Catatan Bunda Iin

Duka Hati

1 Mar 2013 - 11:36 WIB

Satu persatu kuperhatikan wajah-wajah yang tertunduk sedih. Para lelaki dengan kopiah hitam dan para wanita yang berkerudung atau berjilbab hitam. Sebagian berpakaian seadanya, sebagian lagi nampak mengenakan pakaian putih atau hitam. Hanya satu kesamaan mereka, semua sedih, berkurung duka.

Satu lagi pemakaman yang harus kuhadiri. Pemakaman salah satu anggota keluarga yang selama ini terkenal sebagai ibu yang baik, bibi yang manis, istri yang mencintai suaminya, nenek yang selalu melindungi dan saudari yang penyayang. Dia bibiku, yang meninggalkan tujuh anak yang semuanya telah memberinya cucu-cucu yang manis. Pergi dengan mendadak, karena sakit jantung yang ternyata telah lama ia derita tanpa pernah kami sangka.

Hadir di sini membuat hatiku remuk, suasana yang menyedihkan. Larut dalam kedukaan mendalam, karena rasa kehilangan ini menyakitkan. Aku melihat kesedihan di wajah, tubuh dan mata semua orang yang hadir, dan itu sangat menghancurkan hati.

Perlahan sepanjang prosesi, kenangan-kenangan indah dan manis memutar kembali. Wajah-wajah yang sama disini dulu tertawa lebar, saling memeluk dan menggoda. Pusat perhatian mereka, wanita yang kini terbujur kaku selalu bisa mengundang kebahagiaan hadir setiap kali ia ada. Senyumnya, humorisnya, bahkan omelannya yang disertai gaya yang lucu takkan pernah bisa lenyap begitu saja meski kini ia pergi. Sadari atau tidak, kami telah kehilangan wanita baik yang penyayang, bertubuh gemuk namun cantik itu.

Senyum dan tawa anggota keluargaku kini lenyap tak bersisa. Hanya ada airmata dan isak emosional yang menyebar. Jeritan kecil terdengar kala jenazah mulai diturunkan. Itulah saat dimana ingin sekali aku memeluk mereka satu persatu dan berkata “tak apa-apa, jangan bersedih”

Tapi itu tak mungkin…

Semua takkan terasa sama lagi, setidaknya tidak untuk hari ini dan mungkin hari-hari selanjutnya. Mereka, dan juga kami semua telah kehilangan satu wanita seperti malaikat yang selama ini selalu menjadi bagian hidup hampir di seluruh anggota keluarga.

Aku ingin meyakinkan mereka… bahwa suatu hari nanti, akan datang hari yang baru, dimana matahari kembali terlihat indah dan dunia terasa nyaman sehingga hati yang sedihpun lenyap tak bersisa.

Tentu, bukan hari ini. Hari saat mereka tak bisa berkata atau berbuat apa-apa untuk mencegah kepergian sang Bunda kecuali menangis dan mengusap air mata. Hari dimana mereka hanya bisa duduk dan mengenang sosok yang dicintai hingga tubuh lelah tak bertenaga. Hari ini memang hari yang berat, seakan-akan tak masa depan lagi di depan sana.

Sebuah hari baru akan datang, suatu hari pada suatu waktu atau satu jam pada suatu masa ketika mereka, saudara-saudariku tercinta merasa telah bisa melalui hari-hari yang berat ini. Aku ingin yakinkan itu, meski hanya semenit… lalui dengan harapan, yang terbaik untuk Bunda yang telah pergi dan ketabahan tumbuh di hati mereka, lalu berdoa agar Tuhan memberi tempat yang layak bagi malaikat yang selama ini telah menjaga keluarganya dengan baik.

Hari ini, mungkin mereka tak membutuhkan diriku, mungkin juga besok mereka tetap tak membutuhkan diriku. Tapi aku ingin mereka tahu, bahwa aku di sini menunggu jika mereka membutuhkan diriku. Untuk menjadi teman bicara, untuk mendengar keluh sedih mereka, agar mereka bisa berteriak melepas emosi.

Aku di sini. Seseorang yang akan memberi pelukan, atau hanya sekedar menggenggam tangan. Agar mereka tahu, mereka tak sendiri. Aku ada di sini, selalu… untuk mereka.

Dan untuk seluruh keluargaku yang lain, sepanjang kita memiliki keluarga, kita takkan pernah sendiri…

 

 

*****


TAGS   keluarga / kematian /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia