Catatan Bunda Iin

Arti Tangis Ayah

29 Apr 2012 - 07:35 WIB

Semua sedang berkumpul di ruang keluarga, sementara Emak dan Kakak berada di dapur menyiapkan cemilan, pisang goreng tepung untuk keluarga. Karena ruang keluarga berada tepat di samping dapur, maka obrolan Ayah dan Abang terdengar juga oleh Emak dan Kakak.

Ayah sedang menasehati Abang yang baru saja berhenti menangis. Ayah berusaha mengalihkan perhatian si abang yang masih marah karena lututnya terbentur mobil-mobilan yang sedang ditumpangi Ade. Sambil membujuk Abang yang masih sesegukan, Ayahpun berkata menyombongkan diri. “Coba Abang meniru Ayah. Ayah nih, gak pernah nangis kan? Waktu kecil juga Ayah gak cengeng. Apalagi anak cowok, gak boleh gampang nangis. Anak cowok harus tangguh, harus kuat dan gak cengeng. Apalagi anaknya Ayah!” Tangan Ayah menepuk-nepuk bahu Abang. Abang menatap Ayah.

“Ayah bohong! Ayah juga pernah nangis kok!” sergah si Abang dengan nada tinggi.

Ayah menatap Abang bingung, tapi Ayah tak mau kalah. “Eeh… Siapa yang bilang?”

“Nenek, nenek yang bilang. Kak! Kakak! Nenek bilang dulu Ayah pernah menangis kan?” Abang berteriak memanggil kakaknya, mencari bantuan memenangkan perdebatan. Kakak yang baru selesai menyiapkan piring, langsung pergi menghampiri Abang dan mengangguk.

Emak tertawa kecil, namun tak seperti kakak yang langsung bergabung dengan Abang dan Ayah. Emak tetap melanjutkan memotong-motong pisang meskipun telinga Emak ikut mendengarkan.

“Iya, yah. Kata Nenek waktu Emak melahirkan kakak, Ayah menangis karena Emak gak keluar-keluar dari ruang operasi. Trus waktu Emak dioperasi melahirkan Abang, Ayah juga menangis waktu dikasih lihat lewat jendela kan? Kakak masih ingat soalnya waktu itu Ayah sambil gendong kakak.”

Ayah terdiam. Tangan Emak berhenti bergerak. Hanya terdengar gelak tawa Abang dan Kakak menertawakan Ayah yang kalah telak dalam perdebatan itu. Tapi itu bukan hal lucu buat Emak.

Ayah sama sekali tidak kalah, buat Emak justru Ayah sedang menang. Ayah sekali lagi, dengan cara yang tak pernah disangka Emak membuktikan cintanya pada Emak dan anak-anak. Dan Emak tak bisa menahan airmatanya, setitik airmata jatuh membasahi tangan Emak. Cepat-cepat Emak menghapusnya

Meskipun anak-anak tak menyadari, Emak terharu. Emak baru tahu, lelaki sekuat dan setangguh Ayahpun pernah menangis. Tangis Ayah pasti karena saat itu berdoa untuk Emak yang sedang berjuang dalam hidup dan mati, dan Emak senang karena berarti Ayah benar-benar menghargai perjuangan itu.

Saat membawa sepiring pisang goreng ke ruang keluarga, Emak mendengar Ayah masih berusaha menjelaskan pada anak-anak. “Tangis ayah saat itu karena ayah sedang memohon pada Allah, supaya orang-orang yang ayah sayangi diberi kekuatan dan keselamatan. Tangis itu adalah tangis seseorang yang merasa tak mampu selain menyerahkan pada keputusan Allah. Aah, kalian ini curang… Ayah menangis bukan karena Ayah cengeng. Tapi karena Ayah sedang bersungguh-sungguh berdoa.”

“Sekalinya nangis, ya tetap saja menangis, Ayaah.” Anak-anak tetap ngotot mempertahankan. Tak bergeming.

Ayah menyerah. Tanpa sengaja Ayah menoleh pada Emak. Tatapan Ayah bertemu mata Emak. Emak tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Dan ketika anak-anak sibuk memakan pisang goreng, Emak mengucap “Terima kasih, Ayah” tanpa suara, Ayah hanya mengangguk-angguk, menunduk, menyembunyikan rasa malunya sendiri.

 

*****


TAGS   Ayah / I Wanna Be Emak /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia