Catatan Bunda Iin

Calon Istri Papaku

22 Nov 2011 - 08:33 WIB

google

google

Lagi-lagi perempuan itu datang pagi-pagi. Pasti membawa sarapan pagi untuk kami. Apa dia pikir dengan datang membawa sarapan pagi akan membuatku luluh? Enak saja! Aku takkan pernah menggantikan Mama dengan siapapun, termasuk perempuan itu. Hanya Mama, ibu yang kumiliki di dunia semasa ia masih hidup dan bahkan setelah ia meninggal dunia.

Aku bergegas menuruni anak tangga. Terdengar suara orang mengobrol di ruang makan, tapi aku tak tertarik untuk bergabung. Pasti perempuan itu sedang mengobrol dengan Papa. Lebih baik aku pergi sajalah.

“Dika!! Sarapan dulu!” suara teriakan Papa terdengar dari dalam rumah ketika aku sudah menghidupkan mesin motorku. Aku sempat melihatnya di pintu sebelum melaju dengan motorku, aku juga melihat perempuan itu berdiri di belakang Papa.

Sekolahku masih sepi ketika aku datang. Wajarlah, aku kan tadi pergi karena ingin menghindari pertemuan pagi hari dengan perempuan yang akan dinikahi Papa. Aduh, kalau ingat itu aku jadi lapar. Uups! Aku memang belum sarapan pagi.

Aku berkeliling menatap sekelilingku. Benar-benar deh, aku sungguh tidak beruntung. Belum ada satupun penjual makanan nongkrong di sekolah. Dengan langkah gontai, aku menuju kelas. Lebih baik aku menunggu di kelas sajalah.

Tapi di kelas, aku melihat Noni. Anak perempuan yang sudah lama kutaksir. Ada kotak makanan yang diletakkannya di atas meja. Aha! Kesempatan nih, bisa sekalian sarapan sekaligus pedekate. Hehehe, siapa yang bisa melawan pesona Andika?

“Hei, Non! Pagi!”

Noni mendongak, “Ih, tumben si Dika datang pagi-pagi. Angin apa yang bawa lu datang sepagi ini?”

Aku terkekeh, “Angin rindu padamu, Noni sayang.” Rayuku membuat Noni tertawa kecil.

Noni mengeluarkan satu plastik berisi krupuk dan mengelap sendok yang dibawanya.

“Lu sendiri kan biasanya datang pas bel bunyi. Kok sudah datang jam segini?” tanyaku sambil mencomot kerupuk.

“Tadi pagi Emak gue ngomel gara-gara kemarin gue jalan sama Sisi ke Mal sampai sore. Ya gue pergi aja deh daripada dengerin omelan terus.”

Aku tersenyum-senyum, “Hehe, tapi emak lo baik ya. Meskipun ngomel masih siapin sarapan buat elo.”

“Nggak, Dik. Ini dari tante gue. Tadi pagi tante gue numpang minta dianterin sama motor gue. Nah, sebagai bayarannya dia ngasih sarapan pagi ini buat gue.” Jelas Noni, “kalau emak gue mah pagi-pagi sibuknya kalo ga ngomel-ngomel, paling sibuk nelepon sana-sini ngatur anak buahnya. Boro-boro bikin sarapan, sarapan aja emak gue hampir ga pernah.”

Tawaku kembali meledak melihat ekspresi Noni yang memutar-mutar bola matanya, “Ga boleh gitu kali, Non. Lu harusnya syukur masih punya Emak, lah gue?”

Noni menatapku, “Lu bener juga sih Dik. Gimanapun gue sayang emak gue. Beliau emang kekurangan tapi kelebihannya beliau itu emak gue. Tapi gue sering loh bilang ke Ayah, kenapa dulu ga nikahin Tante gue aja? Orangnya baik, pinter masak dan penyayang banget.”

“Elo nih ada-ada aja, trus Ayah lo jawab apa?” tanyaku sambil menatap kotak makanan Noni, lapar.

“Kata Ayah, kalo Ayah merit sama Tante, pertama gue gak bakal ada. Yang kedua, Emak akan nyunat ayah. Haha…” kata Noni melucu. Aku langsung terbahak.

“Mau, dik? Sarapan bareng yo.” Tawar Noni. Aku mengangguk cepat. Noni mengulurkan sendok dan aku langsung mengambilnya.

Saat makanan masuk ke dalam mulut, aku berkata, “Wuiih, nasi gorengnya enak banget!”

Noni tersenyum memamerkan gigi putihnya. Duhai, beruntungnya aku sepagi ini dapat kenikmatan luar biasa. Sarapan pagi lezat dan gadis cantik.

“Memang enak, Tanteku itu kan usahanya katering.” Aku mengangguk-angguk dan terus menyendok nasi dari dalam kotak sarapan.

Aku menyodorkan sesendok untuk Noni, “Buat lo aja deh Dik, gue masih agak kenyang karena tadi pagi sempat minum teh. Tapi ntar siang Lo traktir gue ya?” Aku mengangguk saja karena mulutku penuh nasi. No problem honey, masakan ibu kantin tak seenak nasi goreng ini.

“Kasihan tante gue itu, Dik. Gara-gara ga bisa punya anak, dia dicerai sama suaminya. Sekarang punya pacar baru, eh anaknya pula ga setuju.” Kisah Noni sambil bertopang dagu menatapku sarapan. Aku langsung terbatuk.

Noni langsung menyodorkan gelas plastik berisi air mineral. Tanpa babibu, aku langsung menusuknya dengan pipet dan menyedotnya sampai hampir habis setengah.

“Maksud Lo, Tante lo udah janda?” Noni mengangguk, aku terdiam.

“Iya, sudah sekitar empat atau lima tahunan yang lalu. Nah baru-baru ini ada yang deketin Tante. Sayangnya waktu mereka sudah dekat, eh ternyata anaknya om tidak setuju. Kasihan Tante, belum apa-apa sudah divonis jahat sama anak itu.”

“Memangnya Tante lo gak berusaha apa?” tanyaku sambil terus makan.

“Usaha gimana lagi? Setahuku Tante itu orangnya baik dan penyayang. Memang sih kata Mamaku, gak mudah menjadi ibu tiri sedangkan menjadi ibu kandung saja sulit kok.” Kata Noni panjang lebar.

Aku terdiam, aku jadi ingat perempuan itu. Perempuan yang datang tadi pagi itu adalah calon istri papaku. Setiap hari dia datang membawakan sarapan pagi untukku dan Papa, tapi aku hampir tak pernah sekalipun mengajaknya bicara. Bukan cuma itu, aku memang melihat perempuan itu telah membuat Papa terlihat lebih bahagia dibandingkan dulu setelah Mama meninggal.

“Aku kepengen tahu sebenarnya anak itu seperti apa. Pengen rasanya aku kasih tahu kalau Tanteku itu mungkin sepuluh ribu kali lipat baiknya dari Ibu kandungnya. Tapi Tante bilang itu tidak adil. Biar bagaimanapun, tak ada siapapun yang bisa menggantikan kedudukan ibu kandung, orang yang sudah melahirkan dan memberi nafas kehidupan bagi seorang anak.”

Aku hanya membisu dan mengalihkan perhatian pada sarapanku. Aku tahu aku juga sudah bersikap tidak adil pada Papa. Aku ingat pertengkaran kami beberapa hari yang lalu saat aku memarahi papa karena baru dua tahun mama meninggal, tapi papa sudah berniat menikah lagi. Tapi aku juga harus mengakui, selama dua tahun itu Papa benar-benar mengalami kesulitan melupakan mama. Setelah kami bertengkarpun, aku melihat Papa berdiri di depan foto besar Mama sangat lama. Entah apa yang ia katakan, tapi aku melihat kesedihan itu begitu nyata di mata Papa.

Tangan Noni bergoyang-goyang di depan mukaku, “Eh, kok ngelamun sih Dik?” Lamunanku buyar dan dengan gugup aku tersenyum.

“Permisi!” sebuah suara membuat kami berdua sama-sama menoleh. Aku terhenyak, sedang apa perempuan itu di sini?

“Tante Diah?” Suara Noni terdengar kaget. Ia berdiri dan menghampiri perempuan itu.

“Loh, Non? Ini kelasmu?” tanya perempuan itu bingung. Aku melihat Noni mengangguk.

Perempuan itu diam, ia melirikku lalu kembali menatap Noni. Dia terdiam.

“Sudah de? sudah ketemu sama Andikanya?” sebuah suara lain terdengar dari luar. Itu suara Papa.

Aku bangkit dan berdiri di samping Noni, “Ada apa, Pa?” tanyaku tanpa mempedulikan perempuan itu. Aku melihat keterkejutan di mata Noni.

“Ini … Ini, ini sarapanmu Andika. Eh, anu, hari ini kamu kan bertanding… em Tante bikinin ini. Sarapan dulu, nanti kamu lemas.” Kata perempuan bernama Diah itu sambil menyodorkan sekotak makanan.

“Tante? Jadi Andika…” Suara Noni menggantung dan menatapku tak percaya. Aku sendiri tak bisa berkata apapun selain menerima kotak makan itu.

Papa tersenyum, sekilas senyuman yang sama juga muncul di wajah perempuan itu. Noni menatapku masih bingung.

“Selamat bertanding, ya Dika. Semoga menang.” Ucap Tante Diah, setengah bergetar.

“Ya sudah, kami pulang dulu Dik. Tadi Diah bilang, hari ini kamu pertandingan basket dan belum sarapan, Jadi dia ngotot minta diantarin ke sini buat ngantar sarapanmu. Terima kasih kalau Andika mau sedikit saja menghargai ini, ya nak. Papa mohon.” Kata Papa pelan. Kesan lelah jelas nampak di wajahnya yang tegang. Mungkin ia takut aku mengucapkan hal buruk pada calon istrinya.

Aku terdiam, kutatap Noni yang kali ini memasang ekspresi yang sama. Memohon.

“Sayangnya Tante, aku harus menyerahkan ini pada Noni.” Kataku sambil menyodorkan kotak itu pada Noni. Noni, Papa dan Tante Diah terpana.

“Soalnya aku sudah sarapan, tuh sarapan buatan Tante untuk Noni. Rasanya enak persis seperti buatan Mama. Kalau bukan karena aku sudah menghabiskannya, aku pasti mau lagi tapi Noni belum sarapan karena sarapannya kuhabiskan.” Sambungku lagi sambil tersenyum.

Kulihat mata Tante Diah berkaca-kaca, Papa memegang bahu Tante Diah menatapku penuh rasa terima kasih.

“Buatkan aku sarapan setiap hari, Tan… emm… salah Mama Diah.”kataku sambil menggenggam tangan Tante, eit salah Mama baruku, Mama Diah.

Mama baruku menangis, ia lantas memelukku, mengucapkan terima kasih berkali-kali. Noni juga menangis, berterima kasih di sela rasa harunya. Dia juga memelukku setelah Mama Diah pergi bersama Papa walaupun sudah ada beberapa teman yang datang dan meledek kami.

Aku mendapatkan keberuntungan berlipat-lipat hari ini. Aku sekarang punya mama baru yang jago masak dan akhirnya aku merasakan pelukan perempuan tercantik di sekolahku. Haha, boleh dong aku ngelaba??


TAGS   istri / papa / Menikah /


Tulisan Terbaru

Komentar

Pustaka Bunda

ANGGOTA

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia