Catatan Bunda Iin

Tak Jadi Berlibur

16 Apr 2012 - 14:46 WIB

Godaan untuk segera mengangkat telepon dan menghubungi agen travel sangatlah besar, apalagi ketika melihat angka-angka yang tertera di buku tabungan itu. Helaan nafas berulang kali tetap tak bisa membohongi perasaanku yang gundah. Kekecewaan yang akan kulihat di wajah-wajah orang-orang tercintaku saat aku menyampaikan berita itu sudah bisa kubayangkan.

Sudah tiga tahun terakhir ini kami membangun mimpi dan mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk ditabung. Perjalanan liburan kali ini memang berbeda, karena tak cuma kami sekeluarga yang akan berangkat tapi juga kedua orangtua kami. Setelah bertahun-tahun, baru kali ini aku memiliki kesempatan mengajak mereka semua. Selama ini selalu ada saja yang menghalangi. Kalau bukan karena kesibukan kami semua, sulitnya menyatukan hari di mana kami semua bisa dengan tenang berlibur ataupun biaya yang tidak sedikit yang harus kukeluarkan. Sekarang semua sudah tertutupi sampai berita itu datang.

“Semua terserah Mama, ambillah keputusan yang benar-benar keinginan Mama. Ayah percaya Mama akan memilih kepentingan yang lebih besar dan lebih berguna.” Itu kata suamiku tadi saat memberikan buku tabungan yang baru saja diisinya dengan sejumlah uang yang seharusnya menjadi dana liburan kami.

Aku tahu. Aku egois kalau tetap meneruskan rencana ini. Tapi, selama bertahun-tahun kedua orangtuaku selalu memikirkan orang lain, selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Mereka tak pernah memikirkan kepentingan mereka dan aku ingin sekali memberikan sesuatu pada mereka. Mereka sudah lanjut usia dan aku ingin sekali mempersembahkan sesuatu yang indah. Merencanakan liburan yang memang selama ini sering mereka bicarakan dalam khayalan.

Anak-anak juga sama. Sejak kecil mereka selalu menerima apapun pemberianku. Mereka tak pernah cerewet atau memaksa saat menginginkan sesuatu. Kalau tak ada, mereka pun diam dan menunggu. Apalagi suamiku, bertahun-tahun dia tahunya hanya kerja dan kerja. Sebelum menikahiku, dia sudah membantu beberapa adiknya lulus kuliah dan sekolah. Setelah bersamaku, kami hanya sesekali berlibur dan itupun hanya sebentar. Bahkan demi mewujudkan liburan impian, kami menunda tiga tahun masa cutinya dan berlibur di rumah saja.

Sekarang. Salah satu saudara Ibu, pamanku sedang sakit. Aku ingin sekali pura-pura menutup mata dan telingaku. Toh, dia juga tinggal berbeda daratan dengan kami sekeluarga. Pergi liburan atau tidak, dia takkan tahu. Apalagi Ibu bukanlah saudari satu-satunya, masih ada 10 orang lagi selain Ibu. Ibu juga bukan anak pertama dan dari seluruh saudaranya hanya Ibu yang tinggal paling jauh. Semua saudara yang tersisa tinggal satu kota, satu propinsi, bahkan ada yang hanya berbeda jarak puluhan meter dari rumahnya. Lalu kenapa harus Ibu atau aku yang memikirkan keadaannya?

Berita itu datang bersamaan berita lain. Ada saudara Ibu yang pergi umrah, yang lainnya merencanakan jalan-jalan ke kota lain dan yang lainnya lagi sedang merencanakan pernikahan putra-putrinya. Aku hanya bisa mengelus dada dengan masygul. Bagaimana mereka bisa membicarakan sakit saudaranya sambil memamerkan “kebahagiaan” seperti itu? Ibu marah, tapi ibu tak mau menambah masalah. Ibu memilih tidak menjawab telepon-telepon saudara-saudarinya yang lupa diri itu. Ibu memilih memastikan keadaan saudaranya yang sakit beberapa kali dalam seminggu walaupun hanya melalui telepon. Kulihat beberapa kali wajah Ibu seperti menerawang jauh ke depan saat melamun sendirian di teras rumah.

“Bu, Ibu mau pulang kampung?” tanyaku suatu hari. Ibu menggeleng.

“Kenapa, bu?” tanyaku lagi ingin tahu.

“Ibu tak mau, nak. Ibu takut Ibu tak kuat menyaksikan betapa kejamnya saudara-saudari Ibu sekarang. Harta itu ternyata sangat menakutkan. Dan Ibu tak ingin mempercepat kematian Ibu karena sibuk memikirkan hal itu. Ibu hanya ingin menikmati saat-saat bersama keluarga Ibu saja.”

Dan Ibu memilih untuk meninggalkanku sendirian, ia tak ingin meneruskan pembicaraan kami. Mungkin ia tak ingin merasakan kepedihan. Mungkin juga ia sudah lelah menghadapi semua kenyataan tentang keluarganya.

Harta itu ternyata sangat menakutkan. Kata-kata itu terus terngiang dalam otakku. Sekali lagi aku mengambil buku tabunganku. Semua hanya tinggal menunggu keputusanku. Agen travel akan dengan segera menyiapkan tiket dan hotel yang sudah kutentukan jauh-jauh hari, pasport kami sekeluarga yang sudah selesai kuurus sejak dua minggu lalu juga sudah tergeletak dengan rapi bersama buku tabungan itu dan anak-anak bahkan sudah beberapa kali tampak asyik bercerita dengan kakek dan neneknya, merencanakan apa yang akan mereka kerjakan di sana terutama Abang.

Kuhitung kembali jumlah dalam buku tabungan. Jika kusisihkan untuk keperluan Paman, kami masih bisa berlibur meskipun itu tak sesuai dengan rencana. Aku menarik nafas dan menghembuskannya kuat-kuat. Aku harus bisa menyampaikan berita ini.

Anak-anak sedang berkumpul bersama kakek neneknya. Ayah mereka juga ikut duduk dengan si kecil di pangkuannya. Aku duduk di tengah-tengah ruang keluarga itu.

“Eh, kalau kita ke Hongkongnya pagi hari saja? Setuju tidak?” Kupasang senyum lebar saat bertanya.

Hanya anak-anak yang berteriak setuju. Sementara tiga pasang mata dewasa menatapku dengan kernyit.

Aku tersenyum puas melihat pendukungku. “Oke, jadi rencana Mama begini. Pagi hari kita usahakan sampai di sana, terus kita jalan-jalan ke Disney dan malamnya kita langsung pulang, naik pesawat kembali ke Jakarta. Gimana? Setuju tidak?” tanyaku sekali lagi. Senyumku tetap mengembang lebar.

“Hah?” semua menatapku bingung.

“Loh kita gak nginep, Ma?” tanya anak-anak hampir bersamaan.

“Gini neng, uang tabungan Mama hanya cukup untuk membayar biaya naik pesawat bolak balik kita sekeluarga tapi tak bisa buat bayar hotelnya. Tapi kalau mau ke Disneynya, masih bisa,” ujarku menjelaskan.

“Yaaah, Mama. Kita kan mau lihat acara malam harinya. Itu tuh yang ada kembang apinya,” putraku tampak kesal.

Putriku juga mulai merengut, “Padahal kakak pengen banget ngerasain berenang di hotelnya Hongkong.”

Rupanya merasakan kebingunganku, suamiku ikut turut tangan. “Kak, yang namanya berenang ya basahlah. Mau di Jakarta, mau di Bali atau di Hongkong, berenang ya sama saja. Pasti basah!” kali ini Kakek dan Nenek pun ikut tergelak. “Atau begini saja, supaya ngerasain berenang. Begitu kita sampai di Jakarta lagi, kita langsung berenang di… Ancol,” dan Putriku pun tak bisa lagi menyembunyikan tawanya.

Tak sampai lima menit setelah aku menyampaikan berita itu, keluarga sudah terlihat biasa lagi. Malah aku melihat tatapan terima kasih Bapak dan Ibu saat tanpa sengaja bertemu pandang. Suamiku hanya tersenyum meski kulihat dia memahami tujuanku.

Malam harinya aku mulai membooking tiket pesawat ke kota tempat Pamanku yang sedang sakit. Suamiku ikut untuk menemaniku dan aku mengangguk setuju. Aku masih sempat menawarkan sekali lagi pada Ibu dan Bapak, tapi mereka tetap menggeleng.

“Pergilah. Tengok dan bantulah Pamanmu sebisa yang kau mampu, nak. Kekuatan dan kemampuan yang kita miliki itu memang ada batasnya, tapi jangan pernah membatasi bantuanmu karena kami. Bapak dan Ibu ikhlas sepenuhnya kau membantu dia karena terus terang kami sudah tak mampu lagi meski hati ini ingin sekali. Tapi, Ibu minta saat kau datang ke sana, tolong kuatkan hatimu melihat sesuatu yang berbeda. Ingatlah tujuanmu datang ke sana untuk apa? Jangan menambah masalah baru, ya nak. Kemarahan takkan bisa menghentikan aliran darah yang telah teracuni oleh setan harta.”

Aku mengangguk dan memeluk Ibu, berterimakasih untuk pengertiannya. Kulihat mata Bapak yang basah.

Liburan kami batal. Itu yang sudah pasti. Tapi entah mengapa, bukan kekalutan yang kurasakan. Kecewa tentu saja ada. Tapi yang lebih terasa adalah perasaan yang sangat sulit kupahami. Menolong orang apalagi keluarga sendiri ternyata bisa membuat hati terasa lebih ringan. Lega dan ringan bagai kapas. Uang memang berarti, namun ada yang lebih berharga. Ikatan persaudaraan adalah hal terpenting yang harus dijaga. Ini bukan tentang membeli “hati”, ini tentang menjaga hati sendiri. Yah, harta bisa sangat menakutkan. Harta bisa mengotori hati. Tapi harta juga bisa membantu membersihkan hati ketika ia bisa dimanfaatkan dengan benar. Berlibur ke Hongkong masih bisa kami rencanakan ulang, tapi kesempatan membantu saudara belum tentu bisa terulang.

*****


TAGS   Cerpen Keluarga / masalah / anak / liburan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia