
tweakyourbiz.com
Setelah lelah mencari ide, menyusun tulisan bahkan sampai minta tolong orang lain untuk menilai hasil tulisan sebelum diposting. Hal selanjutnya adalah menunggu komentar yang akan masuk. Pahit, manis, pedas, kalem, bahkan terkesan menghibur pun harus siap diterima. Biasanya kalau ceritanya tentang sesuatu yang tak enak, pasti dapat komentar pedas, begitu pula sebaliknya. Tapi tak jarang juga, sudah susah payah membuat cerita yang manis tiba-tiba ada yang berkomentar pahit banget.
Aduh kalau sudah begini, kumat deh penyakit lama… ini orangnya pintarnya komen aja, kenapa dia gak nyoba untuk menulis?
Jelas tidak seharusnya kita bersikap seperti itu. Justru kritik melalui komentar itu kadang-kadang berguna untuk membangun, entah itu ilmu baru atau pun memperbaiki cara kita menulis. Tapi ya itu tadi… kadang komentar tak enak itu seringkali jadi di luar batas kalau dibiarkan. Hampir setahun sudah saya menulis, jadi mulai bisa menilai beberapa jenis komentator.
Ada yang kritiknya cukup baik dan memang bisa diambil manfaatnya, tapi yang lain terkadang tidak berhubungan dengan isi tulisan, orang jenis ini mungkin hanya membaca judulnya saja dan lantas meninggalkan komentar sekedarnya untuk sekalian menitip link blog. Dan yang paling membingungkan ketika seseorang meninggalkan komentar seperti curhat berhalaman-halaman. Oh ya, ada juga yang sibuk mengomel karena merasa tulisan yang diposting tidak sesuai dengan agama tertentu.
Di antara semua komentar yang menunggu moderasi di blog-blog milik saya, saya jarang menghapus komentar. Meskipun bukan artis terkenal, saya berusaha belajar menghargai komentar orang lain. Entah itu negatif atau positif, pahit atau pedas, semuanya saya biarkan terbagi dengan pembaca lain. Toh kalau pemikiran kita memang benar, pasti ada pembaca lain yang akan membela tanpa perlu kita bantah atau lawan. Kalau terlalu ‘pedas’, mungkin saja saat berkomentar orang tersebut sedang merasa kesal karena hal lain dan merasa membagi komentar seperti itu bisa mengurangi rasa kesalnya. Pokoknya semua ditanggapi dengan dingin-dingin saja, karena itulah penting sekali memilih saat yang paling menyenangkan ketika mengecek komentar.
Kalaupun ada yang terpaksa saya hapus ketika seseorang mengirim komentar sampai lebih dari 1000 kata (bahkan mengalahkan isi tulisannya) atau yang jelas-jelas spam atau yang menghina dan berisi link porno. Ada juga yang tetap saya publish komentarnya tapi saya hapus linknya kalau link itu bersifat politik, menebarkan informasi negatif yang bertentangan dengan isi blog saya atau pemasaran iklan untuk sesuatu yang tak jelas seperti arisan online dan lain-lain.
Sekarang, ada hal yang tidak mengenakkan dari teman-teman pembaca yang terkadang memilih lebih baik mengirimi saya pesan di Facebook profile dibanding meninggalkan komentar karena terkadang susah menebus ‘batas’ captcha. Terus terang, saya juga dihadapkan pada kebingungan yang sama. Kalau saya share tanpa mesin auto captcha, nanti komentar spam akan berpesta pora di semua tulisan saya. Jadi ibarat memakan buah simalakama, dimakan salah, tak dimakan salah ( Atau saya jual saja
)
Komentar, negatif atau positif adalah sesuatu yang berharga untuk ditunggu. Ia adalah pertanda bahwa blog kita sudah dikunjungi, tulisan kita berhasil mendapat respon dan berarti cambuk terbaik untuk tetap menulis. Ingatlah bahwa tanpa pembaca, penulis manapun pasti takkan bisa berkembang.
*****















yang penting bahasanya yang santun jangan menggurui ya
sebagai admin memang dituntut jiwa besar dan kendali diri yang kuat dalam menanggapi komentar paling tidak meng-enak-kan sekalipun, moga jadi pemicu motivasi untuk lebih memaksimalkan diri
penulis dan pembaca itu saling membutuhkan, saling melengkapi jadi ya harus saling menghargai
I leave a leave a response whenever I like a article on a website or if I have
I actually do have some questions for you if you tend not to mind. Could it be only me or does it appear like a few of the remarks look as if they are coming from brain dead people?
And, if you are writing at other online social sites, I would like to follow everything fresh you have to post. Would you list every one of your communal pages like your twitter feed, Facebook page or linkedin profile?
something to valuable to contribute to the conversation.
Usually it’s caused by the passion displayed in the post I read. And after this article Komentar Negatif Atau Positif | RUMAH BUNDA. I was actually moved enough to drop a thought
itu komentar yang kelewat jujur, tapi setuju… Teman yang baik bukan yang menutupi kekurangan, tapi yang memberitahu di mana letak kekurangan untuk diperbaiki.
Hanya bahasanya dilembutin dikit ya..
hehe… saya ndak sombong loh ya
yang penting ramah aja bun…
jangan jadi blogger yang sombong
yang tiap ada coment langsung delte
lamken ya Bun, dan mau ngasih contoh komentar yang baik!
Seorang teman yang cantik, pintar, mapan dan single pernah bertanya kepada saya, kenapa ya pacarnya nggak mau nikahin dia, padahal mereka sudah hidup bersama selama kurang lebih 3 tahun. Saya sebagai seorang yang bukan pakar relationship, asal nyablak dengan menjawab Lha ngapain musti repot ngawinin elu, kalau sekarang aja rasanya udah kayak kawin sama elu?, dengan ngasalnya. Saya juga heran kenapa jawaban saya kayak laki-laki player begini ya. Pastinya saya jadi nggak enak sama teman saya itu, abis dia langsung diem sih, eh terus nangis. haduh.
bhahahaha
kadang-kadang komentar tidak enak itu muncul karena isi artikel juga, Mbak. Itu yang saya perhatikan beberapa kali saat melihat banyak komentar negatif pada artikel yang sifatnya “negatif” atau kritik, menghujam pada satu produk/orang/media.
Kalau tidak mau mendapat komentar yang tidak enak dibaca, sebaiknya menyusun artikel yang bersikap netral, berbahasa santun dan kalaupun bersikap mengkritisi sesuatu, gunakan sudut pandang yang luas agar pembaca yang beragam itu bisa terwakili.
btw, kalau bahasanya sudah kotor dan penuh sumpah serapah ya saya juga hapus kok, Mbak.
benar, hanya harus tetap sabar menanggapi komentar negatif
Sama-sama, mas Awan. mohon maaf lahir batin juga
Hehe… mudah-mudahan ci ‘captcha’ ini lebih diperhatikan oleh tim Blogdetik ya
Setuju sama Bunda, Menanggapi Komentar yang pahit tak perlu ikut terjerat emosi, tapi disikapi dengan bijak mungkin dari komentar itu ada pelajaran yang bisa buat kita bercermin diri untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi…
benar bangat Bunda si “captcha” ini menyusahkan tapi kita butuh… #Dilema… hehehehe
Hai Bunda Iin, Apa kabar?
sebelum comment tentang tulisan ini, saya mau ucapin Selamat hari raya Idul Fitri, Maaf lahir batin ya bunda
Komentar bisa menjadi semangat saya untuk menulis di blog mbak
Posting terakhir: http://bit.ly/O6CjxP
sangat ramah. . . Trimakasih atas keramahan anda… Manusia memang tempatnya bersalah..
benar bun, suka dengan alenia terakhir .. Ingatlah bahwa tanpa pembaca, penulis manapun pasti takkan bisa berkembang.
benar bun. suka di alenia terakhir..Ingatlah bahwa tanpa pembaca, penulis manapun pasti takkan bisa berkembang.
Dear bunda iin,
saya suka tulisan bunda mengenai komentar ini, ibarat musim ada musim hujan dan musim panas,namun hari tetap berganti mentari pun tetap bersinar..jadi apapun musimnya tetaplah menulis.
Komentar yang kalimatnya “tidak enak” dibaca, saya anggap spam. Karena terkadang komentar pedas yang dibaca oleh orang bisa mempengaruhi komentarnya si pambaca komentar. Jika komentar yang saya maksud tadi merajalela diseluruh blog, bukan tidak mungkin akan melahirkan komentar-komentar yang tidak enak lainnya. Pembaca komentar ada yang bisa berpikir dengan baik ada yang tidak. Saya hanya tidak ingin “mengajari” blogger-blogger yang kalimat komentar masih sopan menjadi tidak sopan lagi untuk berkomentar gara-gara membaca komentar yang tidak enak dibaca tsb
Karena kebebasan berkomentar batasnya belum jelas. Itu menurut saya