Catatan Bunda Iin

Kerudung

18 Jan 2013 - 14:03 WIB

google

google

Sejak berhijab beberapa tahun lalu, aku tergila-gila mengoleksi aneka jenis kerudung. Kulahap semua artikel mengenai kerudung mode terbaru. Sungguh kepuasan tersendiri ketika aku bisa tetap tampil modis dengan berbagai gaya hijab keren yang tak kalah dengan para selebriti.

Apalagi pekerjaan yang kugeluti memaksaku untuk selalu tampil dengan gaya. Sebagai seorang Public Relation tempatku bekerja, aku sering bertemu banyak orang. Walaupun sempat diragukan oleh para rekan kerjaku, namun perlahan-lahan aku berhasil mengubah image mereka tentang hijab. Akhirnya banyak dari teman-temanku yang tertular dengan kebiasaanku berhijab karena ingin terlihat sepertiku, cantik dan anggun begitu kata mereka.

Tapi Ummi-ku selalu complaint setiap kali aku membeli kerudung yang baru. Tangannya langsung terjulur meminta kerudungku yang lama kalau aku membeli kerudung mode terbaru. Kalau aku beli dua, maka aku harus merelakan dua kerudung lamaku untuk diberikan pada Ummi. Begitu terus sampai-sampai kami jadi sering berdebat.

“Lemarimu sudah penuh, kalau tidak dikurangi ke mana lagi kau taruh kerudung-kerudungmu itu?” kata Ummi. Tangannya sibuk melipat-lipat kerudung-kerudung bekas yang terpaksa kuserahkan.

“Tapi Ummi, aku masih bisa mix and match kerudung lama dan kerudung baru kan?”

“Iya, Ummi tahu. Tapi kau punya hampir semua warna dan jenis, jadi kerudung-kerudung yang makin jarang kau pakai sebaiknya kasih ke Ummi daripada menuh-menuhin lemari,” kata Ummi tak peduli.

“Untuk apa sih, Ummi?” tanyaku dengan bibir merengut.

“Ya daripada disia-siakan dalam lemari saja. Mubazir.”

Dan biasanya perdebatan selalu dimenangkan Ummi yang akan segera membawa kerudung lama yang terpaksa kuberikan padanya. Entah untuk apa ia mengumpulkan kerudung-kerudung lama milikku itu. Mungkin disumbangkan, atau mungkin juga dibikin lap. Aku tak peduli lagi. Biar saja yang penting Ummi tak memarahiku. Setelah beberapa kali terjadi seperti itu, aku memilih tak bertanya lagi untuk apa. Lebih baik kulakukan saja apa mau Ummi selama dia tidak keberatan aku terus menerus belanja kerudung-kerudung model terbaru.

Suatu pagi ketika aku sedang sarapan pagi, aku melihat Ummi sibuk menulis sesuatu di buku agendanya.

“Sibuk amat, Mi!”

“Hmm…” Ummi tetap asyik menulis tanpa mengangkat wajahnya sama sekali.

Aku baru ingat, hari ini adalah jadwal pengajian yang hampir tiap minggu dipimpin oleh Ummi. Mungkin Ummi sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk pengajian tersebut. Kalau sudah mengenai urusan dengan pengajian, Ummi memang selalu seserius itu.

Kuhabiskan segera sarapan pagi itu tanpa banyak bicara lagi. Percuma saja, kalau Ummi sudah asyik seperti itu. Meskipun aku berharap, Ummi mau melihatku sebentar dan memberikan pendapatnya tentang penampilanku hari ini. Aku bahkan membeli kerudung berwarna biru muda yang indah sekali untuk menyempurnakan hijabku. Ada dua pertemuan yang kuhadiri hari ini dan aku selalu percaya pada penilaian mata Ummi yang jeli, kalau dia bilang aku cantik maka itu artinya aku cantik.

Tapi sepertinya aku harus menelan kecewa. Ummi tak sedikitpun memandangku dan malah membuat sebuah daftar di kertas yang kosong. Seperti susunan nama-nama orang. Mungkin itu daftar peserta pengajian.

“Mi, aku kerja dulu ya. Assalamualaikum!” kataku lesu sambil berdiri. Sedikit kecewa karena tak diacuhkan.

“Penampilanmu hebat sekali hari ini, Nak. Semoga meeting-mu berhasil ya. Waalaikum salam,” ucap Ummi tiba-tiba ketika aku hampir tiba di ambang pintu keluar. Aku berbalik, tersenyum ketika melihat Ummi menatapku di balik kacamatanya yang sedikit melorot. Sorot matanya menatapku penuh cinta dan kekaguman seperti biasa.

Ummi tak melupakanku. Dia ingat jadwalku dan dia juga melihatku hari ini. Aku salah kalau menganggap Ummi lupa padaku. Kata-kata Ummi benar-benar berarti bagiku. Pemacu semangat untuk berjuang keras hari ini.

Bukan main senangnya hatiku. Semuanya berjalan sesuai rencana. Meeting-ku berhasil dan penampilanku menjadi kekaguman semua orang. Sekarang saatnya bagiku menyenangkan hati Ummi, dengan melibatkan diri pada acara yang menjadi tanggung jawabnya. Pengajian itu.

Siapapun tahu sejak Abi tiada, Ummi menenggelamkan kehidupannya untuk mengurusku dan kegiatan keagamaan. Dia menjadi ketua Majelis Pengajian di lingkungan tempat kami tinggal. Padahal tak mudah beradaptasi di lingkungan yang sebagian masyarakatnya ’sangat’ jauh dari kegiatan keagamaan seperti pengajian. Lingkungan kami ini lebih banyak dihuni oleh masyarakat kalangan bawah yang hidupnya sehari-hari bergantung pada usaha. Sedikit sekali warga lingkungan ini yang bekerja di kantoran sepertiku atau alm. Abi dulu, kebanyakan tetangga kami hanyalah pedagang keliling atau pengepul sampah.

Abi dan Ummi memang sedikit aneh. Dulu mereka membeli rumah ini karena belum mampu membeli rumah yang bagus. Setelah mereka mampu untuk membeli rumah yang jauh lebih baik lingkungannya, Abi dan Ummi hanya menempatinya beberapa tahun saja. Dengan alasan tak betah, Ummi meminta Abi kembali ke rumah kami yang lama. Sampai sekarangpun meski sudah kubujuk berulangkali untuk pindah, Ummi tetap mengatakan tidak.

Makanya, aku tahu benar pasti pengajian yang diselenggarakan Ummi sepi seperti biasa. Paling-paling hanya belasan orang yang hadir. Aku sering sekali melihat bagaimana mereka tersenyum setengah meringis ketika Ummi bertanya kenapa mereka tak hadir saat kami tak sengaja berpapasan di jalan. Malu-malu, sambil menyembunyikan wajah, Ibu-ibu itu rata-rata menjawab ada kesibukan.

“Sudah miskin, malah menjauh dari Allah. Ya bagaimana gak tambah susah?” gerutuku saat itu.

Hush! Gak boleh gitu ah.” Ummi menyenggol bahuku. Ia menatap punggung salah satu ibu yang baru saja berpapasan dengan kami. “Mungkin dia memang benar-benar punya alasan yang tepat, yang tak bisa dijelaskan dengan kita,” sambung Ummi penuh pengertian.

Hari ini, Ummi memulai hariku dengan baik dan aku ingin Ummi juga tahu kalau aku sangat peduli padanya. Karena itu aku ingin membantu Ummi mengurus segala persiapan pengajiannya. Toh hanya sedikit bantuan kecil saja.

Tapi sampai di depan rumah, aku melihat sesuatu yang berbeda. Tenda! Ummi mendirikan tenda di depan halaman rumah. Hanya untuk sebuah pengajian yang akan dihadiri belasan orang, Ummi bahkan harus mendirikan tenda? Ini benar-benar membuatku heran. Ummi ini ada-ada saja.

Di dalam ruang tamu, karpet-karpet telah digelar dengan rapi sekali. Sofa dan kursi telah dipinggirkan hingga ke dinding, sementara barang-barang dekorasi ruang tamu yang lain telah dipindahkan ke dalam kamar-kamar. Ruangan itu jadi lebih lega sekarang.

Aku bertanya-tanya, kenapa Ummi harus menyiapkan tempat seluas ini bahkan hingga mendirikan tenda? Ini benar-benar di luar dugaanku.

“Waah, pulang kok tidak ngucapin salam, Nduk?” suara Ummi membuyarkan kebengonganku.

Aku menoleh. “Assalamulaikum, Ummi.” Kucium tangan Ummi sambil memberinya salam.

Waalaikumsalam.”

“Yang datang ini banyak ya, Mi?” tanyaku bingung.

Ummi malah mengedarkan pandangan sambil tersenyum-senyum. “Mudah-mudahan. Tapi untung kamu datang cepat, Fah. Kebetulan Ummi perlu bantuan untuk ngurusin di dapur nanti kalau acaranya sudah dimulai, kamu mau bantuin si Bibik kan?”

Aku mengangguk. Kecil ini sih. Bantu-bantu di dapur berarti bisa sekalian mengisi perutku juga. Tentu saja aku sanggup.

Tepat pukul 2 siang, tamu-tamu Ummi mulai berdatangan. Awalnya yang datang adalah para anggota tetap pengajian Ummi yang telah kukenal baik. Ketika waktu berlalu, aku menyadari kalau perkiraan Ummi benar. Hari ini para tamu yang menghadiri pengajian berjumlah lebih banyak dari sebelumnya. Ruangan tamu makin lama makin terlihat menyempit saat satu persatu mereka datang dan mulai duduk memenuhi ruangan. Lalu kesibukan berpindah ke tenda, bunyi kursi-kursi beradu saat dikeluarkan dari susunan mereka dan suara dengung orang-orang yang berbicara satu sama lain.

Ini… benar-benar mengejutkan. Lantunan suara orang yang mengaji memenuhi rumah kami dan sekitarnya. Tanpa bantuan pengeras suara, lantunan pengajian terdengar merdu dan nyaring. Kudukku merinding saat mendengar kekompakan suara para wanita yang berkumpul bersama, melantunkan doa-doa wirid, surat yassin dan sholawat. Ummi benar-benar hebat. Entah bagaimana caranya, ia berhasil mengumpulkan orang-orang sebanyak ini. Pandanganku tentang masyarakat lingkungan rumah kami yang jauh dari Allah, langsung berubah drastis.

“Ini berkat kerudung-kerudungmu, Nak,” jawab Ummi ketika malam itu aku bertanya bagaimana caranya dia mengumpulkan orang sebanyak itu.

“Hah?” Mulutku ternganga. Apa hubungannya?

“Ibu-ibu di sini bukannya tak mau mengaji. Tapi mereka malu karena tak punya jilbab yang pantas. Mau beli tapi tak mampu. Sementara yang ada pun terbatas karena harus dipakai juga untuk sehari-hari. Padahal berkali-kali Ummi sudah bilang, tak apa-apa pakai yang ada, tetap saja mereka merasa malu. Nah karena itulah Ummi dan teman-teman Ummi yang lain sepakat untuk mengumpulkan kerudung dan baju muslim yang masih bagus untuk dibagikan pada mereka. Alhamdulillah, ternyata mereka senang sekali menerima bantuan itu.”

“Benarkah?”

“Malah ada yang bilang, senang bisa dapat kerudung bekas anak Ummi yang kata mereka seperti model di televisi itu. Mereka jadi ikut ngerasa cantik dan bangga karena memakai kerudung yang sama denganmu. Apalagi kondisi kerudung koleksimu kan selalu kelihatan baru karena hanya dipakai beberapa kali,” tutur Ummi tanpa sengaja menyindirku.

Aku terdiam. Aku ingat tadi sore aku memang sempat melihat beberapa kerudung yang membungkus kepala para jamaah pengajian itu mirip seperti milikku dulu. Tapi aku tak mengira kalau kerudung-kerudung itu benar-benar pernah menghias kepalaku juga.

Ummi sudah asyik dengan bacaannya lagi. Sementara pikiranku melayang jauh ke awal, saat dulu pertama kali mengenakan hijab. Saat itu, aku mengukir janji di hatiku sendiri. Hijab bukan sekedar penutup auratku, juga untuk memberikan waktu lebih banyak untuk mendekatkan diri pada Allah. Seiring waktu aku mulai melupakan janji itu. Aku malah terjebak dalam kegiatan yang mengatasnamakan agama, namun malah mengutamakan kepentinganku sendiri. Apa yang sudah kulakukan selama ini selain terjebak dalam kehidupan bermewah-mewah? Jajaran koleksi kerudung di lemariku sudah menjadi bukti betapa dangkalnya aku memandang guna hijab yang sesungguhnya.

Aku malu pada Ummi, malu pada Allah dan malu pada orang-orang di sekitarku. Dengan cara Ummi yang membuatku memahami bahwa kerudungku akan lebih berguna untuk orang lain, aku ingin kembali pada janjiku dulu.

“Ummi,” bisikku sambil merangkul bahu Ummi.

“Apa, Sayang?”

“Ummi masih perlu kerudung bekas gak? Atau baju-baju muslim mungkin?” tanyaku pelan.

Ummi tak menjawab. Malah mendongak menatapku dengan senyuman penuh arti. “Kau mengerti sekarang, Sayang?”

Kuanggukkan kepala dan memeluk Ummi. Terima kasih Ummi, terima kasih untuk pelajaranmu hari ini.

*****


TAGS   inspirasi / Kerudung / Hijab /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia