Sudah lama ingin sekali mengangkat topik ini, karena selalu jadi perdebatan hangat antara yang pro maupun kontra. Dan saya memilih berdiri di tengah-tengah, karena saya pernah menjadi bagian dari kedua hal tersebut. Pernah bekerja dan hal itu saya lakukan ketika telah berkeluarga.
Sekali lagi, di sini saya tidak akan menghakimi ibu-ibu yang bekerja dan atau memilih usaha di rumah, juga tidak memandang sebelah mata ibu-ibu yang memilih mendedikasikan hidupnya untuk keluarga.
Pengalaman sendiri ketika bekerja, adalah bertemu orang-orang baru, makan berbagai makanan baru, berbicara dan berbagi ilmu dengan banyak orang bahkan saya akhirnya melanglang berbagai daerah dan kota karena bisa melakukan perjalanan gratis. Setiap hari selalu ada tantangan baru yang harus saya hadapi, membuat saya belajar banyak tentang hidup yang sesungguhnya. Pahit dan manis pengalaman yang didapatkan selama bekerja akan membawa efek besar sepanjang hidup.
Namun ketika berkeluarga, dilema pun dimulai. Kalau masih berdua, mungkin takkan masalah dan masih bisa saling pengertian. Tapi ketika anak-anak hadir satu persatu, banyak hal yang semakin sulit dikendalikan. Antara kebutuhan untuk terus beraktualisasi dan tanggung jawab pada perusahaan dengan rasa cinta terhadap keluarga seringkali jadi bertabrakan. Akhirnya bukan malah jadi menyenangkan lagi karena bisa memiliki dua dunia tapi malah terjebak dalam rasa bingung yang panjang.
Dan kemarin salah satu sahabat meminta pendapat saya. “Bun, salahkah saya memilih menjadi wanita karir dan meninggalkan putra-putri saya? Haruskah saya berhenti bekerja?”
Kalau saat ini pekerjaan dan rumah tangga masih bisa berjalan seimbang, seiring dan sejalan, kenapa harus berhenti? Beberapa hal di bawah ini mungkin bisa menjadi faktor yang patut dipertimbangkan untuk mengambil keputusan berhenti atau tidak :
- Putra atau putri mulai menunjukkan ‘protes’ seperti nilai pelajaran yang turun, menunjukkan sifat-sifat yang negatif seperti cengeng, pemarah, dan menjauh dari orangtua.
- Suami yang mulai sering menyindir bahkan memperingatkan secara langsung dan menunjukkan hubungan yang semakin menjauh.
- Serta semakin banyak hal-hal di luar kendali dalam keluarga, membuat sering meninggalkan kantor untuk urusan keluarga.
- Atau anda sendiri mulai tidak betah bekerja lagi dan bosan dengan kehidupan kantor.
- Seringnya berganti pembantu atau tak ada lagi keluarga yang membantu mengerjakan tanggung jawab di rumah.
Tapi kalau semua hal itu tidak ada dan masih terkontrol dengan baik, terutama hubungan dengan suami dan anak berjalan baik maka berhenti bekerja tentu saja bukan pilihan yang tepat.
Jangan pernah mengambil keputusan karena pendapat atau opini orang lain yang bukan anggota keluarga.
Kalaupun akhirnya keputusan berhenti bekerja itu memang datang dari diri sendiri, lakukan dengan yakin dan tegas. Tidak bertindak setengah-setengah dan menyiapkan apa yang ingin dilakukan setelah tidak lagi bekerja. Isi hari-hari yang bakalan kosong itu dengan rencana yang bukan untuk satu atau dua minggu saja, tapi rencanakan untuk seumur hidup. Memecat semua para ‘punggawa’ yang selama ini membantu bahkan termasuk tidak lagi melibatkan orangtua atau keluarga di hari pertama tidak bekerja juga keputusan yang salah. Lakukan semua perpindahan tanggung jawab itu secara perlahan-lahan, apalagi orang-orang yang membantu selama ini mungkin bisa juga membantu mengenalkan kebiasaan-kebiasaan di rumah.
Rencana yang ingin dilakukan jangan berencana untuk membuka usaha, kecuali usaha itu sudah berjalan sebelumnya dan anda berhenti karena ingin lebih berfokus pada hal itu. Membuka usaha baru setelah berhenti bekerja juga memerlukan komitmen yang sama seperti bekerja, bahkan lebih besar. Tiga bulan pertama adalah hal yang sangat berat untuk dilewati karena di masa-masa itu pengeluaran masih lebih besar dari pemasukan. Ini berlaku juga jika memutuskan untuk kuliah.
Siapkanlah rencana yang berhubungan dengan keluarga. Pertama tentu saja selesaikan dulu masalah utama yang menjadi penyebab keputusan berhenti itu diambil. Setelah itu ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah :
- Menyalurkan hobi yang selama ini jarang dilakukan seperti memasak, berkebun, crafting (like me
), atau menulis. - Lebih mendekatkan diri dengan anak-anak dengan mulai mengenal kebiasaan mereka yang lama lalu merencanakan kegiatan yang baru bersama, misalkan menggambar bersama, crafting bersama, memasak bersama. Tak perlu tiap hari, paling tidak sebulan dua atau tiga kali juga sudah bagus.
- ‘Family date’ atau kencan keluarga. Luangkan satu hari khusus untuk anak pertama, untuk anak kedua, atau kencan dengan suami. Jangan lupa! Kencan dengan keluarga lain, seperti bersama adik/kakak atau bersama orangtua. Percayalah! It’s amazing time.
- Kumpul-kumpul dengan teman. Tak selalu negatif loh, tapi di situ kita bisa memperoleh banyak ilmu tambahan juga. Masalah negatif atau tidak tergantung pada pribadi masing-masing. Jadi kalau masih bisa mengambil positifnya, why not? Dan bersikap tegas kalau sudah mengarah ke hal negatif (seperti bergosip) dengan mengingatkan sambil bercanda.
- Melakukan pekerjaan rumah sehari-hari. Karena pendapatan berkurang, tak ada salahnya berhemat dengan mengurangi salah satu item pengeluaran yaitu tenaga pembantu atau tukang kebun. Dan kegiatan inilah yang paling banyak menghabiskan waktu.
Cobalah menikmati hal-hal kecil agar bisa menghargai hal-hal besar
Kalau ingin tetap bekerja, bagaimana?
Maka aturlah waktu dengan baik agar bisa bersikap profesional di kantor dan tetap memenuhi tanggung jawab dengan baik di rumah. Saya banyak loh menerima keluhan dari teman-teman laki-laki yang kesal menghadapi para Ibu yang bekerja tidak profesional dengan secara mendadak pulang ke rumah karena urusan keluarga. Bahkan juga, ada yang datang ke kantor hanya sekedar clock-in absen.
Jika bisa memenuhi kebutuhan keluarga untuk kasih sayang dan cinta, maka lakukanlah dengan baik dan tepat waktu. Aturlah keperluan di rumah sebagai salah satu agenda pekerjaan yang juga harus anda selesaikan karena sebagai Ibu dan seorang istri, ada kewajiban yang harus dilakukan. Kalau perlu susun juga rencana yang sama seperti rencana-rencana pekerjaan seperti kegiatan bersama keluarga atau melakukan sesuatu yang spesial di hari-hari penting keluarga seperti ulang tahun, wedding anniversary, bahkan tanggal pertama kali nge‘date‘ dengan suami.
Kembali pada keputusan anda sendiri. Siapkah meninggalkan pekerjaan dan menjadi seorang ibu rumah tangga? Kalau jawabannya siap, lakukan segera. Jangan segan untuk kembali bekerja jika ternyata keputusan itu salah. Buatlah keputusan ini dengan membicarakannya dengan suami, atau keluarga yang selama ini terlibat mengurus tanggung jawab di rumah namun jangan menyalahkan mereka jika keputusan yang diambil ternyata salah. Seperti ketika pertama kali bekerja, rencanakanlah hidup dengan membuat beberapa pilihan. Kalau berhasil, bagaimana kelanjutannya? Dan kalau gagal, siapkanlah rencana selanjutnya.
Jadi selamat memilih, Para Bunda! Semoga itu pilihan yang menyenangkan, ya!

















info menarik dan bermanfaat. trm ksh
ya kerja kalau demi keluarga
nice share bunda :)jawabannya tergantung hehe
bun, sejak dua tahun lalu, saya memutuskan resign,selain sudah tidak ada tantangan lagi dalam pekerjaan, saya ingin lebih dekat dengan anak saya. Alhamdulillah, sekarang saya merasa jauh lebih nyaman, mengasuh anak dan memulai berwirausaha sendiri untuk mengganti penghasilan saya yang hilang. Saya juga tidak dikejar-kejar waktu untuk berangkat kerja dan pulang kerja hingga larut. anak saya juga dekat dengan saya. Buat saya, keleluasaan bergerak karena waktu yang fleksible adalah sarana agar saya dekat dengan anak saya. Awalnya saya merasa sayang dengan dua gelar pendidikan saya yang seolah hilang sia-sia. Tapi sungguh bun, saya ga bisa bayangkan jika anak saya belajar dari asisten rumah tangga yang terbatas ilmunya, tentu saja pola asuh anak dan cara mengajari anak akan berbeda. Jadi saya gunakan ilmu saya untuk mengajari anak, baik itu pengetahuan, etika dan tata krama, semua itu gak ada kalau kita serahkan ke asisten. Mengenai penghasilan yang hilang, tentu saja sedih, tapi saya bertekad membuka usaha sediri dan alhamdulillah berjalan baik.
Alhamdulillah, memang dilema di awal-awalnya saja. Tapi ketika cinta berkata lebih nyaring, kebahagiaannya justru lebih besar dari saat masih bekerja.
Pelan-pelan saja mbak lae. yang penting semuanya tetap bisa ditangani dengan baik.
@lady’s, iya.. dan bila tidak jeli… siap2x pasangan diambil orang. Tidak ada salahnya wanita bekerja, namun prioritas utama adalah pasangan dan keluarga.
sukses selalu
Inspiratif banget, Bun. Anakku 4, si sulung dah mau SMP, si bungsu baru mau 4 tahun. sudah lama ingin berhenti kerja belum berani juga. Biasalah kendala keuangan belum usai. Tidak sekedar ingin dekat dengan keluarga tapi juga ingin mencari kepuasan batiniah dan lebih banyak bergerak ke bidang sosial. Sekarang lebih serius mau resign, dan dalam tahap menyiapkan bisnis after resign, salah satunya crafting juga yang udah jalan sejak 2 tahun terakhir. Targetnya saat si kecil masuk SD karena dia ini special banget, sayang kalau tidak didampingi dengan maksimal.
Bundaaaa…..
sekitar 7 tahun yg lalu aku dihadapkan pd pilihan yg sulit
memilih tetap bekerja krn karier sdg bagus2nya
atau memilih keluar kerja krn dihadapkan pd kenyataan bahwa aq melahirkan anak yg prematur dgn segudang masalah2 pd pertumbuhan anakku
akhirnya aq memilih pilihan kedua
krn aq gak mau dikemudian hari aku dihadapkan pd penyesalan
alhamdulillah skrg ini disaat melihat pertumbuhan anakku yg amat memuaskan
aku tak pernah menyesal dgn keputusan menjadi ibu rumah tangga
sabar bu Rini, semoga suaminya cepat dapat pekerjaan yang bisa cukup menghidupi keluarga ya…
sependapat. Tapi banyak juga loh ibu2 yg tak merasa ‘cukup’ dihargai kalau hanya mendidik anak2 sendiri
Anak2 membutuhkan kasih sayang ibu bagaimanapun, Ibu sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak kedepannya, jadi ibu2 yang sudah merasa sekolah tinggi jangan takut keluar kerja cari kegiatan dirumah dekat dgn anak2, Lebih baik dididik oleh ibu yang berpendidikan tinggi daripada oleh pembantu yng tidak berpendidikan.
Sebenarnya lelah jadi ibu rumah tangga sekaligus pekerja…apalagi kantor saya +/- 65 km dari Jakarta; tapi gimana lagi..suami pengacara (pengangguran banyak acara)
yang wajib mencari nafkah adalah para suami. kalo istri menghasilkan nafkah juga tidak ada larangan, asal tugas sebagai istri tidak tercecer gak karuan
saya selalu diajarkan tentang prioritas bunda….
nomor 1 adalah Tuhan.
nomor 2 adalah keluarga.
nomor 3 adalah bisnis/pekerjaan.
ketika seorang bunda dihadapkan pada pilihan sulit, sebaiknya dia berpikir tentang prioritas hidupnya. lagipula, banyak usaha/pekerjaan yang bisa dilakukan para bunda tanpa harus “menelantarkan” anak mereka.
wanita emang luar biasa….. salut !!!
Sangat bermanfaat.
Blog ini cukup ramai sekali, penataannya juga cukup bagus ditambah dengan artikel yang bagus pula, sungguh sangat sempurna !!! Salam Kenal !!!
Jangan lupa berkunjung ke blog saya
Terima kasih.
Salam dari : http://palingampuh.blogdetik.com
sama-sama. sukses juga buat TAs cantique
silakan mba, beda pendapat krn mungkin beda pengalaman.
Saya berpendapat seperti itu krn kebanyakan teman melihat dari satu sisi saja dan biasanya bersifat dangkal (tidak mengetahui apa yang terjadi dalam keluarga) kecuali ya teman yang sudah seperti keluarga.
Gak ada salahnya memang mendengarkan opini selain keluarga, terutama jika memiliki pengalaman yang sama meski tetap mempertimbangkan pendapat anggota keluarga yang mengalami imbas dari keputusan tsb.
makacie bunda
info bunda bisa menjadi masukan yang berarti bagi para bunda seperti aku..yang selalu dilema setiap kali berganti-ganti pengasuh…
ya bunda, keluarga harus yg paling utama
setuju
setuju keluarga prioritas utama
KERJA..KERJA..KERJA..Bagi anda yang ingin membeli mukena anak-anak cantik dan elegan silahkan klik MUKENA CANTIK DAN BAGUS
Jaman sekarang “mama” gak kerja? meninggalkan kerja? berhenti kerja? waduh …ingat”kartini” ya bu..
aku yang kurang sependapat : “Jangan pernah mengambil keputusan karena pendapat atau opini orang lain yang bukan anggota keluarga.”…. karena kadang ada opini atau pendapat teman yang bukan keluarga juga sangat bermanfaat sebagai dasar untuk mengambil keputusan…
dilema sangat bun….:(
need help
sore bun
ini yg saya alami saat ini
dilema sangat bun
hhemmmm
makasih artikelnya ya
sukses buat rumah bunda
Bagus sekali Artikelnya,…
Bunda selalu menulis artikel yang bermanfaat. Fakta sebenarnya ttg kematian 7 Jenderal Revolusi ditutup rapat-rapat oleh penguasa orde baru. Untuk mengetahui fakta sebenarnya silahkan klik SEJARAH YANG TERSEMBUNYI Semoga bermanfaat
artikel yang bisa dijadikan sebagai perimbangan.. sngat bermanfaat
artikel yang bisa dijadikan pertimbangan bagi wanita karir yang dilanda kebingunan
terkadang memang sering bingung,,kalau tidak kerja merasa ilmu yang kita dapat saat sekolah tidak berarti bunda,,,
terima kasih sudah berbagi pengalaman, sukses selalu
Makasih Mbaknya
Nice posting Bunda
hal ini memang menjadi dilema bagi para bunda yang bekerja.
artikel ini sangat bermanfaat sekali
info menarik dan bermanfaat. trm ksh