 


TAGS   Pengagum / Rahasia / Hati / Cinta / Secret / Admirer /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia