Catatan Bunda Iin

Kematian Takkan Bisa Merampas Cinta

15 May 2012 - 07:56 WIB

 

t0.gstatic.com

t0.gstatic.com

Tak ada jawaban ketika aku mengetuk pintu kamar Fani, meski sudah berulang kali dan hampir membuat buku-buku jariku sakit semua. Aku menyerah, tapi tatapan mata memohon Tante Siska mengurungkan niatku. Aku kembali mengetuknya.

“Siapa sih? Berisik! Kalau mau masuk, ya masuk saja!” Akhirnya terdengar juga jawabannya. Dengan senyum lebar, aku membuka pintu kamar sepupuku itu.

Astaghfirullah al adzim!! Ini kamar apa kapal pecah? Aku terperangah menatap seantero kamar. Pantas saja Tante Siska panik tadi saat meneleponku, pantas saja kalau melihat perubahan 180 derajat kamar Fani seperti itu aku bisa memahami apa yang dikuatirkan Tante. Pakaian, buku, gelas bekas minuman, cd dan berbagai barang berserakan di lantai kamar, belum lagi tempat tidur yang berantakan. Benar-benar mirip kapal pecah. Mana kamar ini juga gelap dan ehem… bau.

Kupindahkan baju kaos putih lusuh ke pinggir agar bisa berdiri dengan baik di dekat televisi. Kucari sepupuku itu. Ternyata dia sedang duduk melamun di balkon kamarnya. Sambil menyingkirkan beberapa benda yang menghalangi langkahku, akhirnya aku sampai juga di balkon.

“Gila, baru kali ini aku melewati kamarmu kayak lagi mendaki gunung aja! Berantakan amat sih neng!” keluhku sambil menghempaskan tubuh ke kursi lain yang kosong di dekat Fani.

Fani tak menjawab, dia bahkan tak menoleh. Aaah, bingung juga memikirkan apa yang harus kukatakan padanya. Akupun mengeluarkan sebatang rokok dari kantong baju. Sudah hampir patah. Sejak “dipaksa” Papa berhenti merokok, aku memang hanya menyimpan satu batang di kantong. Bukan untuk merokok, tapi sekedar memegang sampai aku bisa benar-benar berhenti nanti. Aku perlu batang rokok itu sebagai cara agar bisa berpikir. Rokok itu kupilin-pilin di jemariku, menyibukkan tangan dan mencari bahan pembicaraan.

“Entah berapa kali aku mau lompat dari balkon ini, Li! Tapi selalu tidaak jadi,” kata-kata Fani meluncur tanpa kusangka. Kaget. Tapi aku berusaha tetap santai, meski batang rokok itu semakin cepat bermain di tanganku.

“Terus kenapa tidak jadi?” tanyaku. Aaah, sekarang aku menyesal. Dasar bego! Kenapa aku bicara begitu? Bagaimana kalau dia berpikir aku menyuruhnya melakukan itu? Wah, aku bisa dibunuh sama Tante Siska.

Fani melirikku lalu tersenyum, “Begini-begini aku takut dosa juga, Li! Lagian kasihan Mama kalau tinggal sendiri. Aku tak tega ninggalin Mama sendiri.”

Dengan gaya sok benar, aku mengangguk-angguk. “Baguslah, aku kira kamu sudah kehilangan otakmu yang cerdas itu. Trus kenapa kamu begini terus? Mamamu tuh, dia bingung menghadapimu.”

Mata Fani tampak kosong dan menerawang jauh.”Aku juga bingung harus bagaimana. Aku hidup tapi jiwaku mati. Mati bersama Papa, Li. Benar-benar sudah mati!”

Aku terdiam.

“Bagaimana aku mau kerja? Tiap kali pakai baju kerja, aku ingat tiap pagi Papalah yang mengantarkanku kerja. Sepanjang jalan kami selalu bicara tentang banyak hal. Tiada hari tanpa ingat kalau tiap makan siang, Papa selalu menelponku sekedar mengingatkan. Aku mau nonton tipi, tapi yang kuingat hanyalah saat aku nonton pertandingan bola kesukaan kami. Makan kacang dan minum sirup sampai diomelin Mama karena begadang tengah malam dan berisik tiap kali gol. Mau dengerin musik, aku malah ingat Papa yang suka banget sama lagu-lagu dangdut. Mau sholat, aku ingat kalau dulu setiap malam Papalah imamku selama ini. Bahkan melihat nasi saja, aku ingat nasi goreng buatan Papa. Semuanya Papa, Papa, Papa. Bagaimana aku bisa hidup lagi, Li? Aku tak bisa melupakan bayangan Papa. Sampai hari ini pun aku masih belum bisa nerima ini.”

Airmata Fani mengalir lagi. Aku masih membisu. Benar-benar kehilangan kata-kata yang tadi kusiapkan. Kesedihan Fani memang wajar. Sebagai putri tunggal, ia sangat dekat dengan Papanya. Sayangnya, beberapa waktu lalu serangan jantung merenggut nyawa sang Papa. Kepergiannya sudah satu bulan, tapi Fani masih menangisinya hingga saat ini. Ia mengalami depresi. Depresi yang mulai menakuti Mamanya dan sekarang juga aku. Fani benar-benar berubah. Kami tak pernah lagi melihat senyum di bibirnya, apalagi candanya yang dulu selalu membuat rumah ini ramai. Rumah ini seakan ikut redup bersama kematian Papa Fani.

“Sakit rasanya Papa dirampas seperti ini, benar-benar tak adil buatku. Tiap malem aku selalu berharap langit terbelah dan Papa turun dari surga dan bilang kalau dia hanya bercanda. Aku tak bisa melupakan kejadian hari itu, Li. Aku ingat bagaimana senyum lebar Papa tiba-tiba langsung berganti jadi kesakitan. Semuanya dirampas dariku dalam hitungan detik. Aku tak bisa, aku benar-benar tak bisa melupakan Papa. Aku rindu sekali padanya, Li. Papa sangat sehat hari itu, sangat sehat, semuanya tak ada yang berbeda, semuanya sama seperti biasa, lalu dalam sekejap… ” suara Fani menghilang diantara sedu sedannya. Tangannya gemetar menepuk dada berulang kali, sesak mengingat sang Papa yang telah tiada.Pelan namun benar-benar membuatku paham betapa menyakitkan bagi dirinya kehilangan Papanya. Satu-satunya yang kulakukan akhirnya bangkit dan memeluk sepupuku yang sudah kuanggap seperti adik kandungku itu.

“Aku tahu, kau pasti mau bilang… Papa sudah tenang di sana. Tapi aku… aku yang tak bisa hidup lagi. Papa membawa separuh jiwaku, separuh hidupku. Papa itu hidupku, Li. Huhuhu….. ” Fani terus mengisak dan mengeluh di pelukanku. Aku berusaha tidak menangis, tapi tak urung mataku ikut berkaca-kaca merasakan kesedihannya.

“Sudah, de. Sudah ya. Tenanglah! Kalau memang kamu ingin menangis, menangislah. Luapin seluruh emosimu, jangan ditahan-tahan lagi!” bisikku. Dan tangis Fani semakin nyaring, pecah di dadaku. Samar kulihat di dekat pintu keluar kamar Tante Siska juga sedang menangis diam-diam. Ia tampak sama terlukanya seperti Fani. Dua perempuan ini benar-benar kehilangan pegangan mereka, kapal mereka benar-benar sangat oleng saat ini. Ya Tuhan, biarkan aku memperbaikinya.

Aku tak bisa bicara malam itu dan hanya membiarkan Fani menangis hingga tidur kelelahan. Tante Siska sangat berterima kasih padaku karena mau meluangkan waktu kerjaku untuk menjenguk Fani. Selain dengan Papanya, akulah sepupunya yang paling dekat. Sebenarnya sepupu kami banyak, tapi aku dan Fani itu satu kantor dan kami hampir terlalu sering bersama sejak kecil karena Papa adalah kakak kembar Tante Siska. Apalagi kami juga sama-sama anak tunggal dan sekarangpun nasib kami sama. Hanya bedanya aku kehilangan Mama saat masih bayi dan Papa menikah lagi ketika aku masuk TK hingga aku hampir tak merasakan kehilangan seperti dirinya. Apalagi hubunganku dengan Ibu tiriku juga sangat baik.

“Ali, tadi gimana kondisi Fani?” tanya Ibu saat makan malam.

“Parah, Bu. Dia bener-bener berubah banget!” jawabku seadanya.

Tatapan mata Ibu jadi murung mendengar jawabanku. Namun ia tak bicara lagi dan sibuk melayani Papa. Sambil memperhatikan keduanya, aku mulai makan. Pikiranku melayang kemana-mana. Berusaha mencari solusi bagaimana bicara agar Fani keluar dari depresinya itu.

“Pa, waktu Papa kehilangan Mama dulu apa seperti Fani?” tanyaku tiba-tiba. Sendok Papa langsung terhenti. Secara otomatis ia menoleh pada Ibu yang juga menatapku bingung. “Aduh, maaf Bu. Ali hanya ingin cari cara buat menyembuhkan Fani. Maaf,” sergahku cepat melihat delikan mata Papa.

Ibu tersenyum. “Tak apa-apa, Li. Tanya saja sama Papa. Mungkin bisa ketemu jalan keluarnya.” Dengan penuh pengertian, Ibu menatap Papa dan mengangguk.

Meski terlihat tidak enak, Papa mau juga mengatakan sesuatu yang membuat mataku terbuka lebar. Aku baru menyadari bahwa Papa sangat mencintai Mama dan bahkan hingga kini menurut Papa, meski juga sangat mencintai Ibu tapi buat Papa selalu ada cinta untuk Mama yang takkan pernah ia lupakan. Papa membuatku memahami makna cinta dan kematian dalam kata-kata sederhana yang sangat dalam. Cinta itu takkan bisa dipisahkan oleh kematian.

Tanpa membuang waktu, esok harinya aku kembali berkunjung ke rumah Fani. Tante Siska kaget sekaligus senang saat membukakan pintu. Kali ini aku langsung masuk ke kamar sepupuku itu. Kamar Fani memang agak rapi sedikit dari kemarin, tapi lagi-lagi aku menemukannya di balkon. Aku mencari-cari di dalam lemari pakaian Fani dan menemukan yang kucari, baru kudekati dia.

“Fan, sholat dhuhur yuk! Udah lama kamu tak sholat kan? Aku jadi imammu deh!” kataku tak peduli melihat tatapannya sambil menyodorkan mukena, benda yang tadi kucari-cari.

“Kamu aja, aku gak mau!” jawab Fani, kembali bertopang dagu menatap kosong entah ke mana. “Buat apa sholat? Papa aja diambil dariku.”

Aku menghela nafas. “Kamu gak cinta sama Papamu, Fan?”

“Pake nanya, iya iya iya iya…. aku cinta banget sama Papa. kalau tidak karena apa aku jadi kayak orang gila begini? Kamu jahat banget sih, Li!” pekik Fani marah.

“Kalau begitu kenapa kamu begini?” Sinar mata Fani membara antara marah dan bingung. Aku tak peduli, aku hanya ingin dia sembuh.

“Cinta memang tak bisa menghentikan perpisahan, apalagi kematian. Tapi Fan, cinta itu kalau memang benar-benar kamu rasakan di dalam hatimu, takkan bisa membuat kamu melupakan Papamu. Kematian tak bisa merampas cinta dari hatimu. Sampai kamu menyusul Papamu di akheratpun, cinta itu tak bakal mati kecuali kamu sendiri yang membunuhnya. Cinta itu kuat dan sanggup bertahan lebih dari kematian. Umurnya lebih panjang daripada kehilangan.” Kata-kataku membuat Fani terdiam dan mencernanya.

“Kalau kamu begini terus, apa gunanya cinta yang kamu rasakan itu? Bertahun-tahun dari kamu kecil, Papamu berusaha keras mengajarimu tentang dicinta dan mencintai. Dia ingin kamu merasakan apa yang dia rasakan. Dia mengajarkan semua kebaikan cinta buat kamu. Buat apa, Fan? Supaya kamu tahu kalau cinta itu indah, dan Papamu ingin kamu menikmati keindahannya lalu hidup bahagia. Papamu pasti tahu itu. Dia tahu, cinta itu takkan pernah mati, hatimu dan Mamamu pasti akan tetap mengenang cinta yang diberikan Papamu. Tak ada yang bisa buat cinta itu mati kecuali kamu tak mau bangkit dan hidup seperti ini. Ayo, Fan! Bangun dari tidurmu! Cintai Papamu seperti dulu. Cintai dia dengan mendoakannya agar bahagia dia di sisi Allah. Ingat, Fan! Doa anak soleha adalah pengantar langkah orangtua mereka ke surga. Kalau kamu cinta Papamu, cintailah Allah terlebih dulu. Hiduplah demi cinta itu. Kamu takkan bisa mempertahankan cinta itu kalau kamu melupakan semua yang diajarkan oleh Papamu.Buktikan kalau karena mencintai Papamulah, kamu bisa mewarnai dunia dengan indah. Lebih bagus kalau kamu juga bisa membagi cinta itu sama orang lain, sama orang-orang di sekitarmu. Agar Papamu bahagia di sana. Kamu tak benar-benar sayang Papamu kan? Apa kamu tidak mau doakan dia? Apa kamu mau jadi anak yang jahat setelah semua cinta yang ditinggalkan Papamu, Fan?” cecarku.

Bibir Fani bergetar dan ia menangis. Tangisnya tak bersuara, hanya terisak. Tapi ia mengangguk-angguk, memahami kata-kata yang kucopy paste dari papa itu dan perlahan Fani mengambil mukena yang kupegang. Ia memeluknya di dada dan berbisik berulang kali. “Maafin Fani, Pa! Maaf, Papa sayang.” Dengan langkah pelan, ia bangkit. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa membuatnya kembali beribadah. Kembali menjadi Fani yang dulu.

Itu terakhir kali aku melihat Fani duduk merenung di balkon kamarnya. Hari-hari selanjutnya, seiring waktu Fani mulai bisa menghadapi kesedihannya. Aku tahu itu tak mudah baginya, tapi Fani “melarikan” kesedihannya melalui berbagai kegiatan. Ia mulai mengikuti beberapa kegiatan yang dulu tak pernah diminatinya dan yang paling penting, ia semakin dekat dengan Allah. Ia tak lagi menghabiskan waktu melamun atau berkurung diri sia-sia. Ia memilih mengajak Mamanya terlibat dalam sebuah yayasan anak cacat dan terkadang menjadi volunteer di sana. Aku senang, sepupuku sudah kembali. Ia melanjutkan lukisan kehidupan yang dulu dipenuhi oleh Papanya, ia mewarnai dunianya dengan hati dan cinta yang takkan bisa dirampas oleh siapapun lagi.

 

&&&&&&&


TAGS   anak / kecelakaan / inspirasi / papa / cinta /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia