Catatan Bunda Iin

Mentari Yang Pergi Kala Senja

26 Apr 2012 - 10:13 WIB

Sekelebat sinar matahari menyeruak masuk dari balik tirai jendela kamar, tanpa sengaja sinar itu jatuh tepat di wajahmu. Matamu berkedip-kedip, dan akhirnya membangunkanmu dari tidur yang lelap. Sekonyong-konyong dengan langkah cepat, aku meraih tali tirai untuk menutupnya lebih rapat.

“Jangan, Mas!” pintamu menghentikan gerakanku. “Biarkan saja cahayanya masuk. Sudah lama kamar ini terasa suram. Atih rindu lihat sinarnya,” ujarmu sambil berusaha bangun dan duduk.

Aku melepaskan tali tirai dan segera membantumu duduk. Tubuhmu sedikit gemetar saat aku memegangi bahumu. Ya Allah, semakin lama kau semakin kurus saja. Tak tega rasanya melihat perempuan yang pernah begitu tegar mendampingiku, kini harus menderita seperti ini. Meski tak pernah kudengar sekalipun kau mengeluhkan sakit, tapi perubahan drastis di tubuhmu benar-benar telah cukup menggambarkan semuanya. Aku bahkan bisa merasakan deritamu, melewati hari demi hari tergerus oleh kanker hati sejak dua tahun lalu.

“Ngelihatin Atih kayak gitu bikin Atih malu aja.”

Aku tersipu. “Istriku memang cantik banget hari ini. Selalu cantik setiap hari.” Seulas senyum tergores di bibirmu yang membiru.

Hatiku tercekat menatap wajah pucatmu yang berusaha ceria. Kepala yang sudah licin plontos itu memang tertutup topi, namun mata yang sayu dan tubuh yang ringkih itu tak bisa ditutupi dengan senyum bahagiamu. Pilu rasa hatiku melihat kecantikanmu semakin lama semakin memudar karena penyakit mematikan itu

“Makan dulu, sayang,” bujukku pelan saat melihat piring berisi bubur di samping tempat tidur. Keraguan tergambar jelas di wajahmu saat ikut menatap piring itu. Aku tahu apa yang kau rasakan dan perasaan yang sama juga terbit di hatiku. Namun aku berdoa semoga hari ini tidak terjadi lagi. Sudah beberapa hari ini sejak kemoterapi terakhir, kau hampir tak makan apa-apa hingga aku hampir-hampir tak bisa menyembunyikan ketakutanku.

Tapi doaku tak terkabul. Meski aku tahu kau ingin menghabiskannya, tapi baru sendok yang masuk ke mulutmu semuanya sudah kau muntahkan lagi. Sungguh tak sanggup rasanya melihat istri yang kusayangi harus berkali-kali menunduk menghadap ember kecil itu. Segera kujauhkan piring itu darinya. Aku benar-benar tak tega melihatnya sampai hampir kehabisan tenaga karena terus menerus menahan mual.

“Ma..maafin Atih, mas. Maaf,” bisikmu lemah diantara nafas yang tersengal-sengal.

Aku tak bisa menjawabnya selain mengangguk-angguk dan membereskan tempat tidur.

“Sudah, sudah, kamu tiduran saja ya sayang. Mungkin itu lebih baik. Mau air hangat?” kau mengangguk lemah, secepat aku bisa kusodorkan gelas berisi air hangat itu. Kau meminumnya sedikit sekali, tapi kulihat kelegaan di wajah pucatmu. Kau berbaring dan aku mulai merasa bersalah. Seandainya tadi tak kupaksa makan.

Sebuah buku yang selalu kubacakan untukmu segera kuambil. Seperti biasa, inilah pengisi waktuku saat mendampingimu di rumah sakit. Membaca buku-buku yang dulu tak pernah sempat kau baca karena sibuk mengurus keluarga. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untukmu, kekasih hatiku.

“Mataharinya tak lagi terlalu terik ya mas. Barangkali mau hujan.”

Aku menoleh ke jendela dan mengangguk. “Iya, soalnya mau musim hujan.”

Tatapanmu berpindah padaku.”Maafin Atih sudah membuat Mas repot ya. Atih sudah membuat Mas harus mengurusi Atih di usia senja seperti sekarang. Atih gak pernah melayani Mas seperti istri normal. Atih gak pernah memberi Mas kebahagiaan. Maaf ya Mas. Sungguh sungguh Atih minta maaf.”

Kata-katamu yang pelan itu bagai suara petir di siang bolong. Kucari-cari apa maksudmu berkata seperti itu dengan menatapmu tajam, tapi kau malah tersenyum hangat.

“Kamu ini ngomong apa toh, Tih? Buat apa minta maaf? Saya yang justru minta maaf karena gak bisa mencarikanmu dokter terbaik supaya bisa lepas dari penderitaanmu ini,” tukasku lalu aku mengacungkan buku. “Kemarin sampai di mana bacaan kita ya?” tanyaku sambil berpura-pura sibuk membolak-balik lembaran buku, mengalihkan pembicaraan.

“Mas.” Tanganmu kembali menghentikan gerakanku. Mata indahmu kini terlihat menyimpan kesedihan. “Mas harus maafin Atih dulu, Atih sudah jadi istri yang selalu membuat Mas menderita, membuat Mas harus kerepotan. Harusnya kan kita sedang menikmati masa pensiun yang indah, nengok anak dan cucu-cucu kita. Seharusnya kita jalan-jalan ke pantai, traveling keliling tempat-tempat yang dulu tak sempat kita datangi dan menikmati sinar matahari itu sambil bergandengan tangan seperti yang dulu sering kita khayalkan.”

Sungguh, aku benci kalau kau mulai berkata seperti ini. Aku tak suka mendengar kau mengulang-ulang sesuatu yang tak bisa kuberikan. Kau selalu mengingatkanku bahwa aku belum sempat memberimu semua itu. Belum sempat mewujudkan mimpi-mimpimu yang dulu selalu saja batal karena berbagai sebab. Entah berapa kali kita akhirnya menghabiskan waktu hanya dengan berkhayal dan tertawa-tawa miris berdua. Impian yang tak pernah terwujud karena kebutuhan yang terlalu banyak saat itu.

“Harusnya saya yang minta maaf, Tih. Saya yang tak pernah memberimu apa-apa. Dulu saya ingin ke tempat itu karena kamu ingin pergi ke sana. Dulu saya ingin melakukannya karena kamu menginginkannya. Jadi seharusnya saya yang meminta maaf karena belum sempat mewujudkannya. Tapi saya janji, kalau kau sehat lagi kita akan melakukan semuanya… semuanya berdua.” Aku mendengar getaran di suaraku sendiri. Tidak, aku tidak boleh menangis di hadapanmu.

Senyummu membayang di sudut pipi yang tirus. “Mas sudah memberikan banyak hal buat Atih. Atih bisa bertemu Mas, mencintai Mas, menikah dan memiliki anak-anak yang baik sudah merupakan hal terbaik buat Atih. Atih sangat bahagia. Mas seperti matahari Atih, matahari yang selalu menyinari kemanapun Atih pergi. Tak ada seharipun Atih menyesali hidup bersama Mas. Atih benar-benar bahagia. Kalaupun Atih menyesal, itu karena Atih tak bisa melakukan hal yang sama buat Mas. Kalau Allah memberi kesempatan buat Atih, ingin rasanya Atih tetap berbakti pada mas.”

Dadaku terasa sesak. Mataku mulai berkaca-kaca. “Mas mau ke toilet dulu sebentar.” Hanya itu yang bisa kulakukan. Berlari ke toilet, melepas emosiku sendiri.

Airmata yang tadi kutahan langsung jatuh deras begitu aku masuk toilet. Aku membuka kran air dan menutup mulutku dengan handuk agar suaraku tak terdengar olehmu.

Kekasihku, istriku, cintaku, Ratih. Seandainya kau tahu. Setiap hari sejak kau sakit, aku menyesal bukan kepalang. Bukan karena aku harus mengurusmu, bukan karena aku harus mengeluarkan hampir separuh harta untuk kesembuhanmu. Bukan itu, istriku. Sungguh bukan itu. Aku menyesal karena tak pernah memperhatikan kesehatanmu, aku menyesal karena tak pernah menyadari kalau sekuat apapun dirimu tetaplah seorang manusia. Aku menyesal tak sempat mewujudkan banyak hal untukmu. Aku menyesal, aku terlambat menyadari kalau kau telah memberiku banyak tapi aku bahkan tak pernah memberimu kebahagiaan sebenarnya. Kalau seandainya diberi kesempatan kedua, aku ingin sekali menjadikanmu istri paling bahagia di muka bumi ini. Akan kulakukan apa saja yang kau mau agar kau bahagia. Akan kubawa kau ke tempat paling indah di dunia ini dan akan kuberikan apapun yang kau mau, asal satu hal saja. Asal kau bisa sembuh dan kembali padaku seperti dulu. Sehat walafiat, memberi keluarga kita sinarmu yang cemerlang seperti dulu.

Janganlah kau pernah berpikir kalau aku menderita karena mengurusmu, sayang. Buatku, setiap kali bangun dan melihatmu tersenyum sudah cukup. Inilah tujuanku saat mataku terbuka di pagi hari. Tak ada tujuan lagi dalam hidupku selain bisa mengurusmu dan membuatmu bahagia. Aku tetap yakin kau sembuh meski dokter sudah berkali-kali menggelengkan kepala. Kalau kau tiada, aku malah tak tahu harus bagaimana menghadapi hari esok. Apalagi yang kupunya selain dirimu? Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau di sisiku, belahan jiwaku? Apa tujuan hidupku jika kau tak ada? Aku takut membayangkan hidup tanpa dirimu lagi. Sungguh aku benar-benar takut.

Dan itu benar-benar terjadi beberapa hari kemudian. Ketakutanku menjadi kenyataan. Kau tak terbangun lagi. Matamu terpejam rapat meski berkali-kali kubangunkan, bahkan ketika tim dokter memeriksa keadaanmu. Tubuhku seakan lunglai ketika dokter bilang kau berada di ambang batas antara kematian dan kehidupan. Koma. Kata-kata itu membuatku menangis di depan anak-anak kita. Kekuatanku pergi seketika saat mendengarnya. Aku lemah tanpamu, sayang.

“Ayah, ayah. Ikhlaskan Bunda, Ayah! Biarkan bunda pergi, Ayah. Ikhlaskan dia. Bunda sudah menderita begitu lama. Biarkan dia istirahat dengan tenang,” kata Bimo, putra kita yang terkecil. Ia berkata seperti itu, tapi airmata juga terus menetes dari matanya.

Aku tak bisa. Aku tak mau. Sungguh aku tak bisa hidup tanpamu. Tapi Bimo memelukku, memberiku kekuatan. Elsa dan Rima juga ikut memelukku dan mereka memohon padaku dengan isak tertahan. Hati mereka sudah terlalu pedih melihat kau menderita hingga rela melepas kepergianmu, rela kehilangan dirimu. Bagiku, melepasmu sama saja membuang separuh jiwaku. Membiarkanmu pergi berarti membawa sebagian hatiku terbang. Namun, aku juga tak tega melihatmu terus menerus berusaha bertahan dalam sakit yang panjang. Seandainya saja semua derita itu bisa kugantikan.

Akhirnya, dengan langkah paling berat yang pernah kujalani, aku menunduk di sisi tempat tidurmu dan berbisik lembut di telingamu. Kubelai wajah cantik yang telah mulai berhias keriput itu untuk yang terakhir kalinya. “Pergilah, sayang. Jika kau ingin terlepas dari derita ini, pergilah dan beristirahatlah dengan tenang di sisiNya. Tunggu aku di sana, ya sayang. Aku ikhlas… benar-benar ikhlas melepasmu. Asyhadu alla ilaaha illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Dan aku kembali menangis saat setetes airmata jatuh dari matamu yang terpejam rapat. Aku memelukmu lama sekali dan kaupun pergi dalam pelukan terakhirku.

Senja itu, saat matahari terbenam kau menghembuskan nafas yang terakhir. Mentari lain yang juga menyinariku selama ini telah pergi bersama datangnya senja itu, ia meninggalkanku. Mentari yang menyinariku selama ini, memberiku kekuatan menghadapi semua tantangan hidup dan mentari yang selalu mendampingiku dengan setia selama separuh hidupku telah tiada.

Terima kasih istriku, untuk semua yang kau berikan padaku. Kau memberiku banyak hal, pelajaran penting tentang kehidupan dan semua hal terindah selama ini. Jika kau tak sakit, aku tak yakin menyadari betapa pentingnya arti dirimu bagiku. Jika kita tak pernah menghabiskan waktu di dalam kamar rumah sakit berbulan-bulan, mungkin aku takkan pernah bisa mengobrolkan banyak hal denganmu. Jika kita tak bersama di hari-hari terakhirmu, aku mungkin akan menyesalinya sepanjang hidupku. Paling tidak, karena sakitmu Allah telah memberiku kesempatan mengabdikan diri sebagai seorang suami yang sesungguhnya. Kau sudah memberiku banyak hal sepanjang pernikahan kita, cinta yang melimpah, kehidupan yang damai, kebahagiaan dan pengertian tiada habisnya, kenyamanan bahkan hingga matamu tak lagi bisa kau buka, kau tetap memberiku banyak kenangan yang takkan pernah kulupakan. Terlalu banyak, hingga pengabdianku tiada artinya dibandingkan semua itu. Kau tinggalkan aku bersama anak-anak dan cucu-cucu kita, keluarga yang menemaniku dalam sepi panjang setelah kepergianmu. Berat tapi harus kujalani agar kau tahu betapa berartinya semua yang kau tinggalkan padaku. Akan kujaga mereka semua walaupun tanpa kehadiranmu. Namun bagi kami, kau tetaplah sang Mentari hati. Mentari yang pergi kala senja.

*****


TAGS   istri / suami / inspirasi / cinta / rumah sakit /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia