Catatan Bunda Iin

Laporan : Kisruh PPDB, Salah Siapa?

16 Jun 2016 - 19:48 WIB

Hari Rabu pagi, setelah sholat Shubuh, saya putuskan untuk mendaftarkan putri pertama sebagai salah satu calon peserta didik baru untuk SMU secara online. Alhamdulillah dalam sekejap saja, prosesnya selesai. Semua data sesuai dengan Kartu Keluarga, Akte Kelahiran dan Hasil Ujian Nasional. Sesuai dengan proses pelaksanaan, paginya saya berencana untuk memverifikasi di salah satu sekolah menengah yang menjadi pilihan Kakak, putri saya. Saya mengajak putri saya sekalian untuk menunjukkan sekolah yang ia pilih. 

Ternyata saat datang, sudah terjadi beberapa kesalahpahaman yang tidak mengenakkan. Dalam keterangan di website disebutkan bahwa pendaftar hanya perlu membawa satu fotokopi Akte Kelahiran, fotokopi Kartu Keluarga beserta dokumen asli untuk diperlihatkan dan Bukti Asli Pendaftaran yang dicetak dari web. Namun, saat saya memverifikasi ternyata ada aturan-aturan tambahan yang tidak diberitahukan sebelumnya seperti harus menyediakan map khusus (tidak boleh berbahan plastik), selain itu diminta juga fotokopi KTP Pendaftar/Orangtua, Nilai SKHUN (fotokopi) dan menunjukkan Akte Kelahiran Asli. Untungnya, saya memang membawa seluruh dokumen anak termasuk raport, keterangan prestasi sampai paspor segala, juga menyediakan beraneka fotokopi dokumen keluarga termasuk KTP orangtua. Maklum saja, inilah Indonesia. Urusan dokumen pasti urusan ribet.

Sampai saat verifikasi, mulai terlihat penumpukan antrian. Sejak orang pertama mengantri hingga menjelang pukul 12.00 siang tetap saja tak seorangpun yang dipanggil. Anak-anak yang ikut mengantri mulai kelelahan, terutama karena ini bertepatan dengan bulan puasa, termasuk putri saya. Melihat gelagat tidak ada kepastian, beberapa orangtua pun bertanya dan mendapat jawaban “Server Down!” 

Untuk mengantisipasi kemarahan dari orangtua, para petugas dan operator sekolah pun menyarankan kami pulang terlebih dulu dan kembali sekitar pukul tiga sore. Mereka memohon maaf karena tidak bisa memberikan kepastian apapun. Sebagai operator sekolah, mereka juga tidak memperoleh kabar yang pasti selain pemberitahuan bahwa Server PPDBDKI sedang mengalami masalah.

Saat kembali sekitar pukul tiga sore, tak sampai setengah jam diberitahukan bahwa kemungkinan server down akan sampai malam hari. Pihak operator sekolah meminta para pendaftar untuk datang lagi esok pagi dan mengambil bukti verifikasinya. Tentu saja tergambar jelas kekecewaan di wajah-wajah para pendaftar yang datang dari jauh-jauh. Beberapa di antara mereka memang mengejar sekolah dengan prestasi gemilang dibandingkan memikirkan jauhnya lokasi dari rumah. 

Esok paginya, saya sempat membuka web PPDB dan terlihat normal. Beberapa nama siswa yang saya kenal sudah tercantum di daftar seleksi, sehingga dengan terburu-buru saya pun kembali ke SMAN 1 untuk mengambil bukti verikasi putri saya. 

Sesampainya di sana, nama anak saya sudah dipanggil oleh petugas. Alhamdulillah, langkah kedua selesai. Tapi setelah selesai menandatangani berkas, saya mendengar pemberitahuan bahwa server down lagi. Dan tadi sore, salah satu siswa, teman dari putri saya menelpon sambil menangis karena belum bisa memverifikasi apapun. Sampai detik ini, login putri saya pun belum bisa dilakukan karena tiap kali buka web sma.ppdbdki.my.id hanya tertulis “502 Bad Gateway” baik melalui ponsel, home internet dan mobile internet. 

Jelas PPDB tahun ini benar-benar kacau-balau. Entah siapa yang bertanggung jawab karena bukan pertama kali ini saya melakukan pendaftaran PDB untuk anak-anak. Selama ini semua baik-baik saja, memang down tapi tidak lama dan dalam hitungan jam sudah selesai. 

Alasan-alasan diluncurkan oleh para pihak terkait. Tapi hal ini justru memperlihatkan kebobrokan internal lembaga itu sendiri. Bagaimana bisa mengatakan bahwa mereka tidak bisa menyangka bahwa pengakses akan sebanyak ini ketika dengan mudah kita bisa mengakses jumlah keseluruhan siswa di tiap sekolah yang berada di DKI, baik sekolah swasta maupun negeri melalui Simdik Info?

Belum satu masalah selesai, masalah lainnya adalah kacau balaunya urusan kependudukan. Beberapa anak yang termasuk sebagai penduduk DKI Jakarta terdaftar sebagai siswa siswi Non DKI. Bahkan saat sore tadi saya membuka website PPDB, terjadi nama ganda dalam proses seleksi dengan nilai yang berbeda-beda.

Perpanjangan waktu pendaftaran sebenarnya bukan mengurangi masalah, mengingat sebentar lagi ada pengumuman Hasil US SD (tanggal 21) dan dimulainya prapendaftaran NON DKI untuk PPDB SMP (22-24 Juni) serta pendaftaran PDB SMP Tahap 1 yang jadwalnya pada tanggal 24-27 Juni. Apakah tidak membuat masalah semakin bertumpuk-tumpuk?

Sebagai pihak orangtua dengan dua anak yang sama-sama akan mendaftar di SMP dan SMA, tentu menjadi pihak yang paling direpotkan oleh kekacauan proses ini. Tadinya saya berharap, saat mendaftarkan adiknya, urusan sekolah si Kakak sudah selesai. Tapi karena perpanjangan, akhirnya saya harus tetap harap-harap cemas secara bersamaan. 

Saya sangat berharap pihak Disdik atau lembaga-lembaga terkait segera memperbaiki kekisruhan PPDB ini, agar jangan sampai semakin bermasalah, dan akhirnya menjadi bola salju yang mengorbankan banyak anak-anak dan orangtua. Tak perlu meminta maaf puluhan kali atau mencari berbagai alasan, cukup lakukan perbaikan dengan segera. Jangan hanya memperpanjang waktu, kalau masalah tak selesai-selesai tetap tak ada gunanya hingga membuat kami sebagai orangtua berada dalam ketidakpastian.

Selesaikan, jelaskan secara transparan dan terbuka atau akui kesalahan dan segera mencari langkah lain termasuk kalau perlu mengadakan pendaftaran secara offline dengan mekanisme yang sama. 

 


TAGS   PPDB 2016 / Kisruh / Disdik / DKI /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia