Catatan Bunda Iin

Di Balik Pembalasan

16 Nov 2013 - 10:42 WIB

Gadis berambut merah kecoklatan itu duduk sambil menghadap ke arah dimana hingar bingar musik kafe berasal. Dua orang penyanyi muda sedang mendendangkan sebuah lagu tentang seseorang yang jatuh cinta. Musiknya bernada cepat dan gembira. Senyum menghiasi wajah sebagian penonton lainnya, ketika mendengar syair-syair lagu yang menceritakan kebodohan seseorang yang sedang jatuh cinta. Seringkali justru menjadi kekonyolan yang lucu untuk orang yang melihatnya. Tapi hal itu tak dirasakan gadis itu.

Airmata mengalir pelan di kedua pipinya. Sesekali tangannya mengusap, sebelum ia menunduk menyembunyikan kemurungan yang tergambar jelas di wajah cantiknya. Seakan-akan ia tak berada di dalam atmosfir kegembiraan di antero cafe itu.

Sarah berjalan mendekati meja di mana gadis itu sedang duduk. Karena terhanyut dalam lamunan, gadis bernama Mina itu tak menoleh pada Sarah. Wajahnya masih menatap lurus sampai bayangan tubuh Sarah membuatnya terganggu. Mina terpaku. Kaget. Tak percaya.

Sarah tersenyum. Mina hanya diam dan malah meraih minuman yang ada di meja.

“Untuk apa kau ke sini?” tanya Mina sambil membuka satu lagi tutup minuman kaleng di meja.

Tanpa permisi, Sarah duduk. “Kau meneleponku. Kau tutup telepon tanpa mengatakan apa yang mau kau katakan. Makanya aku ke sini.”

“Hah?” Sebuah senyum pahit terlintas. Mina menatap dengan dagu terangkat. Alisnya hampir menjadi satu saat menatap Sarah dengan tajam. “Kau ke sini untuk melihat aku hancur kan? Puas?”

Percuma mendekati Mina dengan mengikuti saran Renita. Sarah mengenal emosi yang terlihat di wajah Mina. Sorot mata itu, sorot yang pernah ada di matanya sendiri. Dulu. Berbulan-bulan lalu, sebelum ia bertemu Ibu Widya, sebelum ia bertemu Adam dan Renita, sebelum ia bisa memaafkan dirinya sendiri.

“Aku tahu rasanya,” ujar Sarah sambil duduk di sisi Mina. Tanpa mempedulikan tatapan tajam Mina, ia juga meraih sekaleng minuman ringan yang belum dibuka. Tangannya menarik tutup kaleng dan membukanya. Tenggorokan Sarah yang kering terasa dingin saat ia menyesap minuman itu.

“Apa maksudmu?” tanya Mina dengan nada sengit.

“Aku pernah marah. Pernah merasa dunia tidak adil padaku. Aku tahu rasanya mencintai seseorang dan orang itu justru memilih orang lain. Orang itu bukan aku. Dan aku menyalahkan seluruh dunia karenanya. Kemarahan yang akhirnya justru menyakiti diriku sendiri.”

Mina menatap sesaat. Tawa kecil yang tawar terdengar, sebelum berganti dengan senyum sinis. “Kau? Kau tahu yang kurasakan? Jangan bercanda di hadapanku, Sarah. Kau mendapatkan Adam. Kau menginginkannya, kan? Meski kau tahu, semua orang tahu, kalau sejak dulu aku mencintainya. Siapa lagi yang kau cintai selain dia? Bukankah dia mencintaimu? Dia mengatakannya di hadapan semua orang. Apa itu tidak cukup untukmu, gadis kejam?”

“Bukan Adam yang kumaksud.” Helaan nafas Sarah terdengar pelan.

Mulut Mina terbuka. Sarah hanya tersenyum tipis. Ia memindahkan kaleng dingin itu ke tangan yang lain. Tak mudah mengenang masa lalu yang selalu ia sembunyikan dan ia perlu melakukan sesuatu untuk mengalihkan kegugupannya.Sekali lagi ia menyeruput minumannya. Ia juga ingin memberi waktu agar Mina bisa mengatasi rasa kagetnya sendiri.

“Dulu, berbulan-bulan sebelum bertemu kalian. Aku merasakan apa yang kau rasakan, Min. Aku mencintai seseorang demikian dalam. Bahkan hampir menikahinya. Sampai kemudian aku tahu, ia tak mencintaiku seperti aku mencintainya. Ia berpura-pura mencintaiku agar sahabatku bahagia. Sahabat satu-satunya yang kumiliki dan orang paling kusayangi setelah Kakek dan Nenek. Sahabatku yang menjadi cinta pertamanya.”

Sarah menunduk. Seperti sebuah cubitan lembut, rasa sakit itu kembali menekan dadanya. Tak mudah, sungguh tidak mudah mengontrol kenangan yang menghancurkan dirinya dalam sekejap.

“Aku mulai menyalahkan segala hal yang kumiliki. Keluargaku, rumahku, bahkan persahabatanku. Kemarahan membuatku justru melepaskan apa yang kumiliki satu demi satu hingga akhirnya aku kehilangan semuanya. Saat aku ingin kembali, semuanya sudah tidak ada gunanya. Sudah terlambat.”

“Jadi itu sebabnya kau merebut semua yang kumiliki? Untuk membalas dendam?” potong Mina.

Gelengan kepala Sarah tak membuat mata Mina melembut. “Aku tidak merebut apapun darimu, Mina. Sejak awal Adam tak pernah mencintaimu. Ia sudah mengatakan padamu jauh hari sebelum aku hadir di sini. Kau hanya membuat ia benar-benar pergi darimu. Kau kehilangan sahabat baikmu karena kemarahanmu sendiri.”

“Dan kau? Siapa kau di sini? Kaulah penyebabnya. Kalau kau pergi, aku pasti takkan kehilangan apapun.” Kaleng minuman Mina menghantam meja dengan keras. Beberapa tamu melirik mereka ingin tahu. “Apa itu cinta membuat orang yang kau cintai mau melakukan segalanya untukmu? Apa kau bahagia melihatnya?”

“Apakah itu cinta ketika kau bisa membuat orang yang kau cintai kehilangan cintanya? Apa kau bahagia melihatnya?” balik tanya Sarah dengan nada sama persis sambil menatap Mina.

Mina termangu.

“Aku mungkin bukan sahabatmu. Aku juga mungkin orang yang paling tak kau inginkan berada di sini bersamamu. Tapi aku hanya ingin bilang, jangan lepaskan segala yang kau miliki, Mina. Adam menyayangimu, baginya kau adalah sahabatnya. Aku tahu kau pun sangat menyayangi Adam. Mungkin lebih besar dari apa yang kau rasakan untuk orang lain. Menjauhinya karena aku hanya akan merugikan dirimu sendiri. Kau akan kehilangan kesempatan untuk merebut Adam dariku karena kau takkan tahu kapan Adam merasa bosan padaku dan pergi dariku. Kalau kau berada di dekatnya, kau selalu memiliki kesempatan itu,” tutur Sarah sembari berdiri.

“Kau bodoh menangis sendirian seperti ini. Aku senang kau menelponku dan melihatmu seperti sekarang. Lain kali, telpon aku lagi kalau kau memang memerlukan seseorang yang melihatmu hancur. Aku akan sangat senang dan puas bisa melihatmu seperti ini terus.”

Tangan Mina mengepal. Ada panas membakar di dadanya. “Aku takkan melakukannya. Ini terakhir kalinya kau melihatku seperti ini. Kalau nanti aku menelpon lagi, itu artinya kau melihatku tertawa bahagia. Lihat saja nanti!”

“Buktikan saja dulu kata-katamu itu!Kembalilah menjadi Mina yang dulu. Mina yang membuatku selalu merasa iri dan cemburu tiap kali Adam bersamanya. Mina yang memiliki seluruh dunia yang tak kumiliki. Aku minta maaf, Min. Tapi aku terlalu iri padamu untuk melepaskan Adam. Maafkan aku!”

Kaki-kaki Sarah melangkah menjauh meninggalkan Mina yang masih terpaku menatap punggung Sarah. Gadis itu merenungi setiap kalimat yang dikatakan Sarah. Kata-kata yang merasuki setiap rongga dadanya. Kata-kata yang entah bagaimana bukannya menyakitkan justru membuat Mina berpikir. Apa sebenarnya yang dilakukan Sarah? Gadis pendiam itu tak mungkin datang untuk menyemangatinya, bukan? Selama ini Mina selalu menyakitinya dengan merebut perhatian Adam. Bukankah tadi Sarah datang untuk memamerkan kemenangannya itu? Gadis itu merebut cintanya. Tapi mengapa tak sedikitpun ada rasa sakit saat Sarah pergi? Mina justru merasa, Sarah baru saja memberikan segelas air dingin untuk dirinya yang tengah berada di tengah-tengan gurun pasir keputusasaan.

Benarkah?

***


TAGS   sahabat / putus / patah / cinta / musuh /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia