Ketika memutuskan anak untuk bersekolah, ada banyak pertimbangan orangtua. Beberapa beralasan, usia mereka sudah cukup untuk bersekolah dan ada yang lain beralasan anak mereka telah siap secara mental walaupun umur belum mencukupi. Ada juga yang beralasan karena anak mereka lebih baik berada di sekolah, dibandingkan berada di rumah sebab tak punya teman dan kehidupan sekolah bisa mengajarkan banyak terutama bersosialisasi.
Sayang, banyak orangtua akhirnya melupakan beberapa faktor penting. Antara lain, mereka lupa kalau sekolah adalah sebuah langkah besar untuk seorang anak. Mungkin bagi orangtua, sekolah hanya dilihat dari segi fungsional semata. Tapi buat seorang anak, sekolah bisa menjadi tempat yang menyenangkan namun sebaliknya bisa menjadi tempat paling mengerikan untuk mereka.
Fundamental mendasar untuk mengambil keputusan menyekolahkan mereka tentu saja adalah anak itu sendiri.
Berapa sebenarnya umur yang tepat bagi anak untuk memulai pendidikannya?
Ini yang agak sulit dijawab. Saya pernah melihat brosur PG/PAUD yang menawarkan pendidikan untuk anak usia 3-4 tahun, lalu ada Toddler yang melayani pendidikan untuk anak di usia yang lebih rendah dari 3 tahun. Hal inilah yang banyak menimbulkan kebingungan bagi orangtua terutama yang belum memiliki pengalaman mendidik anak. Akhirnya timbul pemikiran bahwa menyekolahkan anak makin cepat makin baik, apalagi dikelola oleh lembaga pendidikan yang terkenal.
Padahal ada banyak sekali hal-hal yang harus dipikirkan sebelum memasukkan anak ke sekolah, selain memilih sekolah dan jenis pendidikan yang akan diperoleh anak.
Kesiapan fisik dan mental anak merupakan hal utama dibandingkan menghitung usianya.
Setiap kali tahun ajaran baru tiba di beberapa TK atau Playgroup atau PAUD, terlihat antrian orangtua yang mengantarkan putra putri mereka pada hari pertama sekolah. Beberapa sekolah termasuk TK/PG/PAUD menerapkan aturan pengenalan atau orientasi siswa selama satu minggu. Bedanya kalau di pendidikan awal ini, orientasi siswa biasanya diisi dengan dibolehkannya orangtua menemani anak selama jam pelajaran, atau ikut melihat dan mengawasi anak-anak ketika berada di dalam kelas.
Namun yang terjadi kemudian, ada beberapa anak yang tidak bisa ditinggalkan walaupun masa orientasi telah usai. Suara tangisan, rengekan, jeritan hingga akhirnya menghalalkan cara-cara tak sehat seperti membohongi anak, hingga menyuapnya dengan hadiah-hadiah. Akhirnya sekolah malah memperkenalkan anak pada sesuatu yang tidak baik atau bersifat negatif, yang sayangnya dibantu oleh orangtuanya sendiri.
Itu belum selesai. Bagaimana ketika anak ternyata belum lepas dari diapersnya atau dotnya? Atau malah masih sangat tergantung pada Ayah Bundanya. Ini yang kadang-kadang luput dari perhatian orangtua.
Setiap anak memiliki kesiapan mental yang berbeda. Si A sudah bisa melewati toilet training pada umur 9 bulan tapi si B berumur 3 tahun bahkan masih belum bisa membedakan mana BAB (buang air besar) dan BAK (buang air kecil) karena selalu dipakaikan diaper.
Yang menjadi pengamatan saya akhirnya adalah masalah toilet training dan kebiasaan nge-dot itu justru menjadi alasan utama para orangtua memasukkan anak-anak mereka ke PAUD/PG/TK, karena mereka mengira sekolah akan membantu anak-anak mereka cara latihan ke toilet dan melepaskan dari kebiasaan nge-dot. Padahal ini bisa-bisa mendatangkan masalah baru yaitu trauma dan tentu saja akhirnya mengubah fungsi pembimbing atau guru anak, menjadi para pengasuh dadakan karena harus bolak-balik mengurus si ‘bayi’ besar yang tidak siap.
Beberapa anak menunjukkan ciri-ciri ketidaksiapan itu dengan gangguan kesehatan seperti muntah-muntah, mengeluh sakit perut hingga nafsu makan yang berkurang. Ada juga yang mengalami perubahan sikap seperti semakin nakal dan suka sekali sekali ‘membully’ teman-teman barunya. Atau munculnya kebiasaan yang tidak ada sebelumnya misalnya mengompol, menangis, menjerit dan lain-lain.
Siapkanlah mental si kecil jika memang usianya sudah cukup. Beberapa sekolah swasta baik PAUD/PG/TK banyak yang melakukan pemeriksaan mental terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa siap anak ke sekolah. Jika tidak ada, jangan takut untuk melakukan pemeriksaan mental dengan psikolog. Anda sendiri juga bisa melakukan pemeriksaan kesiapan mental itu dengan bertanya jawab seputar dunia sekolah, misalnya dengan memberitahu apa yang akan dia dapatkan di sekolah dan apa yang tidak dapat ia temukan di sekolah. Lalu tanyakan bagaimana perasaannya kalau ditinggal oleh Mama dan Papa di sekolah dan bimbing dia cara mengatasinya, misalkan berdoa atau meminta bantuan pada guru. Hal yang paling sering muncul dalam anak-anak yang baru masuk sekolah adalah rasa cemas dan takut.
Karena itulah, jangan pernah menakut-nakuti anak dengan sesuatu hal yang kelak akan dominan dalam hidupnya (seperti pada guru, pada makhluk tertentu atau benda tertentu) atau terlalu banyak memberinya sederet larangan. Anak yang sering dilarang atau ditakut-takuti apalagi dibohongi akan menjadi anak yang penakut, mudah cemas dan tidak percaya diri termasuk sulit pergi ke sekolah.
Ajarilah si Kecil cara menghadapi ketakutan dan kecemasannya. Jika terus berlanjut sampai masa orientasi lewat, maka cari penyebabnya (misalkan suara guru yang terlalu galak, takut pada salah satu temannya dll)
Akan lebih baik, jika beberapa minggu sebelum bersekolah kita sudah mengenalkan apa saja yang nanti akan dihadapinya saat bersekolah. Seperti tingkah laku yang baik dalam kelas, bersalaman, mematuhi perintah guru dan mengurus dirinya (sebatas kemampuannya tentu saja). Ini khusus untuk anak-anak yang masuk TK.Untuk PAUD dan PG, biasanya tergantung kebijaksanaan masing-masing lembaga yang menyelenggarakan. Namun ada baiknya memasukkan anak-anak itu tetap memperhitungkan dua aspek di atas yaitu usia dan kesiapan mental anak.
Selain itu, sebagai orangtua kita juga harus mempersiapkan diri menghadapi tingkah anak yang mungkin di luar dugaan.Ingat Ayah Bunda! Jangan halalkan yang haram untuk mengajarkan kebaikan ya… seperti berbohong dan membodohi anak.
Dan terakhir tentu saja, ajarilah anak untuk mampu mengatasi ketakutannya dengan berdoa pada Tuhan sesuai kepercayaannya, bahwa Allah akan menjaganya walaupun kita tak berada di sisinya. Dengan mengajarkan beberapa doa pendek, anak akan memiliki bekal yang cukup untuk memasuki sekolah barunya.
Seberapa pintarpun seorang anak, yang terpenting adalah mengembangkan akhlak dan kepribadiannya. Jika dasar kepribadian itu terbentuk karena trauma dan akhirnya menghasilkan anak-anak yang seperti robot. Tak berakhlak baik meskipun pintar. Maka tak ada salahnya kita mempertimbangkan lagi apakah sudah tepat menyekolahkannya atau tidak. Pendidikan usia dini juga bisa dilakukan di rumah, jika orangtua memiliki waktu yang cukup dan informasi yang dapat dengan mudah didapatkan baik dari bantuan buku pembimbing ataupun informasi melalui berbagai media.
*****
















need advice please,,,,,,,,
dear parents, anak perempuan saya usia 3 tahun mulai bersekolah di tadika (semacam playgroup, saya tinggal di serawak) sejak awal januari 2013. akhir2 ini anak saya menangis tiap kali berangkat ke sekolah. akhirnya saya memutuskan utk menemani sejak jumat, senin, dan hari ini. agak terkejut karena jumlah murid yang hadir di kelas yang semula mencapai 10 anak menurun drastis hingga 4 orang saja. dan ada 1 anak yang saya perhatikan di kelas hanya menangis dari awal hingga kelas usai. saya amati guru senior yang mengajar sebetulnya bagus, tapi agak sedikit kaku dan kurang toleran. she expect all student must be obidient, and follow her instruction. sementara guru pendamping yang lebih muda sama sekali belum berpengalaman. saya merasa dilema karena di sekolah sebelumnya (playgroup di bali) anak saya betah sebab banyak diberikan aktivitas bermain yang benar-benar playful dan agak lebih longgar. jika anak mau main dulu karena bosan, anak di izinkan untuk punya “me time ” sejenak lalu dibujuk utk belajar (bermain) bersama lagi sesuai instruksi…tadi saya ditegur karena menunggui anak saya di kelas dan disarankan utk lebih baik biarkan anak menangis ditinggal tapi belajar mandiri. kira-kira bagaimana ya sebaiknya…saya tidak mau anak saya trauma. tujuan saya menyekolahkan hanya spy anak saya bisa bermain bersama anak lain dn punya teman. tq
Artikel yang sangat bagus.Ijin share ya untuk artikel-artikel yang penting untuk dipublikasikan ke semua orang tua.
Sebenarnya memang sangat penting untuk mengenalkan pendidikan ke anak.Karena memang usia 0-5 tahun adalah usia emas bagi anak untuk menerima berbagai pendidikan dasar. Tapi jangan lupa ya..untuk mengenalkan pendidikan ke anak sesuai dengan usia anak. Jadi untuk para orang tua akan lebih baik kalau mulai belajar bagaimana cara menstimulasi (mengenalkan pendidikan) pada anak sesuai dengan usianya. Jangan lupa juga untuk pintar-pintar memilih sekolah (untuk yang memutuskan mengirim pitra/putrinya ke sekolah)karena sekali kita salah memilih sekolah, maka itu akan berdampak sangat besar pada putra/putri kita. Pilihlah sekolah jangan hanya melihat brand nama suatu sekolah. Tapi pilihlah sekolah yang didalamnya benar-benar menstimulasi anak sesuai dengan usia dan yang lebih penting sekolah yang mengajarkan akhlak dan moral serta pendidikan agama.
kalau dibiasakan dari dini,ntar besarnya bagus….
lagi2 jawabannya tergantung
Artikel yg sangat bagus bunda membantu ibu2 yg lg galau buat menentukan baik tidaknya anak2nya mulai sekolah…anak sy yg pertama 7thn sekolah di sdn biasa ..bagaimana baiknya apakah sy hrs pindahkan sekolahnya ke sdn pavorit mengingat mutu sd yg sekarang kurang baik..(Api anak saya betah sekolah di sd yg sekarang..adiknya yg laki2 juli nanti berusia 5,9 thn..baiknya masuk sd atau ke tk lagi yaa mengingat sekarang sudah di tk b..(Tadinya mau saya masujkan sd tapi saya masih ragu2 )
Blognya benar-benar fantastis! Banyak informasi yang besar dan bisa buat inspirasi, hal ini yang selama ini saya butuhkan, Terimakasih atas semuanya, saya sangat menghargai semua yang Anda lakukan! Salam kenal
@rahmiaziza, Sebenarnya sangat penting untuk memasukkan putra-putri kita ke PG/KB. sebab usia 0-6 th adalah golden age,usia emas yang harus betul2 kita perhatikan, apalagi kalau ortu tidak memahami pendidikan anak. Maklum aja mayoritas orang tua, menjadi orang tua tanpa persiapan ilmu bagaimana mendidik anak. Cuma kita memang harus hati2 betul memilih sekolah yang baik, karena ada lembaga PG-TK(disinyalir banyak)yang gurunya pun tidak memahami bagaimana mendidik anak sehingga justru dengan sekolah disana anak kita semakin rusak. Calistung? sebenarnya tidak masalah selama guru memahami perkembangan anak dan metode mengajarkannya. yang menjadi masalah adalah karena kebanyakan guru (dan ortu) menggunakan metode drilling dengan tambahan pemaksaan + marah2 dan tidak memperhatikan kebutuhan perkembangan anak. jika anda (pembaca) termasuk ortu yang kurang memahami perkembangan anak sebaiknya carilah sekolah dengan guru2 yang baik (yang tidak suka marah2, tidak memberi perintah, dan tidak melarang anak)
Artikel yg bermanfaat, bunda. Kebetulan anak saya yg berumur 2,7 thn, Tahun depan mau tak masukin PAUD.!
angat bermanfaat sekali artikelnya buat di simak, memang pendidikan itu penting bagi manusia ..
Semua itu Bapak dan Ibu sendiri kan yang melakukannya? Nah itulah jenis pendidikan yang saya maksudkan, bukan dengan pemaksaan pendidikan formil.
Bahkan dari sebelum lahir, itu memang benar. Tapi sekali lagi itu karena faktor orangtuanya kan? Bukan pihak-pihak lain yang tak mengenal karakter anak dan akhirnya malah lebih banyak timbul masalah-masalah baru. Mengenalkan lingkungan baru untuk anak adalah hal penting dan krusial sekali. Kalau tidak hati-hati, malah menimbulkan trauma.
Saya sangat peduli pada anak-anak yang menjadi korban, melihat banyaknya orangtua muda yang salah kaprah akan fungsi dari pendidikan dasar dan menganggapnya sebagai pemecahan masalah diluar keinginan untuk mengembangkan karakter atau kemampuan anak. Menyerahkan sepenuhnya tugas ‘mendidik’ anak pada pihak-pihak lain padahal anak belum siap.
Setuju abah, semoga semakin banyak orangtua yang memahami mengenai hal ini. Itu inti tema yang sebenarnya ingin saya sampaikan.
@happygirl, Mbak Happy, tadinya aku juga begitu. Tapi berhubung anaknya sangat bersemangat, ya terpaksa harus di fasilitasi kan. Masak tega, dia sudah kesana kemari pakai tas sama sepatu mau sekolah nggak disekolahin. Cuman ya itu, sebisa mungkin cari sekolah yang bener2 enjoy. Gitu kan. Kebetulan di kasusku, gurunya juga bilang, biar aja ikut2an dulu. Akhirnya kayak yang kuceritain ke bunda Iin di atas.
Bismillah,
Sekedar untuk nambah wawasan,bagi orang tua yg ingin anaknya pinter lewat sekolah atau dengan mengirim ke sekolah.
1.Coba direnungkan kembali, sebelum mengirim ke sekolah, APA TUJUAN YG INGIN DICAPAI dalam kaitan dengan usia anak yg masih sangat dini?
2.Para orang tua, kita semua pernah jadi anak anak yaa…coba sedikit terapkan pada anak anak kita,apa yg membuat anak enjoy, happy terutama diusia CHILDHOOD, kalau lupa ya, coba diingat lagi.
3.Ingat…sekolah bukan satu satunya sarana atau cara untuk membuat orang pinter.jadi ini dasar cara berpikir yg modern.
Demikian dan welcome your comments.
Anak sy umur 2 tahun sudah masuk PAUD karena suka nangis saat om nya ke sekolah. bilang nya “caca mau sekolah juga”. tapi saya lihat dia menikmati, karena saat sy liburkan dia minta bertemu teman2 di sekolah. sekarang sudah 3thn, dan sy pindah kan k PG. ngikutin kemauan anak saja. semoga semangat terus lah dia sampai usia nya yg bener2 harus sekolah
maksih bu’artikelnya. Sangat membantu bgt bagi saya yg sdng bingung mau memasukkan anak paud/tdk.Skrng anak saya umur 2tahun,mau saya masukkan paud takut terlalu dini.Cuma dirumah saja,kasihan anaknya kesepian.Secara kami baru 1bulan pindah rumah,jd lingkungannya msh baru dan msh sepi.
@esterlita, SOMBONG KALI SI BPK SINGGIH, NGOMONGNYA JUGA TIDAK LEBIH BAIK DARI ORANG YANG DIA HINA
@Bunda Iin, PGnya menerima anak di bawah 3 tahun. semacam penitipan anak/TPA gitu mba. Dan memang kegiatannya cuma nyanyi, berdoa, gitu. Setau saya belum ada calistung.
Saya mengambil positifnya, si kakak jadi bisa belajar bangun pagi dan disiplin. Semoga kelak dia juga bisa lebih sosialisasi dengan teman-temannya. Nantinya biar waktu masuk TK dia senang dengan dunia sekolah
Bunda Iin, kalo menurut saya sih memberikan pendidikan kepada seorang anak itu sudah seharusnya dari sedini mungkin. Yang penting orang tua harus selalu membimbing anaknya. Mungkin tanpa sadar pada saat mengandung, orang tua banyak yang memperdengarkan musik klasik dan membacakan cerita pada jabang bayinya. Untuk apa? Sebenarnya untuk memberikan pengetahuan kepada anaknya akan adanya dunia yang menarik diluar sana.
Hal ini saya buktikan dengan anak saya, sejak lahir dia saya latih berbicara bahasa inggris dengan saya, berbicara bahasa indonesia dengan istri saya dan berbicara bahasa jawa dengan kakeknya. Hasilnya, sekarang dia berumur 8 tahun dan dapat berbicara ke 3 bahasa tersebut dengan sangat fasih. Hal ini ternyata sejalan dengan metodenya profesor Shichida dari Jepang. Hanya saja yang diajarkan Shichida lebih banyak lagi, seperti matematika, menulis, menggambar, dll.
Kesimpulan saya, apabila dari usia sedini mungkin kita sebagai orang tua sudah dapat membimbing anak2 kita untuk mengenal pendidikan, nantinya mereka dengan sendirinya akan mudah dan antusias belajar hal-hal baru sebanyak-banyaknya.
Iya makasih…
Memang benar, walaupun prakteknya banyak juga PAUD yang lebih mirip TK. Mudah2an orangtua tidak salah pilih.
ganti menakut-nakuti dengan akibat kalau dia tetap melakukan perbuatan itu.
Mis. Anak tak mau makan obat, bilang saja kalau obat itu membuatnya sehat kembali. Kalau dia tidak mau, ya jangan dipaksa. Nah ketika dia batuk atau merasa sakit, barulah “sakit kan? Makanya minum obat supaya cepat sembuh.
Atau ketika dia nakal. Nakalnya karena apa? Apa akibatnya? Kalau cuma lari-larian di rumah dan kita kebetulan lagi bete, ya bukan nakal namanya mungkin hanya karena mood kita lagi tidak baik.
Harus diberitahu akibatnya, mbak. Supaya dia bisa membedakan mana perbuatan baik atau perbuatan buruk.
Dengan mengajak mengobrol ringan, juga bisa sambil memasukkan nasehat-nasehat. Usahakan sesingkat mungkin memberi nasehat kalau tidak mau dicuekin karena bosan.
@tika,
2 tahun 9 bulan? Aduuh mba, itu terlalu muda kalau masuk PG. Setahu saya kalau PG itu untuk 3-4 tahun. Yang lebih muda dari itu adalah kelas Toddler, yang masih jarang di sini. Wajar kalau belum bisa ditinggal.
itu dia yang sangat sering saya temui di sekolah. Saya pernah lihat ada salah satu teman Abang sampai muntah2 karena stress, dan hanya ditunggui pembantu pula.
Anak itu takkan merespon dengan baik kalau terus dipaksa atau ditekan agar pintar. Paling tidak ini sekedar berbagi pengalaman karena anak-anak saya semua menjalani pendidikan dasar ini. Berbagi agar membuka pikiran bahwa menyekolahkan anak lebih cepat bukan berarti dia lebih cepat menyerap ilmu.
Banyak juga anak yang langsung TK dan SD, tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
@maket,
Iya terima kasih
Alhamdulillah, senangnya bisa melihat anak bersekolah dengan riang. Semoga tambah cerdas anaknya ya bun.
Bunda Iin, artikelnya selalu pas dengan yang lagi di pikiranku. Belajar dari ketiga anakku terdahulu, aku benar-benar ingin anakku yang ke empat ini tidak buru-buru sekolah. Harapanku, masuk sekolah nanti benar-benar pada usia yang matang, biar saja ’sedikit lebih lambat’ dibanding yang lain (padahal sebenarnya juga tidak kalau masuk SD umur 7 tahun kan?). Tapi rupanya, dia sudah tidak sabar untuk sekolah, akhirnya berburulah aku sekolah yang kalau tidak bisa 100% seperti keinginanku, paling tidak tidak ada pemaksaan anak buat calistung itu, dan bisa bikin dia enjoy. Alhamdulillah malah dapat deket rumah. Jadilah sudah 3 hari ini dia sekolah di Paud dengan sangat antusias.
Sudah ada di atas, siapkan mental dan fisiknya. Sekarang sudah banyak kok PAUD/PG/TK yang menerapkan sistem trial. Dicoba saja.
terima kasih artikelnya..sangat bermanfaat buat saya..kbtulan sy sdg bingung, anak sy usia 3,8 thn tp sy blm tega untk menyekolahkan,eyang dan ayahnya menyarankan agar ditunda saja tahun depan,smntara anak sy sdh sgt ingin sekolah..mohon sarannya..
mba.. makasih banget artikel na. jd banyak belajar dari artikel mbaa
like this very much mba
ini si kakak, 2 tahun 9 bulan sedang belajar sekolah di PG. awalnya dia mau, tapi kok setelah coba skul beberapa hari dia jadi ga mau. tiap sekolah selalu minta ayah/bundanya nemenin, mungkin \ayem\ kali kalo ada ortuna. dan jujur, kami bingung karena kami kerja, ga bisa terus nemenin.
kalo ada ayah bunda yang punya pengalaman n ada saran, juga mau ya saya..
Ups, sy langsung melirik putri bungsu saya nih, Dia juga sedikit tak bisa diatur (liar itu kayaknya terlalu gimanaaa… gitu), bukan karena kurang pengawasan tapi karena menurut psikolog dia sedikit hiperaktif, IQ yg tinggi hingga memiliki rasa ingin tahu yang sulit sekali dipadamkan. Saya memilih dia tetap di rumah, demi keamanan sambil mempelajari cara yang tepat menanganinya.
Kalau tujuannya baik, semoga hasilnya juga baik ya..
Anak saya umur 3 th, dan saya memasukkannya ke Paud, saya berfikiran anak saya sudah terlalu liar dalam bermain (karena lemahnya kami ortu dalam pengawasan) dan dengan memasukkannya ke dalam Paud saya mengharapkan mentalnya lebih berani dengan lingkungan diluar, dan dia juga belajar hal2 baru dalam kehidupannya, tapi saya juga akan memantau perkembangannya, sekiranya ia sudah cukup bisa menerima tanggung jawab barunya itu apa belum….
Bunda Iin, skrg banyak ortu yg menginginkan anaknya pintar meski mungkin umurnya masih kecil sekali. Dan parahnya jika itu bukan kemauan si anak sendiri, tetapi ambisi dari si ortu. Banyak ortu lebih senang menyekolahkan anaknya yg umurnya baru 3 th ke sekolah yg sdh mengajarkan calistung dg tujuan siap masuk ke SD. Pengalaman saya sendiri, anak saya ikut PG yg tdk terlalu fokus ke calistung,lebih banyak belajar sambil bermainnya sih, menurutku utk belajar bersosialisasi dan mandiri bagus, krn masa2 itu adalah masa2 bahagianya bermain, bukan ditekan utk belajar terus yg bisa bikin anak stres. Baru di tk B mulai belajar calistung sederhana. Setelah masuk SD ternyata juga bisa mengikuti dengan baik.
@singgih,
Pak, nyebutnya jangan babu dong…mereka juga manusia…dan Anda berharap yang Anda sebut babu itu bersikap baik pada anak Anda kan?
wah,iya memang sulit ya,,tapi sya punya kepnakan ia 4 tahun masuk TK,,apakah itu sudah siap? tapi meamng anaknya cerdas bunda,,
terus bagaimana kalau menasihati dengan cara baik selain mnkut-nakuti,,karena memang tidak bis dipungkiri menakuti itu cara yang paling mudh,,hehe
Betul sekali anak usia 3 tahun lebih baik dipilihkan paud yang fokus pada permainan yang cerdas dan melatih motorik halus dan kasar mereka. Bermain logika sederhana seperti memilih balok yang benar dan sebagainya. Jangan lupa mewarna dan menggambar juga merupakan gabungan pelatihan kognitif sederhana tapi luar biasa aktifitas yang menyertainya seperti mengorganisasi benda,warna,obyek gambar,motorik halus,penglihatan,konsentrasi,ketelitian,kreatifitas,abstraksi,logika warna,sosialisasi dan banyak lagi yang didapat dari belajar menggambar dan mewarnai.
artikel yang wajib dibaca orang tua nih
artikel wajib bagi orang tua nih
setuju Pak, pada tujuannya pg adalah tempat bermain. Tapi pada prakteknya tidak seperti itu. Kebanyakan (PG standar) telah memperkenalkan calistung, untuk mencari PG yang benar-benar sesuai untuk dua putra putri tertua saya, saya harus berburu sampai 4 PG (2 PG untuk putri saya, 2 PG untuk putra) dan tak satupun di antara PG itu yang tidak mengajarkan calistung.
Yang terpenting adalah, anak yang memang menginginkan masuk ke dalam Pendidikan dasar itu.. Bukan karena kita mencari ‘pengasuh’ baru untuk anak, bukan juga karena egoisme karena ingin anak lebih pintar, apalagi bukan karena kita yang ikut-ikutan ‘demam’ playgroup/paud.
Artikel yg bermanfaat, bunda. Aku dulu waktu kecil juga langsung disekolahkan ke TK. Jadi, nggak masuk ke PG atau yg lain sebagainya. Tapi menurut aku, adanya PG mungkin dapat membantu orangtua dalam mendidik buah hatinya sejak dini untuk belajar, tentunya guru-guru yg ada di PG tersebut sudah berbekal pengalaman dalam mendidik buah hati (catatan: mungkin ada beberapa pertimbangan dalam memilih tempat PG yg akan dijadikan tempat belajar buah hati), toh cukup meluangkan beberapa jam untuk si buah hati belajar di PG dalam satu hari, sehingga dengan adanya pembelajaran tersebut dapat memudahkan baik guru maupun ornagtua untuk sejak dini dapat melihat perkembangan buah hatinya menemukan bakat si buah hati. Indahnya berbagi.
LEMARI CINTA
Membantu Kamu dan Doi Selalu Tampil Beda dalam Setiap Suasana
sekarang ada PAUD jadi anak pasti siap
@Bunda Iin, menurut saya playgrop itu perlu, anak bisa bermain sambil belajar. pelajaran utama anak adalah bermain. dengn bermain anak bisa belajar apa yang dilihat. anak saya masuk tk sudah bisa membaca padahal kami ( orang tuanya) tidak pernah mengajari membaca. dia belajar dengan temannya dibantu dgn orang sekitar (spt : ibu guru)
untuk calistung untuk sasaran sekolah favorit, siapa sih ortu yg tidak senang anaknya masuk di sekolah favorit ?. kalau menurut saya sekolah itu sama saja ( pelajaran kan sesuai diknas) tapi yg tidak sama adalah lingkungannya, dan yg perlu anak menikmati.
pengalaman saya mengantar anak masuk tk, anak saya seperti orang bingung, saya tanya ada apa dek ? jawabanya : mau ngajak teman bermain gak bisa sebab temanya selalu ditemani oleh pembantunya ( entah babu, bapaknya atau ibunya). terpaksa anak saya main sendiri.
mudah-mudahan itu benar bu, karena bukan rahasia lagi PAUD/PG/TK sekarang lebih mengedepankan calistung sebagai tujuan utama demi target ortu agar anak masuk SD favorit.
Terima kasih.
pendidikan anak usia dini bukanlah proses belajar mengajar yg sebenarnya tp hanyalah bagian dr permainan positif tak ada salahnya anak bermain diPAUD toh kita jg disibukan dgn pekerjaan yg kt geluti sehari-hari, jadi tdk mungkin maksimal dlm mmperhatikan permainan anak yg baik. berikan sebaik mungkin usia dini permainan yg positif untuk generasi2 yg baik untuk masa depan..
wah bagus sekali ulasannya bunda
persiapan bagi yang mau masukin anaknya buat PAUD
iya memang betul tidak terlalu perlu. Tapi beberapa orang tua menganggapnya jadi penting krn rata-rata SD mensyaratkan harus sudah bisa calistung jadi kuatir anaknya gak bisa masuk maka memaksa pendidikan dini itu.
Kalo saya lebih melihat ke anak aja lah, kebetulan putri saya juga baru 3 thn, belum tahu bakatnya apa. Rasanya sanggar seni juga pilihan yang bagus, asal anaknya menikmatinya
Mantap sekali Om, baca juga http://palingjitu.blogdetik.com/menu-makanan-bayi-6-bulan
pernah denger ni bunda katanya anak sebenarnya ngga terlalu perlu disekolahkan di playgrup, ntar aja pas udah umur 5thn masuk TK. kalo msh 3th lebih baik belajar dan bermain aja di rumah sama emaknya dan anak2 tetangga yg seusia, kalo aku pengennya ntr anakku setelah umur 3thn masukin ke sanggar seni aja, ntah itu belajar nyanyi, nari, atau main musik tergantung dia maunya apa, drpada PG cuma main2 doang