Catatan Bunda Iin

Belajar Penerjemahan (1)

3 Oct 2016 - 13:08 WIB

Mungkin ada yang berpikir kalo menerjemahkan itu gampang, wong tinggal buka google translate, copy and paste pun selesai. Tapi saat harus menerjemahkan untuk kepentingan resmi atau media berbentuk tulisan, baru deh terasa kalo terjemahan itu terasa kaku dan tentu saja gak nyambung ketika diuji dengan back translation.

Sekedar untuk berbagi informasi. Banyak loh, penerjemah-penerjemah yang sudah mencetak puluhan buku tak mengenal teknik-teknik penerjemahan secara teori. Memang praktek lebih penting, tapi ketika berhadapan dengan pondasi utama saat menerjemahkan maka timbullah masalah. Bahkan salah satu penerjemah menjelaskan dalam blognya dengan percaya diri bahwa yang dipindahkan itu bahasa, bukan makna. What!! Teori mana tuh? Tanpa perlu baca bukunya, saya kira pasti penerjemah dengan kualitas seperti ini takkan menghasilkan karya yang sebagus dugaan saya sebelumnya.

Penerjemahan bukan sekedar memindahkan arti dari satu bahasa ke bahasa lain. Tapi mengalihkan pesan atau makna yang terkandung di dalamnya. Misalnya, saya sedang memberitahu anak saya, “Ra, buy me two kilos of eggs!” dan kemudian anak saya itupun menyampaikan kepada penjualnya, “Pak, Belikan saya dua kilo telor!” kira-kira salah engga? Naaah, itu yang saya maksud. Yang kita alihkan itu MAKNA, inget ya MAKNA! Bukan bahasanya.

Jadi, belajar menerjemahkan itu gampang-gampang susah. Pertama pelajari dulu mulai tataran paling kecil, yaitu kata atau leksikal sebelum ke tataran terbesar yaitu wacana.

Dalam menerjemahkan kata, kita harus punya banyak kamus. Kamus-kamus online memang banyak tapi gak semuanya berkualitas. Kamus offline juga wajib punya, agar bisa menambah kosa kata. Kamus juga macam-macam bentuknya. Ada yang berbentuk terjemahan Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, ada juga kamus sinonim, antonim atau thesaurus. Jangan lupa, kita wajib punya kamus idiom, kata mutiara bahkan kalau perlu peribahasa. Oh ya, kalau berniat menerjemahkan teks dalam bidang ilmu tertentu seperti kedokteran, hukum, psikologi, administrasi, fisika, kimia, biologi dan lain-lain, juga wajib punya kamus istilah dalam bidang tersebut. Saran aja, sebaiknya terjemahkan teks bidang ilmu tertentu yang memang dikuasai atau dipahami dengan baik. Alasannya, istilah satu kata dalam ilmu yang satu mungkin berbeda maknanya dalam bidang ilmu yang lain. Contohnya… hmm, concrete misalnya, dalam istilah konstruksi artinya beton, sedangkan dalam istilah hukum artinya nyata. Beda kan?  

Satu kata dalam BSu, bisa berarti banyak dalam BSa. Eh, BSu BSa itu apa? Oke, BSu itu artinya Bahasa Sumber, dan BSa artinya Bahasa Sasaran. Biasanya Bahasa Sumber itu Bahasa Inggris dan Bahasa Sasaran adalah Bahasa Indonesia. Lalu ada lagi istilah TSu dan TSa. Nah,  TSu itu artinya Teks Sumber atau teks yang menjadi bahan utama penerjemahan, sedang TSa artinya Teks Sasaran atau Teks yang menjadi hasil dari penerjemahan. Jadi, kalau BSu BSa biasanya digunakan untuk menjelaskan bahasa secara garis besar atau umum, kalau TSu TSa digunakan untuk menjelaskan teks yang sedang menjadi objek pembahasan saja. Mengerti kan?

Langkah awal lainnya adalah memahami teori-teori penerjemahan. Dulu saya pikir, ribet banget mesti pake teori segala. Tapi kenyataannya, setelah mempelajari puluhan jenis teori itu, saya merasakan kemudahan tiap kali menerjemahkan. Oh ini tinggal pake teori A, ini pake teori B, ini kudu pake teori C dan seterusnya.

Perlu diketahui kalau ada beragam jenis metode, prosedur, dan strategi penerjemahan yang dipaparkan oleh para pakar penerjemahan. Nah, saat kuliah, saya diwajibkan untuk mempelajari semuanya. Dari semua jenis teori itu diambil beberapa jenis metode yang paling akurat atau paling baik dalam menerjemahkan. Dan seorang penerjemah yang baik, harus tetap terbuka terhadap berbagai teori penerjemahan, baru atau lama agar bisa terus meningkatkan hasil terjemahannya. Oh ya, kadang satu teori metode seorang pakar bisa sama dengan teori dengan nama lain oleh pakar yang lain. Misalnya saja, teori translation shifts-nya JC Catford yang mirip dengan transposition-nya Newmark.

Ada satu hal lagi, kita juga wajib BISA membedakan bentuk dan fungsi kata/frasa/klausa. Dengan membedakannya, kita bisa menerjemahkan sesuai fungsinya agar maknanya tidak hilang. Contohnya:

When she went to Bali, Diana bought me a bag that made by hand.

S= Diana, P=bought, iO=Me, dO=a bag, oC=that made by hand, A=when she went to Bali.

Diana membelikanku sebuah tas buatan tangan saat ia pergi ke Bali.

Walaupun klausanya bergeser ke bagian belakang kalimat, karena masih berfungsi sama maka maknanya tidak hilang. Jadi penting banget bisa bedain mana subjek, predikat, objek dan lain-lain dalam menerjemahkan agar saat membangun kalimat di teks sasaran, fungsinya masih sama.

Cukup sekian dulu ya, bagian awal dari belajar penerjemahannya. Semoga tetap semangat!


TAGS   belajar / Translation / teori / penerjemahan / makna / Open Learning /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia