Catatan Bunda Iin

Cuci Sebelum Minum!

11 Jan 2013 - 10:45 WIB

kybev.com

Ketika sedang berpiknik atau berpesta, minuman kaleng atau plastik seringkali menjadi pilihan praktis bagi kita. Tak perlu bersusah payah mengisi air ke dalam botol, dengan menyediakan minuman ringan dalam kemasan praktis seperti kaleng atau plastik, kita tinggal membuka kunci atau plastik pembungkus. Kepraktisannya inilah yang membuat minuman kaleng atau plastik menjadi favorit setiap orang senang untuk menggunakannya.

Sekarang sudah banyak tersedia minuman ringan yang beraneka ragam rasa dalam kaleng atau botol plastik. Ada yang terbuat dari kopi, teh, sirup dengan berbagai aneka rasa buah, susu, sampai minuman kesehatan. Hampir semua orang sudah pernah membeli minuman ringan dalam botol atau kaleng tersebut karena pilihannya yang beragam.

Tapi pernahkah terpikir apa yang terjadi pada minuman kaleng atau plastik tersebut sebelum sampai di tangan kita? Meskipun kini banyak sekali pabrik minuman yang mengutamakan kebersihan kaleng atau botol, bahkan beberapa di antara produsen minuman mengiklankan tentang kondisi pabrik mereka yang tidak tersentuh tangan manusia. Padahal, kalau tangan manusia masih bisa dicuci untuk memastikan kebersihannya, lalu bagaimana dengan mesin-mesin itu? Apa setiap hari juga dicuci?

Selain itu, selama proses pengiriman barang sampai ke tingkat penjual tidak ada jaminan kebersihan sama sekali. Memang ada beberapa produsen yang mempacking minuman kaleng atau botol plastik dengan membungkus bagian atasnya dengan plastik penutup atau dalam kardus lagi. Tapi selama masa penyimpanan di gudang-gudang para supplier, kemungkinan plastik pembungkus atau kardus terkoyak atau rusak akibat proses pengangkutan atau pemindahan masih bisa terjadi.

Tidak sampai di situ, ketika minuman-minuman ringan itu sampai di tingkat akhir atau toko-toko penjual baik untuk retail besar maupun kecil, kita tak mengetahui benar bagaimana keadaan gudang saat disimpan. Debu, gangguan hewan atau lain sebagainya yang mungkin terkontaminasi dengan virus atau bakteri penyakit. Ketika minuman kaleng atau botol plastik itu sampai di tangan anda, apakah sekarang anda yakin akan kebersihannya?

Ada sebuah keluarga yang sedang berpiknik di sebuah kota kecil di Amerika. Sama seperti keluarga-keluarga lain yang menggunakan minuman kaleng sebagai pilihan praktis untuk minum dan dibawa.

Namun, piknik itu menjadi akhir dari hidup sang suami karena ia terkena Leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis). Leptospirosis dikenal juga dengan nama Penyakit Weil, Demam Icterohemorrhage, Penyakit Swineherd’s, Demam pesawah (Ricefield fever), Demam Pemotong tebu (Cane-cutter fever), Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, Demam Canicola, penyakit kuning non-virus, penyakit air merah pada anak sapi, dan tifus anjing (Wikipedia.com)

Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu faktor penentu utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru. Setelah bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, maka bakteri akan mengalami multiplikasi (perbanyakan) di dalam darah dan jaringan. Selanjutnya akan terjadi leptospiremia, yakni penimbunan bakteri Leptospira di dalam darah sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai jaringan tubuh terutama ginjal dan hati (Wikipedia.com).

Mengetahui hasil pemeriksaan itu, anggota keluarga pun bertanya-tanya kenapa penyakit itu bisa sampai menulari si pria paruh baya. Padahal menurut mereka, kebersihan lingkungan rumah dan kantor sangat terjaga. Pria itu juga tak pernah makan atau minum sembarangan. Baru setelah penyelidikan lebih lanjut dilakukan baru diketahui kalau pria itu terkena penyakit tersebut setelah minum dari minuman kaleng yang di atasnya telah terkontaminasi oleh air kencing tikus saat disimpan dalam gudang toko. Sayangnya, pria itu memilih langsung meminum dari kaleng tanpa mencucinya terlebih dahulu.

Hal ini mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya untuk mencuci bagian atas kaleng minuman dengan air atau cairan pembersih hanya dibutuhkan beberapa menit saja. Sama seperti mencuci tangan, mencuci kaleng minuman juga sangat penting sebelum kaleng sampai menyentuh mulut.

Peristiwa ini memberi pelajaran bagi setiap orang bahwa sekarang pun kita harus berhati-hati saat memilih untuk minum dari kemasan botol plastik atau kaleng. Proses higienis pabrik yang ditunjukkan pada saat iklan sama sekali tidak menjamin kebersihan minuman kecuali anda sendiri yang memastikannya.

Tanamkan kebiasaan pada seluruh anggota keluarga untuk mencuci semua botol atau minuman kaleng sebelum sampai ke mulut. Untuk minuman yang menggunakan sedotan atau pipet, harus dipastikan dulu plastik pembungkus pipet atau sedotan tersebut masih dalam keadaan utuh dan jika tidak, maka tak ada salahnya mencuci dulu sebelum menggunakan. Kalau air tidak tersedia atau kondisi anda sedang berada di jalan, sekarang sudah banyak cairan antiseptik praktis dalam botol-botol kecil yang dijual. Cairan atau tisu antiseptik ini biasanya digunakan untuk tangan, tapi bisa juga digunakan untuk membersihkan kemasan botol atau kaleng sebelum anda mengkonsumsi minuman secara langsung.

Tanggung jawab kita juga tidak terbatas untuk diri sendiri maupun anggota keluarga sendiri, tapi juga lingkungan. Jika berpiknik atau berpesta, cucilah dulu kaleng-kaleng minuman yang ikut disediakan sebagai jaminan agar tamu-tamu anda juga terlindungi dari penyakit berbahaya. Sangat penting untuk dilakukan yaitu menularkan kebiasaan baik ini bagi lingkungan agar mencegah dari berbagai kemungkinan penyakit berbahaya.

*****

 

Informasi : facebook.com, wikipedia.com


TAGS   kaleng / botol minuman / kesehatan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia