Catatan Bunda Iin

Orang Jujur Itu Bahagia

27 Aug 2014 - 09:48 WIB

Jujur itu sulit…

Masih banyak orang beranggapan bahwa melakukan sesuatu dengan tulus itu sesuatu yang tidak mungkin, banyak juga yang mengira bahwa kejujuran itu sesuatu yang takkan pernah terjadi di manapun dan masih banyak orang yang berpikir bahwa setiap orang pasti akan berusaha mencari keuntungan pribadi di atas semua pekerjaan yang dilakukannya.

Tapi seseorang yang berpikir seperti itu berarti sedang mewakili dirinya sendiri.

Mengapa?

Karena orang yang berpikir seperti itu pasti tahu kalau dirinya takkan bisa setulus dan sejujur itu. Dia tahu, bahwa kalau dia berada di posisi yang sama kemungkinan besar ia pasti melakukannya. Ia akan menolong seseorang demi sesuatu, ia akan berbuat curang dan korupsi demi untuk kepentingan pribadinya.

Padahal… masih banyak orang yang mementingkan hal lain selain harta benda atau kepentingan duniawi. Orang-orang yang takut pada Allah SWT, orang-orang yang ingin keturunannya terlindungi dari makanan tidak halal, orang-orang yang ingin kehidupannya tenang lahir dan batin sepanjang hayatnya.

Kebiasaan jujur memang sangat sulit dilakukan. Tapi ketika terbiasa, sebagian orang yang bisa mempraktekkannya langsung dalam kehidupan pribadi mereka maka itu akan menjadi kebiasaan yang sukar untuk dilupakan. Perasaan bersalah dan ketakutan akan muncul ketika ketidakjujuran dilakukan.

Seringkali orang menilai dengan bingung, mengapa ada orang yang hidupnya pas-pasan bisa tersenyum begitu bahagia? Bagaimana hidupnya tampak selalu tenang tanpa riak? Bagaimana nasi sepiring bisa mengenyangkan banyak orang di rumahnya?

Mereka adalah orang-orang yang berpikir, rezeki itu datang dari Allah SWT, dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan setiap hambaNya. Kalau dirasa kurang, maka itu berarti ia harus lebih keras dan jika tetap kurang, pasti ada hikmah di balik semua yang diberikan.

Mereka senantiasa tersenyum, penuh rasa syukur dan tenang dalam bersikap. Itu semata-mata karena tak punya beban mental atau batin yang terusik karena hartanya adalah harta yang bersih, karena hidupnya diisi dengan kebaikan bukan dengan hal-hal buruk.

Mereka kenyang tak cuma karena perut yang diisi makanan dan minuman, tapi mereka juga kenyang karena kasih sayang dan cinta yang menjadi bagian dari keseharian. Vitamin yang membuat mereka lebih kuat dan lebih baik dalam menghadapi masalah kehidupan.

Jika ada orang yang mengejar dan menomorsatukan harta benda di atas segalanya. Disadari atau tidak. Ada pula orang yang mengejar kebahagiaan sejati di atas segalanya. Jika ada orang yang rela mati demi uang, rela mati demi jabatan dan kekuasaan, tentu ada pula orang yang rela mati demi kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ia akan menjaga hartanya agar jauh dari tetesan korupsi dan hak orang lain. Ia akan memastikan setiap makanan dan minuman yang diberikan pada keluarganya, terutama pada anak-anaknya, dibeli dari uang yang dihasilkan oleh keringatnya sendiri. Ia akan berusaha sekeras mungkin memberikan fasilitas yang memang menjadi hak untuk anak-anaknya. Karena ia ingin, setiap aliran darah putra-putrinya terdapat kejujuran, ketulusan dan kebaikan yang jauh lebih baik dari yang ia miliki. Karena ia tahu, sesuatu yang dihasilkan dengan cara yang kotor akan menghasilkan manusia-manusia yang kotor pula. Begitu pula sebaliknya.

Menjadi orang jujur itu tidak sulit. Yang sulit adalah mengatasi orang-orang tidak jujur. Orang-orang tidak jujur akan menjadi manusia yang penuh dengan buruk sangka, dan korban mereka biasanya adalah orang-orang yang jujur ini. Tapi keadilan selalu muncul kapanpun dan setiap saat. Jika orang-orang jujur membuka mulut, maka niscaya rasa malu dan hukuman sosial berbalik pada orang-orang yang tidak jujur itu.

Sayangnya, orang-orang yang terbiasa tidak jujur, buruk sangka dan suka menyebar fitnah kadang-kadang sudah tak punya rasa malu apalagi kuatir. Mereka yang sudah terbiasa makan dan terbentuk dari aliran darah yang penuh dengan dosa dan bagian dari perbuatan setan, biasanya sudah lupa akan sifat-sifat baik. Bahkan mereka lupa cara membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Melupakan persahabatan dan persaudaraan demi memenuhi hawa nafsu keburukan yang sudah mendarah daging.

Karena itu…

Jagalah dirimu, jagalah keturunanmu dan jagalah semua orang-orang yang kaucintai, agar menjauhi harta benda dan makanan tidak halal. Upayakanlah setiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam aliran darah keluargamu, sebagai kehalalan untuk mereka. Jangan pernah berharap anak-anak tumbuh menjadi manusia yang baik, jika yang diberikan orangtuanya bukan makanan dan minuman yang baik.

Dan jagalah dirimu, agar tidak menjadi bagian dari orang-orang yang rakus harta dan kekuasaan. Jangan berpikir negatif dulu ketika melihat sesuatu yang mungkin terlihat tidak jujur. Apalagi menyebarkan sebuah gosip yang tidak benar. Biasakanlah menimbang dan mengukur dari berbagai hal sebelum mengatakan kalau itu ketidakjujuran. Bukan hanya akan kehilangan kepercayaan orang, kau mungkin kehilangan sahabat dan teman yang baik.

Beberapa orang akan diam membiarkan dirinya ditimpa oleh buruk sangka orang lain, karena tahu Allah SWT akan memberi hukuman yang pantas pada mereka. Tapi beberapa orang lain akan marah dan mungkin akan melakukan pembalasan. Pembalasan yang mungkin tak hanya menghancurkan setitik, tapi segala hal dalam hidupmu.

Karena itu bekerjalah dengan tetap memelihara kejujuranmu…

Supaya bahagia jadi milikmu…


TAGS   jujur / karakter /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia