Catatan Bunda Iin

Dia, Perempuan… (Hari Perempuan Internasional)

8 Mar 2013 - 12:08 WIB

Hari Perempuan Internasional, seakan tak bergaung di negara ini. Beberapa hari sebelumnya, bahkan kasus pelecehan seksual masih marak terjadi bahkan di lingkungan dimana seharusnya perempuan memiliki hak perlindungan seutuhnya.

Ini sungguh menyedihkan. Negara yang ‘katanya’ memiliki rakyat yang memiliki adat ketimuran yang kental, justru memiliki kasus pelecehan perempuan yang sangat banyak. Dari anak kecil sampai orang dewasa. Hukum juga lebih banyak membuat korban justru merasa semakin terpuruk, dibandingkan merasakan keadilan. Dari orang terkenal, para guru, hingga anggota keluarga sendiri yang kebanyakan laki-laki malah menjadi orang-orang yang melakukan kejahatan tersebut.

Pelecehan itu ada banyak sekali asumsinya. Ada yang verbal maupun fisik. Melecehkan perempuan seperti melecehkan bentuk tubuhnya dan mengatai-ngatai dengan kata-kata menjijikkan juga sudah merupakan kejahatan. Sentuhan, yang menimbulkan ketidaknyamanan, meski hanya beberapa detik pun bisa dianggap sebagai pelecehan. Tapi hal ini, banyaaaak sekali tidak dipahami oleh para pelaku dan menganggap justru sebagai sesuatu yang berlebihan. Bahkan ketika coba untuk diberitahukan, yang ada justru pelecehan yang makin intens karena menganggap perempuan seperti itu harus ‘dibiasakan’ menerimanya. Ini karena pelecehan tersebut sudah dianggap biasa.

Sebagai contoh dulu ketika bekerja, salah satu rekan kerja saya ‘dipaksa’ untuk tampil di panggung saat acara gathering. Ramai-ramai saat itu para pekerja laki-laki mengatai-ngatai fisik rekan wanita itu ketika ia tampil dengan maksud menggoda saja. Saat itu, saking malunya, si rekan wanita sampai menangis karena tak tahan dan turun dari panggung. Bukannya berhenti, para pekerja itu makin mengolok karena dinilai si rekan wanita terlalu berlebihan dalam menanggapi sampai kemudian kasus itu pun sampai ke manajemen. Manajemen menganggap mereka melakukan pelecehan dan memberi sanksi. Anehnya, di luar jam kerja, justru pelecehan makin intens hingga akhirnya rekan kerja wanita itu pun mengundurkan diri dari perusahaan.

Memang, kekuatan hati seseorang itu berbeda antara yang satu dengan yang lain. Ada yang bisa tahan menghadapi ledekan, ada yang sensitif. Tapi yang pasti, mengejek seseorang terutama ketika fisiknya yang dikritik tanpa kontrol jelas merupakan kesalahan. Apalagi perempuan itu termasuk makhluk yang memiliki kepekaan yang lebih tinggi dari laki-laki.

Sebenarnya hari perempuan sedunia, itu hanyalah sebuah peringatan biasa, untuk mengingatkan bahwa perempuan di dunia ini sudah lelah dengan berbagai ketidakadilan yang mereka peroleh. Bukan untuk menyaingi para lelaki. Karena sebagai perempuan, ada kodrat yang tak bisa ditentang dan disadari bukan sebagai beban. Kodrat itu juga menuntut penerimaan dan perlakuan yang baik serta pemahaman, bahwa kami perempuan, ada untuk laki-laki, dan kamu laki-laki, ada untuk perempuan.

Jika takut menyakiti hati perempuan, maka belajarlah berkata atau bertindak dengan baik. Tak perlu pendidikan khusus untuk memahami perempuan, cukup untuk berpikir bahwa jika ibumu atau saudara perempuanmu tidak mau diperlakukan seenaknya, maka begitulah setiap perempuan yang ada di dunia.

Ada sebuah kata-kata indah yang seringkali saya katakan pada para laki-laki di sekitar saya untuk memberitahu mereka bagaimana memperlakukan perempuan,

Dia bukan berasal dari tulang kaki, untuk diinjak atau ditendang

Dia bukan berasal dari tulang panggul, untuk diduduki

Dia juga bukan berasal tulang kepala, untuk dijunjung dan dipuja berlebihan

Dia, berasal dari tulang rusuk laki-laki, melindungi jantung, hati, paru-paru dan seluruh organ penting. Letaknya di dada, di dalam rengkuhan tangan untuk dilindungi dan dekat dengan hati agar bisa dicintai…

Dia perempuan…

Selamat Hari Perempuan Internasional, untuk para perempuan Indonesia.

Tetap tangguh, tetap semangat, jangan lupa kodrat, jangan lupakan bahwa di tangan kita ada generasi penerus yang wajib untuk selalu diingatkan. Bahwa bangsa ini besar bukan karena laki-laki saja, bangsa ini besar karena perempuan ikut bangkit dan berjuang bersama para laki-laki, dengan cara yang berbeda tapi tetap sangat penting.


TAGS   Perempuan / World Woman Day /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia