Catatan Bunda Iin

Kembali Bersama Karena Cinta

20 Feb 2012 - 20:49 WIB

Aku benar-benar tak memahami kenapa Salwa mau saja kembali pada mantan pacarnya. Dia bahkan menikahinya. Seribu pertanyaan seakan-akan berputar-putar di kepalaku, namun tak satupun yang bisa kujawab sendiri. Aku ingat saat itu, Salwa sama sekali tak memandang mantan pacarnya dengan sayang. Hubungan mereka selalu bermasalah dan yang terakhir kali aku melihat sendiri Salwa memutuskan hubungan mereka. Dia malah bersyukur karena berhasil memutuskan lelaki yang katanya bukan tipe idealnya.

Tapi setelah bertahun-tahun berpisah, kami bertemu lagi dan aku benar-benar tak percaya saat melihatnya kini. Randy, mantan kekasihnya justru menjadi suami Salwa. Dan pertunjukkan kemesraan mereka semakin menambah pertanyaan di hatiku.

“Heran, Ndah?” tebak Salwa saat melihat aku bengong. Ketika itu Randy sudah menjauh dari kami, membawa dua anak mereka menuju playground.

Aku tersipu. Sementara Salwa hanya tertawa. “Cinta itu memang aneh, Ndah. Tapi semua memang berproses panjang. Aku dan Randy baru menyadari apa arti cinta itu sebenarnya setelah kami putus saat SMU itu. Kami belajar banyak dari perpisahan itu, bahwa mengenal seseorang itu perlu waktu dan usaha. Dulu aku selalu berpikir Randy egois dan tak romantis. Dia juga selalu lebih menomorsatukan hobi dan teman-temannya, daripada aku kekasihnya. Aku merasa marah karena Randy tak pernah memberiku hadiah ulangtahun dan dia tertawa saat aku tanya kado valentine untukku.”

“Begitupun Randy. Dia merasa aku yang terlalu memikirkan diriku sendiri. Terlalu kekanak-kanakan dan manja. Kami sering ribut hanya karena hal-hal kecil, dan ketika emosi sudah menguasai maka kami memilih berpisah.”

Mata Salwa menerawang, senyumnya tipis. “Di awal berpisah, aku menikmatinya. Memuaskan hatiku untuk melakukan semua yang tak bisa kulakukan bersama Randy. Aku bahkan berhasil menemukan pacar baru yang lebih romantis dan jauh lebih mengerti diriku. Meskipun semua foto-foto kami dan barang-barang pemberian Randy kubuang, bahkan aku melarang orangtuaku menyebut namanya, namun bayangan Randy dan kenangan saat kami pacaran sulit sekali dilupakan. Aku justru merindukan hal-hal yang tak kusuka darinya. Tanpa kusadari ternyata aku mencintai Randy bukan karena dia adalah kekasih seperti yang kuimpikan, tapi karena aku mencintai dirinya apa adanya dan kebersamaan kami saat pacaran itulah proses penerimaanku yang tak pernah kusadari.”

“Sayang, saat itu semuanya sudah terlambat. Barulah aku sadar kalau saat itu, aku terlalu egois dan tergesa-gesa mengambil keputusan. Aku menyesalinya dan sesal itu membuatku mengenang Randy sebagai cinta terindah yang pernah kumiliki. Tapi kuputuskan melanjutkan hidup dan mengakhiri hubungan cinta pelarianku itu. Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti Tuhan mendengar doaku dan menemukan orang yang seperti Randy, yang memahami apa adanya.”

“Ternyata Tuhan tak hanya mendengar doaku, Ia mengabulkan doaku. Suatu hari, tanpa sengaja kami bertemu lagi di cafe tempat kami dulu biasa kencan. Kami sempat menyembunyikan kenapa kami ke Cafe itu. Randy beralasan janjian dengan temannya, dan aku bilang aku kebetulan lewat. Padahal kami sama-sama sering ke situ untuk mengenang cinta kami. Bodoh ya, Ndah? Tapi itulah cinta. terkadang aku sendiri sulit memahaminya,” kenang Salwa lagi.

Rasa ingin tahu membuatku bertanya. “Lalu setelah pertemuan itu gimana?”

Salwa menghela napas. “Kami bertukar alamat baru dan nomor telepon. Kami sama-sama tak bisa lagi menyembunyikan perasaan kami. Istilah kerennya sekarang CBLK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Dan kali ini Randy memutuskan kami tak usah lagi pacaran karena kami sudah sama-sama dewasa. Kami menikah setelah beberapa bulan menjalin kembali persahabatan.”

“Terus terang, Ndah. Aku bersyukur dulu pernah putus dari Randy. Dengan berpisah itu, aku belajar banyak untuk memperbaiki kekuranganku yang manja dan kekanak-kanakan sementara Randy belajar untuk memahami perasaan perempuan. Ketika kami bertemu dan jatuh cinta untuk kedua kalinya, cinta itu bukan lagi cinta remaja yang penuh emosi tetapi cinta dua orang dewasa yang saling menerima kelebihan dan kekurangan. Bahkan Randy mengajariku arti cinta yang sebenarnya, cara mengekspresikan sikap romantis yang sesungguhnya.”

“Maksudmu, sekarang dia gak pernah lupa ulang tahunmu, kado valentine atau… ” selaku.

Salwa menggeleng, dia menatap suami dan anak-anak yang bermain di kejauhan. “Seperti itu, dia tunjukkan kasih sayangnya padaku dengan berbagi tugas mengurus anak-anak, membiarkanku ngobrol denganmu. Di rumah, tak canggung Randy membuatkan segelas teh untukku bahkan kami sering memasak menyiapkan makan malam bersama. Kasih sayang dan keromantisannya ditunjukkan setiap hari, bukan satu hari dalam setahun. Hadiahnya diberikan setiap hari dengan memberiku perhatian dan cinta. Bagiku sudah sepantasnya aku juga berbuat yang sama padanya, mencintainya. Kami kembali bersama karena cinta, ” kata Salwa menutup ceritanya.

Wajah Salwa tampak bersinar bahagia, serta terpampang jelas di kilauan bola matanya yang indah. Aku terharu. Gambaran kasih sayang yang amat sempurna sudah sangat jelas dan aku tak lagi perlu bertanya. Salwa belajar dari kesalahannya, Randy juga belajar dari ketidaksempurnaan mereka dan justru karena itulah mereka semakin saling memahami satu sama lain. Cinta yang saling menerima kekurangan dan kelebihan dalam proses yang panjang.

*****

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba BLOGGER BICARA CINTA - 20 Februari 2012


TAGS   cinta / blogdetik / BLOGGER BICARA CINTA / Add new tag /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia