Catatan Bunda Iin

Kontroversi Ujian Nasional

14 Jun 2016 - 18:19 WIB

Setiap anak adalah seorang manusia dengan kepribadian yang berbeda, unik dan tak sama satu sama lain. Setiap anak merupakan kombinasi karakter yang terbentuk dari keturunan kedua orangtuanya, lingkungan dan tempat ia dibesarkan. Keunikan itu membuat setiap anak seharusnya diperlakukan tidak sama, tapi disesuaikan dengan kebutuhannya.

Seperti yang sama-sama kita ketahui, anak-anak harus melalui pendidikan untuk menyiapkan diri menjadi pribadi mandiri yang mampu mengurus dirinya nanti. Sayangnya, pendidikan yang mereka lalui belum tentu mampu menjadi sarana yang tepat bagi anak-anak untuk mengembangkan diri.

Sistem kurikulum di Indonesia masih mengedepankan pengkotak-kotakan kemampuan anak. Anak-anak dengan kemampuan di bidang-bidang tertentu seperti Matematika, Bahasa Inggris dan IPA dianggap jauh lebih unggul dibandingkan anak-anak yang memiliki kemampuan berbahasa, menulis, seni dan budaya dengan baik.

Bulan ini adalah bulan terakhir tahun ajaran. Sebagian besar anak-anak yang akan lulus dari SD atau SMP akan mencari sekolah lanjutan dalam PPDB setelah menerima hasil Ujian Nasional yang diselenggarakan Mei bulan lalu.

Sejak dulu pro-kontra penggunaan hasil UN atau NEM sebagai patokan menentukan sekolah lanjutan selalu muncul ke permukaan di tiap akhir tahun ajaran. Berkali-kali kurikulum berganti, sistem NEM/Hasil UN tidak pernah hilang, hanya berganti nama saja. Intinya masih tetap sama. Menilai kemampuan anak secara merata dengan tidak merata. Menilai dari tiga-empat bidang studi tanpa melihat kenyataan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan berbeda.

Selama bertahun-tahun langsung melihat pada kenyataan baik setelah mengalami sendiri dan mendengar berbagai fakta dari hasil pendidikan berkriteria NEM, ada satu kenyataan yang harus dihadapi bersama. Banyak kegagalan mengembangkan kepribadian anak secara maksimal justru disebabkan karena NEM/Hasil UN. Beberapa anak dengan kemampuan tinggi di bidang bahasa justru memilih program IPA dan ujung-ujungnya bekerja di masyarakat dengan belajar secara otodidak sehingga pendidikan lanjutannya menjadi tidak terlalu berguna. Demikian pula sebaliknya. Belum lagi karena gagal masuk sekolah pilihan, akhirnya kemampuan dan bakat anak kurang terasah karena kualitas sekolah yang berbeda. Sementara di sisi lain, anak-anak yang beruntung masuk sekolah berkualitas baik justru tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.

Secara logika, mungkinkah hasil pendidikan selama enam atau tiga tahun masa sekolah yang  ditempa dengan puluhan bidang studi beserta penilaian sikap dan budi pekerti kemudian dijadikan dalam satu paket ujian yang hanya berlangsung 3-4 hari saja? Itu pun tidak mengikutsertakan penilaian sikap dan budi pekerti.

Padahal tidak mudah bagi seorang anak menyesuaikan diri dalam lingkungan pendidikan dengan segudang aturan dan tuntutan. Agar karakternya terbentuk dengan baik, anak-anak belajar menjaga sikap dan mengubah tingkah lakunya. Tak hanya itu mereka juga harus menyeimbangkan antara kehidupan sosial luar sekolah dan dalam sekolah agar mampu mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Butuh kemampuan yang benar-benar terlatih untuk melakukan semua itu dan pantas sekali jika beberapa anak mendapat penghargaan berupa urutan rangking di kelasnya. Ini menandai seberapa baik atau buruknya mereka berusaha menjadi seorang calon anggota masyarakat. Nilai-nilai yang mereka peroleh, tak hanya karena poin di atas kertas, tetapi juga dari penerapan peraturan yang ditetapkan pihak sekolah seperti kerajinan, sikap, budi pekerti, dan sebagainya. Kombinasi inilah yang dijadikan patokan bagi setiap guru dan kemudian orangtua sebagai ukuran kemampuan anak.

Selama proses belajar inilah, banyak anak-anak yang akhirnya menemukan kemampuan dan bakat mereka. Ada anak-anak yang menonjol di bidang dunia menulis, ada yang sangat pandai berbahasa Inggris dan yang lain berbakat di bidang seni. Anak-anak istimewa ini tidak mungkin menguasai seluruh bidang studi kecuali ia seorang jenius. Tapi setiap guru di sekolah pasti menghargai kemampuan itu dengan memberi dorongan berupa nilai yang baik, atau penghargaan dalam bentuk pujian. Setiap anak berharga, dengan kemampuan yang berbeda.

Hanya saja semua usaha anak-anak itu takkan ada gunanya di akhir tahun ajaran sekolah mereka, saat mengikuti Ujian Nasional. Mengapa seperti itu?

Anak-anak dengan tingkah laku kurang baik, seperti tidak berhubungan baik dengan teman-teman sekelasnya, suka melawan guru, tidak mengerjakan PR atau tugas dengan baik, bertingkah tidak sesuai aturan sekolah dan lain-lain, tidak akan terlihat dalam penentuan NEM/Hasil UN.

Anak-anak dengan usaha yang lebih keras, seperti berusaha menyeimbangkan seluruh bidang studi agar nilai-nilainya sama baiknya, tentu berbeda dengan teman-temannya yang hanya mempelajari tiga atau empat bidang studi yang diujikan secara nasional saja. Usaha mereka akan sia-sia dan tidak berguna dalam menentukan NEM/Hasil UN.

Kita tidak sedang membentuk pribadi yang seperti robot, dengan hafalan teori luar biasa, tapi tak memiliki akhlak, budi pekerti atau sikap yang baik. Pendidikan di negeri ini akhirnya hanya mampu menghasilkan produk anak seperti ‘robot’ yang kurang berkarakter. Secara umum, semua orangtua tahu beberapa sekolah favorit di Jakarta. Hasilnya memang luar biasa, harus diakui anak-anak zaman sekarang memiliki tingkat persaingan yang ketat. Tapi apakah itu menjamin kurikulum pendidikan sekarang telah berhasil membentuk kepribadian yang mandiri, berakhlak mulia dengan kecerdasan yang baik? Bagaimana bisa hal tersebut tercapai ketika penilaian hanya dilakukan di atas kertas, dengan kemungkinan 25% merupakan hasil tebak-tebakan, yang membuat mereka tidak bisa memilih sekolah yang benar-benar pantas untuk menghargai kemampuan mereka?

Tulisan ini khusus untuk mengobati kekecewaan para orangtua, sahabat Bunda yang NEM/Hasil UNnya terpuruk jatuh padahal putra-putrinya memiliki prestasi luar biasa di bidang tertentu seperti bahasa dan seni (tidak bisa melalui PPDB jalur prestasi karena bukan diadakan oleh pihak pemerintah/internasional dan jumlahnya terbatas), bahkan selalu masuk dalam jajaran juara kelas setiap tahunnya. Untuk anak-anak dengan sikap, budi pekerti dan kesantunan luar biasa yang kini terpinggirkan karena hasil UNnya, yang kehilangan kesempatan dan memberikannya pada teman-temannya yang justru bersikap sebaliknya selama tiga tahun masa sekolah.

Semoga ini bisa menjadi catatan penting bagi para orangtua bahwa beginilah potret pendidikan di negeri tercinta, kita harus selalu menyiapkan diri untuk menghadapinya dan menerima kenyataan serta tidak menyalahkan anak-anak hanya karena nilai yang tak diharapkan dalam ujian nasional tersebut. Sekolah negeri memang gratis, tapi bukan berarti lulusannya dijamin akan selalu sukses. Sungguh sebuah kerinduan bagi setiap anak dan orangtua akan sebuah sistem pendidikan yang lebih berkualitas, adil dan benar-benar mampu mengembangkan anak-anak menjadi pribadi bangsa yang mandiri, berakhlak mulia dengan kecerdasan tinggi.


TAGS   UN / PPDB / anak / sekolah / SMU / SMP /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia