Catatan Bunda Iin

Emak Gak Gaul

4 Apr 2012 - 17:30 WIB

Emak gak gaul! Yaah, itu istilah anak-anak di rumah Emak. Pertanyaan atau pernyataan yang terang-terangan mempertanyakan kredibilitas Emak sebagai Ibu mengikuti pergaulan zaman sekarang atau nggak. Jelas Emak gak maulah dikatakan gak gaul.

“Emak nih gak gaul, itu tuh shuffle dance yang gini ni.” Lalu kakak, anak pertama Emak menirukan gaya penari di televisi saat Emak bertanya dia nonton apa. Kepala Emak sibuk mengikuti gerakannya yang terlihat sederhana tapi ketika dicoba… Gak Emak gak bisa!! Bahkan dibantu instruktur kecilnya yang lain, abang dan ade yang baru berusia 3 tahun yang juga sudah pandai menari tarian aneh itu.

“Udah ah! Tarian apa itu? Ga ada seninya!” naaah ujung-ujungnya berkelitlah si Emak seperti itu. Ye, Masa Emak dikalahin anak??

Tapi ketika Emak searching internet, cari-cari di dunia parenting. Mau gak mau Emak harus mengakui. I am the Jadul Emak. Padahal umurnya baru lewat 30 tahun.. ampun deh, teknologi bikin perkembangan segala hal begitu cepat termasuk pendidikan luar sekolah anak. Dan betapa mengagetkan bagi Emak, lesnya sudah ada loh.

Karena PAEnya (Perjanjian Anak & Emak) udah ada kalau kegiatan positif harus didukung. akhirnya Emak ngalah. Nyariin tempat les buat kakak dan abang. Ade? ya jelas nggaklah, masih kecil.

Mulailah Emak nyari tempat les. Apa daya ternyata oh ternyata, tempat les shuffle dance itu ma..hal. Mau ngebiarin mereka berlatih di jalanan (istilah kerennya gratisan) jelas gak mungkin, kan? Wah, itu artinya harus siapkan taktik jitu ala Emak dong! Internet, googling and learning.

Karena anak-anak lagi sibuk ulangan, mereka lupa permintaan mereka untuk sementara. Kesempatan Emak belajar dari internet, lebih detail dan penjelasannya lebih baik ditunjang video-video yang diperlambat. Tapi karena Emak juga sibuk ngurus macam-macam, Emak jadi jarang bisa latihan. Apalagi latihannya sembunyi-sembunyi ketika Abang dan Kakak masih sekolah. Kalau Ade, Emak gak kuatir karena Ade sih hepi-hepi aja melihat Emak tiap hari rajin ngajakin dia menari-nari.

Akhirnya Emak berhasil. Emak berhasil menari-nari dengan mantap di atas lantai tak sampai dua minggu. Waah, Emak bahagia. Ilmu baru dapat, menyenangkan hati anak juga dapat. Assyiik, tinggal menunggu hari minggu biar bisa melatih anak-anak!! Ayah cukup melihat saja (dan bersyukur) karena gak jadi bayarin les mahal-mahal.

Minggu pagi yang cerah, Emak bersemangat empat lima membangunkan anak-anak. “Ayo, children!! Wake up! Lets we fill today with something fun!

Anak-anak malah menarik selimut. “Aduuh, Mak! Ini minggu, kemarin kami latihan Pramukanya berat. Cape! Tidur sebentaaar aja Mak!” dan mereka kompakan menutup seluruh tubuh mereka dengan selimut-selimut mereka.

“Oooh, tidak bisa! Ayo bangun! Emak mau tunjukin sesuatu! Come on, Babies!”

Kalimat ampuh itu ternyata berguna. “Dont call babies, Mak!” pekik keduanya langsung membuka selimut hampir bersamaan. Emak tersenyum. Emak menang sekali lagi. Ayah yang sedang sarapan pagi, mengintip dari balik korannya. Suara keributan pagi itu rupanya menarik perhatiannya juga.

“Emak tunggu kalian di ruang tamu ya! Cepetan, udah gak sabar nih!” Emak begitu bersemangat, membuat si Ade ikut tertular. Dia juga lompat-lompatan di belakang Emak. Mereka duluan berada di ruang tamu yang sudah disulap Emak jadi ruangan kosong karena seluruh isinya dipinggirkan. Emak menyiapkan CD lagu untuk pengiring latihan. Sementara Kakak dan Abang terhuyung-huyung limbung dengan mata masih setengah terpejam berdiri bengong bersandar di dinding.

“Kita mau ngapain sih Mak?” tanya Kakak penasaran. Apalagi melihat Emak sudah mengenakan pakaian training olahraga, ikat kepala karet di kepala dan kaos kaki. Waah, Emak benar-benar siap tempur.

“Nari dong!” jawab Emak bersemangat dan kepalanya mulai bergoyang mengikuti irama lagu shuffle dance yang mulai terdengar. Dengan penuh semangat, Emak mulai memamerkan gerakan shuffle dancenya yang sudah lincah diikuti oleh Ade yang begitu senang melihat si Emak menari.

Tapi wajah Kakak dan Abang bukannya berubah jadi bersemangat. Mereka malah menatap Emak yang sedang menari dengan wajah datar. Hanya Ayah yang tampak terkesima, kagum melihat istrinya menari-nari dengan lincah. Ia bahkan meletakkan koran dan memandangi Emak terus.

“Jadi Emak cuma mau ngasih lihat itu sama kami? Kirain apa. Mending tidur aja lagi deh,” kata Kakak sambil berbalik.

“Kami udah bosen nari shuffle dance, Mak. Sekarang lagi trennya kety perry,” tambah si Abang mengikuti langkah kakaknya masuk kembali ke kamar, dan terdengar kikik tawa geli dari dalam kamar anak-anak. “Susah deh punya Emak gak gaul.”

Hah??? Sebulan aja belom, mereka udah bosan. Nah lo, terus Emak gimana dong? Emak diam, bahunya merosot. Semangatnya juga turun ke titik nol.

Emak gak gaul? yang jelas Emak bingung. Sekarang apa pula kety perry itu? Apakah itu sebangsa roll-on buat keti? atau kapal ferry? Ahh, Emak pernah dengar, tapi di mana ya? Ooh iya, kemarin Kakak nge-like pagenya, jangan-jangan Keti yang itu.

Dan Emak… searching lagi… googling dan … Emak lagi mikir-mikir pantes gak ya Emak jadi Keti Perry?

Ayah tersenyum-senyum melihat istrinya sibuk mengeksplore dunia maya. Meski geli melihat tingkah istrinya, tapi Ayah diam saja. Nanti saja Ayah memberi tahu Emak kalau tak seharusnya Emak sepanik itu dibilang gak gaul oleh anak-anak. Seharusnya Emak tak perlu repot-repot mempelajari semua hal baru hanya agar dibilang gaul. Seharusnya Emak cukup mengetahui dan mengawasi apa yang baik dan sedang tren untuk anak-anak tercinta. Tapi Ayah suka melihat Emak begitu bersemangat seperti sekarang dan Emak yang bersemangat terlihat cantik bagi Ayah. Biarlah, itu semua bisa dijelaskan nanti.

*****


TAGS   I Wanna Be Emak / Emak / anak / Anak Gaul / anak remaja / Remaja / orangtua /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia