Catatan Bunda Iin

4. Membangun Kepercayaan Sejak Dini

22 Dec 2014 - 09:00 WIB

Banyak Ibu mengira ada batas waktu tertentu untuk mengenalkan sesuatu pada anak. Sebagian berpendapat bahwa usia dua tahun belum bisa diajak berkomunikasi ataupun dipercaya melakukan sesuatu. Tapi berdasarkan pengalaman saya pribadi, saya tidak setuju.

Saat Kakak dua tahun, ia didiagnosis autis karena sulit berbicara. Tapi saat itu, putri saya memahami apa itu gunting, bahaya dan cara memakainya dengan aman. Saya tidak menyampaikannya melalui kata-kata yang mungkin tidak akan dipahaminya, tapi menggunakan isyarat. Saat saya mengatakan ‘bahaya’ dan ’sakit’, saya menyentuhnya bagian yang tajam sedikit ke tangannya dan ia langsung menarik tangannya, saya tekankan itu ’sakit’ dan ia mengangguk. Lalu berulang kali saya mempraktekkan cara memakai gunting yang seharusnya. Setelah itu, tiap kali ia menggunakan gunting, saya selalu berada di dekatnya. Walaupun membiarkannya menggunting sendiri, tapi saya selalu mengawasi dan memastikan alat itu diletakkan kembali dengan aman dan tersembunyi dari jangkauannya setelah dipakai. Hasilnya, Kakak sudah bisa menggunting di usia 2,5 tahun dan menjahit dengan baik ketika usianya 10 tahun.

Karena itu saat ada Ibu yang bertanya mengenai anak 2 tahunnya yang sulit ditinggal. Saya menyarankannya untuk membangun kepercayaan. Untuk membangun kepercayaan pada balita 2 tahun, tidak cukup dengan bicara. Misalkan hendak meninggalkannya ke kamar mandi, katakan dengan kalimat sesingkat mungkin kalau Ibu akan kembali dan dia aman karena ada Ayah atau Abangnya di situ. Kalaupun tidak ada siapa-siapa, tapi Ibu yakin dia aman, maka berikan sesuatu yang akan membuatnya percaya bahwa dia aman. Saat kembali, Ibu harus memberi penghargaan atas kepercayaannya. “Nah, Ibu kembali, kan? Ibu gak bohong kan De? Sekarang pelukan buat Ade manis karena percaya sama Ibu.”

Agar anak semakin percaya, memberi pesan-pesan terselubung melalui dongeng atau saat menonton film kartun bisa menjadi sarana yang tepat membangun kepercayaan anak. Satu hal lagi, seorang Ibu tidak boleh berbohong. Karena sekali berbohong, anak akan sulit percaya padanya lagi. Kalau terjadi sesuatu dan Ibu tak bisa menepati janji, maka katakan maaf dan alasan penyebab mengapa Ibu tak bisa menepati janji. Ini sangat penting buat menjalin kepercayaan antara Ibu dan anak. Anak yang tak pernah dibohongi, juga takkan berani membohongi Ibunya.

Saling percaya ini akan membangun hubungan lebih baik antara Ibu dan anak, sehingga setiap kali nanti ada masalah, maka kepercayaan satu sama lain akan membantu penyelesaian masalah lebih cepat sehingga baik perasaan ibu atau anak, akan sama-sama merasa lebih nyaman satu sama lain.

Sebelumnya Selanjutnya


TAGS   kepercayaan / anak / pendidikan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia