Semalam saya membaca artikel di yahoo.com tentang riset bayi yang dilahirkan secara caesar. Sebenarnya tak penting lagi isi artikelnya karena menurut saya hasil riset itu sama sekali bukan penelitian untuk semua bayi di seluruh dunia, hanya beberapa persen dari jumlah keseluruhan bayi yang dilahirkan caesar.
Tapi yang paling menarik justru komentar-komentar di bawahnya. Saya akhirnya terpancing untuk menuliskan beberapa pengetahuan mengenai C-Section atau operasi Caesar meskipun hanya sebatas pengalaman pribadi.
Ada seorang laki-laki, entah dia seorang Ayah atau hanya anak-anak yang hanya mendengar cerita tentang C-Section tapi dengan seenaknya menghakimi bahwa para ibu yang melahirkan dengan C-Section adalah perempuan yang hanya memikirkan diri sendiri, takut vagina melar, takut sakit bahkan hanya karena ingin membuktikan status ekonominya.Sedangkan seorang wanita yang mengatasnamakan hadist dan ayat suci Al Qur’an mengungkapkan bahwa hanya ibu yang melahirkan normal yang dihitung sebagai perjuangan jihad fi sabilillah.
Saya tak tahu apakah mereka sudah pernah melihat, mengetahui atau paling tidak mendengar cerita dari si ibu yang pernah merasakan C-Section. Tapi karena tak banyak informasi mengenai operasi caesar, saya pun tertarik menjelaskan apa yang saya pernah alami secara awam saja.
Operasi pertama berlangsung sekitar tahu 2001 saat saya melahirkan putri pertama saya. Tak ada rencana sama sekali, saya bahkan sangat rajin mengikuti senam hamil karena ingin sekali melahirkan normal. Tak ada keluhan apapun yang berarti selain keluhan-keluhan normal selayaknya orang hamil seperti morning sickness, mudah lelah, gampang lupa, dan lain-lain. Bahkan hingga masuk bulan ke-9, saya masih bisa bekerja dan naik kendaraan umum dari Kemayoran hingga Green Garden Jakbar. Saya pergi pukul 06 pagi dan pulang pukul 8 malam tiap hari, tak pernah sekalipun saya absen karena alasan kehamilan. Intinya selama kehamilan, saya dan jabang bayi sangat sehat. Saya sangat menikmati kehamilan kedua saya, setelah keguguran dan baru bisa hamil lagi setelah empat tahun. Baru setelah bulan ke-10, dokter menyadari sesuatu yang salah telah terjadi. Posisi bayi tidak turun-turun ke jalan lahir, padahal sudah melewati waktu melahirkan dan posisinya tidak sungsang. Ketika itu, saya dan suami sempat memikirkan induksi agar tetap melahirkan normal, tapi saat dokter menemukan fakta bahwa saya mengidap asma, ia langsung membatalkannya.
Berdasarkan pertimbangan berbagai hal, akhirnya diputuskan saya harus di caesar. Saat itu saya ketakutan, menangis dan tak bisa tidur saat melihat jadwal operasi yang semakin dekat. Suami, Mama dan Ibu Mertua saya membujuk saya agar berani. Mama bahkan sepanjang malam sibuk memberi saya jutaan alasan untuk berani melahirkan secara caesar. Singkat kata, meskipun sangat sangat takut saya pun memaksakan diri untuk melakukannya.
Saat operasi, di tengah-tengah operasi ketika putri saya telah berhasil dikeluarkan, Dokter menemukan banyak fakta menakutkan. Putri saya ternyata terlilit tali pusarnya sebanyak tiga lilitan di leher dan pundak sehingga posisinya menggantung. Dan yang lebih menakutkan, ada tumor sebesar telur angsa yang menemani bayi saya di dalam rahim. Dokter anestesi langsung membuat saya kehilangan kesadaran sepenuhnya dan waktu operasi menjadi lebih panjang. Itu belum seberapa, karena obat-obatan seluruh tubuh saya menjadi memerah dan wajah saya membengkak. Saya mulai dioperasi pukul 13.00 dan operasi selesai saat magrib menjelang, namun baru sadar setelah pagi menjelang di ruang ICCU. Saya juga tak bisa langsung menyusui putri saya setelah sadar, karena saat itu hb saya sempat menurun hingga dokter memutuskan lebih memusatkan perhatian hingga kondisi saya benar-benar stabil. Akibatnya putri saya sempat kuning.
Operasi kedua juga tidak direncanakan, meskipun Reza terlahir sehari setelah ulangtahun kakaknya yang ke-3. Saat itu saya ditangani dua dokter, karena pengalaman menakutkan yang pertama. Saya diyakini bahwa setelah tiga tahun, saya bisa melahirkan normal dan kehamilan saya sangat normal. Bahkan kedua dokter membolehkan saya keluar kota. Namun, yang terjadi di luar dugaan, saya mengalami blooding di hari kedua lebaran, sehari setelah lelah karena sibuk menyiapkan ulangtahun kakak. Padahal saat itu baru masuk 8 bulan lebih dan kami sedang berkunjung ke kampung mertua saya yang rumah sakitnya lumayan jauh. Pendarahan di ruang perawatan, dibarengi pembukaan 2. Saya meminta sang Bidan dan Dokter mau bersabar karena saya sangat ingin melahirkan normal. Tapi pagi itu, ketika pemeriksaan darah keluar hasilnya buruk. Saya tak tahu apa, karena saat itu saya sudah kehilangan kesadaran. Berdasarkan cerita dari suami, dokter memintanya mencari donor darah tambahan karena golongan darah saya ternyata tak ada stok dan agak sulit dicari. Dan sayapun kembali digiring ke ruang operasi. Meski hanya sekitar dua jam, tetap saja saya tidak sadarkan diri.
Dua pengalaman itu membuat saya kapok melahirkan secara caesar. Apalagi setelah melahirkan, saya sangat sering merasa ngilu di bagian perut yang dioperasi kalau mengangkat barang yang lumayan berat, atau menggendong anak saya terlalu lama. Ketika keluhan ini saya sampaikan, dokter baru menjelaskan bahwa kekuatan otot perut saya ikut berkurang karena proses kelahiran caesar. Itu pula yang menyebabkan saya akhirnya berhenti kerja secara total karena tak tahan mengangkat beban atau duduk terlalu lama, rasa ngilu itu jadi menyakitkan.
Maka ketika saya dinyatakan hamil putri ketiga empat tahun setelah abang, saya memaksa suami untuk membiarkan saya merasakan satu kali saja melahirkan secara normal. Suami tak bisa menjanjikan apapun, karena saat itu untuk pertama kalinya dia melihat saya mengalami kehamilan yang sulit. Selama lima bulan saya tak bisa makan nasi dan selalu muntah-muntah dengan hebat, hingga dirawat di rumah sakit dua kali. Saya tak pernah keluar rumah sendirian atau lebih dari dua jam, karena sering sekali pusing. Inilah kehamilan terberat yang pernah saya jalani. Membandingkan tiga kehamilan sebelumnya, saya jadi bingung sendiri. Padahal saya ingin sekali melahirkan anak yang sehat dengan kondisi yang sehat. Sebelumnya saya hamil selalu tetap bisa lincah dan bekerja bagai kijang. Itulah sebabnya melihat saya begitu lemah, suami saya sempat ragu apakah saya mampu melahirkan normal.
Yang menyebabkan saya akhirnya kembali dioperasi karena saya tak tahu kalau air ketuban sudah merembes selama empat hari dan saat saya datang ke rumah sakit, rahim saya nyaris kering. Dalam waktu lima belas menit, dokter langsung memutuskan untuk operasi. Sempat terjadi perdebatan kecil antara suami dan dokter karena dokter ingin mengangkat rahim saya sekalian agar saya tidak mengandung lagi. Resiko kematian adalah yang terburuk kalau saya hamil lagi. Suami saya sibuk mencari tahu dan mengingat kembali hadits-hadits dan surah Al Qur’an apakah dibolehkan melakukan sterilisasi dalam hukum Islam. Akhirnya disepakati kalau rahim saya hanya “diikat” dan suami saya diberitahu oleh seorang Kyainya bahwa mencegah kelahiran demi menyelamatkan jiwa itu dibolehkan, tapi membuang sesuatu yang tidak rusak atau cacat dari tubuh itu hukumnya masih meragukan karena perbedaan pandangan (jadi bertanya-tanya, kalau sedot lemak itu halal gak ya?). Karena rahim saya sebenarnya baik-baik saja, maka keputusan untuk mengikat jalan lahir adalah keputusan bersama antara suami, dokter dan Kyai pembimbingnya.
Baru inilah saya merasakan kesadaran full sepanjang operasi. Airmata saya tak berhenti mengalir dari awal hingga akhir, saya bahkan tak bisa bicara ketika inisiasi dini dilangsungkan karena perasaan terharu luar biasa. Dokter sekaligus sahabat saya menyanyikan lagu ulang tahun untuk saya, dibarengi hujan doa dan zikir yang begitu luar biasa. Pengalaman ini benar-benar pantas menutup semua rasa sakit dan keinginan untuk melahirkan normal.
Jadi sungguh tuduhan-tuduhan keji karena pilihan C-Section itu sama sekali tak ada dalam pikiran saya. Saya bahkan sering merasa iri melihat adik perempuan dan ipar perempuan saya yang bisa melahirkan normal, karena setengah jam setelah melahirkan sudah bisa duduk dan bercanda dengan suami-suami mereka dengan bahagia. Sementara setiap kali saya melahirkan, suami saya selalu panik dan bahkan berdasarkan cerita keluarga, ia selalu diam-diam meneteskan airmata.
Melahirkan apapun caranya, menurut saya tak ada yang mudah. Semuanya tetap saja ada rasa sakit yang mengiringinya. Saya juga tak tahu apakah melahirkan caesar itu tergolong syahid atau tidak, karena dalam pikiran saya setiap kali hamil dan melahirkan hanyalah bagaimana bisa melahirkan anak dengan sehat, sempurna dan tak kurang sesuatu apapun. Saya samasekali tak berharap balasan apapun untuk semua itu. Lagi pula sampai sekarang, saya belum menemukan aturan dalam hukum Islam yang mengharamkan operasi caesar atau mengatakan bahwa hanya melahirkan normal yang tergolong jihad fi sabillillah. Jelas-jelas setiap ayat di Al Qur’an tentang ibu selalu mengatakan “ibu” bukan “ibu yang melahirkan dengan cara normal”. Tolong kalau ada yang lebih tahu, mungkin bisa mengajari saya soal itu. Meskipun kalau dinyatakan memang bukan, saya tetap tak peduli.
Dengan cara apapun, saya merelakan seluruh jiwa raga saya demi memperjuangkan sebuah jiwa kecil untuk lahir ke dunia. Saya tak peduli pandangan orang-orang berpikiran dangkal soal C-Section, karena saya tetap melahirkan karena Allah. Perjuangan saya itu bukan untuk dipandang orang atau karena ingin mendapatkan gelar syahid. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anak, suami dan keluarga. Saya membuktikan diri sebagai seorang ibu karena bisa merasakan kehamilan dan melahirkan meski dengan cara yang berbeda. Apapun itu bagi saya, tak penting lagi hal-hal yang menyebabkan seseorang memilih C-Section, normal, water birth, atau apapun caranya. Semuanya pasti mempertimbangkan si bayi sebagai pertimbangan utama. Tak mungkin seorang ibu memilih hamil dan melahirkan kalau memikirkan diri sendiri. Dalam setiap kesadaran yang saya peroleh setelah operasi hanya satu pertanyaan saya, “dimana bayiku? bagaimana dia?” dan bukan “apakah saya masih cantik?”
Ketika C-Section dijadikan sebagai pilihan karena alasan kemudahan, itu adalah hak setiap ibu. Sekarang hampir semua Rumah Sakit mengupayakan untuk meminimalisir rasa sakit karena melahirkan dengan berbagai cara seperti water birth bahkan C-Section. Melahirkan dijadikan cara menghadirkan seorang anak dengan kebahagiaan bukan karena trauma, karena faktor yang paling penting adalah perasaan si ibu saat melahirkan, juga kepentingan si anak nantinya. Saya tak tahu apa sebenarnya motivasi orang yang berpendapat bahwa seorang ibu harus melahirkan dengan rasa sakit luar biasa baru dikatakan sebagai seorang ibu. Toh, apapun cara kelahirannya… sekali lagi semuanya tetap terasa sakit. Kalau ada yang melahirkan dengan water birth, lalu bilang tak sakit bukan karena ia tak merasa sakit, tapi karena rasa sakitnya sudah berkurang dibandingkan persalinan biasa.
Saya pernah bertanya, bagaimana mengetahui apakah yang kita lakukan itu diridhoi Allah atau tidak? Jawabannya adalah ketika kita merasakan kebahagiaan dan menghasilkan sesuatu yang baik, maka itulah ridho dari Allah. Dan saya hanya merasakan kebahagiaan tiada tara memiliki tiga orang anak yang sehat, santun dan ketiganya pun mudah diajari beribadah.
Jadi, C-Section pilihan atau keterpaksaan itu bukanlah masalah. Yang penting, bagaimana hamil dan melahirkan anak yang sehat, lalu mendidik mereka menjadi orang-orang yang berguna.
*****
















perjuangan ibu memang sangat subhanallah sekali, melahirkan anak-anak tak perduli lewat operasi maupun normal, semuanya butuh perjuangan antara hidup dan mati.
salam kenal ya kakak, di kakimu ada surga bagi anak-anakmu
jd terharu bgt bc tulisan ini,mlh sy jd berfikir perjuangan ibu sangat berat dibanding sy yg melahirkan 3 org anak secara normal dan lancar2 saja.tulisan ini pasti menginspirasi byk calan ibu….hebat
saya sih cuek aja, mas. Tapi setiap Ibu yang pernah dioperasi pasti merasakan judge unfair itu. Makanya dijelaskan biar mengerti kalau apapun jalannya semua persalinan itu sama-sama beratnya
sama-sama Mas Awan, semoga hadiahnya bermanfaat
Bunda, Hadiahnya sudah saya terima hari ini….
Terima Kasih ya Bunda, Terima kasih Blogdetik, Terima Kasih Melon… semoga semuanya sll jaya dan sukses… Amiiiiin
Bunda, Biarkan saja orang berkata apa. Perjuangan Bunda dan para Ibu manapun terlepas melahirkan normal atau caesar itu tetap tak terbandingkan oleh apapun… #EGP saja Bunda sama orang2 seperti itu….hehehehehe
ass. Setiap kehamilan & kelahiran adalah unik & sudah ditentukan oleh Allah jalan yg harus dilaluinya….Setelah 13 tahun menunggu, Allah ijinkan saya hamil, sehat, lancar, tetap aktif. Memasuki bulan ke 9 dokter sudah memperkirakan hrs caesar krn bayi sama sekali gak turun….Dukungan keluarga & teman…membuat saya mantap memilih operasi…krn lebih safe, tdk terlalu resiko utk buah hati yg sudah 13 tahu dinanti. Alhamdulillah lancar & skrg anak sdh 4 th cerdas & ceria…..So..caesar bukanlah sesuatu yg hrs disesali…
@rahmiaziza,
mudah2an ya mbak… amiiin
@Hidayat, salam kenal juga
@naia djunaedi,
sudah sering juga sy dianggap remeh, tapi baru ini sempatin menulis.
JAngan takut hamil, mbak. Peluang melahirkan normal masih bisa jika diberi jarak 3-4 tahun dari kelahiran sebelumnya
nice story, sangat bermanfaat
@mabokperawan,
aktivitas sy juga sangat tinggi bahkan tergolong berat krn pekerjaan saya saat itu untuk wanita masih bisa dihitung dgn jari (berhubungan dgn trafo pabrik).
Tapi tetap saja tidak ngaruh, instan atau tidak, males atau rajin, kalau terpaksa Caesar ya harus dijalani.
@clau,
dosa, pahala, neraka atau surga, biarkan jadi rahasia Allah SWT.
Kita menjalani saja, dengan niat Lillahi Ta’ala.
sy gak berani sedetil itu menggambarkan krn takut dibaca putri sy yang udah mulai kritis.Tapi yang jelas, perasaan kita pasti sama, hanya mikirin keselamatan bayi.
setuju…
silakan
ijin share ya bunda…..
melahirkan itu anugerah apapun caranya..
Saya melahirkan anak sy 2 tahun yll jg melalui operasi caesar. Itu jg tanpa adanya perencanaan sblmnya. Sungguh di awal sangat ingin melahirkan secara normal. Hanya saja dikarenakan anak saya terlilit tali pusat hampir 3 lilitan,maka mau tidak mau sy harus menerima keputusan utk C-Section..itu jg hanya utk keselamatan anak saya. Jujur saya sgt takut operasi, tp demi keselamatan anak saya, saya berusaha berani..dan ternyata saya bisa..melewati jalannya operasi bukanlah hal yg mudah. Padea waktu operasi mgk qt tidak merasakan sakit dikarenakan pengaruh obat bius, tp stlh pengaruh obat bius itu hilang..kesakitan yg luar biasa jg sy rasakan. Bagaimana tidak, lapisan perut saya disayat-sayat hanya utk membuat jalan keluar utk bayi saya lahir..Setiap orang boleh mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Yg terpenting skrg adalah tidak pandang itu lahiran normal atau C-Section, bagaimana caranya qt sebagai ortu dapat membesarkan, mendidik, mengasuh anak kita dengan baik..
Artikel yang menyentuh….dan itu jg yg tjadi padaku. posisi bayi ok, tidak ada masalah, tapi tiba2 ketuban pecah, bukaan tidak bertambah, denyut jantung bayi makin lemah bahkan sempat hilang…
ketika dokter menyodorkan opsi SC, hanya satu yang terpikirkan…bayi ku dapat lahir dengan selamat..itu saja, tdk ada yang lain.
Yang saya lakukan hanya sekedar membuat orang memahami perasaan perempuan tak beruntung yang tak bisa melahirkan normal.
Berpendapat boleh saja, namun harus bisa bersikap netral dan lebih sehat.
Pendapat yang menyakitkan, menjatuhkan dan membuat orang lain marah justru akan menimbulkan dosa dan mendatangkan mudharat.
mari membudayakan kritik dan pendapat membangun yang lebih sehat.
Betul mba Sandra, saya sendiri baru tahu ada judge-judge tak adil seperti itu ketika anak saya sudah tiga.
Hanya seorang ibu yang tahu perasaan seorang ibu
alhamdulillah mba Rose… apapun jalannya yang penting anaknya sehat dan ibu selamat
sama-sama, mbak Zahro
Hanya ingin berbagi pengalaman agar orang lain memahami beratnya menjalani operasi Caesar
Silakan, semoga berguna
sama-sama, mbak Nana.
Sakitnya memang tak pada saat dibius, tapi setelahnya…. ya sama saja..
kata anak sya. nama kita pasaran, mbak
Apapun untuk anak, rasanya tak ada cukup untuk menunjukkan.
Love this article, so touching….Btw..nama kita kok sama ya bun?..pengalamannya pun ga jauh beda. Saya sangat menikmati kehamilan pertama. Kondisi fit, rajin senam hamil, mempersiapkan fisik & mental spy bisa menghadapi persalinan normal. Tpi setelah mendekati detik-detik kelahiran, dokter mengatakan klo ketuban dah tinggal dikit dan harus operasi. Ga ada jalan lain. Dan setelah operasi, dokter mengatakan klo sebagian air ketuban tertelan bayi.
Luka operasi itu msh membekas, tpi saya ga peduli apakah suatu saat akan hilang ato enggak. Karena buat saya luka itu akan selalu remind saya akan pengalaman yg tidak ternilai.
huaaaaaa…aq nangis bacanya…padahal caesar sakit juga luar biasa..toh kalau memang dokter menyarankan caesar itu untuk kepentingan ibu n anak nya juga sperti aku yang melahirkan anak kembar..salah satunya sungsang…btw tq ya mbaaaaa senasib dweeeh…
ijin mengutip ya bunda.
speechless….makasih sharingnya….pengalaman saya sama mbak….
subhanallah, nangis bc artikel ini. krn sayapun mengalami hal yg sama. C-Section….
Saya terpaksa operasi caesar dikarenakan bayinya sungsang, bisa normal tp dikuatirkan leher/pundaknya kesangkut di jalan lahir krn ini adalah anak pertama & pinggulnya masih sempit. Pertama kali dengar dari dokter & hrs operasi, sepanjang malam nangis terus. Alhamdulillah skrg anak saya sehat, sangat aktif & cerdas.
Terharu dan menangis membaca artikel ini. Bulan desember kmaaren saya jg br melahirkan anak pertama saya, dgn prooses caesar. Dr awal saya pengen normal, namun ketika ketuban saya pecah, dan warnanya sudah hijau, yg terpikirkan dlm otak saya hanya caesar.terserah org mau nge-judge apa, yg pasti saya tdk mau melahirkan normal jika saya tdk yakin dgn kemampuan saya sndiri. Yg terpenting bagi saya adalah bayi saya sehat dan selamat. Saya bahkan sudah tdk memikirkan lg nasib saya dlm “operasi” pertama saya, apalagi mslh pahala jihad. Perasaan menjadi seorg ibu itu sudah lebih dr cukup uttk saya.
Saya menitikkan air mata Bu..
Thx sudah berbagi pengalaman..
Semoga semua bisa lebih bijak dlm berpendapat..
Melahirkan adalah proses khusus utk memunculkan nyawa baru yang telah dianugerahkan Tuhan.. Apa pun caranya, proses menghadirkan nyawa baru ini memiliki resiko besar berupa kehilangan nyawa..
saya pernah merasakan semuanya, normal, induksi, cesar, keguguran..semuanya sakiiiit………artikel di atas benar, apa pun caranya, yg pentingnya niatnya benar, dan anak kita sehat…semuanya jihad fisabilillah…
ada dua ibu muda tetangga saya, melahirkan pada hari yang sama namun yg satu operasi caesar yang satu normal, bukan masalah vagina melar atau tidak pada ibu-ibu tersebut, tapi kebiasaan sehari-hari ketika hamil, yang satu rajin kerja/aktivitas tubuh yang satu malas.
intinya perilaku keseharian yg cenderung instan..
operasi Caesar bukan karena agar miss V rapet..smata
saya operasi caesar setelah perjuangan panjang agar bs lahir normal, saya udah 10 bulan lebih 1 mingguan dan dikaish batas waktu yang memang usia kehamilan batasnya hanya 42 minggu, saya udah mau melewati batas kehamilan tersebut, padahal saya udah senam hamil mulai usia 7 bulan, senam pernafasan, jalan pagi 1 jam, sore 1 jam keliling komplek, saya rajin mengkonsumsi bahkan setiap hari saya konsumsi minimal 3 buah2an dan 2 jenis sayuran, sampai bayi saya mengalami pengapuran plasenta yg semakin lama semakin menebal yg tandanya pasokan nutrisi, oksigen dan darah ke bayi berkurang bahkan gerakan nya pun semakin lama semakin dkit, saya sekali lagi mempertahankan ingin normal tidak mau caesar, tp apa mau dikata drpd ada apa2 dgn bayi saya, yg saat itu saya blm ada tanda2 sama sekali utk melahirkan, tidak ada kontraksi, saya udha melakukan sedemikian rupa bentuk induksi alami krn saya menolak utk di induksi krn tau itu bahaya. akhirnya menyerah di operasi yg saya hanya bisa pasrah pada yg Maha Kuasa, caesar atau normal sama2 perjuangan berat menjadi ibu, apalagi setelah operasi yang rasanya berjuta2 krn saya langsung menyusui dan begadang setelah bius hilang sampai saya pun mau pingsan, ya jadi jangan memandang sebelah mata orang yg caesar tanpa tau penyebab nya apa
setuju mbak…..
Saya juga merasakan bagaimana pandangan orang yg cenderung merendahkan hanya karena saya melahirkan secara caesar, padahal saya sangat ingin melahirkan secara normal. Bisa dibilang sampe saat ini saya masih takut hamil lagi karena takut harus di caesar lagi.
jaman sekarang, sedikit ibu yang bisa melahirkan normal.
ada yang karena keadaan, ada pula yang karena dokternya nggak mau nunggu lama-lama, operasi solusi cepat dan menghasilkan profit lebih banyak ketimbang kelahiran normal.
Caesar biasanya dilakukan kalau kondisi si ibu tidak memungkinkan melahirkan secara normal, itu yang seharusnya dilakukan. Salam kenal bun. Bagi anda yang mempunyai keluhan sakit jantung, stroke, diabetes, kolesterol jahat, tekanan darah tinggi, dll. Silahkan klik HIDUP SEHAT DENGAN JAMUR LING ZHI Semoga bermanfaat
anak saya juga lahir caesar mbak, karena udah lebih HPL ngga masuk ke jalan lahir, pdhl sy sgt ingin normal, mudah2an adiknya nanti bisa dilahirkan scr normal, amiin
I burst into tears when i read this article. It’s beautiful and meaningful article, Thank you for sharing it with us. Fyi, i had normal delivery in January 2012 and it was between life and death. Jadi untuk calon ibu di luar sana…apapun cara melahirkan kalian, yang terpenting adalah Ibu yang sehat, melahirkan anak dengan sehat dan mendidik mereka menjadi anak yang berguna (saya kutip ya mbak :))
Setuju Mba…apapun caranya, normal ataukan caesar, insya Allah mendapatkan pahala yg luar biasa di sisi Allah. Jadi semakin PD nih sebagai Ibu yg pernah melahirkan caesar..:-)
artikel yang menarik dan bermanfaat.. salam sukses
Saya br melahirkan anak ketiga 3 hari yg lalu. Semua kelahiran anak2 saya normal.. Namun tulisan anda indah sekali, saya yakin pengorbanan itulah yang membuat surga berada dibawah telapak kaki ibu. Semua manusia mempunyai jalannya masing2, semangat yaa..
benar ya mbak..kita ga bisa menghakimi orang lain, karena kita ga pernah tahu apa keadaannya yang membuat dia memutuskan untuk caesar..
banyak kasus, teman2 yang berjuang melahirkan normal, tetapi tidak berhasil dan terpaksa harus caesar. saya setuju nich sama tulisan Mbak..
I Like this article.. speechless..
ya yang terpenting adalah ibu & Bayinya dalam keadaan sehat
terima kasih udab berbagai pengalamannya mbak