Catatan Bunda Iin

Kenapa Sulit Mendapat Pekerjaan?

24 Apr 2012 - 15:00 WIB

“Susahnya nyari kerjaan sekarang,” itu kata seorang teman dalam statusnya di Facebook. Saya hanya bisa tersenyum dan tak bisa menanggapi selain memintanya bersabar dan tetap berusaha.

Bagi sebagian orang mungkin mencari pekerjaan itu memang sulit. Padahal di kantor-kantor, mencari pekerja yang cocok juga sama sulitnya. Tumpukan map berisi lamaran kerja, atau ratusan email pencari kerja yang melimpah tetap saja tak bisa menghilangkan kesulitan itu. Tak mudah mencari calon pekerja yang memenuhi standar dan kalau salah memilih, bisa-bisa bagian HRD yang terkena getahnya. Bahkan pernah saya melihat sendiri seorang teman di bagian HRD yang mem-filter para pelamar kerja hanya dengan melihat fotonya. “Nyari yang cakep-cakep dulu, mba. Lumayan kan buat tambahan referensi calon pacar. Abis saya bosan baca lamaran, paling-paling isinya sama semua. Yang penting kan pas test pribadinya nanti,” katanya beralasan sambil tertawa.

Sebenarnya kalau mau terus terang mencari seorang pekerja dengan kualifikasi pendidikan tinggi dan atau nilai yang bagus dalam laporan pendidikannya sangat mudah. Terlalu banyak pilihan malah. Namun, mencari seorang pekerja dengan kualitas “pekerja” dalam dirinya itulah bagian tersulit. Memang ada banyak sekali jenis pelamar kerja. Ada yang cocok menjadi manajer, pekerja atau bawahan dan ada pula yang sama sekali tak cocok bekerja dengan orang lain. Maka untuk hal-hal ini, biasanya ditentukan dengan psikotest.

Sebagai sebuah gambaran, saya pernah mencari pengganti sebelum mengundurkan diri bekerja karena hamil tua. Perlu waktu sekitar tiga bulan untuk mencari dengan kualifikasi sebagai berikut : Minimal S1, berpengalaman min. 2thn, hardworking dan bisa bekerja sama dalam team work.

Kelihatannya simpel ya. Sayang, bagian HRD saat itu malah mengeluhkan hasilnya. Dua kualifikasi awal, mereka masih bisa menyaring ratusan lamaran tapi untuk memenuhi standar kedua, inilah bagian tersulit. Para pelamar gugur satu persatu dalam berbagai test yang dilakukan. Saya terpaksa menurunkan standar kualifikasi agar saya bisa berhenti tepat waktu mengingat keadaan yang sudah tak memungkinkan untuk bekerja. Dan terbukti, setelah beberapa lama para pekerja yang menggantikan saya hanya bisa bertahan beberapa bulan.

Saat itu saya juga heran kenapa untuk memenuhi dua standar kerja itu saja sulit sekali. Setelah mengamati dan mengalami hal itu beberapa kali setiap kali ingin berhenti bekerja, barulah saya mengerti kenapa.

Para pelamar kerja yang datang selalu beranggapan bahwa pendidikan merekalah yang menjadi standar pilihan utama bagi setiap perusahaan. Padahal pemikiran itu akhirnya menjebak mereka untuk tidak mempelajari berbagai hal yang mungkin tidak ditemukan dalam lingkungan perkuliahan seperti hubungan sosial atau proses kerjasama. Terkadang karena berpikir mereka sekolah atau kuliah lebih tinggi daripada karyawan lain, mereka melupakan standar sosial yang sudah biasa terjadi yaitu menghormati orang yang lebih tua. Pemikiran ini juga yang menyebabkan mereka terlalu keras dalam menyampaikan pendapat atau opini. Akhirnya terjadi ketidakcocokan dan membuat tak berhasil masuk menjadi salah satu anggota tim kerja (teamworking). Entah berapa kali saya mendengar para senior yang berkata seperti ini. “Dasar anak baru! Gak punya pengalaman tapi sok tahu.” Dan biasanya mereka tak bisa bertahan lama.

Para pelamar kerja juga sering “malas” untuk belajar. Pemikiran bahwa mereka telah menyelesaikan kuliah dan tak perlu belajar lagi justru merupakan pemikiran yang salah. Ada banyak hal di luar pendidikan formal yang harus dipelajari secara terus menerus di dunia kerja. Contohnya adalah mempelajari karakter rekan dan relasi kerja, juga bagaimana cara menghadapi berbagai karakter itu. Ada juga beberapa teknis pekerjaan yang sering berlawanan arah dengan teknis pekerjaan yang dipelajari di dunia pendidikan, walaupun menghasilkan sesuatu yang sama. Terkadang teknis ini berhubungan dengan langkah penghematan dan kepraktisan. Bukankah seharusnya praktek langsung jauh lebih baik daripada sekedar teori? Namun para pekerja baru ini kadang-kadang lebih percaya bahwa teori yang mereka pelajari lebih bisa dipertanggungjawabkan dibandingkan cara kerja dari hasil praktek selama bertahun-tahun. Mereka malah berpikir inilah saat yang tepat untuk “memamerkan” kemampuan mereka, padahal ketika tidak berhasil justru akan menjadi masalah bagi diri mereka sendiri.

Melakukan perubahan dan membawa kemajuan tentu adalah hal yang sangat diharapkan setiap perusahaan dari para karyawannya. Tapi sebelum melakukannya, kenali lebih dulu seperti apa perusahaan itu. Jangan mengambil langkah terburu-buru dan perhitungkan masukan dari para karyawan lama sebagai bahan acuan mengurangi kegagalan dalam melangkah.

Hal lain yang menjadi bumerang adalah keinginan para pelamar kerja untuk bekerja di bidang yang memang sudah mereka tentukan sendiri. Standar pendidikan sekali lagi jadi acuan. Berapa banyak sih di antara mereka yang mau duduk jadi drafting sebelum menjadi arsitek kalau sudah meraih kesarjanaan? Atau bersedia jadi operator telepon sebelum menjadi sekretaris? Atau menjadi kasir sebelum menjadi akuntan? Tidak banyak yang akan menjawab “mau”. Tentu saja ini karena mereka tak mau membuang-buang waktu bekerja dari bagian terbawah setelah menghabiskan bertahun-tahun untuk mendapatkan titel sarjana. Sungguh ini benar-benar kesalahan pemikiran.

Sebagai contoh, saya pernah melihat seorang teman yang bekerja sebagai drafting dan saat mengetahui kualifikasi pendidikan terakhirnya saya benar-benar tak menyangka. Lalu kenapa dia mau saja? Itu karena dia tahu, apapun harus dilalui dengan proses terbawah. Menurutnya, seperti membangun sebuah rumah yang kuat maka harus dibangun di atas dasar lantai yang juga kuat. Ia tak takut menghabiskan waktu bekerja di bagian itu, karena dia yakin jika dia mampu maka dengan cepat ia akan bisa memenuhi standar seorang arsitek. Dia memang berhasil meski bukan di kantor yang sama. Setelah merasa cukup mendapatkan berbagai pengalaman yang diperlukan dan hampir satu tahun bekerja, dia memutuskan pindah ke kantor lain dan resmi menjadi seorang arsitek junior. Ia pindah karena ditawarkan gaji yang jauh lebih baik dari kantor lama. Tak sampai beberapa tahun, ia telah memegang proyeknya sendiri.

Saya melihat sifat pekerja keras itu justru muncul dari banyak karyawan yang memulai segalanya dari bawah. Mereka menjadi para pekerja keras karena berbagai alasan. Karena merasa bodoh dan pendidikan yang kurang, maka apapun selalu ingin dipelajari sebagai bahan rekomendasi dan tambahan ilmu. Karena takut kehilangan kesempatan, maka kesempatan sekecil apapun selalu dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dan juga karena adanya anggapan bahwa pekerjaan adalah bagian dari kehidupan mereka hingga apapun yang dilakukan adalah dengan pengabdian yang setulus hati.

Itulah sebabnya kini banyak perusahaan lebih memilih untuk mencari pekerja dari lingkungan internal sebelum mencari ke luar lingkungan perusahaan. Memang hal ini mungkin menutup lebih banyak celah untuk para fresh graduate, tapi justru keuntungan tambahan bagi perusahaan. Dengan demikian mereka bisa mencari pekerja yang benar-benar telah mengenali lingkungan pekerjaan mereka dan pihak perusahaan juga telah mengenal pekerja dengan baik. Belum lagi hal ini juga membuat kerja sama tim yang jauh lebih baik karena sudah saling mengenal karakter masing-masing daripada merekrut pekerja baru. Hal-hal yang menjadi tambahan seperti jenjang pendidikan dan kemampuan akhirnya menjadi kualifikasi terakhir dalam memilih karyawan.

Lamanya kita bertahan dalam satu perusahaan sering menjadi bahan acuan dari pihak perusahaan juga. Jadi kalau anda suka sekali keluar masuk perusahaan, sebaiknya saat memasukkan lamaran pilihlah jenis pekerjaan dengan masa kerja yang lama dan sesuai dengan bidang yang akan dilamar. Jika spesifikasi anda terlalu luas, perusahaan juga kuatir akan membuat anda gampang keluar dari pekerjaan. Padahal mencari pekerja baru merupakan tugas yang tidak mudah.

Karena itu bisa diambil kesimpulan. Sebenarnya pekerjaan itu bukannya sulit dicari, tapi memenuhi standar pekerja itulah yang belum bisa dipenuhi. Mendapatkan pekerjaan ibarat mendapatkan jodoh. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun beberapa alasan di atas merupakan alasan paling sering yang saya temukan dalam dunia kerja. Terlepas dari apapun yang mempengaruhinya, yang paling penting adalah bagaimana agar kita bisa pandai melihat kesempatan meskipun harus memulai dari bawah, bagaimana belajar memahami berbagai karakter rekan kerja dan cara menghadapinya, bagaimana agar menyukai pekerjaan karena tanpa rasa suka atau mencintai pekerjaan takkan mungkin ada keinginan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan yang terakhir adalah apakah pekerjaan tersebut telah benar-benar sesuai dengan keinginan dan tujuan kita, karena menemukan passion adalah hal penting untuk menikmati pekerjaan.

*****


TAGS   pendidikan / pekerjaan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia