Catatan Bunda Iin

Rumah Tangga : Bodoh & Idiot

8 Dec 2014 - 08:49 WIB

Bingung seakan tak berujung saat mengaitkan dua alis mataku seakan-akan mereka bertemu kalau lagi berpikir keras seperti sekarang. Aku berharap kekuatan berpikirku akan bertambah dua kali lipat kalau melakukannya. Setidaknya aku bisa menemukan jawaban dari kebingungan yang berputar-putar memenuhi otak.

“Tante bodoh, ” jawab Tante Dessy spontan.

“Dan Om idiot, ” timpal Om Burhan menyusul istrinya. Sebelumnya keduanya tertawa bersamaan.

Maksudnya apa? Padahal aku bertanya apa rahasia kemesraan mereka yang seperti tidak pernah luntur walaupun waktu berlalu lebih dari tiga puluh tahun itu. Tapi mereka justru menjawab dengan dua kalimat singkat yang membingungkan itu. Sampai pagi ini pun, aku masih belum bisa memahami makna di balik jawaban itu.

“Pagi-pagi begini lagi mikir apa, Din?” Yang dipikirkan ternyata muncul di belakangku. Tampak santai dalam balutan piyama katun warna pink.

“Mikirin Tante sama Om,” jawabku sambil menyesap kopi di mug.

Tante menatapku. Matanya membulat. “Kami?” Lalu ia seperti teringat sesuatu. “Apa karena jawaban kami semalam?”

Aku menjawab dengan anggukan. Lagi-lagi Tante tertawa seperti semalam. Aku langsung merengut.

“Apa aku harus jadi orang bodoh kalau ingin mempertahankan pernikahanku dengan Amri?”

Tante tertawa makin geli.

“Tanteee!!”

Bukannya berhenti, Tante justru semakin tertawa geli.

“Ada apa sih? Becanda apaan?” Kepala Om Burhan muncul dari balik pintu dapur. Tak seperti Tante, Om Burhan sudah mengenakan pakaian kerja yang rapi. Kemeja warna biru muda pupus dipadu celana pantopel berwarna hitam membungkus tubuhnya yang mulai tambun. Tapi sisa-sisa ketampanan dan tubuh atletis yang terbiasa berolahraga masih terlihat jelas melekat pada lelaki yang hampir memasuki usia setengah abad.

“Ini loh, Mas. Si Dini nih… Dia mikirin jawaban kita semalam. Itu loh yang soal pernikahan. Terus dia malah nanya… apa aku harus jadi orang bodoh kalau ingin mempertahankan pernikahanku dengan Amri?” Tante Dessy menirukan gayaku yang dingin saat melontarkan pertanyaanku tadi. Kali ini malah Om Burhan yang terkekeh. Lelaki setengah baya itu mendekati istrinya.

“Aah… beneran. Dini bener-bener pengen tahu, Tan, Om. Malah ditertawai sih.”

Om Burhan menepuk bahuku. “Ya, jadilah orang bodoh untuk mempertahankan pernikahanmu, Din.” Ia pun menoleh pada istrinya dengan tatapan sayang. “Saya mau pergi dulu, Sayang.”

Tante Dessy mengangguk dan mereka keluar dari dapur.

Lagi-lagi aku termenung dalam kebingungan. Bodoh dan idiot. Mengapa harus kedua hal itu? Bahkan aku yang sudah menjalani pernikahan lebih dari lima tahun, tak bisa memahami maksud di balik kedua kata-kata itu.

Tapi, Tante Dessy dan Om Burhan adalah dua orang tua yang kuhormati setelah kedua orangtuaku sendiri. Hubungan mereka memang selalu mesra dan tak pernah berubah. Keduanya saling mendukung dan menerima satu sama lain. Satu saat mereka kehilangan satu-satunya putri tercinta saat baru berusia tiga tahun, hubungan mereka justru semakin kuat. Pernikahan mereka yang membuatku terinspirasi memiliki pernikahan yang seindah hubungan mereka. Itulah sebabnya aku memilih menikah di usia yang menurut orangtuaku sendiri masih sangat muda. Aku yakin, belajar dari pernikahan Tante Dessy dan Om Burhan akan membuatku bisa membangun pernikahan yang harmonis pula.

Hanya saja, menjalani pernikahan itu tak semudah mengkhayalkannya. Sulit sekali menyamakan pendapat apalagi mencapai kesepakatan dalam berbagai hal. Semakin aku mengenal Amri, semakin aku tahu kalau kami begitu berbeda. Bahkan kini, setelah lima tahun, aku sedang berpikir untuk mengakhiri pernikahan kami. Karena tak tahan lagi, aku memutuskan untuk berpisah dan tinggal sementara di rumah Tante Dessy sampai aku bisa menemukan jawaban apa yang ingin kulakukan. Tetap menikah atau bercerai darinya.

Semalam ketika aku menceritakan masalahku, Tante dan Om justru memberikan solusi yang membuatku keningku berkerut dan sekarang mereka menertawaiku.

Apa maksudnya?

***

“Din, kita harus bicara. Kita tak bisa begini terus.” Aku menunduk semakin dalam. Amri mengguncang pundakku.

“Aku tak mau bercerai, Din. Aku sayang kamu. Apapun yang terjadi, kita tak boleh berpisah.”

“Tapi aku tak tahan, Mas. Sudah lima tahun kita belum juga punya anak. Aku tidak tahan disindir terus menerus oleh orangtuamu. Dan kau tak pernah ada di rumah. Aku capek sendirian menghadapi sindiran keluargamu.”

“Ya Allah, Dini… aku kan kerja. Cuekin saja sindiran itu. Mereka sudah punya banyak cucu. Dulu kamu bisa menutup mata dan telinga untuk itu. Kenapa sekarang tidak?” kilah Amri tak mau kalah.

“Karena aku juga manusia, Mas. Aku tidak tahan! Pokoknya aku sudah tidak tahan! Kita bercerai saja!” ujarku lagi. Aku langsung menyesalinya.

“Astaghfirullah, Din. Istighfar. Jangan ulangi kata-kata itu! Itu tidak baik.” Tubuhku sendiri bergidik mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang meluncur begitu saja.

Aku menatap Mas Amri. Matanya yang teduh semakin sayu dan wajahnya terlihat lelah. Perasaan bersalah bergelayut dalam hatiku. Tapi dia memang bersalah. Andaikan ia lebih banyak menemaniku di rumah, mungkin Ibunya takkan sering menyiksaku dengan keinginannya menggendong anak yang akan kulahirkan. Lima tahun aku lalui dengan susah payah dan sekarang aku benar-benar tak tahan lagi.

“Maaf, Mas. Tapi sungguh… ada saatnya kita harus menyerah. Aku menyerah sekarang. Pulanglah. Aku capek,” bisikku pelan.

“Iya saya pulang sekarang. Tapi tolong, Din. Pikirkanlah soal kita. Aku sangat sayang padamu.” Mas Amri meraih kepalaku, mencium keningku dan memelukku erat sebelum keluar dari dalam kamar.

Aku juga kangen kamu, Mas. Kangen sekali. Tapi aku tidak ingin kembali ke rumah di mana Ibu dan Ayahmu menganggapku sebagai menantu dengan rahim mandul. Aku juga tak tega membayangkan dirimu tanpa anak seumur hidupmu padahal duniamu adalah dunia yang berhubungan dengan banyak anak-anak. Jika bisa membuatmu bahagia nantinya, aku rela mengorbankan segalanya untukmu, sayang.

***

“Kamu benar-benar bodoh, Din!”

Aku mendongak menatap Tisya. Bodoh? Barusan dia mengatakan aku bodoh?

“Kamu bodoh kalau menganggap perceraian yang hanya akan menguntungkan Amri sebagai jalan terbaik. Terus kamu dapat apa? Lima tahun kamu jadi istrinya. Kalau bukan karena kamu, mana mungkin Amri itu bisa jadi kayak sekarang? Dulu kan dia bandelnya setengah mati. Tapi setelah ngawinin kamu, dia jadi pegawai paling teladan di kantor. Sekarang setelah dia jadi Manager dan kalian bakal punya rumah sendiri, kamu mau bercerai hanya supaya dia bisa punya keturunan dari perempuan lain? Dasar bodoh!”

Aku tercenung. Bukan karena kata-kata Tisya. Tapi karena ia menyebutku bodoh. Kata-kata bodoh membuatku teringat resep Tante Dessy dan Om Burhan.

Bodoh? Apa maksudnya seperti ini? Apa karena Tante Dessy menganggap dirinya bodoh sehingga ia menutup segala kemungkinan memikirkan hal-hal ‘pintar’ yang bisa membuatnya terpisah dari Om Burhan?

Aku ingat salah satu keponakan yang terlahir dengan kebutuhan khusus. Ibunya tak menganggapnya idiot atau bodoh, walaupun semua orang menganggapnya seperti itu. Ia selalu bilang bahwa memiliki anak seperti itu adalah keberuntungan luar biasa. Anaknya selalu tertawa dan tersenyum menghadapi cemoohan dan hinaan orang lain di sekitar mereka. Anaknya takkan memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Anaknya akan selalu bahagia dan senang. Itulah keberuntungan luar biasa yang tak dimiliki anak-anak lain. Ia tak memikirkan perasaan atau apa kata orang, ia berpikir dengan apa yang dirasakan oleh hatinya.

Aku memang terlahir cerdas. Terlalu cerdas malah. Semua orang tahu itu. Sampai aku tak memahami bahwa menjadi ‘bodoh’ sebenarnya bisa jadi menguntungkan. Andaikan aku tidak memahami maksud dan sindiran di balik sikap atau kata-kata mertuaku selama ini, andaikan aku bersikap masa bodoh pada apa yang mereka ucapkan dan semata-mata hanya memikirkan apa yang bisa membuat mereka tersenyum dan tertawa. Andaikan aku tak menganggap penting semua kata-kata orang lain. Andaikan aku sekali-sekali berpikir menggunakan hatiku sendiri. Andaikan… ya andaikan aku benar-benar seperti keponakanku. Aku tertawa pahit. Airmataku mengalir.

“Din? Dini, kamu baik-baik saja?”

Aku menatap Tisya. Mengangguk. Terima kasih Tisya. Kau membuatku memahami sesuatu. Sekarang saatnya menjadi orang bodoh itu.

***

Mas Amri terkejut. Ia bahkan langsung berdiri melihatku berdiri diam di balik dinding kaca yang membatasi ruang meeting dan lorong kantor. Tanpa peduli tatapan para staf yang kebingungan, Mas Amri langsung keluar menemuiku.

“Ada apa, Din? Ada apa? Kenapa menangis?” tanyanya panik, menyentuh pundakku. Dia memeriksaku dari wajah hingga kaki.

Aku menggeleng. Melemparkan senyum paling bodoh di dunia. Mulai sekarang aku ingin jadi si bodoh itu. Akan kututup semua indraku dari semua hal yang membuatku terpisah darinya.

“Aku ingin terus jadi istrimu, Mas. Aku akan jadi bodoh, tuli ataupun bisu. Aku sayang kamu, Mas.”

Mas Amri terpana. Sebelum akhirnya tersenyum. “Dinii… kamu ini… ” Ia menarikku masuk ke ruang kantornya sebelum para staf menyadari apa yang terjadi dan menertawai tingkah kami berdua.

Di dalam ruang kerjanya, Mas Amri memelukku dengan tidak sabar.

“Sebelum kamu bilang begitupun, aku sudah berencana melakukan banyak hal bodoh untukmu, Din. Aku bekerja keras supaya kita bisa tinggal berdua di rumah yang bagus. Tapi kalau itu membuatmu kesepian, aku akan berhenti bekerja kalau perlu. Bossku juga sudah bilang aku bodoh. Tapi aku tak bisa bekerja karena otakku penuh memikirkan cara membuatmu kembali. Syukurlah.. syukurlah…”

“Ya Allah, Mas. Maafin aku ya. Aku tak tahu kalau aku membuatmu begitu. Jangan, jangan berhenti kerja dulu. Kita belum mengganti mobil tua kita, Mas. Dan Mas kan belum pernah ngajak aku ke Bali. Tunggu, tunggu sampai Mas bisa ngajak aku bulan madu kedua ke Bali ya?” ucapku kalem.

Mas Amri tertawa terbahak-bahak dan ia mengangguk setuju.

*****

Ada saat kita menjadi bodoh atau pintar tergantung situasinya. Namun situasi dalam pernikahan itu sangat khusus. Kita harus menyatukan dua visi, dua tujuan, dua keinginan dan dua misi. Jika yang satu tidak dapat mempertimbangkan kebenaran atau kebaikan dari yang lain, maka keduanya tidak akan pernah bertemu. Jika setiap orang berpasangan selalu menganggap dirinya lebih benar atau lebih pintar dari pasangannya, maka sikap egoislah yang akan terjadi sehingga takkan ada cinta yang bisa dipersatukan.

Tak ada yang sempurna. Dalam kehidupan pernikahan, selalu ada onak dan halangan. Ketika kita tak bisa menutup mata dan telinga, bersabar dan masa bodoh terhadap kata-kata atau sindiran orang lain, maka selamanya kita akan terkurung oleh kata-kata itu sendiri.

Jadi kata ‘bodoh’ dan ‘idiot’ di sini bukan bermaksud untuk menghina diri sendiri atau pasangan, tapi menyiratkan pesan agar bisa ‘merendahkan’ diri untuk mengurangi perbedaan dan menghilangkan segala aspek negatif dari sikap dominan yang mungkin muncul untuk mengganggu keutuhan rumah tangga, dengan kata lain yaitu saling mengalah untuk kepentingan bersama.

*****


TAGS   rumah tangga / pernikahan / resep / bahagia / cinta / pasangan / komunikasi / Pesan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia