Catatan Bunda Iin

I Wanna Be Emak : Panik

6 Apr 2012 - 08:48 WIB

Emak senang, akhirnya anak-anak sudah selesai menghadapi ulangannya. Meskipun tak ikut “ulangan”, tiap malam Emak harus deg-degan, pusing memikirkan kesiapan dua anaknya yang sudah bersekolah. Benar saja kata Nenek dulu, setiap Emak pasti ikut “sekolah” lagi kalau anaknya sekolah. Sekarang, semua sudah selesai. Emak bahkan menuliskan gede-gede di kalender yang terpampang di ruang kerjanya. EMAK BEBAS!!!

Dengan gembira, Emak menyambut hari ini. Ia memulainya tentu saja… dari dapur. Memaksa anak-anak menyantap hidangan terbaru ala Emak. Apapun itu, kali ini Emak yakin hasilnya pasti enak.

“Kakak, Abang, Jagain Adenya ya! Emak mau buat brownies,” perintah Emak tegas saat akan masuk ke dapur, meninggalkan anak-anak di ruang bermain. Ah sebenarnya bukan ruang bermain, itu adalah ruang tengah yang disulap anak-anak menjadi arena permainan mereka hari itu.

“Okeeeeh, Mak! Masak yang enak ya!!” hampir berbarengan keduanya menjawab, meski sama sekali tidak melihat pada Emak. Emak hanya tersenyum menatap ketiga anaknya yang mulai asyik menyusun mainan-mainan mereka membentuk rumah-rumahan mini.

Tak lama saat Emak tengah “bertempur” dengan peralatan masak kue, anak-anak juga seru berteriak dan berbicara sambil tertawa-tawa menikmati permainan mereka. Sesekali Emak menengok ke ruang tengah mengecek keadaan mereka. Anak-anak sedang bermain rumah-rumahan, namun sesekali mereka juga saling bercanda. Beberapa teman mereka juga sudah mulai berdatangan dan ikut bermain, mungkin karena tergoda mendengar suara tawa anak-anak Emak yang terdengar hingga keluar.

Emak hampir menyelesaikan masakannya, ketika terdengar teriakan hampir bersamaan yang lebih menyerupai ketakutan. Dengan sigap, Emak langsung mematikan kompor dan berlari keluar.

“Emak!! Ade kemasukan batere,” lapor kakak dan abang hampir bersamaan. Kakak nampak memeluk Adenya yang berteriak-teriak kesakitan. Abang panik dan menarik-narik tangan Adenya yang bergerak meronta. Untuk sesaat Emak diam, mencerna laporan anaknya.

Emak menggendong Ade dan memperhatikan wajahnya. Wajah Ade memerah karena menangis dan tangannya terus bergerak memencet hidung, Emak terpaksa menahannya dan sibuk memeriksa.

“Batere apa? Di mana? Kok bisa?” tanya Emak pada Kakak dan Abang tanpa melepaskan perhatian dari Ade.

Sambil terisak karena rasa bersalah tidak menjaga Ade dengan baik, Kakak melaporkan dengan singkat apa yang baru saja terjadi. Ade melepas baterai bundar kecil dari ponsel mainannya, Kakak lihat tapi ia membiarkan Ade memainkan batere tersebut. Entah apa yang terjadi, tahu tahu Ade menjerit dan menunjuk hidungnya. Batere itu sudah masuk di dalam salah satu lubang hidung Ade.

Jantung Emak berdebar keras karena kuatir. Emak tak tahu harus berbuat apa. Namun yang pertama dilakukan Emak adalah menenangkan Ade sekaligus menenangkan hatinya sendiri. Emak memeluk Ade dengan kuat sambil berbisik, “sudah, sudah Ade jangan nangis ya, sayang.”

Lalu sambil berjalan menuju telepon. Emak sibuk memberi perintah pada Kakak dan Abang. “Kakak, ke dapur dan pastikan kompor sudah mati semua. Abang, take my bag, dompet di dapur dan kunci rumah. Habis itu kalian semua turun dan siap-siap. Kita ke rumah sakit.” Sementara tangan Emak tetap menggendong Ade, Emak menghubungi Ayah via telepon dan memberitahu secara singkat apa yang terjadi. Emak meminta Ayah menemui Emak di rumah sakit.

Jeritan Ade semakin nyaring, ingus berwarna bening mulai membasahi bagian bawah hidung Ade mengucur terus menerus tak berhenti. Dengan langkah cepat, Emak segera berlari turun menuju pintu depan. Setelah memastikan pintu rumah terkunci, Emak, Kakak dan Abang berlarian tergesa-gesa mencari taksi. Kakak juga membantu Emak membawa tas tangan.

Sepanjang jalan dan di dalam taksi, Emak sibuk berdoa di dalam hati. Ya Allah, selamatkanlah anakku. Tolong, jangan sampai terjadi sesuatu yang parah. Emak melirik ke samping, melihat wajah kedua anaknya yang lain juga tampak bingung dan sedih. Abang beberapa kali menyusutkan airmata, sementara sejak tadi Kakak terus berkomat-kamit membaca surat-surat Alquran yang dihafalnya. Jelas sekali mereka juga ketakutan seperti Emak. Tangan Emak yang masih bebas menepuk-nepuk pundak Kakak dan Abang bergantian, keduanya mendongak.

“Kalian tenang, baca doa ya. Insya Allah Ade gak papa,” bisik Emak sambil berusaha tersenyum. Anak-anak mengangguk sementara suara tangis Ade mulai melemah. Mungkin karena dia kelelahan dan kepalanya bersandar di dada Emak. Namun kucuran ingus masih terus mengalir dari hidungnya.

Saat tiba, Emak menyerahkan Ade pada dua suster yang tanggap mengambilnya dari pelukan Emak. Secara singkat, Emak menceritakan apa yang terjadi. Sementara Kakak yang sudah mengerti instruksi Emak menuju administrasi gawat darurat, menyerahkan kartu rekam medik Ade yang ada di dompet Emak.

Waktu terasa berjalan begitu lambat saat dokter dan para suster mulai mengecek Ade. Ade yang ketakutan melihat banyaknya orang asing yang mengelilinginya mulai menangis lagi dan lebih nyaring. Akhirnya setelah sepakat harus melakukan tindakan apa, Emak diminta tetap menggendong Ade dengan posisi menimang. Tangan dan kaki Ade dipegang oleh para suster, sementara dokter mulai memeriksa dan menggunakan sebuah alat. Ternyata alat itu terlalu besar. Dokter berpikir sejenak dan akhirnya mengambil sebuah klip kertas. Mata Emak melotot kaget.

“Loh kok pake itu, dok?” sergah Emak. Tangan Dokter yang bersiap bergerak segera berhenti.

Dokter tersenyum. “Alat kita tak ada yang masuk karena lubangnya kecil sekali. Ibu percaya kami, ya. Ini mau saya pakai untuk mengungkit batere keluar, jadi tak perlu tindakan apa-apa. Kalau luka atau terjadi robekan kulit, bisa kita obati dengan obat. Kalau dibiarkan saya kuatir baterenya akan semakin masuk ke dalam.”

Emak terdiam sejenak. Bismillahirrahmanirrahim. Emak menghela nafas. Akhirnya Emak membolehkan dokter melakukannya. Dokter membujuk Ade agar tenang dan tak bergerak dengan berkata membujuk lembut. Emak memeluk Ade sekuat yang ia bisa agar Ade tak bergerak, karena sedikit saja bergerak, maka hidung Ade pasti luka. Tak sampai beberapa menit, batere bundar kecil itu berhasil dikeluarkan. Suara desah lega memenuhi ruang gawat darurat itu, termasuk Emak yang langsung mengucapkan syukur berkali-kali sambil memeluk Ade.

Dokter tengah memeriksa keadaan hidung Ade setelah batere dikeluarkan saat Ayah muncul dengan wajah seputih kertas dan nafas terengah-engah. Setelah dokter bilang semuanya baik-baik saja dan bahkan tak ada luka lecet di bagian dalam hidung Ade, Emak dan Ayah merasa sangat lega. Bergantian keduanya memeluk Ade.

“Ade tadi kenapa?” tanya Ayah saat mereka berada di dalam mobil kembali pulang ke rumah. Ade dan kedua kakaknya sibuk memakan donat pemberian Ayah. Donat itu besarnya hampir setengah wajah Ade. Lalu sambil terus asyik mengunyah, ketiganya saling bersahutan penuh semangat menceritakan kejadian tadi dengan versi masing-masing. Emak diam saja, hanya berusaha tersenyum. Berbeda dari ketiga anaknya yang terkesan seperti tak ada kejadian yang menakutkan, jantung Emak masih terus berdebar kencang dan ia masih berjuang menenangkannya.

“Lain kali, jangan bermain dengan benda-benda yang kecil. Kakak dan Abang juga harus perhatikan kalau Emak sedang sibuk, ya,” kata Ayah menasehati. Dengan lirikan menggoda, Ayah kembali menyambung, “soalnya kalau ada apa-apa kasihan Emak kalian. Tuh lihat, Emak lupa pakai jilbab bahkan Emak lupa mengganti baju seragamnya saking paniknya. Hehehe…” Ayahpun terkekeh diikuti anak-anak yang juga baru menyadari penampilan Emak.

Emak terkesiap. Matanya menelusuri sekujur tubuhnya. Astaghfirullah! Emak baru sadar kalau dia hanya memakai daster, seragam wajibnya di rumah dengan rambut yang masih tergelung asal-asalan dengan karet gelang dan yang lebih parahnya lagi tidak berjilbab. Tawa Ayah semakin kuat ketika melihat wajah Emak merona malu.

Keesokan harinya anak-anak tercengang saat melihat kotak mainannya. Semua mainan yang di dalamnya menggunakan batere, dibungkus oleh Emak dengan lakban hitam yang sukar sekali dilepas.

“Yaah, Mak. Jadinya jelek banget nih! Ini kan baterenya besar, hidungnya Emak juga gak masuk,” keluh Kakak saat melihat salah satu bonekanya yang berbunyi dilakban Emak di bagian punggung.

“Masa bodoh, pokoknya semua harus aman. Terima gak terima, ini rumah Emak aturan Emak!” ujar Emak tegas tak mau kalah, sambil ngeloyor ke dapur.

Ayah tertawa geli melihat ketiga anaknya mengeluh menggerutu melihat semua mainan mereka yang bergerak sudah mendapat label lakban hitam. Emak tak peduli meski mobilan Abang jadi sulit bergerak karena bagian bawahnya juga dilakban Emak sedangkan Ade yang tak tampak trauma berjuang keras melepas lakban yang menutupi bagian bawah piano kecilnya dengan kesal.

Buat Emak, cukup satu kali kejadian untuk dipelajari. Apapun itu Emak tak mau kejadian yang menakutkannya itu terjadi lagi. Kepanikan saat anak mengalami anak kecelakaan, adalah hal paling menakutkan buat Emak. Sampai sekarang kalau mengingatnya, bulu kuduk Emak langsung berdiri. Jadi suka tak suka, anak-anak harus menerima tambahan satu peraturan lagi, semua mainan yang berbatere harus dilakban. Emak oh Emak.

*****


TAGS   anak / kecelakaan / rumah sakit / I Wanna Be Emak / Emak / Panik / keluarga /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia