Catatan Bunda Iin

Impian Seribu Mawar

13 Feb 2012 - 10:01 WIB

“Suatu hari di ulang tahunmu aku akan datang, memberimu seribu bunga mawar, kupenuhi ia dengan impian-impian kita tentang dunia yang kita damba. Jangan pernah lupakan aku, sahabatku! Tetaplah bermimpi tentang hal-hal indah. Pandanglah dunia dengan cara berbeda, cara yang hanya dimengerti oleh kita berdua. Bukalah selalu pintu hatimu! Bangunlah selalu mimpi walaupun aku tak ada di sampingmu lagi. Dengan bermimpi, aku selalu ada di hatimu”
 

Lagi satu hari berlalu tanpamu di sisiku. Sebaris kalimat perpisahan yang kau tulis di buku tulisku sudah kupatri tak cuma dalam sebuah pigura yang terpajang rapi di atas meja belajarku, namun memenuhi seluruh ingatan indah dalam hatiku.Teringat saat-saat kau mengajakku menerawang khayal bagai di surga. Dunia itu luas, dan kita adalah bagiannya. Setiap pohon yang kita panjat, setiap jengkal tanah yang kita pijak dan setiap langit yang kita lihat, di sanalah mimpi-mimpi kita bersemayam. Kau jadikan bunga mawar yang kita petik sebagai mahkota di kepalaku, kusematkan cincin dari ilalang yang kujalin indah di jarimu dan kita selalu mengukir saat terindah di rumah pohon itu, istana kita, tempat aku melukis dan kau bercerita.

Dan kuukir semua kenangan itu dalam semua karya-karyaku. Ratusan lukisan telah kubagi pada dunia. Tentang harapan, tentang cinta, tentang impian dan tentang kehidupan. Berbagi dalam keindahan yang dulu selalu kau anggap sebagai hadiah terbaik dariku setiap kali aku memberimu sebuah lukisan baru.Kuhela napas berat mengingat masa-masa itu. Kau pergi terlalu lama, sahabatku. Bahkan hutan kecil itu sudah lelah menunggumu. Ia telah berganti susunan rumah-rumah yang berpagar tinggi. Sudah lama juga rumah pohon itu telah diruntuhkan Papa karena tak tega melihatku menangisi kepergianmu. Hanya barisan kalimat itulah peneguh keyakinanku, kau pasti kembali.

Esok ulang tahun kedua puluh sembilan tahun, berarti sudah genap tujuh belas tahun kita berpisah. Sehari setelah ulang tahunku, kau pindah meninggalkan negara ini bersama seluruh keluargamu. Begitu mendadak, begitu tergesa-gesa. Aku nyaris tak percaya ketika Mama memberitahuku tentang kepindahanmu. Bahkan hingga saat ini, aku selalu bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi?Semilir angin membisikkan telingaku, mengingatkan waktu yang telah lama lewat. Malam telah begitu larut, namun sulit sekali kupejamkan mataku. Tak pernah kulewatkan malam seperti ini, berharap esok kau benar-benar datang.

Hanya satu kali ini aku merasakan keinginan yang begitu besar karena rindu sudah tak sanggup lagi bertahan. Setengah berbisik kupanjatkan doa, “Ya Tuhan, kumohon izinkanlah aku bertemu dengannya.” Dan aku berbaring dalam mata menerawang, berharap setidaknya kali ini kau datang dalam mimpi pengisi bunga tidurku.

***

Hari pertama minggu kedua Februari 2012, kugoreskan gambar bentuk hati di tanggal 13. Meskipun tak pernah lagi ada pesta di rumahku, tapi hampir setiap tahun selalu ada hadiah dari Papa dan Mama untukku. Walaupun hanya ucapan selamat dan peluk cium mereka, bagiku itulah keindahan ulang tahun sesungguhnya.

Benar saja, mereka menyambutku penuh cinta saat aku keluar dari kamar. Sebuah kue tart dan dua buah kado menantiku di meja makan. Dengan penuh rasa terima kasih, kuucapkan terima kasih pada Papa dan Mama. Aku tak bisa melukiskan betapa beruntungnya aku terlahir menjadi putri mereka. Ditemani mereka berdua, kuhabiskan sarapan pagiku dengan hati gembira.

“Rasa-rasanya Mama tak pernah menanam bunga mawar sebanyak itu,” ujar Mama bingung saat dia menatap ke luar jendela rumah kami. Aku dan Papa saling bertatapan. Kamipun berhamburan ikut melihat ke luar jendela.

Mulutku ternganga tak percaya, sebaris pot bunga mawar telah berdiri di pagar rumah kami. Bunga-bunga mawar beraneka warna, mekar penuh menyambut mataku. Penuh semangat, aku berlari keluar rumah disusul kedua orangtua. Memandangi pot-pot bunga itu dengan kebingungan. Dari mana datangnya bunga-bunga itu?

Seseorang berdiri di antara bunga-bunga itu, membawa seikat bunga mawar dalam buket indah. Dia, apakah dia? Diakah yang membawa semua kejutan ini? Kutelusuri dirinya yang tersenyum padaku. Wajah itu, wajah yang dulu bulat namun penuh tekad kini telah menjadi wajah seorang pria dengan kematangan dengan sorot yang sama seperti dulu. Tingginya menjulang, melebihi diriku tapi otot-otot yang mengencang di balik kemeja biru itu seakan mengingatkanku tentang kesukaannya pada alam. Dan senyum yang selalu menghiasi mimpi-mimpiku, membangun rasa penasaranku, ternyata bukan lagi senyuman hangat seperti yang kukenang, senyuman itu melempar bara dalam hatiku, membangun percikan api yang memancar dan meninggalkan rona panas di wajahku.

Kututup mulut dengan kedua tanganku, airmata haru telah berloncatan keluar seakan tak mampu terbendung lagi. Dia, dia di sini, membawa seribu bunga yang dia janjikan untukku. Ia hadir di sini merengkuh kembali harapanku yang sempat hilang. Ia berdiri menjulang mengukir kembali kenangan yang sempat pudar karena keputusasaan.

“Selamat ulang tahun, Febriana,” bisiknya mendekatiku dan aku bagai melayang, memeluknya tak percaya. Dialah hadiah terbaikku. Sekilas pagi itu, kulihat sebaris pelangi indah membayang di langit yang biru. Sebiru hatiku saat itu karena seluruh impianku tercapai. Dia, lelaki bernama Malik, dengan seribu mawar dan cintanya telah kembali.

*****

 

 


TAGS   mawar / cinta / seribu / kenangan /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia