Catatan Bunda Iin

Ta’aruf (tamat)

14 Feb 2012 - 09:55 WIB

Cerita sebelumnya Ta’aruf 1

Seminggu setelah pertemuan di rumahku, Ramadhan mengundangku dan Ayah melalui sms. Tiga lembar tiket dikirimkannya melalui kurir karena Ramadhan sudah berada di kotanya sejak beberapa hari lalu.

Sulit rasanya tak mengindahkan rasa rindu yang membuncah saat kami bertemu di kota kelahiran Ramadhan, ia datang menjemputku dan kedua orangtuaku di bandara Sepinggan. Penuh rasa hormat disalaminya Ayahku, dan mengangguk hormat pada Ibuku. Sekejap sorot pandang sayang dilemparkannya dalam tatapan, membuat hatiku terasa bagai melayang.Pertemuan itu ternyata tak seperti yang kubayangkan. Perumahan Pertamina tempat kakak Ramadhan tinggal bersama ibunya, telah ramai dikunjungi hampir seluruh keluarga besar Ramadhan. Satu persatu, Ramadhan memperkenalkan diriku beserta orangtua pada keluarganya. Bagai seorang putri yang disambut begitu rupa, penerimaan yang penuh rasa kasih dan sayang. Ibu Ramadhan memelukku hangat, berurai airmata seakan tak percaya atas kedatanganku.

Tak seperti pertemuan di rumah kami, kali ini aku mendapat banyak cerita tentang Ramadhan saat ia masih kecil. Kenangan-kenangan dirinya saat masih berumur balita diabadikan dalam potret diri dalam album foto keluarga, cerita kenakalannya ketika beranjak remaja dan bahkan aku tak mampu menyembunyikan tawa saat salah satu Bibi Ramadhan bercerita tentang kesukaan Ramadhan mengerjai teman-teman mengajinya di mesjid dekat rumah si Bibi dan di rumah Bibinyalah ia bersembunyi dari kejaran teman-temannya yang kesal.

Sepanjang pertemuan, semakin lama aku semakin mengenal pribadi Ramadhan. Tak cuma pernah belajar di Pesantren selama beberapa tahun, Ramadhan juga lulusan sekolah teknik. Nilainya tak begitu baik saat lulus karena saat ujian itulah bertepatan dengan meninggalnya sang Ayah. Menurut Bibi-bibinya, Ramadhan berubah banyak setelah Ibunya pun jatuh sakit, walaupun dia anak terakhir di keluarganya Ramadhan justru paling mandiri dan selalu rajin pulang menengok sang Ibu.

Sambil bercerita, salah satu kakak ipar Ramadhan memperkenalkan potret keluarga yang tak hadir. Foto Ayahnya, kedua kakaknya yang berbeda kota dan tak sempat hadir. Serta beberapa keponakannya yang lucu-lucu. Aku tersenyum dan sesekali mencuri pandang pada Ramadhan yang juga asyik mengobrol bersama Ayah.

Dan setelah mengantarku dan orangtuaku ke hotel sore itu, Ramadhan mengirimkan sms langsung ke nomorku.

Jika Allah memberi saya kesempatan, saya ingin berbakti pada Ibu, mencintai istriku dan mengasihi putri-putriku kelak.

Lama aku termangu. merenungi maksudnya mengirimiku kata-kata itu. Lalu berbisik Bismillah kubalas smsnya,

Bagi saya menikah bukan hanya mendapatkan suami, tapi mendapatkan keluarga baru termasuk bertambah Ibu dan bertambah Ayah. Jika baktimu itu suci, biarkanlah saya menjadi bagian dari kesempatan itu.

Handphoneku diam membisu setelah laporan sms terkirim kuterima. Kuputuskan untuk beristirahat karena lelah. Setelah sholat Maghrib, Ramadhan kembali datang mengajak kami untuk makan malam bersama keluarga. Dan masih seperti saat kami datang, kehangatan keluarganya menyambut aku beserta orangtua.

Keesokan harinya aku pulang. Kulihat rasa segan sekelebat terbayang di mata Ramadhan saat aku berpamitan. Namun, ketika aku baru saja melewati pintu masuk menuju ruang check-in Bandara Sepinggan, bunyi sms masuk ke handponeku lagi.

Tunggulah saya, Insya Allah setelah saya menyelesaikan semua urusan di sini, saya akan datang meminangmu. Doakanlah agar maksud ini diridhoi Allah, agar semua tujuan dan impian kita bisa bersatu dalam sebuah pernikahan.

Tanganku gemetar, kutolehkan kepalaku mencari sosok Ramadhan di balik dinding kaca yang membatasi ruang. Aku melihatnya berdiri di sana, tersenyum penuh arti dan aku mengangguk berulang kali. Dua tetes airmata keharuan mengalir di pipiku.

Terima kasih ya Allah, Kau pertemukan aku dengan lelaki yang benar-benar memahami cinta seperti yang kuinginkan. Cinta yang dimulai karena Allah, dan Demi Allah pula aku menerimanya. Biarkanlah aku lebur bersama cintanya itu, Ya Allah lebur dalam kebesaran dan karunia-Mu yang begitu indah, agar aku terus mengagungkan cinta sesungguhnya padaMu. Dzat Maha Penyayang dan Maha Pemberi.

*****

Note :

Sedikit out of theme dari tema blog, saya memutuskan menyinggung masalah Ta’aruf di tanggal yang diperingati sebagian orang sebagai Hari kasih sayang, karena banyaknya permintaan akhwat yang bertanya soal pelaksanaannya.

Cerita ini dibuat agar bisa memahami perbedaan antara Ta’aruf dan Pacaran. Mohon diperhatikan bahwa ada perbedaan signifikan diantara dua kegiatan tersebut, Pada Ta’aruf selalu ada orang lain (yang merupakan muhrim pihak perempuan) selain kedua calon pasangan, dan bahasa yang digunakan pada saat mengirim sms (private time) pun menggunakan bahasa santun dan bisa ditunjukkan pada pihak muhrimnya (dipertanggungjawabkan). Walaupun diawali permintaan dari pihak wanita, namun keputusan terakhir tetap di tangan pria.

Jika masih ada pertanyaan seputar Ta’aruf dan pelaksanaannya, bisa langsung ditanyakan ke Aa Ajid


TAGS   pasangan / rumah tangga / cinta / taaruf /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia