Catatan Bunda Iin

Ingin Kuulang Waktu

24 Mar 2014 - 07:51 WIB

Image courtesy of criminalatt / FreeDigitalPhotos.net.

“Image courtesy of criminalatt / FreeDigitalPhotos.net”.

Seandainya Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan, maka akan kuambil kesempatan itu untuk berhenti tepat ketika aku bertemu denganmu. Berhenti tepat saat itu.

“Hai kamu!” teriakan itu menghentikan langkahku dan Yoga.

Aku menoleh dan kamu menyongsongku dengan cepat. Entah apa yang kau lemparkan, karena saat itu hanya sekelebat bayangan jatuh di wajahku, menghantam tepat di dahiku yang langsung terasa berdenyut hebat. Sesaat aku terhuyung dan menyadari sebuah kaleng kosong kaulemparkan padaku.

“Heh!!” teriakku marah, sambil memegangi dahiku yang sakit.

“Apa? Sakit? Rasain!” Kamu terus dekati aku dan matamu besar sekali saat menatapku. Melotot sambil berkacak pinggang. “Enak kan? Tadi kamu ngelempar kaleng minuman itu ke aku! Emangnya aku tempat sampah?” cecar kamu bertubi-tubi.

Aku melongok. Melempar? Dengan cepat, otakku membaca apa yang terjadi. Aku menoleh cepat ke arah temanku. Barusan yang selesai minum adalah Yoga, bukan aku. Tapi menyadari kalau dia salah, Yoga cengengesan, melambai-lambai kedua tangan dan entah apa dia keturunan jin, mendadak dia berlari cepat sekali meninggalkan aku yang berhadapan dengan kamu.

“Hei, Yoga!!” teriakku. Tapi Yoga sudah menghilang.

“Hei! Jangan pura-pura gak tahu! Cepat minta maaf!!” Aku melongok lagi. Bagaimana mau menjelaskan? Lah perempuan di hadapanku ini terus mengomeliku, marah-marah memperlihatkan dahinya yang kuning langsat bersih itu bernoda garis yang masih berdarah. Meski kepalaku sendiri masih terasa sakit, naluri ke’kakak’anku muncul.

Akhirnya aku dan kamu bergantian saling mengobati dahi kami masing-masing. Setelah kutarik tanganmu untuk duduk saat itu, aku tahu hatiku sebagian sudah pindah. Pindah ke kamu. Ketika kamu berdiri, meminta maaf lebih dulu, kuputuskan menyerahkan sisanya padamu. Aku jatuh cinta sama kamu, Yusita.

Andaikan Tuhan memberiku kesempatan kedua, akan kupaksakan diriku bertahan untuk tak berjumpa denganmu. Aku akan berhenti mencari seribu satu alasan untuk bertemu denganmu.

“Hai Yus! Kebetulan banget ketemu di sini. Sedang apa?” tanyaku seolah-olah baru melihatmu. Padahal sudah seminggu aku mencari tahu jadwalmu, dan saat itu aku menunggu lebih dari tiga jam.

“Mas Ale! Eeeh… ngapain di sini? Kan gak ada kuliah!”

Siiing! Saat itu aku langsung tahu, kamu juga mencari tahu tentang aku. Kamu hafal mata kuliah yang kuambil. Dan aku lihat, matamu yang tak lagi sebesar ukuran saat kamu marah-marah, tampak bersinar melihatku. Aku tahu, Yus… kamu juga suka aku.

“Mau duduk di sini? Aku lapar! Tapi gak enak kalau gak ada teman makan.”

“Tapi traktir ya!”

“Oke, asal jangan pilih yang mahal-mahal.”

“Tenaaang!!”

Sepanjang sore itu kita duduk berdua, aku dan kamu saja. Ada banyak orang di sekitar kita. Ada banyak teman pria menyapaku, ada banyak teman wanita yang tersenyum padaku bahkan singgah untuk bertanya kabarku. Tapi mataku, hatiku, otakku semua mengarah padamu dan mereka semua kusingkirkan. Kurekam semua apa yang kau bicarakan, mimik wajahmu yang berubah-ubah, tawamu yang bayi tertawa, senyummu yang malu-malu, parfum lembut yang menguar dari tubuhmu, dan sentuhan kakimu yang menendang kakiku tak sengaja. Kurasa inilah yang namanya perampokan hati. Habis semua tak tersisa.

Andaikan Tuhan memberiku kesempatan untuk berhenti mencintaimu, maka aku akan berusaha keras untuk tidak datang setiap kali ada kesempatan ke rumahku. Aku akan berhenti mengunjungimu, berhenti mengambil hati Papamu yang galaknya setengah mati dan penggila catur yang tak mau berhenti kalau kalah. Aku akan berhenti berusaha keras mengalahkan Papamu karena hanya dengan mengalahkannya, aku bisa berada lama-lama di dekatmu.

“Memangnya kamu sudah punya apa?” tanya Papamu.

Kakiku bergetar, tubuhku berkeringat dingin. “Sa… saya sudah beli rumah, Pak!” jawabku berusaha tegas. Hatiku tak karuan.

“Memangnya saya tanya itu? Selain harta, kamu punya apa?” Papamu membentak.

“Saya cinta sama Yusita, Pak! Cinta banget!” kali ini aku berkata keras.

Papamu diam. Memandangimu yang duduk di sampingku. “Neng, kamu suka laki-laki ini karena apa?”

Aku tak berani melihatmu, Yus. Aku kuatir, aku takut, aku bingung. Yang aku tahu, inilah satu-satunya cara meraihmu, melalui Papamu. Aku belum pernah tanya isi hatimu, aku juga tak tahu apa kamu mencintaiku atau tidak. Aku hanya tahu, aku harus beranikan diri untuk mencintai kamu seutuhnya.

“Aku tidak tahu, Pa. Aku hanya senang melihatnya tiap hari, aku berterima kasih dia diam saja walaupun bukan dia yang melempar kaleng padaku saat itu, aku suka dia menungguku di kantin tiap hari, aku suka dia belajar main catur demi dekat sama Papa, aku suka dia menabung untuk masa depan kami, aku suka dia menghargaiku begitu tinggi dengan tidak menjadi kekasihnya tapi istrinya, aku percaya padanya, Papa. Seperti Papa padaku, seperti aku pada Papa, aku juga mencintainya.”

Saat itu, Yus… airmataku mengalir. Seumur hidup aku belum pernah dicintai dengan cara indah seperti itu. Aku pernah berada dalam cinta perempuan lain, berkali-kali. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Tidak dari mereka, membuatku memahami bahwa cinta itu tak berbentuk, tak beralasan. Ia terjadi dengan sendiri, dengan hati yang merasakannya.

Andaikan Tuhan membuatku melupakan saat itu, saat kau menyambutku dengan senyum yang seratus kali lebih manis daripada biasanya, saat Papamu menjabat tanganku dengan kuat, saat ketiga adik perempuanku memelukku dan berbisik “pengantinmu cantik sekali, Bang”, maka aku rela, Yus… aku rela menukar nyawamu dengan nyawamu.

Kau tahu seperti apa rasanya kehilanganmu, Yus? Itu seperti mencabut nyawaku separuh. Tapi mengapa… airmataku tak bisa mengalir sederas Papamu, bahkan aku tak bisa memanggil namamu seperti ketiga adik perempuanku yang terlanjur mencintaimu seperti mereka mencintaiku, bahkan juga tidak seperti Yoga, Arinda, Desi, dan Tirza yang tersedu-sedu melepaskan sahabat mereka. Aku tak bisa seperti mereka. Bahkan ketika aku berdiri di tempat di mana Tuhan mengambilmu dariku, aku hanya berdiri dalam diam. Berusaha memahami, apa kau benar-benar telah pergi? Apa kecelakaan itu benar-benar kau alami? Apa kau benar-benar tidak akan bersamaku lagi?

Aku belum paham… sampai sekarang. Seribu satu alasan kujadikan jawaban. Tapi tak satupun bisa memuaskan. Kenapa waktumu sesingkat itu, Yusita sayang? Banyak yang belum kita lakukan, banyak kesempatan yang belum kita lewati, banyak janji yang belum ditunaikan. Terlalu banyak…

Aku memang tak pernah menyesal. Tidak sekalipun… Kalaupun menyesal, aku menyesal karena tak bertemu denganmu lebih cepat dari saat itu. Aku menyesal, tidak secepat mungkin menikahimu agar bisa menunaikan janjiku padamu. Semuanya terlalu singkat, hingga aku berpikir mungkin lebih baik kalau kita tak bertemu. Andaikan Tuhan mengizinkan waktu untuk diulang kembali. Berkali-kali aku berdoa, berharap dan meminta… Biarkan kau kembali, meski aku dan kamu tidak bersama.

Tapi waktu tak bisa diulang. Aku masih sangat bisa mengenang segalanya tentang dirimu. Tuhan mengambilmu dariku, mungkin karena alasan yang tak dapat kumengerti. Suatu hari nanti, aku mungkin menemukan jawabannya… Entah kapan.

Yusita, waktumu kita memang tak lama, tapi selamanya itu terpatri dalam hatiku. Kau bagian terbaik, bab terbaik dalam hidupku yang menjadi lembaran bersejarah dalam arti mengenal cinta. Ini pelajaranku betapa indahnya hidup ini mengenal seseorang sepertimu. Aku menghargai hidupku justru setelah kematianmu, aku tahu setiap detikku berharga justru setelah melewati waktu yang penuh cinta bersamamu…

Andaikan Tuhan memberiku kesempatan lagi, biarkan aku bertemu dengan cinta yang lain. Aku kehilangan cinta yang indah, tapi bukan untuk menjadi putus harapan. Kamu mengenalkanku dengan rasa cinta sesungguhnya, kau membuatku paham makna mencintai dan dicintai. Kelak, jika cinta lain hadir, aku akan menjadikannya seindah cintamu. Aku tahu, kalau aku yang mati, aku pasti ingin kau melanjutkan hidupmu dan berbahagia. Jadi sekarang, aku mencoba, mencari alasan untuk tetap hidup, mencari cinta untuk melanjutkan hidup dan berusaha bahagia. Agar aku bisa berdoa, agar cintaku yang telah tertidur untuk selamanya, memperoleh tempat yang paling bahagia di sana.

Selamat tinggal Yusita. I love you


TAGS   cinta / Kisah /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia