Catatan Bunda Iin

Kemenangan Sejati

21 Aug 2012 - 17:49 WIB

Kemenangan itu apa sih? Tanda tanya itu selalu terbit di kepalaku setiap kali Lebaran tiba.

Jika kemenangan itu berarti puasaku yang full satu bulan, itu tetap tak menjawab pertanyaanku itu.

Kemenangan kata Ustad, adalah ketika kau mengisi seluruh hari di bulan Ramadhan dengan amal ibadah yang sebanyak-banyaknya, diakhiri dengan tutupnya puasa sebanyak hari di bulan Ramadhan dan membersihkan hatimu dari dosa-dosa.

Tapi… kenapa ada banyak sekali orang yang tidak berpuasa full, apalagi beribadah secara sungguh-sungguh menganggap dirinya sudah ‘menang’ ?

Nah itu yang kemudian membuatku heran…

Yang aku lihat adalah kemenangan itu diartikan sebagai tanda kita boleh berpesta pora menikmati THR sebebas-bebasnya.

Bahkan kalau perlu menyulap kartu kredit dan utang sana sini sebagai cara untuk mendapatkan dana yang lebih. Pokoknya semua kesenangan itu sepanjang tahun dilakukan di akhir Ramadhan.

Entah berapa banyak uang terbakar karena kembang api dan petasan,

entah berapa banyak makanan terbuang karena setelah buka puasa kita sudah kenyang menyantap semuanya sekaligus, dan entah berapa banyak lagi keborosan-keborosan lain yang justru terjadi di bulan Ramadhan.

Bukankah mubazir itu juga merupakan dosa?

Apa itu artinya sebuah kemenangan? Melakukan semuanya secara berlebihan.

Mungkin aku yang bodoh, tertidur ketika ustad mengajar tentang kemenangan setelah Ramadhan.

Kucoba pahami dengan mempelajari adat istiadat negara-negara lain ketika Ramadhan dan Lebaran tiba.

Menengok tanah Arab yang menghiasi malam dengan sinar lampu terang benderang, agar orang-orang mengendarai malam lebih panjang, memanfaatkan pahala 1000 bulan.

Menengok ke Kuwait, aku terpesona oleh orang-orang kaya yang berlomba berbagi sedekah pada siapapun di pinggir jalan bahkan negeri Mesir yang memiliki agama-agama lain selain Islam, penduduknya saling berlomba berbagi permen untuk anak-anak saat mereka berbuka puasa, berbagi makanan dengan orang-orang yang mungkin baru pertama kali mereka jumpai.

Dan malam-malam di mana, mesjid seakan siang karena banyaknya jamaah yang datang.

Dan aku kembali terperangah melihat kenyataan di negeriku sendiri.

Mesjid makin sepi di malam-malam saat Lailatul Qadr ditawarkan.

Itikaf berpindah ke mal-mal dan pasar-pasar.

ahkan nenek-nenekpun memilih bergaya dengan hijab gaya terbaru daripada menghabiskan sepertiga malam untuk merenungi sisa-sisa Ramadhan yang mungkin takkan berulang di tahun berikutnya.

Ah, sedih…Waktu mengajarkanku, bahwa kemenangan adalah saat di mana kau menangisi kepergian Ramadhan yang telah membawa berkah sepanjang hari selama sebulan dan menangisi dosa-dosa yang sengaja atau tidak disengaja mungkin mengurangi pahala puasa dan ibadahmu.

Kemenangan yang kau raih dengan bersih penampilanmu, bersih hati dari amarah dan dengkimu, bersih karena maaf dari orang-orang di sekitarmu, bersih karena kau tidak berutang, bersih karena kau tak pamer pada orang lain yang tak mampu, bersih dari anak yatim yang menangis karena tak mendapat zakatmu.

Itu kemenangan yang sesungguhnya… kemenangan yang mungkin satu dari seribu orang yang memahaminya.Aku juga mungkin tidak mengerti apa artinya kemenangan, meski sangat berharap Allah SWT menilai aku sebagai salah satu dari pemenang Ramadhan tahun ini.

Sudahkah kau merasakan kemenanganmu sendiri?


TAGS   Ramadhan / Kemenangan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia