“Susahnya nyari kerjaan sekarang,” itu kata seorang teman dalam statusnya di Facebook. Saya hanya bisa tersenyum dan tak bisa menanggapi selain memintanya bersabar dan tetap berusaha.
Bagi sebagian orang mungkin mencari pekerjaan itu memang sulit. Padahal di kantor-kantor, mencari pekerja yang cocok juga sama sulitnya. Tumpukan map berisi lamaran kerja, atau ratusan email pencari kerja yang melimpah tetap saja tak bisa menghilangkan kesulitan itu. Tak mudah mencari calon pekerja yang memenuhi standar dan kalau salah memilih, bisa-bisa bagian HRD yang terkena getahnya. Bahkan pernah saya melihat sendiri seorang teman di bagian HRD yang mem-filter para pelamar kerja hanya dengan melihat fotonya. “Nyari yang cakep-cakep dulu, mba. Lumayan kan buat tambahan referensi calon pacar. Abis saya bosan baca lamaran, paling-paling isinya sama semua. Yang penting kan pas test pribadinya nanti,” katanya beralasan sambil tertawa.
Sebenarnya kalau mau terus terang mencari seorang pekerja dengan kualifikasi pendidikan tinggi dan atau nilai yang bagus dalam laporan pendidikannya sangat mudah. Terlalu banyak pilihan malah. Namun, mencari seorang pekerja dengan kualitas “pekerja” dalam dirinya itulah bagian tersulit. Memang ada banyak sekali jenis pelamar kerja. Ada yang cocok menjadi manajer, pekerja atau bawahan dan ada pula yang sama sekali tak cocok bekerja dengan orang lain. Maka untuk hal-hal ini, biasanya ditentukan dengan psikotest.
Sebagai sebuah gambaran, saya pernah mencari pengganti sebelum mengundurkan diri bekerja karena hamil tua. Perlu waktu sekitar tiga bulan untuk mencari dengan kualifikasi sebagai berikut : Minimal S1, berpengalaman min. 2thn, hardworking dan bisa bekerja sama dalam team work.
Kelihatannya simpel ya. Sayang, bagian HRD saat itu malah mengeluhkan hasilnya. Dua kualifikasi awal, mereka masih bisa menyaring ratusan lamaran tapi untuk memenuhi standar kedua, inilah bagian tersulit. Para pelamar gugur satu persatu dalam berbagai test yang dilakukan. Saya terpaksa menurunkan standar kualifikasi agar saya bisa berhenti tepat waktu mengingat keadaan yang sudah tak memungkinkan untuk bekerja. Dan terbukti, setelah beberapa lama para pekerja yang menggantikan saya hanya bisa bertahan beberapa bulan.
Saat itu saya juga heran kenapa untuk memenuhi dua standar kerja itu saja sulit sekali. Setelah mengamati dan mengalami hal itu beberapa kali setiap kali ingin berhenti bekerja, barulah saya mengerti kenapa.
Para pelamar kerja yang datang selalu beranggapan bahwa pendidikan merekalah yang menjadi standar pilihan utama bagi setiap perusahaan. Padahal pemikiran itu akhirnya menjebak mereka untuk tidak mempelajari berbagai hal yang mungkin tidak ditemukan dalam lingkungan perkuliahan seperti hubungan sosial atau proses kerjasama. Terkadang karena berpikir mereka sekolah atau kuliah lebih tinggi daripada karyawan lain, mereka melupakan standar sosial yang sudah biasa terjadi yaitu menghormati orang yang lebih tua. Pemikiran ini juga yang menyebabkan mereka terlalu keras dalam menyampaikan pendapat atau opini. Akhirnya terjadi ketidakcocokan dan membuat tak berhasil masuk menjadi salah satu anggota tim kerja (teamworking). Entah berapa kali saya mendengar para senior yang berkata seperti ini. “Dasar anak baru! Gak punya pengalaman tapi sok tahu.” Dan biasanya mereka tak bisa bertahan lama.
Para pelamar kerja juga sering “malas” untuk belajar. Pemikiran bahwa mereka telah menyelesaikan kuliah dan tak perlu belajar lagi justru merupakan pemikiran yang salah. Ada banyak hal di luar pendidikan formal yang harus dipelajari secara terus menerus di dunia kerja. Contohnya adalah mempelajari karakter rekan dan relasi kerja, juga bagaimana cara menghadapi berbagai karakter itu. Ada juga beberapa teknis pekerjaan yang sering berlawanan arah dengan teknis pekerjaan yang dipelajari di dunia pendidikan, walaupun menghasilkan sesuatu yang sama. Terkadang teknis ini berhubungan dengan langkah penghematan dan kepraktisan. Bukankah seharusnya praktek langsung jauh lebih baik daripada sekedar teori? Namun para pekerja baru ini kadang-kadang lebih percaya bahwa teori yang mereka pelajari lebih bisa dipertanggungjawabkan dibandingkan cara kerja dari hasil praktek selama bertahun-tahun. Mereka malah berpikir inilah saat yang tepat untuk “memamerkan” kemampuan mereka, padahal ketika tidak berhasil justru akan menjadi masalah bagi diri mereka sendiri.
Melakukan perubahan dan membawa kemajuan tentu adalah hal yang sangat diharapkan setiap perusahaan dari para karyawannya. Tapi sebelum melakukannya, kenali lebih dulu seperti apa perusahaan itu. Jangan mengambil langkah terburu-buru dan perhitungkan masukan dari para karyawan lama sebagai bahan acuan mengurangi kegagalan dalam melangkah.
Hal lain yang menjadi bumerang adalah keinginan para pelamar kerja untuk bekerja di bidang yang memang sudah mereka tentukan sendiri. Standar pendidikan sekali lagi jadi acuan. Berapa banyak sih di antara mereka yang mau duduk jadi drafting sebelum menjadi arsitek kalau sudah meraih kesarjanaan? Atau bersedia jadi operator telepon sebelum menjadi sekretaris? Atau menjadi kasir sebelum menjadi akuntan? Tidak banyak yang akan menjawab “mau”. Tentu saja ini karena mereka tak mau membuang-buang waktu bekerja dari bagian terbawah setelah menghabiskan bertahun-tahun untuk mendapatkan titel sarjana. Sungguh ini benar-benar kesalahan pemikiran.
Sebagai contoh, saya pernah melihat seorang teman yang bekerja sebagai drafting dan saat mengetahui kualifikasi pendidikan terakhirnya saya benar-benar tak menyangka. Lalu kenapa dia mau saja? Itu karena dia tahu, apapun harus dilalui dengan proses terbawah. Menurutnya, seperti membangun sebuah rumah yang kuat maka harus dibangun di atas dasar lantai yang juga kuat. Ia tak takut menghabiskan waktu bekerja di bagian itu, karena dia yakin jika dia mampu maka dengan cepat ia akan bisa memenuhi standar seorang arsitek. Dia memang berhasil meski bukan di kantor yang sama. Setelah merasa cukup mendapatkan berbagai pengalaman yang diperlukan dan hampir satu tahun bekerja, dia memutuskan pindah ke kantor lain dan resmi menjadi seorang arsitek junior. Ia pindah karena ditawarkan gaji yang jauh lebih baik dari kantor lama. Tak sampai beberapa tahun, ia telah memegang proyeknya sendiri.
Saya melihat sifat pekerja keras itu justru muncul dari banyak karyawan yang memulai segalanya dari bawah. Mereka menjadi para pekerja keras karena berbagai alasan. Karena merasa bodoh dan pendidikan yang kurang, maka apapun selalu ingin dipelajari sebagai bahan rekomendasi dan tambahan ilmu. Karena takut kehilangan kesempatan, maka kesempatan sekecil apapun selalu dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dan juga karena adanya anggapan bahwa pekerjaan adalah bagian dari kehidupan mereka hingga apapun yang dilakukan adalah dengan pengabdian yang setulus hati.
Itulah sebabnya kini banyak perusahaan lebih memilih untuk mencari pekerja dari lingkungan internal sebelum mencari ke luar lingkungan perusahaan. Memang hal ini mungkin menutup lebih banyak celah untuk para fresh graduate, tapi justru keuntungan tambahan bagi perusahaan. Dengan demikian mereka bisa mencari pekerja yang benar-benar telah mengenali lingkungan pekerjaan mereka dan pihak perusahaan juga telah mengenal pekerja dengan baik. Belum lagi hal ini juga membuat kerja sama tim yang jauh lebih baik karena sudah saling mengenal karakter masing-masing daripada merekrut pekerja baru. Hal-hal yang menjadi tambahan seperti jenjang pendidikan dan kemampuan akhirnya menjadi kualifikasi terakhir dalam memilih karyawan.
Lamanya kita bertahan dalam satu perusahaan sering menjadi bahan acuan dari pihak perusahaan juga. Jadi kalau anda suka sekali keluar masuk perusahaan, sebaiknya saat memasukkan lamaran pilihlah jenis pekerjaan dengan masa kerja yang lama dan sesuai dengan bidang yang akan dilamar. Jika spesifikasi anda terlalu luas, perusahaan juga kuatir akan membuat anda gampang keluar dari pekerjaan. Padahal mencari pekerja baru merupakan tugas yang tidak mudah.
Karena itu bisa diambil kesimpulan. Sebenarnya pekerjaan itu bukannya sulit dicari, tapi memenuhi standar pekerja itulah yang belum bisa dipenuhi. Mendapatkan pekerjaan ibarat mendapatkan jodoh. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun beberapa alasan di atas merupakan alasan paling sering yang saya temukan dalam dunia kerja. Terlepas dari apapun yang mempengaruhinya, yang paling penting adalah bagaimana agar kita bisa pandai melihat kesempatan meskipun harus memulai dari bawah, bagaimana belajar memahami berbagai karakter rekan kerja dan cara menghadapinya, bagaimana agar menyukai pekerjaan karena tanpa rasa suka atau mencintai pekerjaan takkan mungkin ada keinginan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan yang terakhir adalah apakah pekerjaan tersebut telah benar-benar sesuai dengan keinginan dan tujuan kita, karena menemukan passion adalah hal penting untuk menikmati pekerjaan.
*****

















Biasanya khusus untuk fresh graduate ada link sendiri, mas. Mereka dimasukkan dalam program khusus untuk ditraining kembali. Makanya penting untuk menjalani pendidikan secara maksimal, agar pada proses penyaringan bisa lolos.
Syarat lowongan itu hanya untuk memfilter agar lamaran sesuai dengan kebutuhan, tapi kalau merasa kompeten dengan jabatan tersebut walaupun belum pernah bekerja, tidak ada salahnya mencoba dengan memberi catatan khusus misalnya tambhan informasi nilai saat pendidikan atau rekomen saat magang/praktek kerja.
Mudah2an informasi ini bermanfaat.
Tapi kalo fresh graduate engga pernah dikasih kesempatan gimana ia bisa belajar ? rata-rata lowongan minimal 1 tahun bahkan ada yang mau 3-5 tahun, lalu ratusan ribu fresh graduate mau kerja dimana ??? apakah HRD berfikir seperti itu, bisa saja seorang HRD itu punya anak dikemudian hari ketika anaknya ingin mencari kerja terjebak juga oleh masalah ini…
coba kunjungi website ini http://www.klontklontong.blogspot.com
infonya berbobot
kalau memang pintar di bidang komputer minimal mengarang dan berbahasa inggris banyak kerjaan plus investasi di perusahaan kelas dunia plus peluang usaha lainnya.
menggunakan interpol lho investigasinya kalau menipu, bukan polisi langsung terurus dari perusahaan internasional paymentnya.
hanya saja untuk membeli infonya harus mendapat kepercayaan dari bank lokal dan account paypal.
bayarannya besar lho…
SIAP BEKERJA dan berpenghasilan ??
jangan sampai sudah membeli infonya akan tetapi down mengetahui pekerjaannya.
Sebenarnya pekerjaan itu bukannya sulit dicari, tapi memenuhi standar pekerja itulah yang belum bisa dipenuhi. Mendapatkan pekerjaan ibarat mendapatkan jodoh. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya.
Terkesan sekali dengan paragraf pamungkas yang berisi “Sebenarnya pekerjaan itu bukannya sulit dicari, tapi memenuhi standar pekerja itulah yang belum bisa dipenuhi. Mendapatkan pekerjaan ibarat mendapatkan jodoh. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya.”
mudah2an usaha dan pekerjaannya tambah bagus
Nggak juga tuh
Saya punya pekerjaan, dan punya usaha sampingan, yang nggak perlu pendampingan dalam melakukan.
Yang penting bagaimana kita melakukan pendelegasian atas apa yang kita kerjakan…..
Apa yang kita tanamkan itulah yang kita dapatkan
Saya memiliki pekerjaan di Lembaga Keuangan/Perbankan untuk ukuran orang lain sangat dibutuhkan dengan posisi yang cukup lumayan sebagai Sales Manager Marketing dengan pasukan 11 orang, dan suka tantangan serta target pencapaian
Saat ini juga memiliki usaha sampingan sebagai distributor pulsa, karena merupakan salah satu lahan bisnis saya yang perputaran uang sangat luar biasa (turnovernya sangat tinggi).
Orang lain menganggap bisnis recehan tapi saya tidak demikian……
setuju dengan tulisannya
kita mungkin bisa mendapatkan nilai bagus disaat sekolah, tapi belum tentu mudah mendapatkan pekerjaan,karena bekerja adalah dunia yang sangan berbeda dengan dunia pendidikan
Benar, mbak. Pintar itu relatif, tapi memunyai kualitas pekerja dalam diri seseorang itu tidaklah mudah.
LEMARI CINTA
Membantu Kamu dan Doi Selalu Tampil Beda Dalam Setiap Suasana
semua tergantung usahanya dan berusaha…
setuju sekali… bahwa bukan pekerjaan yang susah di cari, tetapi pekerja yang berkualitas dan kreatif susah untuk di cari.
menurut saya, beberapa orang yang berkualitas dan kreatif lebih memilih untuk membuka usaha sendiri atau mencari perusahaan bergaji lebih besar.
pendidikan penting untuk mendapatkan pengalaman, dan pengalaman penting untuk mendorong kemauan untuk mencari pendidikan. jika itu yang kita rasakan. selain berdoa kepada yang maha kuasa pasti mudah mencari pekerjaan.
terima kasih bunda iin… atas dorongannya…
Memang benar saat ini sulit mendapat pekerjaan, mari kita galakkan wirausaha mandiri. Bagi anda yang mempunyai keluhan sakit jantung, diabetes, stroke, kolesterol jahat, tekanan darah tinggi, dll. Silahkan klik HIDUP SEHAT DENGAN JAMUR LING ZHI Semoga Bermanfaat
Wahh, bunda
Ngapain cari kerja…
Lebih baik berwirausaha aja..
Nih artikel saya yang berkaitan dengan wirausaha.
http://alphanesia.blogdetik.com/2012/04/24/yuk-berwirausaha/
ya, saya setuju dengan anda, pekerjaan bukan sulit dicari namun memenuhu standard pekerja itulah yang sulit dipenuhi
sy buat ini krn awalnya mrk minta bantuan sy nyari kerja. Sy bingung juga soal itu. Sy sendiri gak pernah ngelamar kerja dan gak pernah ngikut psikotes. Tapi tiap mau resign, sampe melarikan diri ke kota lain dgn alasan pindah baru boleh. Setelah sy amati, yah ternyata itu tadi… kriteria pekerja itu yang sulit dicari.
Salam manis juga Mba Sinta
terlepas apapun perusahaannya, tapi yang mencari kan manusia juga? Jadi faktor salah duga mungkin saja terjadi.
Psikotes itu sebenarnya bukan masalah bagus atau tidaknya si calon pekerja, tapi apakah dia cocok untuk bekerja di bidang itu atau sekedar main-main, punya kemampuan untuk bidang itu atau tidak.
yep, benar sekali
ehem… kalo mau jujur dua-duanya bernilai kan?
mungkin krn standar PNS adlh pendidikan, ya pak… berbeda dgn swasta.
saya hanya menceritakan apa yang saya amati selama ini.
Sama-sama, pak
yapp,,setuju sekali dengan postingannya,,yang lebih susah itu adalah mencarai pekerja yang telah memenuhi standar…
terima kasih bunda,,^_^
di PNS sih ngomong beginian di ketawain,……….huuh binguuung deh
kalo di PNS siih itu semua ga berlaku,…… hahahahah pusiink2
ilmu lebih bernilai daridp nominal gaji
demi sesuap nasi pekerjaan apapun akan dikerjakan !
Silahkan komen jg di blog sy
‘RA Kartini Punya Titisan http://putra95.blogdetik.com/2012/04/23/liqwina-hananto-titisan-kartini/
Ikut Yuk Ke Festival Jailolo 2012 http://putra95.blogdetik.com/2012/04/19/ikut-yuk-ke-festival-jailolo-2012/
dulu di kantor tempat kaka saya bekerja ada penerimaan pegawai baru,dari hasil tes ternyata si A (peserta tes) ga disarankan utk diterima,tp krn perusahaan butuh bgt tenaga kerja,akhirnya si A diterima,dan ternyata si A mampu bekerja dengan bagus,memenuhi standar dan target dr perusahaan.Jadi hasil psikotes bukan segalanya,kadang2 sy heran dg psikotes,kita disuruh ini itu 9kalo pun kita jago ngerjainnya,blom tentu juga kerjaan kita berhubungan dg itu nantinya),jwb pertanyaan yg kdg2 ga relevan dg kita (tp harus di jwb) dan dg jawab tsb kita dicap begini,begitu seperti ini,seperti itu.
Silahkan komen jg di blog sy
‘RA Kartini Punya Titisan http://putra95.blogdetik.com/2012/04/23/liqwina-hananto-titisan-kartini/
Ikut Yuk Ke Festival Jailolo 2012 http://putra95.blogdetik.com/2012/04/19/ikut-yuk-ke-festival-jailolo-2012/
Pengalaman saya dikejar-kejar head hunter untuk satu posisi padahal saya tidak melamar untuk posisi tersebut menjadi bukti juga betapa Head Hunter juga merasa kesulitan mencari pegawai. Mereka bahkan berani nego dengan clientnya supaya bisa menggolkan gaji yang saya mau.
Kalau banyak orang merasa kesulitan mendapat pekerjaan sementara banyak lowongan baik di internet,koran maupun lewat head hunter …nahh missing link-nya ada dimana ya Mbak ?
Saya setuju banget soal ‘passion’ untuk pekerjaan apapun karena itu bukti kesungguhan kita bekerja.
Keep Blogging Bunda Iin ….
salam,
-Sinta-
@Hudaman, Waaah… jadi tambah semangat nih
Saya sekarang juga kerja sampingan lho walaupun masih semester II. Selain kerja sampingan, saya juga belajar memulai usaha.
Alhamdulillah semuanya ini tidak mengganggu aktifitas kuliah saya, karena justru bidang yang saya tekuni dikampus saling mendukung dg pekerjaan saya
Terima Kasih atas motivasinya ya Mas!
Mungkin kualifikasinya terlalu tinggi. Daripada buang-buang kertas dan tenaga, makanya memilih untuk tidak melamar.
Kalau menurut saya, pekerjaan sulit itu kalau sesuai aja bayarannya pasti banyak yang minat
@Hudaman,
Ya pak, benar. Itulah realitas yang jarang dimengerti para pekerja baru.
Mungkin kedengaran aneh, tapi sy malah lihat banyak temen2 kerja yg akhirnya memilih untuk kuliah lagi meski berbeda dgn bidang sblmnya.
Artikel tulisan diatas menceritakan dari berbagai sudut, baik pekerja atau pemberi kerja. Semua diulas dengan lengkap, dan tentunya tulisan diatas memberitahu bahwa anda seharusnya begini, anda seharusnya begitu.
Salam,
bowosoedadi
masbowo
Setuju, pengalaman saya, lebih bagus meng-hire fresh graduate yg pernah bekerja sampingan saat kuliah, apapun itu pengalamannya, mreka telah mengerti realitaa dunia industri yang berbeda dengan dunia akademis. Dan apalagi yg punya pengalaman bekerja saat kuliah tapi nilai akademis nya bagus, mereka sangat luar biasa, bisa mengkombinasikan idealisme dunia akademis dengan praktisme dunia industri.
Satu hal lagi, bnyak orang memilih jurusan kuliah dgn harapan nantinya mudah mendapat kerja, bukan karena passion di bidang ilmunya. Org2 ini lulus biasanya nilai IPK bagus tapi very low skilled. Yg punya skill bagus biasanya yang memang punya passion di bidang keilmuwannya.
Ini pengalaman saya sebagai PM proyek-proyek software development, tapi menurut saya ini berlaku di semua bidang pekerjaan.
orang yang berkomentar mencari pekerjaan itu sulit, seharus komentarnya lebih diperjelas, mencari pekerjaan yang “ENAK” itu sulit…
diperushaan saya, sampe sebar brosur, pasang ads diinternet, media cetak tetap saja menjaring SEDIKIT pelamar, padahal pencari kerja sekian banyaknya, nach klo uda ada lowongan kenapa gak melamar. apa karena lowongannya tidak disukai atau takut untuk melamar…?
SAMERVIEW
skrg pd pengen instan sih…gk mau belajar
susah jg ya nyari yg berkualitas…rata” pada pengen instan seh
hehe….pantesan klo di proyek tuh ketemunya orang” itu juga mskipun dah ganti perusahaan,susah jg nyari kriteria dari fres graduet ya?