Catatan Bunda Iin

Menghitung Nikmat

13 Jun 2012 - 10:11 WIB

“Habis ini apalagi yah?” itu pertanyaan saya setengah kelelahan setelah serangkaian pemeriksaan yang harus saya lewati. Saya benar-benar kehabisan tenaga karena menunggu berjam-jam, disuntik berkali-kali karena perawat sulit menemukan aliran yang tepat hingga berbagai peralatan yang diujikan di tubuh saya untuk memastikan saya siap menjalani operasi. Jangan tanya berapa lebam di kedua tangan akibat suntikan berkali-kali itu, karena saya sendiri sudah kebal oleh rasa sakitnya.

Saya lelah, karena kesekian kalinya Allah menurunkan penyakit lagi untuk saya. Ya Allah…. belum cukupkah perubahanku? Belum mampukah Kau memaafkan kesalahan-kesalahanku di masa lalu? Dan akhirnya muncul pertanyaan itu… Habis ini apalagi yang harus saya lewati? Berapa banyak lagi operasi yang harus saya jalani? Berapa banyak ujian lagi yang harus saya tempuh?

Sampai di malam setelah operasi saya selesai. Seorang Ibu, dirawat di kamar yang sama dengan saya. Ibu Rohani namanya. Seorang Ibu yang tak lagi muda, tapi begitu gigih berjuang. Ia mengalami pecah ketuban di usia kehamilan yang baru memasuki bulan ke-enam. Karena infeksi yang sudah menjalar, maka satu-satunya jalan adalah melahirkan si jabang bayi. Ibu itupun diinduksi. Di saat bersamaan saya baru mendapatkan kesadaran penuh setelah dioperasi sepanjang pagi hingga siang menjelang.

Rasa sakit, membuat si Ibu mengerang sepanjang malam hingga pagi. Saya benar-benar tak tega mendengarnya hingga lupa rasa sakit di perut sendiri. Erangannya sungguh mengiris hati karena berkali-kali memanggil memohon bantuan sang Ilahi dan tak ada satupun familinya menunggui karena di RS Islam hanya wanita yang diizinkan menunggu. Saya meminta adik yang menunggui untuk menanyakan apa yang harus dilakukan, tapi karena adik berpengalaman diinduksi maka dia bilang lebih baik kami diam saja. Ibu itu memang sesekali diam, dan tertidur ketika rasa sakitnya hilang tapi kemudian saat kembali lagi rintihannya benar-benar membuat saya bahkan menitikkan airmata.

Sepanjang malam, saya seakan diingatkan. Allah memberi saya banyak kenikmatan diantara semua sakit. Setidaknya anak-anak saya terlahir sehat dan sempurna, setidaknya saya tak pernah mengalami sakit seperti itu, setidaknya saya selalu ditemani orang-orang yang mencintai saya, setidaknya saya merasakan nikmat menggendong bayi setelah sakit luar biasa. Sungguh, malam itu semua terasa diputar ulang dan mengingatkan Allah itu benar-benar Maha Pemberi Nikmat dan sayangnya saya lupa menghitungnya, malah menghitung kesulitan yang saya dapatkan.

Pagi hari, ketika keadaan saya jauh lebih baik. Saya memperoleh berita dari keluarga si Ibu, bahwa mereka kehilangan si jabang bayi. Padahal usia si Ibu tak lagi muda, sekitar 42 tahun dan baru pertama kali mengandung. Saya bahkan tak bisa membayangkan jika kehilangan harapan setelah lima bulan memangku mimpi yang indah. Karena membayangkan perasaan sendiri, hari itu saya melarang anak-anak menengok saya lama-lama. Dengan alasan ulangan dan kondisi abang yang kurang sehat, saya meminta anak-anak segera pulang. Saya tak mau mengingatkan si Ibu kalau ia melihat putra-putri dan keponakan saya yang super ribut kalau datang.

Karena kondisi fisik saya juga sempat drop (tensi turun hingga 80/60), saya lebih banyak tidur sepanjang hari minggu setelah operasi. Suami yang menggantikan adik di siang hari juga kelelahan, hingga kami sama-sama tertidur hingga tak menyadari ketika ibu itu masuk setelah selesai persalinan dan telah dikuret.

Malam hari, ketika saya akhirnya… bisa makan dan minum juga duduk bahkan berjalan, saya membuka pelan-pelan tirai pemisah ruang untuk membuat si Ibu tak merasa sendirian. Ibu itu sedang melamun sendirian, dengan berzikir sayup-sayup. Ia tersenyum dan menyapa saya lebih dulu. Dan kata-kata pertamanya. “Maaf ya mba kalau kemarin malam saya sudah mengganggu istirahatnya. Saya benar-benar tidak bisa tidak mengerang karena sakitnya benar-benar… ” dan dia terdiam. Mimiknya sedih sekali.

Saya benar-benar tersentuh. Ya Allah, bukannya menceritakan penderitaan yang baru saja dialaminya, ia malah meminta maaf untuk sesuatu yang harusnya pasti saya pahami.

Kami mulai saling bertukar cerita, bertukar pengalaman, saya juga meminta maaf karena tak tahu harus berbuat apa semalam ketika ia merintih kesakitan. Dan ketika ia mencurahkan isi hatinya, saya lebih banyak terdiam dan merenung. Dia bilang kehilangan bayinya bukanlah penderitaan, itu adalah ladang keimanannya. Allah mungkin tak memberinya kesempatan padanya berladang iman sebagai seorang Ibu, tapi dengan memberinya kesempatan memberi rasa sakit karena melahirkan, meniupkan nyawa pada bayi itu walaupun hanya beberapa menit, sudah memberikan banyak pelajaran betapa luasnya ladang iman yang disediakan Allah untuknya. Dia tersenyum bahagia membayangkan betapa beruntungnya ia nanti karena kelak almarhumah putrinya menjadi bidadari kecil yang menolongnya melewati shirothul mustaqim.

Terus terang saya sedikit manja kalau sedang sakit, tapi melihat kesakitan Ibu itu seakan membuka mata saya bahwa penderitaan saya seakan tak ada apa-apanya dibandingkan kesakitannya. Saya juga berhasil memaksa diri bangun untuk sholat sambil berdiri karena merasa bodoh memanjakan diri untuk sesuatu yang tak ada bandingannya dengan rasa sakit yang sesungguhnya. Rasa sakit karena kehilangan. Di antara rasa sakit, saya justru diberi nikmat yang besar. Saya memiliki keluarga, yang diantara semua kesibukan mereka segera menengok dan bergantian menjaga. Bahkan adik iparpun yang hampir berangkat ke luar negeri untuk bekerja, menyempatkan diri menjenguk saya dulu. Seluruh keluarga yang menyebar berkumpul di ruang rawat saya, halaman facebook penuh dengan ucapan doa dari sahabat dan kawan, dan telepon genggam penuh dengan doa keselamatan agar saya cepat sehat lagi. Saya benar-benar kaya, sangat kaya dibandingkan Ibu yang hanya memiliki satu harapan yang itupun direnggut darinya.

Dan subuh tanggal 11 Juni 2012, saya bersujud, menangis karena bahagia. Berterimakasih karena hanya diberi penyakit. Mungkin ini cara Allah meringankan beban dosa-dosa saya, mungkin inilah ladang iman saya yang sesungguhnya, belajar tentang penderitaan dan tidak melupakan kenikmatan yang selama ini diberikan untuk saya. Seharusnya saya bersyukur, terus bersyukur karena penyakit ini justru membuat saya tahu betapa berartinya hidup saya. Saat menonton DVD operasi saya, saya berkali-kali mengucap syukur karena lahir di zaman canggih hingga bisa memiliki harapan hidup yang lebih tinggi. Saya sekarang adalah saya yang dulu, namun sekali lagi belajar tentang arti hidup lebih baik. Saya ingin terus menghitung nikmat, berbagi nikmat dan berbuat lebih baik.

Kematian adalah rahasia Allah, singkat, cepat atau lambat bukanlah hal penting. Tapi bagaimana membuat agar apa yang kita jalani, adalah berguna untuk orang lain…..

 

&&&&&&

 

 

 


TAGS   inspirasi / rumah sakit / mati / sakit /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia