Catatan Bunda Iin

Menikmati Inti Lebaran

9 Aug 2013 - 06:35 WIB

Lebaran, selalu dihiasi dengan kebahagiaan dengan berbagai cara. Ada yang sederhana, ada yang mewah, sampai mewah yang teramat luar biasa. Sebagian mungkin merayakannya dengan dana yang teramat minim, yang lain mungkin merayakannya dengan dana yang berlimpah. Semua menyambut hari kemenangan dengan cara yang berbeda, tapi intinya semuanya untuk merayakan hari penting bagi umat Muslim ini.

 

Buat saya, tahun ini masih menjadi tahun perbaikan diri saya yang masih berlanjut. Banyak yang bilang, terutama orang-orang di masa lalu, bahwa perubahan diri saya jelas-jelas terlihat sekali. Mungkin karena pengalamanlah yang menjadi guru terbaik untuk itu, pengalaman selama 35 tahun merayakan lebaran membuat saya sedikit demi sedikit memahami inti lebaran sesungguhnya.

Saat kanak-kanak, buat saya Lebaran berarti pesta perayaan. Pesta makanan, pakaian baru, kedatangan banyak orang, bebas bermain, berpiknik ke sana kemari dan yang paling ditunggu-tunggu tentu saja adalah angpau berlimpah dari orangtua, keluarga dan para tetangga. Setelahnya, untuk saya saat itu Lebaran sama saja seperti pesta-pesta lainnya. Yang akan memiliki akhir dan kebosanan.

Demi waktu yang berlalu, saya mulai mengubah pandangan tentang Lebaran di usia remaja. Lebaran adalah saat di mana saya bertemu teman-teman yang biasanya bertampang dekil kini jadi lebih rapi dan cakep. Berkumpul dengan keluarga tak lagi terlalu penting, karena untuk saya Lebaran hanyalah sebuah hari di mana seseorang merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Tak lagi terlalu berharap uang angpau, tapi tetap saja setiap kali diberi saya suka. Masa-masa ini tak lama berlalu karena saya bekerja di usia yang masih remaja, maka angpau tak lagi saya dapatkan.

Ketika menikah, disinilah gaya berlebaran saya berubah-ubah sesuai kondisi dimana saya merayakannya. Ada yang mewah, ada yang sangat sederhana. Ada yang dihiasi dengan keberuntungan, ada yang justru berurai airmata. Selama bertahun-tahun, saya mulai memfilter bagian terbaik dari setiap Lebaran yang saya lewati. Saya mulai belajar memilih lebaran-lebaran dengan momen terbaik sebagai pilihan yang akan saya ulangi tahun berikutnya ketika berjumpa Lebaran lagi.

Tahun ini, tahun perayaan ke lima belas dalam masa pernikahan saya. Seperti biasa jika berlebaran di kampung suami, tak ada makanan dan kue khusus, tak ada baju khusus, tak ada mobil khusus, tak ada tempat piknik khusus. Semua dirayakan spontan, seperti biasa bahkan ketika saya tak sedang di sana. Usai sholat Ied, berkeliling kampung mendatangi sanak keluarga yang lebih tua, lalu langsung ziarah makam. Setelah sholat dhuhur, kembali bersilaturahmi ke tempat keluarga yang lebih jauh bersama-sama.

Itulah yang terjadi tahun ini, sekali lagi kami melakukan kebiasaan tersebut. Tapi yang spesial, tahun ini rombongan keluarga dipenuhi anak-anak keponakan ibu mertua yang tak lagi ber-ibu di lebaran ini. Mereka sama-sama kehilangan ibu mereka di bulan puasa, di usia ibu yang masih sangat muda bahkan belum mencapai 40 tahun. Mereka masih sangat muda, memasuki usia remaja di mana seorang anak masih sangat membutuhkan perhatian ibunya. Sementara ibu mertua saya sendiri, dari ketujuh anaknya hanya tiga yang merayakan di kampung. Ibu mertua juga sekarang tak lagi memiliki saudara perempuan lagi, almarhumah adik-adiknya inilah yang ‘menitipkan’ putra-putrinya untuk merayakan lebaran bersama kami sekeluarga. Maka jelas sekali terasa jumlah anggota keluarga yang berkurang itu tahun ini.

Saya tak ingin kesedihan menggaungi keluarga kami. Semaksimal mungkin, saya dan ibu berusaha agar anak-anak tetap menikmati lebaran mereka seperti biasa, sama seperti ketika Ibu-ibu mereka masih ada. Sepintas di foto-foto yang saya ambil, mereka terlihat bahagia padahal sesekali airmata tetap mengalir ketika kami menyinggahi sanak saudara. Untunglah, mereka anak-anak yang tabah karena airmata itu hanya singgah beberapa detik sebelum kembali bercanda. Saya memang dikenal sebagai seseorang yang mudah tertawa dan menangis. Tapi saya lebih suka menahan tangis dan membuat orang-orang di sekeliling saya tertawa.

Rupanya cara ini mulai mendapat dukungan dari keponakan-keponakan saya yang juga humoris. Suasana riuh selalu saja terjadi ketika saya melempar canda. Seperti saat melihat sawah, saya bilang airnya harus mengalir supaya semua sengkedan itu terbagi air pada si Abang, putra saya yang bertanya apa gunanya sengkedan bertingkat itu. Salah satu adik ipar menjawab, “Iya, supaya gak jadi bubur” dan yang lain ikut menimpali “Tinggal tambah ayam dong, jadi bubur ayam.”, yang lain menyahut, “ooh, kalau gitu harus ada Daun Bawang juga dong.” Dan terus berlanjut, sampai akhirnya kami tertawa ngakak sama-sama.

Itu hanya sebagian dari canda yang mengalir saat kami bersama-sama. Semuanya dilakukan secara spontan, tanpa rencana. Jangankan makanan spesial saat berkendara, ketika di rumah pun silahturahmi tak ada makanan khusus. Memang ada menu makanan yang lebih mewah dari biasanya, tapi ketika malam tiba semuanya malah mencari lalapan sayur yang biasanya menjadi makanan dasar orang Sunda. Di mobil bak terbuka yang menampung kami sekeluarga pun, hanya ada makanan sederhana. Kami menikmati setoples kacang goreng, kerupuk dan segelas aqua dingin terasa nikmat. Ketika pulang dan diberi oleh-oleh sayur mayur yang menjadi penghasilan utama para keluarga besar yang kami kunjungi, kami sempat bercanda kalau tinggal singgah nyari cabe untuk menjadi makanan kami sekeluarga. Semuanya tertawa, bercanda, dari hal-hal kecil sebelum sesekali diselingi dengan bertukar kabar yang terjadi selama setahun terakhir ini.

Inilah inti lebaran sesungguhnya. Kebahagiaan karena rasa syukur setelah berpuasa selama sebulan. Sebulan ini kita belajar menahan diri, nyatanya memang dari makan dan minum. Tapi sesungguhnya, saat itu kita belajar menahan hawa nafsu, belajar berbagi dengan berzakat, dan tentu saja Allah SWT menginginkan kita memahami betapa berharganya setiap kenikmatan yang Ia berikan selama ini. Sungguh sangat miris, ketika di akhir bulan tersebut justru kita merayakan dengan kemewahan yang berlebih-lebihan, dan bahkan saling pamer bertebar foto tentang kemewahan itu tanpa rasa malu.

Saya juga membagi foto-foto lebaran itu. Bedanya, saya membagi foto yang sedikit berbeda. Berenang di kali alam di samping rumah keluarga Kakek, foto-foto anggota keluarga di atas mobil bak terbuka, suasana spontan anak-anak merayakan malam takbir sampai ketika orang-orang dewasa seperti saya juga bisa bersikap sedikit childish saat menikmati alam. Sebagian mungkin menganggap hal itu memalukan, tapi untuk saya inilah cara saya menginspirasi orang lain. Inilah lebaran tradisi Indonesia, sederhana tapi penuh dengan keriangan anggota keluarga. Tawa lebar di wajah saya itu karena saya sedang bahagia dan sangat bersyukur, karena Allah SWT memberi saya kesempatan sekali lagi berbagi dengan anak-anak, keponakan, ipar-ipar saya. Karena sekali lagi Allah SWT, memberi saya kesempatan membagi kebahagiaan pada suami yang sudah lama sekali tak menikmati lebarannya di kampung. Saya berharap kebahagiaan yang sama menyinggahi rumah dan terutama hati anda semua.

Akhirnya…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin untuk semua kesalahan yang saya lakukan.
Semoga Allah SWT memberikan keberkahan pahala atas semua ibadah di bulan Ramadan
Aamiiin ya rabbal alamiin


TAGS   Idul Fitri / Pesta / Lebaran /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia