Catatan Bunda Iin

Setiap Hari Ada Dia

20 Oct 2012 - 22:08 WIB

google

Setiap hari ada dia…

Aku mendongak menatap gadis yang tersenyum manis di hadapanku. Dengan senyum polos, mata yang berbinar itu mengedip padaku sekali lagi, lalu ia tertawa. Memamerkan bahagia yang jelas tergambar di wajah mungilnya. Namun, tanpa menunggu responku, ia kembali berlari meninggalkanku. Bergabung bersama teman-teman barunya.

Ia tahu aku mengawasinya. Sesekali ia masih menoleh, melemparkan senyum setelah itu kembali sibuk bercanda tawa dengan orang-orang yang mengelilinginya. Dia bintang diantara gadis-gadis itu. Dulu begitu, sekarang pun masih. Senyum, canda, kata-katanya selalu membuat orang lain ikut merasa bahagia. Sama seperti mereka, aku pun pernah merasakan cahayanya.

“Aku akan menjadi istri yang paaaaaaling bahagia sedunia!” katanya ketika itu.

Aku hanya meringis dan balas menjawab, “Dan aku akan menjadi suami paaaaaling menderita di dunia!”

“Aaah, Kak Zoe! Kok gitu sih?” Bibir gadis mungil itu merengut kesal. Tapi aku tak peduli. Seperti hari ini, esok, lusa bahkan sampai kapanpun, aku takkan pernah ingin menjadikan dirinya sebagai bagian penting dari hidupku. Buatku, ia hanyalah gadis tetangga yang masih kecil dan naif.

Kimberley jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama. Itu ungkapan hati yang dia suarakan hanya beberapa hari setelah resmi menjadi tetanggaku. Gadis peranakan keturunan Prancis-Jawa itu masih berusia 12 tahun ketika mengatakannya di hadapan kedua orangtua kami saat acara makan malam di rumahnya. Aku masih SMA kelas dua saat itu dan hanya bisa melongok lalu menahan malu luar biasa karena digoda habis-habisan oleh Mama dan Papa. Kakakku Ray yang tadinya sama sekali tak bersemangat hadir, benar-benar menjadikan makan malam itu bencana yang lengkap untukku. Ia bahkan setuju menjadi mak comblang untuk cinta sepihak Kimberley.

Waktu berlalu, tapi cinta Kim seakan tak pernah berubah. Aku mulai lelah menghadapinya. Beberapa kali kukatakan bahwa aku tak pernah mencintainya.

“Aku tak tahu cinta itu apa, Kak Zoe. Aku hanya tahu. Aku selalu ingin bersama Kakak. Aku ingin lihat wajah Kakak, aku ingin selalu bersama Kakak. Daddy bilang that’s love, Kim! Jadi aku pikir, aku pasti jatuh cinta. Aku akan pastikan nanti kalau aku sudah dewasa. Tapi sementara menunggu itu, aku hanya ingin Kak Zoe tahu,” katanya saat aku bertanya arti cinta dalam pandangannya.

Dan ketika hatiku sempat terpaut pada teman sekelasku yang manis, tanpa malu-malu Kim mendatangi gadis itu dan memberitahu segalanya. Tanpa sempat kuungkap isi hatiku sendiri, Kim sukses membuatku malu sekali lagi. Aku marah besar.

“Buatku, kamu hanya anak kecil! Tidak lebih tidak kurang! Aku suka sama siapa itu urusanku, not your business, Kim! Go to hell and step out from my life!” bentakku di depan Ray. Ray berusaha menyabarkanku, tapi aku benar-benar marah pada gadis kecil itu.

Cinta Kim memaksa aku mengambil keputusan paling ekstrim sepanjang hidupku. Aku yang tak pernah peduli dengan pelajaran di sekolah, hampir tak pernah berprestasi apapun dan hanya punya satu tujuan hidup untuk menjadi pembalap, berubah dalam semalam. Demi bisa keluar dari rumah dan tinggal di negara lain untuk menghindarinya, aku berjuang keras memperbaiki nilai-nilaiku di tahun terakhir SMA. Papa mengizinkan aku pindah asalkan aku kuliah di universitas pilihannya. Kekerasan hati membawaku pada keberhasilan. Tangis Kim berhari-hari tak mampu meredam keinginan untuk pergi meninggalkannya.

Tadinya kukira dengan jarak dua benua, maka segalanya pun berakhir. Aku meninggalkan pesan agar Ray, Mama atau Papa tidak menggangguku dengan segala urusan Kim. Kukatakan aku ingin menyelesaikan studi secepat mungkin demi penghematan biaya. Aku ingin secepatnya menyelesaikan program engineering yang terpaksa kuambil sebagai bagian dari perjanjian dengan Papa lalu bekerja sejauh mungkin dari Jakarta, kalau perlu tetap tinggal di Australia sampai Kim menikahi orang lain. Itu rencanaku.

“Kau kan hanya bilang kami tak boleh membicarakan dia, tapi tak pernah melarang kami untuk memberikan alamat emailmu padanya. Tenang saja, Zoe. Daddynya sudah menahan paspor Kim begitu dia tahu kamu di mana, jadi dia takkan ke sana. Gampang, delete saja surat-suratnya kalau ada,” ujar Ray berkelit ketika aku tahu dia memberi alamat surelku pada Kim.Surat-surat elekronik Kim mulai berdatangan. Dan rasa sunyi di kota yang asing akhirnya berhasil memancingku untuk mulai membaca email Kim.

How are you, Kak Zoe? Miss you so much here. Aku masih selalu ingat Kakak, semua masih tentang Kakak. SMA memang menarik, ada banyak teman baru di sini tapi aku masih tak bisa menghilangkan kakak dari pikiran.Apa kuliah begitu mengasyikkan sampai liburan semester pun kau tak pernah pulang? Kakak, aku rindu sama Kak Zoe. Mama, Papa dan Kak Ray juga. Pulang ya? Bisakah?

Hampir tiap hari Kim mengirimiku email bahkan foto-fotonya secara rutin. Ia menceritakan semua hal yang mengisi hari-harinya tanpa diriku. Tentang sekolah barunya, teman-temannya, keluarganya lalu berpindah pada keluargaku, sekeliling rumahnya dan rumahku yang dianggapnya seperti rumah kedua, Ia bahkan menyelipkan cerita tentang si kucing kecil yang ia temukan saat pulang sekolah. Kucing yang kemudian ia resmikan menjadi miliknya dengan nama Zokim. Nama gabungan antara aku dan dia. Ia mengirimkan foto Zokim dengan tulisan di bagian belakang “Zokim - God’s first gift for Zoe & Kim

Setiap malam, saat aku sendirian di apartemenku, saat itulah waktuku bersama email-email Kim. Waktu seakan berhenti ketika membaca kisah-kisahnya di dalam email terbaru yang ia kirimkan. Aku bagai sebuah diary yang tak bisa bicara, namun mengetahui semua isi hatinya. Hari, bulan dan tahun berlalu. Di antara kesibukanku sebagai mahasiswa, aku selalu menyempatkan diri membaca email Kim. Aku ikut tersenyum, tertawa, murung, bahkan kecewa saat membaca curahan hati Kim. Email Kim seperti sahabat yang menghiburku saat ia mengirimkan cerita-cerita lucu, seperti kekasih yang memelukku dalam rindu, seperti teman yang berbagi beban kesulitan. Nun jauh di sana.Sampai suatu hari…Email-email itu tiba-tiba berhenti mendadak.  

Saat itu aku sibuk mempersiapkan ujian, setelah selesai aku masih harus menyiapkan akomodasi orangtua dan kakakku yang akan datang, hingga tak memperhatikan lagi inbox message yang masuk. Semua berlangsung sesuai rencana, aku juga berhasil memperoleh sebuah pekerjaan di sebuah daerah pertambangan di Nusa Tenggara Barat, jauh dari Jakarta. Papa dan Mama pun sudah mengizinkan kecuali Ray.”Pulanglah dulu, Zoe. Kim sakit,” katanya dengan wajah murung.

Sesuatu di hatiku terasa teriris. Sambil menahan nafas aku bertanya, “sakit apa?”

Ray menatapku lama sekali. Sebelum menunduk menyembunyikan wajah. “Pulang saja, Kim takkan bisa mengganggumu lagi. Setidaknya tengoklah dia sebagai seorang teman yang baik,” bisik Ray, pelan sekali.

Seribu tanya beredar dalam pikiranku, bayangan terburuk muncul dan aku berusaha menghilangkan ketakutanku. Entah mengapa, kebencianku pada gadis itu lenyap tak bersisa. Tak tahu kapan ketidaksukaanku padanya berubah menjadi kekuatiran. Aku pulang bersama Mama, Papa dan Kak Ray seusai acara inagurasi selesai.

Gadis itu sudah berubah, tak seperti foto-fotonya yang selalu menampilkan tawa atau senyum lebar, aku melihatnya duduk seorang diri di kursi ayunan yang dulu pernah dibuatkan oleh Ray dan aku. Ia berayun-ayun sambil mengelus-elus seekor kucing. Tampak tenang dan sangat berbeda dari bayanganku selama ini. Gadis yang ceria, cerewet, dan tak bisa diam.Ia mengangkat kepala, menatapku. Namun kembali menunduk dan terus mengusap kepala kucingnya yang kutebak pasti Zokim. Sesaat tangannya berhenti bergerak, lalu kembali menatapku.

Aku masih diam tak bergerak di pintu masuk, bersiap diri kalau ia menghambur dalam pelukanku seperti dulu setiap kali aku masuk ke halaman rumahnya. Kali ini aku berjanji takkan bergeser sedikitpun darinya.  Aku terpaksa mengaku, hampir lima tahun tak bertemu ternyata membuatku bisa merasa rindu luar biasa padanya. Meski aku tahu Ray ternyata berbohong, gadis itu kelihatan sehat dan bugar. Tak kurang suatu apapun.

Aku tak lagi peduli kalau mataku memancarkan rindu, aku tak peduli lagi berapa lama kali ini Kim akan membelengguku dengan pelukannya yang erat, aku juga tak peduli lagi kalau akhirnya tak bisa menahan mulutku untuk berkata aku rindu. Aku hanya berharap, ia segera mendatangiku, menjerit senang atau melompat gembira seperti dulu.

Gadis itu diam lama sekali. Aku mulai tak sabar. Dan akhirnya ia berdiri, berjalan mendekatiku setelah membebaskan si kucing ke tanah. Tatapannya berbeda, terlalu berbeda dari saat aku meninggalkannya dulu. Tak ada tatapan penuh cinta, penuh harap dan memohon seperti dulu. Tatapan Kim kini kosong, seperti mata boneka. Berkilauan, tapi tak ada ekspresi di dalamnya.”Kakak… Kakak ini… ” gumamnya setengah berbisik. Kening Kim berkerut-kerut, lalu tiba-tiba ia menjerit keras sekali sambil memegang kepalanya. Kesakitan.

Suara jeritan Kim membuatku kaget dan ternyata juga seperti alarm yang memanggil semua penghuni rumah. Tak hanya rumahnya, tapi juga rumahku. Daddy dan Mommy Kim berlarian keluar dari dalam rumah, sementara Ray, Papa dan Mama menghambur masuk dari pintu pagar. Semuanya berlari mendekati Kim. Mereka berebutan menolong, memeluk, memapah, membisikkan kata-kata menenangkan sambil membawanya masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku yang terpana kebingungan. Sesuatu yang salah sedang terjadi pada Kim. Gadis itu bukan Kimberley yang kukenal.

***

Sulit bagiku menerima kenyataan. Kimberley-ku sudah tiada. Kecelakaan yang dialaminya membuat gadis itu melupakan banyak hal, kehilangan seluruh kemampuan yang selama ini dimilikinya. Kim kembali menjadi seorang anak-anak, tak bisa membaca, tak mengenal siapa-siapa, tak tahu apapun bahkan membedakan kiri dan kanan, atas atau bawahpun dia tak bisa. Otaknya yang cerdas kini lenyap tak bersisa. Ia berubah menjadi sosok dengan kemampuan berpikir bagai anak balita yang terbungkus tubuh dewasa. Kecuali satu, dia masih selalu senang berada di sisiku.

Email-email Kim dulu masih ada. Seringkali jika rasa tak percaya timbul, kubuka kembali dan kukenang satu persatu setiap ceritanya dengan bertanya. Namun, Kim hanya menatapku dengan tatapan bingung. Mengiraku sedang berbicara sendiri.Selembar kertas kutemukan tanpa sengaja ketika membereskan kamar Kim. Isinya berhasil meyakinkan diriku sendiri. Apa yang harus kulakukan? Apa yang kuinginkan sekarang?Satu keputusan besar sekali lagi kuambil. Aku ingin menikahi Kim. Bukan rasa bersalah seperti dugaan seluruh keluarga kami berdua, tapi karena aku menyadari satu hal pada akhirnya. Aku jatuh cinta pada Kim. Sama seperti Kim, yang dulu pernah berkata tak pernah tahu apa itu cinta atau bukan, aku juga perlu waktu untuk menyadarinya. Hanya sayang, aku sadar setelah semuanya terjadi.

Dulu sekali, tanpa kusadari seorang gadis datang padaku. Mengambil bagian dari hatiku, mengukir namanya walaupun sangat kecil di salah satu sudut. Ia mencintaiku, sangat mencintaku sampai aku takut padanya. Entah apa sebabnya. Namun waktu membuatku mengerti. Karena saat bertemu dengannya, aku seperti melihat diriku. Menangis dan tertawa untuk seseorang. Menyakiti dan tersakiti dalam satu waktu. Aku berusaha mengusirnya karena aku takut rasa itu akan menguasai seluruh hidupku. Dan ketika semakin terjebak dalam pusaran kasih sayang itu, aku bahkan tak sanggup membayangkan hidup tanpa dirinya.

Kimberley-ku dulu memang tiada, tapi senyum dan tawa itu masih sama. Entah ia paham atau tidak, ia masih selalu menikmati setiap kebersamaan kami. Dan aku merasa cukup… hanya melihat senyum serta tawa yang dulu selalu ia berian padaku. Kim menemaniku dalam kesendirianku, ketika aku bahkan tak pernah ada untukku saat ia sendiri menangis dalam rindu.

Kini, aku ingin menemani Kim sepanjang hidupku, meski Kim tak mengenal diriku.’Kakak, jangan tinggalkan aku!’ satu-satunya kalimat yang setiap malam ia ucapkan sebelum tidur. Kalimat pertama yang ia ucapkan setelah kami menikah selama enam bulan, padahal aku selalu mengajarinya untuk mengucapkan I Love You seperti dulu. Mungkin dibandingkan meraih cintaku, Kim lebih takut aku pergi jauh darinya.

Sekarang perasaan itu selalu berada di dalam hatiku. Takut Kim tertidur tanpa pernah bangun lagi, kuatir ia semakin lupa padaku dan mengusirku suatu hari nanti.Setiap detik bersama Kim, mencintai, mengasihi sampai ia mengingatku lagi. Harapan mungkin tinggal harapan, karena sudah banyak dokter yang kami datangi semuanya angkat tangan. Tapi aku tak pernah menyerah, setidaknya aku hanya mengharap mata Kim tetap menatapku dengan cinta seperti sekarang, sama seperti dulu ketika ia masih memujaku bagai tokoh idola.

Seperti hari ini, seusai terapi yang harus ia lakukan. Menatapnya dari kejauhan, membiarkannya sementara bergembira bersama orang-orang yang sama seperti dirinya. Tak mengingat apapun, selain hanya harus tertawa menikmati dunia hari ini. Aku tak pernah memikirkan pandangan kasihan dari orang-orang, ataupun kata-kata sindiran menyakitkan saat mereka melihat Kim. Karena aku tahu, Kim tak pernah peduli.

Dulu ia tak pernah peduli meski semua orang mengejek cintanya padaku, aku juga tak mau membiarkan ejekan orang menghentikan kesempatanku mencintai Kim. Kim, nama yang kuukir sangat kecil di sudut hatiku, ternyata tertulis dalam dan indah. Nama yang selamanya akan tetap terpatri sampai maut memisahkan kami berdua.Jauh dalam hatiku, terkenang barisan kalimat dalam lembaran kertas yang kutemukan hari itu.

Setiap hari ada dia…

Di ingatanku, di hatiku, di setiap denyut jantungku…Aku cinta dia selamanya, meski ia melupakanku, meski ia menjauhiku…Aku akan berlari mendekat, aku akan terus menggapainya…Cinta bukan untuk menjauh, cinta untuk direngkuh.

I Love You, Kak Zoe…

I love you too, Kimberley,” bisikku, saat ia mendekat setelah aku melambai padanya. Ia tersenyum, lagi. Aku meraih tangan Kim, menarik tubuhnya dalam rangkulan, memastikan ia aman bersamaku. Kemudian, kami berjalan keluar meninggalkan rumah sakit. Hari ini, esok dan nanti, ia bersamaku dalam rengkuhan cinta.

*****


TAGS   rindu / email / cinta / fiksi /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia