Catatan Bunda Iin

Siapkah Anak Menjalani Pendidikan Usia Dini?

16 Jul 2012 - 08:25 WIB

 

google

Ketika memutuskan anak untuk bersekolah, ada banyak pertimbangan orangtua. Beberapa beralasan, usia mereka sudah cukup untuk bersekolah dan ada yang lain beralasan anak mereka telah siap secara mental walaupun umur belum mencukupi. Ada juga yang beralasan karena anak mereka lebih baik berada di sekolah, dibandingkan berada di rumah sebab tak punya teman dan kehidupan sekolah bisa mengajarkan banyak terutama bersosialisasi.

Sayang, banyak orangtua akhirnya melupakan beberapa faktor penting. Antara lain, mereka lupa kalau sekolah adalah sebuah langkah besar untuk seorang anak. Mungkin bagi orangtua, sekolah hanya dilihat dari segi fungsional semata. Tapi buat seorang anak, sekolah bisa menjadi tempat yang menyenangkan namun sebaliknya bisa menjadi tempat paling mengerikan untuk mereka.

Fundamental mendasar untuk mengambil keputusan menyekolahkan mereka tentu saja adalah anak itu sendiri.

Berapa sebenarnya umur yang tepat bagi anak untuk memulai pendidikannya?

Ini yang agak sulit dijawab. Saya pernah melihat brosur PG/PAUD yang menawarkan pendidikan untuk anak usia 3-4 tahun, lalu ada Toddler yang melayani pendidikan untuk anak di usia yang lebih rendah dari 3 tahun. Hal inilah yang banyak menimbulkan kebingungan bagi orangtua terutama yang belum memiliki pengalaman mendidik anak. Akhirnya timbul pemikiran bahwa menyekolahkan anak makin cepat makin baik, apalagi dikelola oleh lembaga pendidikan yang terkenal.

Padahal ada banyak sekali hal-hal yang harus dipikirkan sebelum memasukkan anak ke sekolah, selain memilih sekolah dan jenis pendidikan yang akan diperoleh anak.

Kesiapan fisik dan mental anak merupakan hal utama dibandingkan menghitung usianya.

Setiap kali tahun ajaran baru tiba di beberapa TK atau Playgroup atau PAUD, terlihat antrian orangtua yang mengantarkan putra putri mereka pada hari pertama sekolah. Beberapa sekolah termasuk TK/PG/PAUD menerapkan aturan pengenalan atau orientasi siswa selama satu minggu. Bedanya kalau di pendidikan awal ini, orientasi siswa biasanya diisi dengan dibolehkannya orangtua menemani anak selama jam pelajaran, atau ikut melihat dan mengawasi anak-anak ketika berada di dalam kelas.

Namun yang terjadi kemudian, ada beberapa anak yang tidak bisa ditinggalkan walaupun masa orientasi telah usai. Suara tangisan, rengekan, jeritan hingga akhirnya menghalalkan cara-cara tak sehat seperti membohongi anak, hingga menyuapnya dengan hadiah-hadiah. Akhirnya sekolah malah memperkenalkan anak pada sesuatu yang tidak baik atau bersifat negatif, yang sayangnya dibantu oleh orangtuanya sendiri.

Itu belum selesai. Bagaimana ketika anak ternyata belum lepas dari diapersnya atau dotnya? Atau malah masih sangat tergantung pada Ayah Bundanya. Ini yang kadang-kadang luput dari perhatian orangtua.

Setiap anak memiliki kesiapan mental yang berbeda. Si A sudah bisa melewati toilet training pada umur 9 bulan tapi si B berumur 3 tahun bahkan masih belum bisa membedakan mana BAB (buang air besar) dan BAK (buang air kecil) karena selalu dipakaikan diaper.

Yang menjadi pengamatan saya akhirnya adalah masalah toilet training dan kebiasaan nge-dot itu justru menjadi alasan utama para orangtua memasukkan anak-anak mereka ke PAUD/PG/TK, karena mereka mengira sekolah akan membantu anak-anak mereka cara latihan ke toilet dan melepaskan dari kebiasaan nge-dot. Padahal ini bisa-bisa mendatangkan masalah baru yaitu trauma dan tentu saja akhirnya mengubah fungsi pembimbing atau guru anak, menjadi para pengasuh dadakan karena harus bolak-balik mengurus si ‘bayi’ besar yang tidak siap.

Beberapa anak menunjukkan ciri-ciri ketidaksiapan itu dengan gangguan kesehatan seperti muntah-muntah, mengeluh sakit perut hingga nafsu makan yang berkurang. Ada juga yang mengalami perubahan sikap seperti semakin nakal dan suka sekali sekali ‘membully’ teman-teman barunya. Atau munculnya kebiasaan yang tidak ada sebelumnya misalnya mengompol, menangis, menjerit dan lain-lain.

Siapkanlah mental si kecil jika memang usianya sudah cukup. Beberapa sekolah swasta baik PAUD/PG/TK banyak yang melakukan pemeriksaan mental terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa siap anak ke sekolah. Jika tidak ada, jangan takut untuk melakukan pemeriksaan mental dengan psikolog. Anda sendiri juga bisa melakukan pemeriksaan kesiapan mental itu dengan bertanya jawab seputar dunia sekolah, misalnya dengan memberitahu apa yang akan dia dapatkan di sekolah dan apa yang tidak dapat ia temukan di sekolah. Lalu tanyakan bagaimana perasaannya kalau ditinggal oleh Mama dan Papa di sekolah dan bimbing dia cara mengatasinya, misalkan berdoa atau meminta bantuan pada guru. Hal yang paling sering muncul dalam anak-anak yang baru masuk sekolah adalah rasa cemas dan takut.

Karena itulah, jangan pernah menakut-nakuti anak dengan sesuatu hal yang kelak akan dominan dalam hidupnya (seperti pada guru, pada makhluk tertentu atau benda tertentu) atau terlalu banyak memberinya sederet larangan. Anak yang sering dilarang atau ditakut-takuti apalagi dibohongi akan menjadi anak yang penakut, mudah cemas dan tidak percaya diri termasuk sulit pergi ke sekolah.

Ajarilah si Kecil cara menghadapi ketakutan dan kecemasannya. Jika terus berlanjut sampai masa orientasi lewat, maka cari penyebabnya (misalkan suara guru yang terlalu galak, takut pada salah satu temannya dll)

Akan lebih baik, jika beberapa minggu sebelum bersekolah kita sudah mengenalkan apa saja yang nanti akan dihadapinya saat bersekolah. Seperti tingkah laku yang baik dalam kelas, bersalaman, mematuhi perintah guru dan mengurus dirinya (sebatas kemampuannya tentu saja). Ini khusus untuk anak-anak yang masuk TK.Untuk PAUD dan PG, biasanya tergantung kebijaksanaan masing-masing lembaga yang menyelenggarakan. Namun ada baiknya memasukkan anak-anak itu tetap memperhitungkan dua aspek di atas yaitu usia dan kesiapan mental anak.

Selain itu, sebagai orangtua kita juga harus mempersiapkan diri menghadapi tingkah anak yang mungkin di luar dugaan.Ingat Ayah Bunda! Jangan halalkan yang haram untuk mengajarkan kebaikan ya… seperti berbohong dan membodohi anak.

Dan terakhir tentu saja, ajarilah anak untuk mampu mengatasi ketakutannya dengan berdoa pada Tuhan sesuai kepercayaannya, bahwa Allah akan menjaganya walaupun kita tak berada di sisinya. Dengan mengajarkan beberapa doa pendek, anak akan memiliki bekal yang cukup untuk memasuki sekolah barunya.

Seberapa pintarpun seorang anak, yang terpenting adalah mengembangkan akhlak dan kepribadiannya. Jika dasar kepribadian itu terbentuk karena trauma dan akhirnya menghasilkan anak-anak yang seperti robot. Tak berakhlak baik meskipun pintar. Maka tak ada salahnya kita mempertimbangkan lagi apakah sudah tepat menyekolahkannya atau tidak. Pendidikan usia dini juga bisa dilakukan di rumah, jika orangtua memiliki waktu yang cukup dan informasi yang dapat dengan mudah didapatkan baik dari bantuan buku pembimbing ataupun informasi melalui berbagai media.

 

*****

 

 

 


TAGS   anak / pendidikan / orangtua / sekolah / dini /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia