Catatan Bunda Iin

Membeli Urap Yang Basi

17 Jul 2014 - 07:35 WIB

Aroma ikan gurame goreng bercampur dengan sambal terasi yang khas tercium di antero ruang makan. Ketika aku menambahkan semangkuk sayur asem di atas meja makan, seketika anak-anak berseru “Weleeeh, mantaaap nih!!”

Aku tersenyum memandangi anak-anak yang sibuk menata meja makan sedemikian rupa agar nanti saat berbuka puasa, semuanya sudah siap untuk disantap. Sedotan pun sudah dimasukkan dalam gelas plastik jus jeruk yang tertutup. Sepertinya mereka benar-benar sudah tak sabaran ingin segera menyudahi lapar dan dahaga setelah berpuasa satu hari.

Tiba-tiba telepon berdering, Kakak melompat meraih gagangnya dan langsung berseru. “Ayah!!” Seketika pula dua adiknya mendekatinya, mereka mulai ribut meminta tambahan snack untuk berbuka. Ade memesan bakwan jagung, sementara Kakak minta dibelikan tahu goreng mercon kesukaannya dan Abang memilih bihun goreng. Aku memilih abstain karena kemarin tak sanggup menghabiskan kolak yang kupesan. Ayah tak suka melihat makanan yang dibuang-buang alias mubazir, makanya daripada ditegur lagi hari ini kupilih untuk memakan apa yang ada saja.

Betapa bersyukurnya aku masih bisa berjumpa Ramadhan tahun ini, apalagi tahun ini ketiga anakku juga berpuasa. Bahkan si kecil Ade yang baru lima tahun sudah belajar sedikit-sedikit. Dan… saat aku menatap meja makan, subhanallah… tahun ini apapun yang kami inginkan seakan disediakan dengan mudah oleh Allah SWT.

Lalu aku terkenang masa-masa sebelumnya, masa di mana uang serupiahpun terasa berarti, masa di mana aku dan suami harus mengajari anak-anak dengan keras cara mengendalikan nafsu mereka, masa di mana kami hanya terdiam ketika anak-anak merengek minta dibelikan makanan kesukaan mereka setelah seharian berpuasa. Masa itu selalu berarti untuk dikenang, karena pernah suatu kali aku mengira suamiku tak lagi memahami apa yang diajarkannya padaku, bahwa makanan itu harus disyukuri, harus dimanfaatkan sampai habis agar tidak mubazir.

***

Ramadhan beberapa tahun yang silam…

“Beli urap basi lagi!!” omelku ketika membuka bungkusan plastik yang baru dibawa suamiku. Suamiku hanya memandang sekilas, menghela nafas lalu kembali sibuk memasukkan motornya.

“Ayah!! Gak bisa nyium apa? Baunya asem begini kok dibeli sih!! Ini kan keciuman banget! Mubazir ini namanya!! Yang puasa kan mulut Ayah, bukan hidung.” Aku terus mengomel sambil melempar bungkusan sayur yang dibumbui dengan kelapa parut berwarna kuning keoranyean itu ke tempat sampah. “Kalo dimakan, bisa sakit perut nih! Besok jangan beli lagi. Kalau memang mau makan urap, biar mama yang bikinin.”

“Engga, Ma. Gak usah. Tadi Ayah iseng aja pengen nyoba aja,” cegah suamiku sembari tersenyum simpul.

Melihat wajahnya yang lelah setelah seharian bekerja sambil berpuasa, akupun jadi menyesal mengomelinya. Akhirnya dengan nada rendah, aku berkata, “Ya sudah, besok jangan beli lagi.”

Tak ada jawaban apapun saat itu. Dan esoknya, lagi-lagi suamiku membeli sayur urap itu. Walaupun kali ini tak basi. Dia menyantap sayur itu dengan semangat meskipun di saat yang sama aku menyediakan sayur lain yang kubuat sendiri.

Suatu saat aku penasaran. Seenak itukah urap itu sehingga suamiku menjadikan sayur itu sebagai makanan ‘wajib’ saat berbuka puasa? Padahal dalam Islam, bukankah kurma yang disunnahkan?

Akhirnya aku mencoba mencicipi sedikit sayur urap itu. Dan rasanya, astaghfirullah… sama sekali tidak enak. Tawar seperti tidak bergaram dan urap kelapanya pun terasa pahit. Kok sayur begini dianggap enak? Ayah, ayah… aku benar-benar tak memahami suamiku itu. Apa yang ada dalam pikirannya saat makan makanan tak enak begitu? Padahal dalam urusan makanan, suamiku sangat suka makanan yang kaya dengan rasa gurih.

Kemudian, di Ramadhan itu… sayur urap selalu menjadi pengisi meja makan kami saat berbuka puasa. Suamiku tak pernah lupa membelinya barang seharipun. Namun, beberapa kali pula sayur urap itu sudah basi saat ingin kusajikan. Satu-dua kali aku masih mengomel. Pada akhirnya, aku menyerah. Tak ada gunanya mengomel, toh tetap saja besok-besok pasti dibeli lagi.

Hari minggu, biasanya suamiku ngabuburit dengan anak-anak mencari makanan untuk berbuka. Tapi hari itu, karena ada keperluan yang ingin kubeli maka aku memilih ikut menumpang sekalian mencari makanan kecil untuk berbuka. Saat itu suamiku berhenti di depan sebuah rumah kecil. Di depan rumah itu, ada seorang nenek tua duduk di hadapan meja kecil. Senampan sayur-mayur yang sudah dimasak dan beberapa mangkuk tampak berjajar rapi di atas meja itu.

“Urapnya hiji, Mak!” kata suamiku setelah kami turun dari motor.

“Muhun,” jawab Nenek itu sambil mulai menyiapkan pesanan suamiku.

Aku tercengang. Tanpa sadar kupandangi nenek tua itu saat bekerja. Tangannya gemetar saat menyendok sayur-mayur dan mencampurnya dengan urap. Ketika membungkusnya dengan karet, beberapa kali karetnya terlepas lagi sebelum selesai. Saat suamiku menyerahkan uang sepuluh ribuan, ia memandanginya begitu dekat. Rupanya mata nenek tua itu tak terlalu jelas lagi. Jadi dia menatap lama sebelum mengambil uang. Ketika mengambil uang untuk kembalian pun, dia memerlukan waktu lebih dari lima menit untuk menghitung dan memastikan kembaliannya sudah benar.

Suamiku tersenyum-senyum saat mata kami bertemu pandang. Entah apa yang tergambar di wajahku saat itu. Tapi ia pasti paham betapa tidak enaknya perasaanku karena selama ini selalu mengomelinya setiap membeli urap basi itu.

“Iye, Neng! Nuhun nya,” bisik Nenek itu sambil menyerahkan kembalian uang. Tujuh ribu pun berpindah ke tanganku.

Spontan karena rasa kemanusiaanku, aku menyodorkan kembali uang itu pada si Nenek. “Gak usah dibalikin, Nek. Buat Nenek aja. Urap nenek enak banget!”

Rupanya ia menyadari aku bukan orang Sunda, Nenek itu tersenyum sambil menggenggam erat-erat jemarinya, menolak uang kembalian pemberianku. “Engga, Neng. Saya bukan pengemis. Saya jualan kok. Insya Allah ini juga cukup.”

Hatiku seperti disayat-sayat. Ya Allah, baru ini saya bertemu Nenek yang demikian takut dianggap pengemis. Lalu tanpa melirik suamiku lagi, aku kembali berkata, “Kalau gitu tambah dua bungkus lagi urapnya, Nek!”

Selesai berbuka puasa sore itu, aku meminta maaf pada suamiku. Untuk omelanku beberapa minggu sebelumnya. Untuk tidak memahami dirinya. Seperti biasa, ia hanya tertawa.

“Nenek itu mungkin sudah mulai kehilangan daya penciumannya, atau juga perasanya. Karena itu dia tak tahu kalau sayurnya basi atau berasa tidak enak. Nenek itu hanya jualan di bulan puasa. Dia sedang mengharap berkah Ramadhan. Tak ada salahnya, hanya dengan beberapa ribu kita memberinya berkah yang dia cari. Memang, jadinya mubazir, tapi insya Allah tak apa kalau niat kita memang hanya berbagi. Percuma dah nawarin nenek itu uang, gak bakal mau. Ayah pernah sengaja pura-pura lupa ngambil kembalian, eh besoknya nenek itu malah gak mau dibayar karena katanya uang ayah masih ada sama dia.”

Sejak itu pula, bersama-sama suamiku, aku menjadikannya makanan wajib berbuka puasa. Kalau basi, terpaksa kami buang. Bukan cuma tahun itu, tahun berikutnya pun sama.

Namun, puasa tahun ketiga kami tak lagi bersua dengan si Nenek. Meja kecilnya telah berganti dengan meja panjang beberapa pedagang musiman. Nenek itu telah tiada, demikian informasi yang kami dapat setelah bertanya pada salah satu pedagang itu.

Hari ini saat berbuka puasa dan menyantap ikan gurame goreng, dan Kakak tiba-tiba berseru, “Mak! Masih ingat gak dulu waktu Ayah suka beli sayur urap basi? Hidung Ayah puasa juga waktu itu ya Mak, hahaha…”

Aku tersenyum, memandang penuh arti pada suamiku yang hanya tertawa diledek putrinya. Suatu hari, saat Kakak dewasa, dia akan paham mengapa hidung Ayahnya berpuasa saat itu.

*****


TAGS   Ramadhan / Puasa / Berkah / Kisah / inspirasi /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia