Catatan Bunda Iin

Balas Dendam Terbaik

13 Nov 2013 - 16:04 WIB

Di antara keramaian anak-anak yang berlarian keluar dari ruang kelas, aku mencari sosok Tiara. Putri kecilku yang mungil dengan kepang rambut lurusnya yang dihiasi pita gambarHello Kitty, tokoh karakter favorit kami. Aku sudah melihat beberapa teman sekelas Tiara namun aku belum menemukan anakku di antara mereka.

Sampai tatapanku beralih ke alat-alat permainan di dekat ruang guru. Segerombol anak sedang bermain di situ. Tiara ada di sana, sedang berbicara dengan seorang anak laki-laki. Asyik sekali sampai tak menyadari kehadiranku. Entah apa yang mereka berdua sedang bicarakan. Selintas kemudian, Tiara dan anak laki-laki itu saling berkait kelingking dan jempol. Kemudian keduanya pun berpisah.

Akhirnya Tiara menyadari kehadiranku. Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya saat kami bertemu pandang. Ia menyongsongku dengan gembira, sementara dengan santai aku juga mendekatinya. Kunci motor kumainkan di jari-jariku sambil sesekali menyapa teman-teman sesama ibu yang berpapasan denganku.

“Mamah Ara, lama gak keliatan? Ke mana aja nih?” sebuah suara menyapa dan tepukan di bahuku membuat aku menoleh. Mbak Yanti, Mamanya Liza, salah satu teman kelas Tiara.

“Eh, Mbak Yanti. Saya lagi ujian akhir di kampus jadi gantian sama Papanya Ara dulu,” ujarku memberi alasan.

“Oooh.” Lalu tatapan Mbak Yanti pun beralih pada ibu yang lain, menyapa mereka dengan akrab. Sementara aku pun sibuk melirik putriku lagi.

“Mamaaah,” sapa putriku manja. Ia memeluk tubuhku setengah bergelayut sebelum aku berjongkok dan mencium pipinya. Tiara memeluk erat leherku dan membalas kecupanku dengan hangat. Lalu ia melepaskan tas ranselnya sambil berkata, “main dulu sebentar ya Ma. Sepuluh kali doang.” Sepuluh tangannya melebar di wajahku sebelum berlari menuju ayunan tanpa menunggu jawabanku.

Tiara memang sedikit manja. Bagi Tiara, hanya ada kata ‘ya’ untuk semua permintaannya. Buatku, sangat sulit untuk mengucapkan kata ‘tidak’ pada gadis kecil yang paling bungsu itu. Tapi meski begitu, sejak bersekolah, banyak yang berubah dari gadis kecil kesayanganku itu. Ia sudah mau mendengar permintaan orang lain, terutama permintaanku atau ayahnya. Ia juga lebih mandiri dari sebelumnya, meski kadang-kadang masih sering bersikap manja.

Aku memilih duduk di dekat ayunan. Di situ, aku bisa melihat putriku dari dekat sekaligus melihat lalu lalang motor dan mobil penjemput anak-anak. Nanti kalau tempat parkir lebih lengang, aku baru akan pulang.

Tiba-tiba, Ara mendekatiku. “Mah, nanti kita singgah beli kado yuk!”

“Hah?” Aku melongok. Kado? Berarti ada temannya yang ulang tahun dong. Aku menunduk, “Siapa yang ulangtahun, Neng? Teman di kelasmu?”

Tiara menggeleng. “Bukan, Ma. Yang ulang tahun anak A2, namanya Mikha. Itu loh Ma, yang suka main perosotan sama Ara. Yang sering dijemput telat sama sopirnya. Itu yang barusan tadi janji jempol sama Ara.”

“Mmm…” Mataku menatap ke atas. Berusaha mengingat anak yang putriku maksud. Terbayang dalam ingatanku yang payah, seorang anak berambut cepak, tubuhnya cukup mungil dan wajahnya yang tirus namun manis. Kemarin aku dan Tiara menemani anak itu lebih dari satu jam setelah pulang sekolah, sampai supirnya datang menjemput. Aku rasa anak itulah yang bersama Tiara barusan meski aku tak begitu yakin. Serta merta aku mengangguk pada putriku. “Oh iya, Mama ingat sekarang!”

“Kita beliin Mikha mobil-mobilan yang besar ya Ma. Kemarin Mikha bilang dia suka mobil-mobilan.”

Aku tersenyum. “Oke, kalau begitu kita cariin kado buat Mikha. Eh, tapi Mikha ulangtahun ke berapa? Ara tahu gak?” Putriku menggeleng. Matanya sedikit berputar karena bingung.

Kalau Tiara diundang, pasti undangannya ada di dalam tas. Aku mulai merogoh tas Tiara, mencari-cari selembar kartu berwarna-warni yang berisi informasi mengenai acara ulang tahun Mikha. Meskipun aku sudah membongkar tas Tiara hingga mengosongkannya, kartu undangan yang kucari tak kutemukan. Satu demi satu, dua buah buku yang ada di dalam tas Tiara kuperiksa dengan seksama mencari-cari kartu undangan yang mungkin terselip.

“Mama cari apa sih?” tanya Tiara ingin tahu. Ia ikut-ikutan melongok ke dalam tas.

“Loh? Mama lagi cari undangan Mikha. Kan Mama tidak tahu alamat rumahnya.”

Tiara terdiam sejenak. Lalu dengan sedikit murung ia berkata. “Ulang tahun Mikha di sekolah. Ara gak kebagian undangan, Mah. Kata Mikha, undangannya habis. Tapi tadi Mikha maunya Ara kasih dia kado. Mikha kan teman Ara, Ma. Boleh ya Ma?”

Dug!Hatiku seperti dihantam badai mendengar penjelasan Tiara. Berarti Tiara tidak diundang oleh orangtua Mikha. Untuk sesaat, aku tak tahu harus berkata apa. Selain terdiam seribu bahasa dan menatap wajah polos Tiara yang penuh harap.

“Eeh, Ara belum pulang?” sapaan seorang Ibu guru berjilbab merah muda mengalihkan perhatian kami berdua. Aku berdiri. Mungkin pada ibu guru ini aku bisa meminta penjelasan lebih akurat.

“Maaf, Bu Santi. Boleh saya tanya sedikit?” tanyaku, dan langsung dijawab dengan anggukan. Aku menunduk menatap putriku yang masih berdiri di sisiku. “Ara main ayunan lagi ya, sepuluh kali lagi deh. Mama mau ngobrol sama Bu Santi sebentar.”

“Oke deh, Ma.”

Setelah putriku menjauh. Aku kembali menoleh pada Bu Santi. “Bu, besok ada teman Ara yang ulang tahun ya. Siapa?”

“Hmmm… Itu, itu… ” ada nada panik di suara Bu Santi yang penuh keraguan, sebelum ia kembali melanjutkan. “Yang ulang tahun Mikha, Bu. Anak kelas A2. Untuk kelasnya, semua diundang. Tapi untuk kelas lain, hanya beberapa yang diundang.”

“Berarti Ara memang tidak diundang kan, Bu?” tebakku langsung.

Bu Santi tersenyum malu. “Maaf ya Bu, mungkin orangtua Mikha yang tidak tahu kalau Mikha dan Tiara bersahabat karib. Mohon dimaklumi ya Bu.”

Sebuah senyum kupaksa untuk muncul, meski hati masih sedikit gerah. Biarlah, bukan kesalahan Bu Santi. Tapi ada kesal di hatiku yang tak bisa kusembunyikan. Jelas sekali Bu Santi membaca kekesalan yang tersirat di wajahku karena tak lama kemudian ia langsung minta permisi.

***

“Nanti kalau tidak diberi snack atau makanan, Ara ga boleh nangis ya,” ujarku pada Tiara sambil terus menyetir.

“Iya, Mama.”

“Kalau masuk, nanti langsung dikasih saja kadonya. Terus habis itu Ara langsung keluar ya.”

“Iya, Mama.”

“Nanti pulang Mama pesankan soto betawi-nya Bang Asran deh. Kalau snack, nanti kita singgah ke minimarket aja ya.” Tepat saat itu kami tiba di depan sekolah putriku. Aku berbelok menuju tempat parkir. Kupilih tempat parkir paling ujung di bawah pohon palem sebagai tempat motorku beristirahat sejenak. Tiara pun turun dari boncengan.

Setelah selesai parkir, aku mengambil tas Tiara yang tergantung di gantungan motor. Hari ini tasnya lebih besar, tapi tidak terlalu berat. Selain buku-buku dan bekal makan siangnya, ada tambahan sebuah kado mobil-mobilan untuk Mikha di dalamnya.

Sejujurnya aku tak mau Tiara masuk sekolah hari ini. Beberapa kali sejak dua hari yang lalu, aku terus meminta ia melupakan keinginannya. Hati ibu mana yang tak geram saat mengetahui kalau dari seluruh teman di kelas Tiara, hanya Tiara yang tak diundang untuk berpesta ulang tahun padahal pesta ulang tahun tersebut diselenggarakan di sekolah usai pelajaran. Bahkan semalam aku menitikkan airmata saat menceritakannya pada Papa Tiara. Hatiku tidak kuat menahan beban itu sendirian. Aku takut, putriku pun tak cukup kuat melihat keramaian itu nanti dan bersedih.

Tapi kata-kata Papa Tiara telah berhasil menguatkan hatiku. Ia hanya tersenyum dan menepuk-nepuk punggungku saat mengatakan, “Anak-anak itu berjiwa murni dan polos, Ma. Tiara tak melihat segala sesuatu seperti Mama atau Mama Mikha melihat. Yang ia lihat hanyalah sahabatnya Mikha. Sahabat yang ia kenal baik dan telah berbagi janji dengannya. Buat Tiara, janji itu lebih penting daripada mengkuatirkan apa yang Mama pikirkan.”

Aku ingin mendebat suamiku lagi. Tapi ia kembali menatapku hangat. “Sudahlah, sudah waktunya kita belajar mengikuti cara Tiara berpikir selama itu bukan sebuah kesalahan. Tidak baik mengajarkan kemarahan dan dendam pada anak-anak. Biarkan Tiara belajar untuk menerima hal-hal tidak nyaman meskipun itu menyakitkan buatnya sekali-kali. Nanti tugas Mama untuk kembali memberi Tiara kita semangat seperti biasa dan segera melupakan kesedihannya itu agar ia tak dendam. Ingat loh, Ma. Tugas orangtua itu bukan menyetir anaknya, tapi berada di sisi anak ketika mereka membutuhkan support. Bisa kan?”

Dan hasilnya, hari ini aku memaksa diri untuk tetap mengantar Tiara ke sekolah. Sejak pagi gadis kecilku itu berkali-kali mengingatkan aku agar tak melupakan kado untuk sahabatnya. Meski masih sedikit kesal dan kecewa, aku tetap berusaha memberikan senyum terbaikku untuk Tiara. Bahkan hari ini, aku memutuskan untuk tetap menunggui Tiara hingga usai sekolah nanti. Begitu ia selesai memberi kado, aku akan mengajaknya bermain dan makan enak di restoran favoritnya.

“Udah ya Ma, Tiara masuk dulu.” Tiara menggamit tanganku dan menciumnya, membuyarkan lamunanku. Ia akan berlari ketika aku kembali menahannya.

“Ingat ya Tiara, nanti… “

“Iya Mamah. Tiara ingat! Tiara gak boleh nangis kalau ngasih kado dan gak dikasih snack. Tiara ga boleh sedih kalau ga diajak pesta. Udah, itu aja kan? Tiara udah gede, Mama. Masak gitu aja nangis. Udah ah, Mama pulang aja deh.” Putriku memonyongkan bibirnya sambil melengos meninggalkan aku yang masih termangu.

Sambil mencari tempat duduk di bangsal penunggu dan penjemput, aku masih melamun sedih. Beberapa ibu-ibu yang menyapaku hanya kubalas dengan senyum sekilas sebelum kembali diam. Pesan-pesan diBlackberryku untuk sementara berhasil membuatku sibuk sejenak dan melupakan kekuatiranku.

Waktu berlalu, sampai aku menyadari ada kesibukan di antara para penjemput saat menjelang pulang sekolah. Para ibu dan Ayah nampak sibuk menyiapkan kado. Bahkan ada yang baru membungkusnya. Yang lain memanggil putra-putrinya untuk mengambil kadonya. Sebagian lagi mengambil tas milik putra atau putrinya. Aku berdiri, hendak melihat bagaimana keadaan putriku. Suara ramai di aula taman kanak-kanak terdengar riuh rendah. Di situlah pesta ulang tahun selalu diadakan setiap kali ada yang berulang tahun di sekolah. Kupercepat langkah dan memasang mata sejeli mungkin, mencari anakku. Tapi aku terlambat.

Putriku sudah di depan pintu aula, membawa tas di punggungnya dan sebuah kado berukuran besar di pelukannya. Ia menoleh mencari-cariku di antara kerumunan orangtua dan ketika tatapan kami bertemu, ia memasang senyum di wajah mungilnya. Dengan tenang, ia berjalan masuk. Wajahku terasa panas tiba-tiba, menahan malu dan kuatir. Perasaanku tak tenang dan campur aduk antara bingung dan takut. Tapi putriku malah menyapa Mikha yang duduk di bagian depan. Mikha tertawa melihat Tiara, mereka bersalaman sebelum Tiara mengucapkan sesuatu. Mungkin ucapan selamat ulang tahun, karena kemudian ia menyerahkan kadonya. Mikha mengucapkan terima kasih dan keduanya melakukan tos kreasi mereka dengan ujung kelingking dikaitkan sebelum beradu jempol. Kembali keduanya tertawa. Setelah itu Tiara pun berbalik. Dengan kepala sedikit terangkat, ia menatapku dengan bangga seakan-akan berucap‘Lihat Mama, aku berhasil dan aku tidak menangis.’

Begitu ia berada di dekatku, aku langsung memeluknya. Aku tak lagi mempedulikan tatapan orang-orang yang kini sepenuhnya berpindah pada Tiara. Di tengah keriuhan pesta yang kini diambil alih oleh salah satu guru TK sebagai pembawa acara, semua orang masih melihat pada kami berdua dengan tanda tanya. Tapi yang kupikirkan hanya perasaan putriku.

Terima kasih ya Allah, terima kasih karena menitipkan mutiara terbaik padaku. Mutiaraku yang cantik, Mutiaraku yang polos, Mutiara yang mengajariku bahwa persahabatan itu adalah sesuatu yang indah, Mutiara yang mengajarkan padaku cara membalas dendam dengan berbuat kebaikan.

Tangan kami saling menggenggam erat sepanjang jalan menuju tempat parkir. Tanpa disangka, aku melihat suamiku berdiri di dekat motorku. Tersenyum.

“Bagaimana? Menyenangkan?” tanyanya dengan senyum simpul. Senyum yang sama seperti senyum Tiara. Senyum yang tenang dan menghangatkan hati. Senyum yang mengajariku banyak hal bahwa membuat orang lain senang jauh lebih menyenangkan daripada menyakitinya.

Kubalas senyum suamiku, melirik Tiara yang langsung menghambur ke pelukan Papanya sambil berceloteh, “Mikha tadi bilang terima kasih sama Ara, Pa. Dia senang banget waktu Ara bilang kalo Ara ngadoin mobil-mobilan buat dia.”

***

Kami baru saja tiba di rumah, dan Tiara bersiap untuk berganti pakaian ketika sebuah pesan singkat diBlackberryku masuk.

“Terimakasih untuk kadonya dan mohon maaf ya Ma Ara. Tadi saya lupa mengundang Tiara. Boleh tahu alamat rumah Mama di mana supaya bisa saya bisa ke sana untuk mengantar kenang-kenangan dari Mikha untuk Tiara?”

Mataku kembali berkaca-kaca namun hatiku sungguh bahagia. Apapun alasan orangtuanya, inilah pembalasan dendam terbaik yang kulakukan. Berkat putriku, aku belajar mengendalikan emosiku sendiri. Rasa puas karena berhasil membalas dendam dengan cara ini dua kali lebih baik daripada membalas dendam dengan kemarahan. Aku menyadari di antara tatapan orang-orang di aula tadi ada dua tatapan yang disertai dengan perasaan tidak enak, tatapan kedua orangtua Mikha.

Aku menunduk, menatap layar hitam ponselku, menuangkan kebahagiaanku dengan mengucap terima kasih dan memberikan alamat rumah kami. Bukan karena hadiah yang akan diantarkan. Tapi karena aku ingin membangun hubungan baik dengan orangtua Mikha. Hari ini Mikha dan Tiara telah mengajari para orangtuanya bahwa membangun persahabatan harus selalu dilandasi dengan sikap saling menyayangi dan berpikir positif. Dan aku ingin memulainya sesegera mungkin.

*****


TAGS   Ulang Tahun / sahabat / anak / karakter / dendam /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia